
Sepulang sekolah aku tidak langsung pulang, aku pergi kepusat perbelanjaan, aku kesana bukan untuk berbelanja atau melihat-lihat barang diskon, aku hanya ingin menenangkan pikiran di tempat yang ramai. Memang sedikit aneh, tapi bagiku tempat ini adalah tempat yang sangat cocok. Mengapa? Karena kita bisa melamun tanpa takut kesambet setan.
Tret Tret
Ponselku berbunyi. Setelah aku lihat, ternyata Bi Imah yang menelfon.
''Halo Bi,''
''Halo Non. Non Shofi dimana?''
''Aku di Mall, Bi. Ada masalah ya?''
''Gak ada kok Non, Semua baik-baik saja. Bibi telfon cuma mau bilang kalau Ibu lagi pergi, jadi Non bisa jalan-jalan sebentar,''
''Bagus deh kalau gitu,''
''Tapi Non harus inget, Non harus pulang sebelum jam 5 sore!''
''Siap Bi, Bibi tenang saja ya!''
''Ya sudah, Bibi tutup telfonnya ya,''
''Oke,''
Aku matikan telfon, saat akan aku masukan ponselku kedalam tas, tiba-tiba ada yang menabraku dari belakang.
Ahh
Aku tersungkur kedepan dan ponselku terpental jauh.
''Aduh, maaf Dek,''
Aku tatap wajah pria itu dengan tatapan kesal,
''Saya bantu!''
Dia mengulurkan tangannya ingin membantuku, karena marah dan merasa kesal, aku tepis kasar tangannya. Aku berdiri dan berlari menuju ponselku, takut jika rusak akan sulit meminta kembali kepada Papa. Bukan karena Papa pelit kepadaku, tapi karena Ibu tiri baik hati itu akan selalu mengomel tanpa henti jika aku meminta sesuatu kepada Papa.
''OH MY GOD! Retak,''
'Ku tatap layar ponselku dengan pandangan sedih.
''Aduh, rusak ya ponselnya? Saya minta maaf ya, nanti saya benerin!''
''Gak ada nanti-nanti, harus sekarang! Makanya kalau jalan liat-liat, jangan asal lari sana sini!''
''Sekarang?"
"Iya,''
Aku menyeret tangannya menuju tempat perbaikan ponsel.
''Eh sebentar Dek!"
Dia menghentikan langkahnya secara mendadak.
''Apa si Pak? Negonya nanti aja, sekarang kita benerin ponsel ini, saya gak punya waktu banyak!''
Tanpa menunggu jawaban darinya, aku langsung menarik tangannya untuk pergi membetulkan ponselku. Aku harap ponselku masih bisa di perbaiki.
Kami sampai di tempat perbaikan telphone.
''Bang tolong di cek dong, masih bisa di benerin gak?''
''Bentar ya Mbak,''
Abang penjaga toko memeriksa ponselku. Semoga saja rusaknya tidak terlalu parah.
''Cuma layarnya aja kok Mbak yang retak, dalamya masih bagus,''
__ADS_1
''Huft, syukur deh. Benerin sekarang ya Bang, saya gak punya waktu banyak!''
''Beres Mbak,''
''Emm ngomong-ngomong, Omnya kok di gandeng terus Mbak, takut kabur ya?" sambung Abang penjaga toko.
Aku tatap dia, tapi tak aku lepas tanganku darinya.
''Emang biar gak kabur Bang, soalnya yang bikin ponsel saya rusak, ya dia ni. Ngomong-ngomong dia bukan Om saya,''
''Oh gitu ceritanya. Eh tapi 'kan Mbak, gak takut kesetrum kalau di gandeng terus gitu?''
''Kesetrum- kesetrum? Emang dia kabel telanjang bisa kesetrum. Udah deh Bang, jangan banyak cing-cong, fokus aja benerin HP-ku!''
''Iya Iya Mbak,''
''Maaf Dek, bisa biarin saya pergi? Gak lama kok, nanti saya kesini lagi,''
''Gak, gak boleh. Saya gak percaya sama Bapak,''
''Saya gak akan kabur, saya pasti kesini lagi. Saya ada urusan penting Dek, mohon pengertiannya ya?''
Aku tatap lekat matanya untuk melihat apakah dia berkata jujur atau bohong? Aku rasa dia tidak berbohong, tapi aku masih tidak percaya dengannya.
''Udah Mbak lepasin aja, dia pasti balik kesini lagi! Iya kan Bang?''
''Iya Dek, saya janji!''
"Kalau di liat-liat, Mbak ini seperti orang kaya. Masak gak mampu bayar sendiri si Mbak,''
''Ini bukan masalah mampu apa gak mampu, ini masalah tanggung jawab. Orang yang sudah buat kesalahan harus juga bisa bertanggung jawab. Lagian ini bukan masalah Abang ya, jadi 'tu mulut gak usah comel deh! Bisa kan!''
''Iya Mbak, galak amat si,''
Aku tak lagi mengubrisnya, aku masih berpikir untuk mempercayainya atau tidak?.
''Jaminanya apa?''
''Ini jaminanya,''
Dia menyodokkan kartu tanda penduduk itu.
''Ogah, saya gak mau KTP. Bapak pikir saya Pinjol ( pinjaman online ) pake jaminan KTP,''
''Kenapa gak mau, KTP ini penting lo?''
''Pak, saya ini gak bodoh. Bapak bisa aja bikin KTP baru, Bapak tinggal kekantor polisi ajuin surat kehilangan, terus kekelurahan ajuin surat pengantar dan formulir permohonan KTP baru terus kekantor Dinas kependudukan dan tinggal tunggu KTP baru jadi,''
''Panjang amat Mbak jelasinya,''
''Ihh, fokus aja napa Bang benerin HP saya, gak usah ikut campur! Nanti kalau HP saya tambah rusak, Abang mau ganti rugi?''
''Iya Mbak, maaf,''
Kesel banget sama Abang satu ini, pengen tak jitak deh kepala Abangnya, ikut campur aja masalah orang.
''Terus mau kamu pake jamina apa?''
''Yang bisa di jadiin uang atau yang bisa bikin Bapak rugi kalau Bapak kabur!"
Ia nampak berpikir cukup lama. Karena kesal menunggu, akhirnya aku memberi saran kepadanya.
''Gimana kalau jaminannya ponsel Bapak?''
''Hah, ponsel saya?''
Aku menganggukan kepala.
''Gak ada jaminan yang lain?''
__ADS_1
''Em, kalau Bapak mau, Bapak bisa pergi ambil uang tapi saya harus ikut!''
''Aduh saya gak tau, dimana mesin ATM terdekat di sini?''
''Emm, begini saja. Ponsel ini sebagai jamainan saya, nanti setelah pekerjaan saya selesai, saya akan langsung datang kemari dan kamu harus tunggu saya di sini!''
''Oke, tapi saya akan tunggu Bapak sampai jam 4 sore, gak lebih!''
''Oke,''
Dia memberikan ponselnya.
''Ini ponsel saya dan kamu mesti ingat, tunggu saya!''
''Iya-iya,''
Setelah memberikan ponselnya kepadaku, dia langsung pergi. Tiba-tiba ponselnya berdering, tertulis nama kontak '' Bos '', karena merasa sangat penting, jadi aku menggejarnya.
''Pak, Bapak!''
Dia berhenti dan menoleh kebelakang.
Huft...
''Ada telfon dari Bos!''
Aku menyerahkan ponselnya.
''Hallo, Pak!"
"Pak, saya mohon tunggu sebentar saja! 5 menit lagi saya sampai!''
''Pak saya benar-benar butuh pekerjaan ini. Pak, saya mohon!''
''Hallo, Pak!"
"Hallo,''
Huft....
Ia menarik nafas panjang, terlihat raut wajah sedih dan kecewa. Mendadak aku merasa bersalah.
''Pak, Bapak gak pa-pa 'kan?''
Ia melihatku dan tersenyum seraya mengelengkan kepalanya.
''Gak jadi pergi, Pak?''
''Enggak,''
Ia menjawab seraya tersenyum. Hal itu membuatku merasa sangat bersalah dan juga binggung. Kenapa dia tidak marah kepadaku, karena secara tidak langsung aku yang membuatnya kehilangan pekerjaannya?.
''Emm, berhubung sekarang saya sedang baik hati, Bapak gak perlu ganti rugi ponsel saya, Bapak bisa langsung pergi!''
''Gak pa-pa kok, saya yang buat ponsel kamu rusak, jadi saya juga yang harus memperbaikinya,''
''Gak pa-pa kok Pak, beneran! Bapak gak perlu merasa berhutang budi juga, karena saya benar-benar ikhlas,''
Dia malah tertawa dan mengacak-acak rambutku.
''Ihh, kenapa Bapak acak-acak rambut saya, 'kan jadi berantakan?''
''Kamu mengemaskan,''
Aku menatap geli kearahnya. Entah kenapa aku merasa aneh dan sedikit merinding setelah mendengarkannya?.
''Kok Bapak jadi kek Om-om mesum si? Jadi merinding saya,''
''Jangan berpikiran negatif! Saya minta maaf, saya tetap akan menganti kerugian ponsel kamu,''
__ADS_1
''Ya sudah kalau Bapak maksa,''