Cinta Terdalam

Cinta Terdalam
Part 14


__ADS_3

Aku membuka mataku, lampu di kamar sudah menyala, jam di dinding menunjukan pukul 6 lebih. Aku keluar dari kamar untuk mandi dan melihat Pak Faiz sedang siduk memasak. Aku tak menyapanya, aku langsung masuk kedalam kamar mandi. Setelah selesai mandi, aku keluar dari kamar mandi. Aku melihat Pak Faiz sedang menata makanan di meja ruang keluarga.


''kamu sudah sholat?'' Tanya Pak Faiz.


''Sholat?''


''Iya.''


"Belum."


''Kamu sholat dulu, habis itu kita makan!" Tuturnya seraya tersenyum padaku.


Aku menggaruk tengkukku yang tak gatal.


''Emm, aku gak punya mukena.''


''Tunggu sebentar.''


Pak Faiz masuk kedalam kamar, ia membuka almari dan mencari sesuatu disana. Ternyata dia mencari mukena...Eh, mukena punya siapa itu? Gak mungkin dong Pak Faiz sholat pake mukena.


"Pakai ini!" Pak Faiz menyodorkan mukena itu padaku.


Aku menunaikan sholat magrib. Jujur saja aku sangat jarang menunaikan sholat, aku akan sholat jika ada yang menyuruhku untuk sholat, jika tidak ada aku tak akan melakukannya. Yah, aku tahu itu salah dan dosa, tapi entah kenapa aku tak terlalu menghiraukanya, mungkin karena orang tuaku juga sangat jarang sholat. Ah tidak, bukan jarang tapi sepertinya tak pernah.


Setelah selesai sholat, aku keluar untuk makan malam.


Di atas meja terdapat tahu dan tempe goreng, dan ada dua makanan yang aku tak tahu namanya.


"Makananya cuma itu Pak, gak ada yang lain?" tanyaku.


"Iya, di warung adanya cuma ini. Em... besok saya masakin kamu makanan yang lain, tapi sekarang makan ini dulu ya," ujarnya.


Aku masih berdiri menatap makanan diatas meja.


"Duduk, Fi!" Ucapnya seraya menepuk tempat kosong disampingnya.

__ADS_1


Aku mengikuti perintahnya. Pak Faiz menyiapkan makananku. Aku memakan makananya, dan masakanya terasa sangat enak. Bahkan aku bisa bilang bahwa ini, tempe dan tahu goreng ini adalah tempe dan tahu goreng terenak yang pernah aku makan.


"Bagaimana, kamu suka?" Tanyanya.


"Em... yah, aku suka. Ternyata Pak Faiz pintar masak juga."


Pak Faiz tersenyum ceria.


"Terima kasih."


Setelah aku menghabiskan makan malamku, aku hendak berdiri dan masuk kedalam kamar. Namun, Pak Faiz mencegahku.


"Sebentar," ucapnya.


Aku duduk kembali.


"Kenapa?"


Dia diam menatapku sesaat.


"Saya harap kamu menerima takdir ini, Fi. Saya harap kita bisa hidup bahagia bersama-sama." Sambungnya panjang lebar.


Aku menatapnya nanar, bayangan peristiwa tadi siang kembali terlintas di benakku. Kenapa harus diungkit lagi, padahal tadi hatiku merasa sedikit tenang?.


Aku merasa marah, aku merasa Pak Faiz tidak mengerti aku. Dadaku terasa nyeri, detak jantungku berpacu dengan cepat, nafasku tak beraturan, mataku juga terasa menghangat. Mulutku tertutup rapat, aku menahan air mataku agar tak jatuh. Namun itu sia-sia, satu bulir air mata berhasil jatuh menetes. Pak Faiz terlihat gelagapan saat melihatku menangis. Ia mengengam tanganku, tangannya terasa dingin.


"Shofia, saya gak bermaksud menyinggung kamu, saya cuma mau kamu tahu hal itu, itu saja... Saya minta maaf, saya salah. Kamu jangan nangis yah, saya gak bisa lihat kamu menangis," tuturnya membujuku.


Aku menarik tanganku dari gengaman tangan dinginya.


"Bapak gak tahu gimana perasaanku, Pak Faiz gak ngerti. Ini berat buat aku Pak, hatiku masih belum terima. Aku butuh waktu Pak, Pak Faiz seharusnya ngerti itu dong!"


Aku berdiri dan masuk kedalam kamar. Aku ingin menguncinya tapi tidak bisa karena kuncinya tidak ada. Alhasil aku menangis bersandarkan pintu kamar.


"Shofia?" Ucapnya seraya mengetuk pintu kamar.

__ADS_1


"Jangan masuk!" Cegahku.


"Baiklah, saya tidak akan masuk, tapi kamu jangan menangis. Saya minta maaf, saya ti-"


"Diam!" Bentakku memotong ucapanya.


Pak Faiz tak lagi bersuara.


Itu bagus, aku semakin meresa kesal jika terus mendengar suaranya. Pak Faiz benar-benar menyebalkan. Dia seperti seorang yang haus pengakuan, pengakuan sebagai suamiku. Apa dia tidak memikirkan perasaanku? Di usiaku yang masih muda, 19 tahun aku sudah berstatus seorang istri. Dan yang memalukan lagi, aku menikah karena di grebek, bukan karena kemauanku sendiri. Bahkan akal dan batinku saha masih tidak bisa menerimanya.


Karena lelah menangis dan punggungku juga terasa pegal, aku pindah keatas ranjang. Aku berbaring menatap langit-langit, menerawang bagaimana nanti masa depanku? Untung saja biaya kuliahku murah karena aku mendapat beasiswa. Tapi bagaimana dengan biaya lain-lain?.


"Huft, memusingkan sekali!"


"Shofia, saya berangkat mengajar dulu yah. Kamu jangan lupa sholat isya'. Asalamualaikum," katanya di balik pintu.


Aku tak menjawabnya, aku terus berpikir gimana nanti kedepanya?. Karena lelah berpikir keras, alhasil aku kembali tertidur.


Aku terbangun karena merasakan ada yang membelai wajahku. Saat kubuka mataku, aku melihat Pak Faiz di depanku dengan tangannya yang berada di pelipisku.


"Aaa... Pak Faiz ngapain pegang-pegang aku? Bapak jangan macam-macam ya! Atau aku bakal teriak!" Aku bangun dan mundur seraya menarik selimut hingga menutupi dada.


"Saya gak akan ngapa-ngapain kamu Shofi. Saya cuma benerin rambut kamu yang menutupi wajahmu." Pak Faiz mengelaknya, tapi aku tidak percaya.


"Sekarang Pak Faiz keluar! Aku gak mau sekamar sama Bapak. Keluar Pak!"


"Tapi Shofi-"


"Keluar Pak!" Aku melempar bantal padanya.


Pak Faiz mengambil bantal itu dan keluar kamar.


Aku bisa bernafas lega. Tiba-tiba aku membayangkan saat dia meminta hak nya.


"Aaa... gak-gak, aku gak mau." Bulu kudukku seketika merinding membayangkanya.

__ADS_1


__ADS_2