Cinta Terdalam

Cinta Terdalam
Part 10


__ADS_3

Tidak ada obrolan selama perjalanan, sepertinya Bang Mul masih sangat kesal. Sebenarnya aku ingin menanyainya soal tadi, tapi aku takut dia akan semakin marah.


Buk..


Aku sangat terkejut saat Bang Mul tiba-tiba memukul setirnya.


"Bang Mul, ih! Kaget tahu!"


Bang Mul melihat kearahku tanpa mengucap sepatah katapun. Mendadak aku jadi takut kepadanya.


Tiba-tiba Bang Mul menepikan mobilnya.


"Kok menepi, Bang?"


Bang Mul menatapku dan tersenyum ramah.


"Kamu takut ya?"


"Iya lah, pake nanya lagi!... em, Bang Mul masih marah yah?"


"Gak kok. Maaf ya tadi aku bikin kamu takut. Habisnya tadi aku kesel banget sama Tante Indah! Bisa-bisanya dia berpikir seperti itu!"


Ini saat yang tepat untuk aku tanya-tanya ke Bang Mul.


"Em, maaf-maaf ni ya Bang Mul. Bukanya aku membela Tante Indah, tapi menurut aku, kenapa Tante Indah bisa ngomong gitu, pasti ada sebabnya! Mungkin karena Bang Mul gak pernah bawa cewek main kerumah sepeti yang Tante Indah katakan tadi, jadi Tante Indah berpikir kearah sana."


"Aku gak ajak temen cewek main kerumah, ya karena aku emang gak mau. Ya buat apa sih, cuma buat ngobrol harus pulang kerumah setelah selesai nganterin dia pulang. Lagipula aku gak ada waktu, aku sibuk."


"Sibuk apa? 'Kan cuma ngobrol habis itu nganterin pulang. Gak akan sampai seharian kali, Bang."


"Dulu, aku itu ketua osis di SMA dan aku juga banyak ikut ekstakulikuler, jadi yah waktu luangku gak banyak. Dan asal kamu tahu, semasa SMA aku juga jadi idola di sekolah, dan bahkan saat kulihpun, aku juga banyak yang suka."


Ya, tidak heran sih kalau Bang Mul jadi rebutan banyak cewek. Secara fisik, dia punya wajah yang tampan, tinggi, badan kekar, ditambah lagi warna kulitnya yang eksotis. Pokoknya cakep banget deh. Dan di tambah lagi dia juga memiliki sifat yang dewasa, bijaksana dan asik, jadi tidak heran lagi jika dia jadi rebutan.


"Aku juga pernah coba buat pacaran, tapi cuma sebulan. Aku putusin dia karena semenjak jadi pacarku, dia jadi orang yang sombong, kemana-mana minta diantarlah, di jemputlah, semua keinginanya harus di turuti, kalau tidak dia pasti ngambek. Padahal waktu kita masih jadi temen, dia cewek yang baik, asik, care sama aku. Mendadak sikapnya bisa berubah begitu aja saat jadi pacar...,''


"Saat kuliahpun sama. Aku putusin pacar aku karena sikap saat masih jadi teman dan saat sudah jadi pacar, jauh berbeda. Ya karena capek salah pilih pacar mulu, jadi aku lebih memfokuskan diri aku kearah lain, ya salah satunya di cafe itu. Cafe itu di bangun oleh aku dan 2 sahabatku, mereka semua cowok. Jadi bisa di bilang setiap hari aku selalu bareng-bareng sama mereka. Dan di tambah lagi kita semua sadboy, jadi karena itu kita bikin sebuah perjanjian. isi perjanjian itu adalah kita tidak boleh ada yang pacaran sebelum lulus kuliah. Yah dari situlah aku gak pernah jalan sama teman cewek manapun,'' sambungnya.


"Tapikan sekarang Bang Mul udah lulus. Kenapa gak cari pacar?''


"Belum ketemu yang cocok aja."


Bang Mul termasuk orang yang tidak terlalu banyak mau soal jodoh, yang terpenting baginya adalah kenyamanan dan bisa di ajak berbicara soal apapun. Yah, aku pikir semua orang ingin memiliki pasangan seperti itu.


"Kita makan siang dulu, setelah itu aku antar kamu pulang."

__ADS_1


*


Singkat waktu, aku dan Bang Mul sudah menyelesaikan makan siang kami. Saat kami akan meninggalkan area restaurant, aku tak sengaja melihat Pak Faiz berjalan seraya merangkul pundak seorang perempuan, tapi aku gak bisa lihat wajahnya karena terhalang tubuh Pak Faiz.


"Apa itu istrinya?" bisikku.


"Kamu bilang apa tadi?"


"Oh, gak. Aku gak bilang apa-apa kok."


*


Kini aku sudah sampai di rumah. Aku merebahkan tubuhku di atas ranjang, tiba-tiba terpikir soal Pak Faiz.


"Dia siapa yah? Apa istri Pak Faiz? Kalau itu saudaranya, gak mungkin deh. Orang penampilanya tertutup gitu, masa mau sih di rangkul-rangkul gitu. Kalau Ibunya, 'keknya gak deh, penampilannya aja kayak anak muda. Kalau memang itu istrinya, kapan nikahnya? Kok gak undang aku sih?... Eh, apaan sih, Fi. Kok kamu mikirin masalah orang lain. Ya terserah dialah, mau nikah kapan aja? Sama siapa aja? Apa hubunganya sama kamu?"


Gak jelas banget deh otakku ini. Kenapa harus mikirin Pak Faiz udah nikah apa belum, kek penting aja kamu di hidupnya.


"Daripada mikirin hal yang gak penting, mending telfon Kira."


Aku dan Kira mengobrol hingga sore hari. Saat ini aku sangat merindukannya, aku ingin sekali bertemu dengannya. Andai saja hidupku tidak di kekang, aku akan langsung pergi menemui Kira.


Setelah membersihkan diri, aku turun kebawah untuk makan malam. Seperti biasa aku langsung duduk di tempatku tanpa mengucap satu patah katapun.


"Shofi."


"Iya."


"Kamu masih punya nomer guru les kamu itu 'kan?"


"Iya. emang ada apa?"


"Gini, sebentar lagi Alya akan UTS { ujian tengah semester }, jadi Alya minta Ibu untuk mencarikan guru privat. Ibu pikir guru kamu itu cukup baik dalam mengajari kamu, siapa tahu Alya bisa dapat peringkat seperti kamu. Ibu minta kamu untuk menghubunginya. Kamu masih punya nomornya kan?"


"Iya, masih. Em, nanti aku akan kabari dia."


"Makasih, Shofi."


Hah! Aku gak salah dengar. Ibu berterima kasih kepadaku. Kesambet apa yah dia bisa mengucapkan kata sakral itu?.


"Aku kekamar dulu."


Bergegas aku berjalan menuju kamarku. Aku tutup pintu kamarku, aku berjalan menuju kaca.


"Auch, sakit."

__ADS_1


Aku mencubit pipiku sendiri untuk memastikan kalau aku sedang tidak bermimpi. Aku mencubit pipiku sekali lagi.


"Auch. Bener-benar bukan mimpi."


Entah kenapa hatiku malah tidak tenang? Ini terlalu tidak masuk akal bagiku. Orang yang bertahun-tahun membenciku, ingin melihatku sengsara, tiba-tiba tidak ada angin tidak ada hujan, jadi baik kepadaku.


"Sepertinya mereka merencanakan sesuatu? Tapi apa?"


Bukan aku ingin menuduh mereka, tapi keadaan ini benar-benar tidak masuk di akalku. Semisal feelingku benar, berarti mereka memikirkan rencana ini dengan sangat matang, sampai harus melibatkan orang lain.


"Sepertinya aku harus ikuti permainan mereka, agar aku tahu apa rencana mereka."


Gegas aku menghubungi Pak Faiz. Harap-harap aku tidak mengganggunya bersama istrinya itu.


"Hallo, Pak."


"Hallo, Shofia. Apa kabar?"


"Saya baik. Saya telfon Bapak karena ada hal yang mau saya bicarakan."


"Hal apa?"


"Pak Faiz bisa gak jadi guru privat Alya?"


"Alya, adik kamu?"


"Iya."


Pak Faiz tidak langsung menjawab. Sepertinya dia sedang berbicara dengan seseorang. Apa itu istrinya?.


''Iya, sayang."


Tuh kan bener, Pak Faiz udah nikah. Pasti perempuan yang di rangkul Pak Faiz kemaren itu istrinya. Mana manggilnya sayang lagi, kan aku jadi gimana gitu. Aku pasti udah ganggu mereka.


"Hallo, Shofi."


"Eh, iya Pak. Gimana, bisa apa enggak?"


"Bisa kok. Kapan mulainya?"


"Minggu ini."


"Oke. Jadi jadwalnya sabtu dan minggu jam 1 siang."


"Oke. Kalau gitu saya tutup telfonya. Dan maaf karena telah mengganggu."

__ADS_1


Aku langsung menutup telfonnya. Entah kenapa aku merasa aneh saat mendengar Pak Faiz memangilnya sayang. Apa karena selama ini aku jomblo dan jarang banget di panggil sayang? Jadi kek aneh gitu denger orang sayang-sayangan .


__ADS_2