Cinta Terdalam

Cinta Terdalam
part 13


__ADS_3

Aku terkejut ketika melihat rumah yang akan aku tempati sekarang. Rumah tua yang berukuran kecil ditambah warna cat yang sudah memudar, seperti memberikan kesan seram kepada rumah ini.


"Yakin nih Pak, kita tinggal di sini? Apa gak ada tempat tinggal yang lain? Rumahnya serem banget."


"Kamu tenang saja, walaupun rumah ini sudah tua tapi ini nyaman kok. Yuk masuk!"


Aku terdiam di tempat. Aku ragu aku akan nyaman tinggal di sini.


"Ayo Shofi."


Aku melangkahkan kakiku masuk kedalam rumah ini.


"Asalamualaikum," Pak Faiz mengucapkan salam.


Aku melihat di sekeliling rumah ini. Dalamnya tak seseram luarnya. Dalamnya rapi dan bersih, perabotan rumah ini juga tak banyak, sepertinya Pak Faiz tipe laki-laki yang suka kebersihan.


Aku mulai menelusuri seluruh ruangan rumah ini. Rumah ini terdiri dari satu ruang tamu dengan meja dan kursi kayu, satu ruang keluarga dengan meja dan kursi panjang disertai karpet dan almari kecil serta tv yang berada di atasnya. Untuk apa meja panjang di ruang keluarga? Aneh sekali. Sementara di dapur hanya ada satu rice cooker, satu kulkas dan satu kompor kecil, satu kamar mandi dan satu kamar tidur.


"Bagaimana, dalamnya tak seseram luarnya kan?" Ucapnya tiba-tiba.


"Iya sih, tapi tetap saja, rumah ini terlalu kecil untukku."


"Kamu tenang saja, saya akan berusaha keras untuk memberikanmu rumah yang lebih layak lagi."


Aku hanya tersenyum kecut. Apa dia berpikir aku akan menjadi istri selamanya untuk dia?


"Kamu istirahat dulu, saya mau pergi ke rumah pak RW."


"Iya."


Aku masuk kedalam kamarnya, aku melihat-lihat kesekeliling kamarnya. Kamarnya bersih dan rapi serta ada beberapa foto yang terpajang di dinding. Ada beberapa fotonya dengan seorang wanita paruh baya, aku tebak wanita itu pasti ibu Pak Faiz. Dan aku juga melihat foto Pak Faiz merangkul seorang wanita muda.


"Siapa dia?"


Terpintas kejadian disaat Pak Faiz merangkul seorang wanita. Apakah mereka orang yang sama?.


"Ah masa bodo. Tinggal tanya aja sama Pak Faiz, ngapain harus di pikirin."


Setelah puas melihat-lihat, aku merebahkan tubuhku di atas ranjang. Kuraih ponselku untuk menghubungi Kira, aku ingin memberitahu masalah yang aku hadapi kepadanya.


"Hallo, Ra."


"Hai, Fi."


"Ra. Huu huu... sekarang masa depanku sudah hancur, Ra." Ucapku mendramatisir suasana.


"Masa depan kamu hancur?... Hah! Kamu di perkaos, Fi? Kok bisa? Sama siapa? Kapan? Gimana ceritanya? Orangnya tanggung jawab gak?" Tanyanya tak berjeda.


"Tenang Kira! Aku gak di anu-anuin siapapun, kok. Aku masih rapet singset kok. Maksud aku itu... sekarang aku udah nikah." Ucapanku lemah di akhir kata.


"Hah, nikah? Sama siapa? Kok bisa?"


Aku menceritakan semua yang terjadi, tak lupa aku juga memberitahu Kira soal kecurigaanku kepada Ibu dan Alya.


"Aku yakin 100% kalau ini semua ulah mereka. Segitunya ya mereka ingin mengusir kamu, sampai melibatkan orang lain."


"Kalau aja mereka mau bersabar sebentar aja, aku pasti akan keluar dari rumah itu, tanpa mereka melakukan hal licik seperti ini."


"Orang serakah mana bisa sabar, Fi."


"Iya, kamu benar."


"Terus Pak Faiz gimana? Dia baik gak sama kamu?"


"Yah, sejauh ini sih dia baik sama aku."


"Syukur deh kalau gitu."

__ADS_1


"Udah dulu ya, Ra. Aku gak mau ganggu jam tidur kamu."


"Santai aja, Fi. Ingat ya, kalau ada apa-apa, langsung kabari aku!"


"Siap, bos. Yaudah. Bye Ra."


"Bye, Fi."


Setelah selesai menelfon Kira, aku memutuskan untuk tidur. Entah kenapa aku masih merasa mengantuk, padahal tadi aku sudah tertidur atau mungkin ini efek dari obat tidur yang mereka beri padaku?


Saat aku sudah mulai terlelap, tiba-tiba ada suara ketukan di pintu.


"Asalamualaikum," ucap orang itu.


Karena sudah sangat mengantuk, aku biarkan saja ketukan orang itu.


Tok Tok


Orang itu terus mengetuk pintu.


"Asalamualaikum Bang Faiz," ucapnya lagi dengan nada yang lebih keras.


Orang itu benar-benar menyebalkan. Seperti tidak tahu tata krama.


Dengan geram aku pergi untuk membukakan pintu.


"Pak Faiznya gak ada, jadi silahkan kembali lagi nanti!" Ucapku dengan wajah datar.


Saat aku hendak menutup pintu, tapi dia mencegahku.


"Kamu siapa, kok ada di rumah calon suamiku?" Ucapnya dengan mata melotot.


"Sodara." Aku berbohong karena tidak ingin membuatnya kecewa. Emm lebih tepatnya, tidak mau mengakui Pak Faiz adalah suamiku.


Saat aku hendak menutup pintu, ia mencegahku lagi.


"Ehh, tunggu!"


"Gak mungkin kalau Bang Faiz punya sodara modelan kayak kamu ini. Lihat aja penampilanmu! Keluarga Bang Faiz itu keluarga baik-baik. Jadi gak usah ngaku-ngaku jadi keluarganya!" Ucapnya merendahkanku.


Aku tak membalas ucapanya. Aku langsung menutup pintu dengan cepat.


Geram rasanya melihat orang-orang yang berpikiran buruk seperi dia. Apa haknya menilai kepribadian seseorang hanya dari penampilan luarnya saja? Memang dalam Islam, wanita wajib menutup auratnya, akupun tahu itu. Namun, bukan berarti orang yang berpakaian terbuka, mereka adalah orang-orang yang buruk.


Aku melangkah menuju kamarku.Namun, tiba-tiba wanita itu membuka pintu dan menerobos masuk kedalam rumah tanpa izin.


"Kok kamu gak sopan banget sih! Main masuk rumah orang tanpa izin. Sekarang keluar!" Ucapku dengan sedikit menekan nada.


Wanita itu tak mengubrisku. Dia berjalan dengan santainya dan duduk begitu saja di ruang keluarga.


"Aku akan menunggu Bang Faiz. Aku akan tanya ke dia. Kamu benar sodaranya atau kamu seorang... pencuri!" Ucapnya menuduhku.


"Terserah." Ucapku singkat tak ingin meladeninya.


Lantas aku melangkah menuju kamar untuk tidur karena mata ini sudah sangat mengantuk. Belum juga langkahku sampai di depan pintu kamar, wanita itu menarik tanganku dengan kasar, sampai aku terjatuh. Aku masih terduduk mengusap-usap pa*tatku yang terasa sakit.


"Ya Allah, Shofi," teriak Pak Faiz dari arah pintu depan.


Ia berlari kearahku dan membantuku berdiri.


"Kamu gak pa-pa?" Ucapnya dengan nada cemas.


"Aku gak pa-pa kok."


"Kok bisa jatuh?" Tanyanya.


Aku tak menjawab pertanyaan Pak Fiaz karena wanita itu tiba-tiba berteriak memanggil Pak Faiz.

__ADS_1


"Bang Faiz!" Teriak wanita itu seraya berlari kecil menuju Pak Faiz.


"Muka Abang kenapa lebam-lebam kayak gini?" Ucapnya khawatir.


Tangan wanita itu ingin menyentuh wajah Pak Faiz. Namun Pak Faiz menolaknya dan memalingkan wajahnya.


"Aku gak pa-pa," ucap Pak Faiz.


"Kenapa kamu di sini, Ning?" Tanya Pak Faiz.


"Sebenarnya aku kemari mau ajak kamu makan malam bersama. Ehh tahu-tahu malah ketemu dia di dalam rumah kamu. Ngakunya sih sodara, tapi aku gak percaya gitu aja, makanya aku masuk kedalam buat ngawasin dia." Jelas wanita itu dengan sangat menyakinkan.


Setelah mendengar paparan wanita itu. Kini Pak Faiz menatapku dengan binggung.


"Kenapa kamu berbohong?"


Belum juga aku menjawab, wanita itu sudah memotong.


"Tuh 'kan, dia bohong. Untung aja aku gak langsung percaya sama omongan cewek ini. Sekarang kita laporin aja dia ke polisi!" Ucap wanita itu.


Pak Faiz tak mengubris ucapan wanita itu, ia masih setia menatapku, dan sekarang tangannya bertengger di pundakku.


"Kenapa berbohong? Kamu bukan saudara saya, tapi istri saya. Kenapa tidak mau menggaku?" Tanyanya padaku.


Aku tidak fokus pada pertanyaanya, melainkan pada ekspresi wanita itu. Wajahnya yang semula sangat angkuh, tiba-tiba memucat dan kaku.


Wanita itu memegang pundak Pak Faiz dan memaksanya untuk menatap dia.


"Bang Faiz ngomong apa sih? Kamu bercanda kan? Dia gak mungkin istrimu, kamu pasti bohong! Jawab! Kamu bohongkan?" Ucap wanita itu seraya mengguncang-guncang pundak Pak Faiz.


"Istigfar Ning, istigfar!" Ucap Pak Faiz.


"Jawab dulu pertanyaanku Bang!"


Nampak Pak Faiz menarik nafas panjang.


"Dia istriku."


Wanita itu terduduk lemas, ekspresinya datar. Namun aku tahu pasti hatinya sangat terluka.


Wanita itu berdiri dan menatap tajam Pak Faiz. Sedikit menyeramkan, bagiku.


"Kenapa Bang, kenapa kamu lakuin ini sama aku? Bertahun-tahun aku mencintaimu, bertahun-tahun aku menunggumu, kamu tahu itu semua. Tapi kenapa kamu melakukan ini! Kamu jahat Faiz, kamu tega!" Teriak wanita itu meraung-raung.


Kasihan sekali melihatnya. Dia pasti sangat mencintai Pak Faiz. Andai saja pernikahan sial ini tidak terjadi, mungkin hal menyedihkan ini tak kan ada.


Pak Faiz berusaha menenangkan wanita itu yang terus berteriak.


"Tenang Ning, tenang!"


"Kamu minta aku tenang, atas semua yang terjadi? kamu gila!" ucap si Ning ini kepada Pak Faiz.


Plak


Tiba-tiba wanita itu menampar Pak Faiz. Pak Faiz memegangi pipi yang memerah.


Aduh... wajah sudah bonyok akibat kebrutalan Papa. Sekarang malah di tambah cap tangan dari si Ning-ning ini. Malang sekali nasibnya.


Terlihat Pak Faiz menarik nafasnya.


"Aku minta maaf atas semua ini, tapi aku tidak pernah memberi harapan sama sekali kekamu, aku juga selalu memintamu melupakanku dan mencari cinta lain. Kamu tahu itu semua," ucap Pak Faiz.


"Tapi kamu juga tahu kalau aku tetap mencintaimu," wanita itu tak mau kalah.


"Cinta tidak bisa di paksa, Ning."


Plak

__ADS_1


Lagi-lagi wanita itu menampar Pak Faiz. Ia menatap tajam kearahku dan langsung melenggang pergi. Aneh.


"Makanya jangan tebar pesona," ejekku kepada Pak Faiz.


__ADS_2