
Hari ini aku dan Kira pergi ke Universitas tempat aku akan melanjutkan belajarku. Namun, untuk kali ini aku akan terpisah dengan Kira, Kira akan melanjutkan sekolahnya di luar negri sedangkan aku di sini. Sebenarnya Tante Ella dan Om Surya menawariku untuk ikut mereka tinggal di luar negri dan bersekolah di sana, tapi aku menolaknya. Tak enak rasanya jika harus terus merepotkan Kira dan keluarganya.
Kini aku dan Kira tengah berkeliling area kampus. Kampus ini sangat besar dan bagus, aku suka sekali suasana di sini. Tiba-tiba ada yang memanggil namaku dan Kira.
"Shofia...Kira."
Sontak aku dan Kira mencari asal suara, ternyata itu suara Kak Seno { Senopati }, ia berlari menghampiri kami seraya melambai-lambaikan tangannya. Kak Seno adalah Kakak kelasku waktu di SMA, ia kelas 3 dan aku kelas 1. Ia pernah menyatakan perasaannya kepadaku saat hari kelulusannya tapi aku tolak. Ia lelaki yang baik, ceria dan penuh perhatian, tapi entah kenapa aku tak suka padanya? Padahal banyak perempuan yang ingin menjadi kekasihnya. Memang cinta tak bisa di paksakan.
"Hai, Shofi. Hai, Kira."
"Hai juga Kak,"
Sebenarnya aku masih merasa canggung dan sedikit tidak nyaman, tapi ya sudahlah, tidak perlu merasa tidak enak, toh kejadian itu juga sudah lama.
"Kalian kuliah di sini?"
"Em, hanya Shofi yang kuliah di sini,'' ucap Kira.
"Loh kok cuma Shofi, kamu enggak? Kenapa?"
"Mama dan Papa harus pindah keluar negri karena bisnis , jadi aku ikut mereka pindah dan sekalian kuliah di sana,"
kak Seno menggangguk tanda ia mengerti.
"Ngomong-ngomong kalian di sini lagi liat-liat yah? Aku bisa loh jadi tourget kalian."
"Oh, gak usah Kak. Kita udah mau pulang kok...,"
"Ayo, Ra."
Langsung aku tarik tangan Kira untuk pergi menjauh dari Kak Seno. 'Ku toleh ke belakang, Kak Seno terus menatap heran kearah kami. Masa bodo dengan apa yang ia pikirkan?.
"Masih ngerasa gak enak sama Kak Seno?"
"Iya nih, gak tau kenapa masih ngerasa canggung?"
"Ya udah, gak usah kamu pikirin masalah ini. Sekarang kita mau langsung pulang apa main dulu?"
"Main dulu aja yuk.''
"Oke."
Aku dan Kira memutusakan untuk pergi jalan-jalan terlebih dahulu sebelum pulang ke rumah. Aku dan Kira pergi ke Mall, kami tidak membeli apa-apa hanya melihat-lihat saja. Tak lupa kami mampir sebentar ke taman kota untuk menikmati jajanan kaki lima yang rasanya tidak di ragukan lagi, pastinya ya enak.
Langit senja sudah terlihat, aku dan Kira bergegas pulang. Kini aku sudah sampai di rumah, aku masuk kedalam rumah, suasana rumah tampak sepi. Ini sangat aneh?.
"Tumben sepi."
Aku tak terlalu memikirkanya, aku naik ke atas menuju kamarku. Aku merebahkan tubuhku di atas kasur.
__ADS_1
"Ahh nyamannya."
Karena lelah seharian berjalan-jalan, aku memutuskan untuk tidur sebentar sebelum mandi.
Saat aku membuka mataku, tampak langit di luar sudah gelap. Kebiasaan, selalu seperti ini. Niat hati ingin tidur beberapa menit, pasti keblabasan sampai berjam-jam. Bergegas aku masuk kamar mandi untuk membersihkan badanku yang sudah lengket. Setelah selesai aku turun ke lantai bawah untuk makan malam.
Aku mendengar suara Papa dan Ibu dari arah dapur. Karena penasaran aku berusaha untuk menguping pembicaraan mereka.
"Ayolah Pa. Dia itu sudah besar, sudah saatnya dia untuk mandiri."
"Enggak, Ma. Bagaimanapun Shofi anakku dan uangku lebih dari cukup untuk menghidupi kita semua!"
"Aku tahu soal itu Pa. Hanya saja aku ingin dia mandiri dan tahu bagaimana cara bertahan hidup tanpa kita! Itu saja."
"Aku tetap tidak setuju jika Shofi harus pergi dari rumah ini. Dia anakku dan hanya aku yang dia punya, aku tidak akan melakukan itu! Tidak akan pernah!"
Aku bergegas bersembunyi saat Papa akan pergi. Ibu benar-benar ingin mengusirku, tapi tenang saja Ibu, aku pastikan aku akan pergi dari rumah ini.
Namun, dari obrolan Papa tadi, ia seakan-akan sangat sayang padaku dan menganggap aku ini anaknya, tapi kenapa ia memperlakukan aku seperti ini? Ahh sudahlah, aku datang kesini untuk makan, hal ini bisa di pikirkan nanti.
Setelah selesai dengan urusan perut, aku kembali kedalam kamarku. aku selalu memikirkan apa yang akan aku lakukan kedepannya?. Kalau ikut kata hatiku yang terdalam, aku ingin ikut Kira dan keluarganya pindah keluar negri, tapi aku masih punya rasa malu dan rasa itu yang mencegahku untuk ikut.
******
Hari ini aku mengantar Kira dan kedua orang tuanya ke Bandara. Sedih rasanya harus berpisah dengan sahabat yang bertahun-tahun selalu bersama. Aku selalu memeluk Kira, berat rasanya melepas Kira pergi.
"Jaga diri baik-baik yah! Kalau ada apa-apa langsung hubungi aku!"
"Kalau suatu saat Shofi berubah pikiran dan ingin tinggal bersama kami, langsung hubungi Om atau Tante yah!''
Aku hanya menggangguk.
"Shofi, jaga diri kamu baik-baik! Jika Orang tua kamu bersikap buruk, langsung hubungi Om Surya! Om akan langsung bawa kamu pergi dari sini. Shofi mengerti?"
"Iya Om, Shofi ngerti. Makasih yah Om, Tante, Kira, kalian baik banget sama Shofi. Terima kasih banyak."
"Iyah, sama-sama," ucap Tante Ella.
Aku sangat bersyukur memiliki Kira dan kedua orang tuanya di dalam hidupku, karena hanya disinilah aku merasa di sayangi dan di perhatikan.
Sebelum pergi Kira memeluku, aku seperti enggan melepasnya.
"Jaga diri kamu baik-baik! Aku pergi dulu. Bye."
"Bye."
Aku iringi kepergian mereka dengan doa dan air mata. Berat, sungguh berat rasanya hati ini.
Sekarang aku benar-benar sendirian, sekarang sudah tidak ada lagi orang yang akan membantuku jika aku dalam masalah, sekarang sudah tidak ada lagi pelukan hangatnya, keanehanya, judesnya dan hal-hal seru yang kita lakukan bersama.
__ADS_1
'Ku kendarai motorku menuju cafe Bang Mul. Aku ingin tahu kenapa dia tidak membalas chatku dan telfonku?.
Tampak cafe Bang Mul sangat ramai, mungkin karena ini dia tidak membalas chatku. Aku masuk kedalam dan berjalan menghampiri Bang Mul.
"Bang Mul!"
"Hai, Shofi. Kenapa kemari? Aku lagi sibuk, kamu tunggu saja di tempat biasa!"
Lantas aku berjalan menuju ke tempat biasa aku nongkrong. Hampir satu jam aku meunggu Bang Mul, akhirnya dia datang dengan segelas kopi di tangannya.
"Ni kopinya. Sorry ya lama nunggunya."
"Iya, Bang."
Bang Mul duduk di sebelahku.
"Mau curhat ya?"
Aku mulai memasang muka marah.
"Aku kesini bukan untuk curhat, tapi aku kesini untuk marahi Abang!"
"Memang aku salah apa, Shofi?"
"Kenapa Bang Mul gak balas chat aku dan gak angkat telfonku?"
"Kamu tadi telfon Abang? Sorry ya. Tadi cafe rame banget, jadi aku gak sempat liat ponsel. Tadi malam ponsel Abang juga ketinggalan di sini, jadi gak tau kalau kamu chat Abang."
"Memangnya ada hal penting apa sampai kamu marah seperti ini hanya gara-gara aku gak bales chat kamu?" sambungnya.
"Ini itu masalah penting, Abang. Asal Bang Mul tau, Kira udah brangkat keluar negeri! Dia udah gak di sini lagi."
Bang Mul nampak terkejut. Dia pasti menyesal karena tidak mengantar Kira tadi.
"Hah. Hari ini? Jam berapa? Aduh, Kira pasti marah karena Abang gak ngantar dia tadi."
"Rasain. Suruh siapa tadi gak angkat telfon aku?"
"Huft. Ya udah deh, mau gimana lagi udah terlanjur, nanti aku akan hubungi dia."
"Kamu pasti merasa kehilangan banget 'kan? Secara dia 'kan sahabat kamu dari dulu. Kemana-mana selalu berdua, susah seneng rasain sama-sama, dan sekarang kamu harus berpisah dengan dia. Pasti itu berat untuk kamu?" sambung Bang Mul.
"Sangat berat. Yah mau gimana lagi? Aku gak berhak menghalang-halangi Kira untuk memilih jalan demi masa depanya sendiri. Walaupun kita terpisah oleh jarak, tapi aku tau dia akan selalu ada untuk aku."
Tiba-tiba Bang Mul menggenggam tanganku.
"Aku juga akan selalu ada untuk kamu, aku juga akan selalu melindungimu. Jangan pernah anggap kamu sendirian di dunia ini, karena masih ada Abang di sini!''
Terharu dan lega rasanya karena masih ada Bang Mul di sini.
__ADS_1
''Iya, aku tahu hal itu. Terima kasih, Bang Mul."
Bang Mul menarik aku kedalam dekapannya, dia seperti memberikanku energi dan semangat untuk menjalani hidup tanpa Kira di sampingku, dan entah kenapa aku merasa nyaman dan terlindungi di dalam dekapanya? Dan yang pasti aku merasa bersyukur karena masih ada Bang Mul di sampingku.