Cinta Terdalam

Cinta Terdalam
Aku bukan benda


__ADS_3

Jam menunjukan pukul 6 petang, Kira sudah pulang dari 2 jam yang lalu. Namun aku masih enggan tuk pergi dari cafe ini, tapi tak ada pilihan lain, aku harus bergegas pulang, jika tidak Ibu tiri di rumah akan berubah menjadi singa.


''Bang Mul, aku pulang dulu ya!''


''Iya. Kalo ada apa-apa, langsung hubungi aku!''


Aku hanya menggangguk.


''Hati-hati!''


Pertemananku dengan Bang Mul sudah terjalin selama hampir 4 tahun. Bang Mul juga tahu soal kehidupan laraku, ya walaupun tak sedalam Kira.


Aku lajukan motorku dengan santai, menikmati suasana senja sebelum hitam melahap indahnya warna jingga. Kini aku telah memasuki halaman rumah, aku parkirkan motorku di dalam garasi. Aku persiapkan hati, telinga dan badan untuk menerima hantaman dan cacian Ibu. Saat kubuka pintu rumah, seketika suara itu mengelegar.


''Bagus ya, jam segini baru pulang! Dasar anak gak tau diri! Kamu pikir, kamu siapa, hah! Dasar anak pembawa sial!''


Dan masih banyak lagi cacian yang Ibu lontarkan. Sakit hati? Pasti. Namun itu sudah menjadi hal yang biasa, sampai-sampai aku kebal dengan cacianya.


Aku melihat Papa berjalan dengan santai melintasi kami. Dia tak menghentikan Ibu, jangankan menghentikan Ibu, melirikpun tidak. Hal itu jauh lebih sakit daripada cacian pedas Ibu.


Karena sudah sangat bosan mendengar omelannya yang tak enak di dengar itu. Tanpa menunggunya berhenti, aku melangkah pergi meninggalkannya. Bukanya tak sopan dan tak menghormati, hanya saja dia yang tak mau aku menghormatinya. Baru juga beberapa langkah, Ibu berteriak memanggil namaku.


''Shofia!''


Kuhentikan langkahku dan menoleh kearah Ibu.


PLAK


Bunyi keras dari tamparan Ibu terdengar mengelegar keseluruh ruangan, bahkan Ibu sampai mengibas-ibaskan tangannya. Perih, panas dan berdenyut, itu yang kurasakan di pipiku. Menangis? Tentu tidak, menggenang di pelupuk matapun tidak. Karena ini sudah menjadi hal biasa, sampai aku pun terbiasa.


''Jangan memukulnya terlalu keras!''


Kuangkat kepalaku, menoleh kearah suara yang tiba-tiba terdengar. Kulihat Papa yang yang berjalan kearah kami. Ia duduk dengan santai di sofa, tanpa memarahi Ibu yang sudah menamparku.


''Dia! Anak pembawa sial ini, sudah keterlaluan Pa! Jam segini baru pulang. Dia pikir, dia tuan putri di sini!''


''Iya, aku tahu. Itu hakmu untuk memukulinya, tapi jangan berlebihan!''


Ucap Papa dengan mudahnya tanpa memikirkan hati anaknya sendiri. Mereka pikir aku benda tak bernyawa dan tak memiliki perasaan, seenaknya berkata seperti itu.


''Tidak ada yang berhak memukuliku, bahkan orang tuaku sekalipun!''

__ADS_1


Ucapku dengan lantang, sakit rasanya hati ini mendengar hal itu. Mereka pikir, aku ini apa?.


Ibu mencengkram pipiku.


''Aku berhak karena kamu tinggal di rumah ini!''


Aku hanya diam tak menjawab dan kutatap Wajah Ibu dengan tatapan dingin. Tanpa berkata-kata, aku langsung meninggalkan mereka.


Aku meletakan tasku di sembarang tempat. Aku berjalan kearah meja rias. Kutatap wajahku di pantulan cermin, tampak cap tangan Ibu terukir sempurna di pipiku. Masih berwarna merah segar.


''HaHaHa…''


Bukanya menangis, aku malah tertawa, menertawakan nasibku yang buruk ini. Serasa hati ingin marah kepada Tuhan, tapi hati juga yang tak mengijinkannya.


''Apa aku boleh mengeluh?… Tidak ya?''


Aku berjalan kearah jendela, Kutatap keluar jendela dengan tatapan kosong. Tiba-tiba air mata menetes tanpa ijin. Semakin banyak dan semakin deras. Seketika tubuh terduduk lemas, aku menangis sesengukan.


''Aku salah apa Tuhan, kenapa nasibku seperti ini?''


Setelah puas menangis dan berkeluh kesah, aku pergi kekamar mandi untuk membersihkan badanku yang sudah sangat lengket. Setelah selesai, aku baringkan badanku di atas ranjang, seraya menatap langit-langit kamar.


Entah jam berapa aku tertidur, tiba-tiba saja terdengar bunyi alarm. Aku kumpulkan nyawaku yang masih berterbangan sebelum pergi untuk mandi. Setelah selesai bersiap-siap, aku turun untuk sarapan, sebenarnya hati masih marah dan engan untuk berkumpul dengan mereka, tapi pikiran memaksa agar bergabung dengan mereka.


Aku duduk bergabung dengan mereka, baru juga pantat ini terduduk, Ibu mulai mengoceh dan menyindir.


''Gak punya malu, dengan santainya kamu makan di sini. Sayang, kamu jangan sampai seperi orang itu, gak tau diri, gak punya malu, pembawa sial lagi!''


''Iya Ma, itu pasti. Lagian siapa juga yang sudi jadi orang kayak dia. Gak ada gunanya sama sekali!''


Aku terlihat fokus dengan makananku tanpa mengubris mereka. Aku selesaikan makananku dengan cepat, lalu berangkat kesekolah.


''Sayang jangan sampai kamu seperti orang itu, gak tau diri, gak punya malu, bla bla bla. Ck dia pikir, anaknya itu lebih baik daripada aku. Dia pikir, anaknya itu cewek baik-baik Dan dia pikir dirinya sendiri lebih baik daripada aku. Mereka yang gak tau diri. Gak Ibu gak anak sama-sama gatal. Hi menjijikan!''


Aku mengomel tanpa henti di sepanjang jalan. Masih gak habis pikir aja dengan kelakuan Ibu dan Anak itu. Seenak jidat menghina orang tanpa berpikir dirinya sendiri sudah baik apa belum. Memang benar ya kata orang-orang '' Melihat kekurangan orang lain itu jauh lebih mudah daripada melihat kekurangan diri sendiri ''.


Kini aku sudah duduk di bangkuku, aku sedang menanti Kira datang.


''Kok lama banget si datangnya, tumben banget,''


Tet Tet

__ADS_1


Bel masuk sudah berbunyi, tapi Kira masih belum sampai.


''Kok belum sampai si. Apa dia sakit ya? Kalo emang sakit, pasti dia chat aku,''


Tak selang lama Kira datang dengan napas ngos-ngosan.


''Sorry, aku telat. Tadi kebangkel dulu, tambal ban,''


''Tadi aku pikir kamu ijin, soalnya kamu kan gak pernah telat,''


''Kalo aku ijin, pasti orang yang pertama kali aku chat bukan Guru tapi kamu!''


''Uh terharu,''


Aku tersenyum memeluk lengan Kira, aku begitu terharu karena betapa pentingnya aku bagi Kira.


Kini waktunya istirahat, aku dan Kira pergi kekantin untuk mengisi perut yang sudah keroncongan. Aku memesan mie ayam dan Kira memesan bakso. Menu di kantin kami lumayan lengkap, satu minggu sekali pasti ada pergantian menu, jadi tidak membuat para murid bosan.


Tak selang lama pesanan kami datang. Aku langsung saja melahap makananku karena aku sudah sangat lapar.


''Fi, kamu udah ngomong ke Papamu soal les privat itu?''


''Belum, aku gak sempat bilang,''


''Kok gak sempat, apa Papa kamu lembur?''


''Engak, aku lagi sebel sama Papa, jadi males mau ngomong sama dia,''


''Ada masalah ya, masalah apa?''


Aku menceritakan semua kepada Kira, termasuk kejadian tadi pagi saat sarapan. Kira terlihat kesal dan tidak percaya.


''Aku gak ngerti lagi Fi. Gimana si pola pikir keluarga kamu, terutama Papa kamu. Kamu kan anak kandungnya, darah dagingnya, tapi kenapa malah ngomong gitu? Kalo emang gak mau membela, seengaknya melerai atau menegur kelakuan Ibu tiri kamu,''


''Aku juga gak ngerti salah aku dimana,''


''Sabar ya,''


Kir menggengam tanganku, seakan memberikan kekuatan kepadaku untuk menghadapi masalah ini.


Terima kasih telah membaca😊

__ADS_1


__ADS_2