Cinta Terdalam

Cinta Terdalam
Part 15


__ADS_3

Aku keluar dari kamar mandi dengan rambut basah yang kubalut dengan handuk. Tiba-tiba Pak Faiz mencegatku.


"Apa kamu masih marah?" Tanyanya.


"Iya," ucapku ketus.


"Umi tadi menelfon, dia ingin melihatmu-"


"Terus?"


"Saya mau kamu berbicara dengan Umi, tapi jangan ketus padanya."


"Aku gak mau!" Ucapku.


"Shofia, dengar! Kamu boleh bersikap kasar pada saya, saya tak 'kan marah, tapi jangan bersikap kasar pada Umi nanti, karena Umi tidak tahu apa-apa, beliau hanya ingin mengenalmu. Shofia, bersikaplah baik kepada orang lain, berprilaku ramahlah kepada orang lain. Jangan jadikan kamu sama seperti mereka." Ucapnya panjang lebar... kalau dipikir-pikir yang Pak Faiz omongin ada benarnya juga. Tapi gengsi ah minta maaf duluan... ah aku ada ide.


"Oke, aku bakal ngomong sama Ibu Pak Faiz, tapi ada punya satu syarat."


"Syarat? Syarat apa?" Pak Faiz menatapku binggung.


"Syaratnya, Pak Faiz ngak boleh sentuh-sentuh aku tanpa seijinku... oh ya, dan Pak Faiz gak boleh tidur sekamar bareng aku! Gimana, deal or no deal?"


Pak Faiz tak langsung menjawab, ia diam selama beberapa saat. Sepertinya aku telah benar mengajukan syarat ini, terbukti Pak Faiz sangat berat menjawab, itu tandanya tidak menutup kemungkinan Pak Faiz akan meminta haknya padaku.


"Pak! Gimana, setuju atau tidak?" Tanyaku.


"Em... Ya, saya setuju."


"Bagus."


Saat aku ingin masuk kedalam kamarku, Pak Faiz kembali mencegatku.


"Kamu mau kemana?" Tanyanya.


"Mau kekamar."


"Kita ngomong sekarang sama Umi, Umi sudah menunggu dari tadi! Ayo!"


Pak Faiz duduk di kursi panjang ruang keluarga. Aku mengikutinya dan duduk disampingnya.


Pak Faiz memulai panggilan video. Tak selang lama, tampak wajah seorang wanita paruh baya memenuhi layar ponsel.


"Asalamualaikum Faiz," salam wanita itu.


"Waalaikumsalam Umi," jawab Pak Faiz.


"Mana menantu Umi, Iz?"


"Ini Umi," ucap Pak Faiz.


Lantas Pak Faiz menghadapkan layar ponselnya dihadapanku.


"Asalamualaikum Umi," ucapku.


"Waalaikumsalam. Masya Allah cantik sekali kamu nak, beruntung Faiz dapet kamu," ucap Umi.


"Terima kasih Umi," ucapku.


Kami mengobrol panjang lebar, Umi menceritakan bagaimana Pak Faiz ini? Apa kesukaanya? Apa yang tidak dia sukai? Dan Umi juga menceritakan hal-hal konyol yang Pak Faiz Alami.


Yah, first impression aku pada Umi cukup bagus ya. Umi orangnya tak sekaku Pak Faiz, dia lumayan asik. Jauh-jauh berbeda dengan si Baku ini.


"Duh, gak nyangka kita bisa selama ini ngobrolnya. Umi senang bisa mengenal kamu sayang. Umi berdoa agar pernikahan kalian Sakinah mawadah warahmah, amin. Oh ya Faiz, jangan terlalu terburu-buru, biarkan Shofia menikmati masa-masa mudanya dulu. Kalau masalah cucu, Umi bisa menunggu," ucap Umi.


Sontak aku langsung menatap Pak Faiz. Jujur aku tidak mengerti kenapa Umi ngomong gitu? Apa Pak Faiz mengatakan sesuatu sampai Umi bilang seperti itu?.


"Iya Umi, Faiz ngerti." Ucap Pak Faiz.


"Sayang, Umi titip Faiz ya. Ingatkan dia agar tidak terlalu memaksakan diri untuk bekerja," ucap Umi.


"Iya Umi."


"Ya sudah, asalamualaikum." Salam Umi.


"Waalaikumsalam." Ucap Pak Faiz.


"Bapak ngomong apa sama Umi?" Tanyaku langsung saat panggilan telah terputus.


"Maksudnya? 'Kan kamu juga dengar tadi saya ngomong apa aja sama Umi."


"Maksud aku, kenapa Umi bisa bilang "jangan terburu-buru soal cucu" ? Pasti Pak Faiz bohong 'kan sama Umi soal kita udah ber...," tiba-tiba aku merasa risih jika harus mengucapkan kata itu didepan Pak Faiz. Melihat wajah dan badannya saja sudah membuatku merinding dan lemas.


"Ber- apa Shofi? Berhubungan in*im?" Ucap Pak Faiz dengan frontalnya.


"Karena kamu keramas Shofi, makanya Umi bisa berpikir seperti itu," Pak Faiz langsung pergi begitu saja tanpa menjelaskan secara detail.


Apa coba hubungannya keramas sama berhubungan in*im? Aku menyusulnya kekamar.


"Apa hubungannya keramas sama berhubungan...in*im?" Ucapku lirik diakhir kata.


"Didalam agama kita, jika suami dan istri telah selesai melakukan hubungan ba*an, diwajibkan untuk melaksanakan mandi wajib atau mandi junub. Menguyur air dari rambut sampai ujung kaki dengan tatacara tertentu, bertujuan untuk menghilangkan hadas besar. Mungkin karena kita pengantin baru dan Umi melihat kamu keramas, makanya Umi berpikir seperti itu." Ujarnya panjang lebar.

__ADS_1


Aku hanya mengangguk paham.


"Apa ada pertanyaan lain? Jika tidak, saya akan berangkat mengajar."


"Gak ada," ucapku.


"Ya sudah, saya berangkat dulu."


----------~


Keesokan paginya. Aku bersiap-siap berangkat kekampus, Pak Faiz yang akan mengantarku.


"Shofia! Cepat, nanti saya bisa telat!" Ujarnya.


"Iya." Aku berlari kearahnya seraya memasukan buku-buku pelajaranku.


Aku berdiri didepannya, tanganku masih sibuk memeriksa buku-buku pelajaranku. Tiba-tiba Pak Faiz memasangkan helm dikepalaku.


"Ayo Shofi!" Perintahnya menyadarkanku dari diam.


Aku duduk dibelakangnya, gegas Pak Faiz melajukan motornya. Saat kami sudah dekat area kampus, aku menghentikanya.


"Stop Pak! Berhenti!" Aku menepuk-tepuk pundaknya.


Pak Faiz meminggirkan motornya. Aku turun dari motor.


"Kenapa? Apa ada yang tertinggal?" Tanyanya.


Aku menyerahkan helm padanya.


"Gak ada. Aku cuma gak mau teman-temanku tahu kalau aku udah nikah," ucapku dengan santai.


Pak Faiz hanya menatapku, dan terlihat jika dia menarik nafas dalam. Masa bodo dengan apa yang dia pikirkan.


Aku menjulurkan tanganku meminta uang saku padanya. Pak Faiz mengeluarkan dompetnya, ia memberikanku uang 100 ribu.


"Ini untuk satu minggu," ucapnya.


Mataku mendelik mendengar ucapanya. Mana mungkin uang segini bisa untuk satu minggu?.


"Pak Faiz bercanda? Mana cukup Pak! Ini untuk sehari saja gak cukup," protesku.


"Shofi, keadaan kamu sekarang berbeda. Kamu sudah dewasa, kamu bisa mengerti semua ini. Tapi kamu tenang saja, saya akan berusaha mencari pekerjaan lainnya, agar kamu berkecukupan. Saya janji!" Ucapnya.


"Aku gak yakin!" Aku berjalan meninggalkannya.


"Nanti saya jemput!" Teriaknya. Aku tak menggubris ucapanya.


Sepulang dari kampus, aku tak langsung pulang. Aku dan teman-teman mampir ke cafe Bang Mul.


Aku memesan makanan dan minuman favoriteku.


Bang Mul berjalan menghampiri meja kami.


"Hai cewek," ucap genitnya.


"Gatal,'' sindirku.


"Uluh-uluh, ketus banget beb," godanya padaku.


Aku tak menjawab ucapanya. Bang Mul ikut bergabung dengan kami. Kami membahas materi pembelajaran tadi siang dan mengobrol hal-hal yang tak berguna.


Aku melirik jam, jam menunjukan pukul 2 siang. Tiba-tiba aku memikirkan Pak Faiz. Tadi dia bilang akan menjemputku, apa dia masih disana menungguku atau tidak? Aku jadi merasa bersalah jika memang benar dia masih menungguku.


Aku mengambil ponselku yang sedari tadi berada didalam tas. Ada satu panggilan tak terjawab dari Pak Faiz pada pukul 12 siang.


"Aku ketoilet dulu," ucapku.


Gegas aku menelfon Pak Faiz setibanya ditoilet.


"Hallo Pak. Pak Faiz dimana?" Ucapku.


"Saya didekat halte kamu turun tadi. Apa kuliahnya sudah selesai?" Ucapnya.


Spontan aku menepok jidatku. Heran dengan kelakuan Pak Faiz. Kenapa mesti ditungguin sih kalau emang lama? Paling tidak 'kan bisa telfon, nah ini cuma nelfon sekali.


"Bapak pulang aja, nanti aku pulang bareng temen!  Pulang Pak, jangan ditunggu!" Perintahku.


"Kamu yakin?"


"Iya. Pulang Pak!" Aku langsung mematikan telfonku.


Aku kembali ketempat teman-temanku. Kami kembali mengobrol ngalor-ngidul, sampai sore hari.


"Pulang yuk, udah sore nih?" Ucap salah satu temanku.


"Ayuk, udah lepek juga badanku," ucap temanku yang lain.


Aku berpamitan dengan Bang Mul.


Aku meminta teman-temanku untuk menurunkanku dihalte bus. Rencana aku akan pulang naik bus. Untung saja mereka tak banyak tanya.

__ADS_1


Aku langsung masuk kedalam kamar begitu sampai di rumah. Tapi aku tak melihat Pak Faiz dirumah, entah kemana dia sekarang?.


Selesai membersihkan badan, aku kembali kedalam kamar. Namun Pak Faiz masih tak terlihat.


"Dimana sih dia?" Gumamku


Tak selang lama, terdengar salam dari Pak Faiz.


"Asalamualaikum."


Gegas aku keluar dari kamar untuk menemuinya.


"Bapak darimana?" Tanyaku.


"Dari warung, beli ini." Katanya seraya menunjukan satu bungkus plastik yang entah apa isinya.


Pak Faiz berlalu pergi, aku kembali kedalam kamar.


Setelah makan malam, aku kembali kedalam kamar untuk mengerjakan tugas dari Dosen. Aku keluar kamar dan hendak pergi kedapur untuk mengambil air minum. Saat keluar kamar, aku melihat Pak Faiz duduk di karpet dengan kotak P3K didepannya.


"Belum tidur Fi?" Tanyanya.


Aku hanya menggeleng dan berlalu pergi. Setelah mengambil air minum, aku hendak kembali kekamar, tapi aku melihat Pak Faiz kesusahan mengobati lukanya. Jadi aku berbaik hati ingin membantunya, tapi tetap dengan sikap ketusku.


Aku duduk di sampingnya, tepat dibagian tangannya yang terluka. Aku menarik sedikit lengannya untuk melihat seberapa parah lukanya. Terdapat luka lebam kehitaman dan goresan luka sekitar 3 cm di bagian atas sikunya.


"Kenapa bisa terluka?" Tanyaku. Aku mulai mengobati lukanya.


"Tadi saya membantu Mbok Jum memperbaiki atapnya. Karena gak berhati-hati saya kepleset dari tangga dan jatuh. Saat mau bangun, lengan saya tergores batu," jelasnya.


"Mbok Jum, siapa?"


"Dia penjual sayuran disini, dia janda tanpa anak. Kasihan gak ada yang bantu," ucapnya.


"Bantu orang sih boleh-boleh aja, tapi juga harus hati-hati. Untung 'tu batu cuma kena lengan, kalau kena kepala? Bisa ngabisin duit."


"Terima kasih perhatiannya," senyum lebar terbit diwajahnya.


Aku fokus mengobati lukanya. Terpintas kejadian tadi siang.


"Oh ya, kenapa tadi siang Pak Faiz nungguin aku selama itu? Kenapa gak pulang aja atau telfon? Ini cuma nelfon sekali gak diangkat dan gak nelfon lagi. Pak Faiz sadar gak kalau Bapak itu bodoh?"


"Saya nelfon kamu cuma ingin bilang kalau saya sudah sampai, dan kenapa saya cuma nelfon sekali? Karena saya pikir kamu sedang mengerjakan tugas atau ada pembelajaran tambahan. Saya pernah jadi Mahasiswa, jadi saya tahu rasanya. Dan kenapa saya tunggu? Karena saya takut uang kamu habis dan kamu gak punya ongkos untuk pulang." Jelasnya.


"Oh... em, tapi Pak Faiz benar. Memang uangku sudah habis, jadi besok aku minta uang saku lagi." Ucapku dengan santai.


Pak Faiz tak menjawab, dia hanya diam dan menunduk. Aku melihat raut wajah sedih atau kecewa, aku tak tahu itu. Tapi entah kenapa aku malah merasa bersalah?.


"Apa sudah selesai?" Tanyanya dengan nada lembut


"Em."


"Terima kasih dan tidurlah, ini sudah malam!" Katanya masih dengan nada lembut.


Aku kembali kedalam kamar. Aku mencoba untuk tidur tapi tidak bisa. Bayangan wajah sedih dengan senyum Pak Faiz terus terbayang dibenakku.


"Tidurlah Fi, gak usah kamu pikirin Pak Faiz. Gak usah merasa bersalah, karena kamu gak salah. Itu hak istri untuk menghabiska uang suami, dan sudah tanggung jawab suami untuk memberi nafkah." Gumamku.


Aku terus mencoba untuk tidur, tapi sampai jam 1 dini hari mata ini tidak mau tertidur.


Aku turun dari ranjang dan hendak keluar kamar. Entah kenapa aku ingin melihat wajah Pak Faiz?


Aku membuka pintu dan melihat Pak Faiz tidur dikarpet dengan hanya berselimutkan sarung. Aku mendekati Pak Faiz, aku berjongkok didepan wajahnya. Aku terus menatap wajahnya, wajahnya begitu menenangkan dan sangat hangat. Wajah dari orang yang dulu aku hormati, aku kagumi dan yang selalu kutunggu nasehatnya.


Namun, sekarang semua berubah. Aku sadar ini semua bukan salah Pak Faiz, aku sadar sikapku keterlaluan padanya. Tapi aku masih tidak bisa terima, jika saat itu Pak Faiz menolaknya, pernikahan ini tak akan terjadi.


Aku kembali kedalam kamarku dan mencoba untuk tidur.


Entah jam berapa aku tertidur, kini suara ayam sudah riuh terdengar. Aku turun dari ranjang dan bersiap-siap pergi kekampus.


Pak Faiz sudah menunggu didepan rumah seraya memanasi motornya. Pak Faiz melajukan motornya menggikis jarak ketempat tujuan, seperti bisa, tak ada obrolan sama sekali.


Pak Faiz menurunkanku ditempat kemarin aku memintanya menepi.


"Ini uang saku kamu." Pak Faiz memberikan uang seratus ribu padaku.


"Maaf karena tidak bisa memberi lebih... kalau begitu saya berangkat dulu. Sampai jumpa, asalamualaikum." Pamitnya padaku.


Aku masih terdiam, mengamati dirinya yang sudah tak terlihat.


Aku berjalan menuju kampus. Sepanjang jalan pikiranku tertuju pada senyum pria itu, suamiku. Ia selalu menunjukan senyumnya walau aku selalu membuatnya kesal. Terkadang karna senyum itu pula yang membuatku merasa bersalah atas tindakanku.


Setelah kuliah usai, aku berjalan menuju tempat dimana Pak Faiz sudah menungguku.


"Asalamualaikum. Bagaimana kuliahnya?" Ucap manisnya.


"Waalaikumsalam. Biasa aja."


Kini kami telah sampai dirumah dan Pak Faiz langsung kembali kesekolah tempat dia mengajar. Pak Faiz menggunakan waktu makan siangnya untuk menjemputku. Aku tak minta loh, dia sendiri yang ingin melakukanya. Dia melarangku naik motornya, katanya motornya sering bermasalah.


Aku merebahkan tubuhku di atas kasur. Sepanjang pelajaran tadi, aku tidak fokus pada pelajaran, melainkan pada Pak Faiz. Karena rasa bersalah ini, aku jadi memiliki ide. Aku akan lebih menekannya melalui perasaan, aku juga akan tetap menekanya melalui keuanganya sih, cuma aku akan sedikit berbaik hati.

__ADS_1


__ADS_2