
"Kakaaaak," teriak Anna ketika melihat kakaknya ditusuk oleh seseorang yang tak di kenalnya lalu langsung kabur begitu saja. Anna yang sedang panik pun langsung berlari menghampiri kakaknya yang sudah bersimbah darah.
"Kak, tolong bangun!" ujar Anna sambil menggoyang-goyangkan badan kakaknya agar cepat sadar kembali.
"An..na..," lirih Edwin
"Kakak, apa yang sebenarnya terjadi? kenapa jadi begini?" ujar Anna ketika mengetahui kakaknya masih setengah sadar.
Edwin masih terbaring di tanah, Anna pun berupaya menolong kakaknya dengan menelfon Rumah Sakit, tapi sayang handphone genggam milik Anna tiba-tiba mati karena habis baterai.
"Tolong hidup bahagia demi aku, Anna," pinta Edwin kepada adik satu-satunya itu.
Dengan sedikit tenaga yang masih tersisa di dalam dirinya, Edwin mengusap air mata sang adik.
"Aku percaya kamu pasti bisa, iya kan?" tanya nya lagi.
Anna yang sangat sedih melihat kondisi kakaknya yang memprihatikan itu, tidak kuasa untuk menangis sejadi-jadinya.
"Apa yang kakak katakan? Kakak adalah kebahagian ku!" teriak Anna sambil memegang tangan kakaknya yang sedang mengusap air matanya.
"Sebenarnya ada banyak hal yang harus ku katakan padamu, tapi mungkin memang belum waktunya aku bicara padamu sampai akhirnya aku malah seperti ini. Walaupun aku tidak ada, kamu pasti akan mengetahuinya," ucap Edwin yang semakin lirih.
"Apa maksud kakak? apa yang sebenarnya terjadi?" tanya Anna di sela-sela tangisannya.
"Aku sayang padamu, kamu harus bahagia, Anna," belum sempat Edwin menjawab pertanyaan Anna, Edwin sudah tak sadarkan diri ..
...----------------...
"Ah, kenangan itu lagi. Kenapa harus muncul setiap saat?" gumam Anna kepada dirinya sendiri.
Setiap kali hujan turun, dia selalu teringat kejadian pahit itu. Dimana dia kehilangan sosok yang benar-benar membuat dirinya hancur, Anna sangat membenci hujan dan sedikit membuatnya trauma.
.
.
.
Flashback..
Saat itu hujan deras sekali, Annastasia atau yang sering di sapa Anna pulang sekolah lebih awal dari biasanya dan dia tidak membawa payung. Kebetulan juga supir yang setiap hari menjemputnya menelfon bahwa dia tidak bisa menjemput Anna karena mobilnya mogok dan sedang dibawa ke bengkel. Anna pun berinisiatif untuk menelfon kakaknya agar bisa menjemputnya.
"Haloo kak," sapa Anna
__ADS_1
"Ya haloo, ada apa Anna? tumben kamu menelfon ku jam segini?" tanya Edwin.
"Apakah kakak terlalu sibuk, hingga merasa aneh kalau aku menelfon mu?" gerutu Anna.
"Bukan begitu, maksudku kenapa kamu telfon? karena tidak biasanya kamu menelfon ku di saat jam sekolah," ujar Edwin.
"Aku pulang lebih awal kak, karena guru sedang mengadakan rapat Dewan dan kebetulan Pak Din sedang di bengkel. Apa kakak bisa menjemput ku? tanya Anna.
"Oh begitu, baiklah aku akan menjemputmu, aku akan berangkat sekarang," jawab Edwin.
Edwin pun langsung bergegas mengambil jas dan kunci mobil yang dia simpan di meja kerjanya. Perjalanan dari kantor Edwin menuju sekolah Anna berjarak 15 menit, Anna berdiri seorang diri menunggu Edwin di halte depan sekolahnya. Hujan pun semakin lama semakin deras dan Edwin belum juga menampakan batang hidungnya. Anna yang menunggu lama pun mulai terlihat gelisah dan sedikit emosi.
"Kak Edwin kemana sih?" batin Anna sedikit kesal.
Tidak lama kemudian, Edwin pun sudah sampai tepat di seberang halte tempat Anna berdiri. Sembari memberikan kode tangan kepada Anna, untuk tetap menunggu di halte.
Edwin pun menghampiri Anna dengan memakai payung, dan membawa sebuah payung baru untuk Anna. Belum sempat Edwin menyeberangi jalan dan memberikan payung untuk Anna, tiba-tiba datang sepeda motor melaju kencang dan berhenti tepat di depan Edwin, sosok itu langsung menyerang Edwin dan menusukan beberapa tusukan pisau ke badannya. Edwin pun terkapar jatuh, dan sosok misterius itu pun langsung naik motor dan melesat pergi.
Anna yang terkejut, langsung tersadar kembali ketika dia mendengar suara jeritan kakaknya.
Anna yang menyaksikan itu pun langsung histeris dan berlari menghampiri kakaknya.
"Kakaaaaak," teriak Anna.
...----------------...
Anna mengeluarkan handphone nya dan menelfon seseorang.
Tuuuuuut.. tuuuut... sedetik kemudian terdengar suara dari seberang telfon.
"Halo nona, maafkan saya karena telat menjemput, saya terjebak macet disini," ujar sosok yang sedang menelfon dengan Anna, dia adalah pak Han supir pribadi Anna.
"Ya sudah, pak. Nanti pak Han langsung pulang saja ketika sudah kembali normal, saya akan naik taksi dari sini," sahut Anna.
Sebenarnya Anna ingin sendirian, karena ketika musim hujan tiba Anna selalu mengingat kejadian itu, di mana dia kehilangan sosok Edwin, kakak yang sangat dia sayangi. Tapi karena orang tuanya yang menuntut agar keamanan Anna terjaga, maka Anna tidak boleh bepergian sendirian.
Semenjak kakaknya pergi, hidup Anna hancur.
Dia tidak pernah lagi menunjukan emosi perasaannya yang sebenarnya, dia berubah menjadi dingin dan datar. Apalagi sejak mengetahui fakta yang di maksud kakaknya sebelum meninggal adalah tentang kedua orang tua kandung mereka.
Anna mengetahui kebenarannya ketika kakaknya meninggal, tentang orang tuanya yang ternyata masih hidup. Tidak hanya itu saja, yang membuat Anna merasa sakit hati adalah fakta bahwa kakaknya lah yang selama ini menyembunyikan semuanya, hidup Anna seolah-olah runtuh.
"kenapa kakak bisa seperti itu padaku?" batin Anna di penuhi tanda tanya.
__ADS_1
Tapi pikirannya berubah ketika Anna menemukan sebuah surat yang dia temukan di balik sebuah potret foto kakaknya dan dirinya ketika dia sedang membereskan kamar tidur Edwin. Seolah-olah surat itu memang sengaja Edwin simpan di tempat rahasia agar hanya Anna lah yang dapat menemukannya.
Anna pun membaca surat tersebut dan isinya membuat Anna sangat terkejut.
Dear Anna,
Ketika kamu menemukan surat ku ini, mungkin aku sudah tidak ada di dunia ini. Dan kamu sudah menemukan fakta yang sebenarnya. Aku tahu kamu pasti sangat kecewa padaku, karena apa yang sudah kulakukan padamu. Aku memang membohongimu, Aku selalu bilang padamu bahwa orang tua kita sudah meninggal, dan kenyataan sebenarnya adalah mereka masih hidup.
Anna sayang..
kamu tahukan aku begitu menyayangimu. Saking sayangnya padamu, aku membawamu pergi dari keluarga itu. Aku memang anak durhaka bagi orang tua kita, tapi aku adalah kakakmu satu-satunya yang sangat menyayangimu dan mencintaimu..
Anna..
setelah kamu masuk kedalam keluarga itu lagi, kamu pasti tahu alasan aku melakukan ini padamu. Aku tidak ingin kamu terkena dampaknya karena keluarga kita, orang tua kita tidak seperti orang tua lainnya sehingga membuatku mengambil keputusan untuk pergi dari rumah itu dan membawamu pergi jauh.
Kamu pasti akan mengerti maksud ku setelah kamu mengalaminya sendiri.
Aku harap kamu bisa memilih jalanmu sendiri dan hidup bahagia dengan pilihanmu.
Aku minta maaf karena aku telah berbohong padamu dan sekali lagi aku minta maaf karena aku tidak dapat menjadi walimu ketika kamu menikah nanti.
Jangan pernah percaya kepada siapapun, yang harus kamu percayai adalah dirimu sendiri.
Orang terdekat pun pasti akan bisa berubah menjadi musuh, itu pesanku padamu, Anna.
Aku sangat mencintaimu
Kakakmu
Edwin Bridd
Surat itu di temukan dengan beberapa surat lainnya, yaitu surat kepemilikan rumah, saham, perusahaan kecil milik Edwin yang sudah diganti kepemilikannya menjadi nama Annastasia Bridd.
Anna langsung menangis sejadi-jadinya ketika melihat surat dari kakaknya dan mengigat semua kenangan saat bersama nya, Edwin sangat memperhatikan dan begitu menyayanginya.
"Maafkan aku kak,aku benar-benar minta maaf karena sudah tidak mempercayaimu," jerit Anna
"Aku akan memastikan, siapapun dalang yang telah membunuhmu hidupnya akan berakhir sama sepertimu" jerit Anna, lalu dia memeluk surat dan photo milik kakaknya itu.
Setelah membereskan barang-barang miliknya dan milik Edwin, Anna pun pergi dari rumah tersebut dan pergi ke rumah orang tua kandungnya.
...****************...
__ADS_1