Cinta Terhalang Musuh

Cinta Terhalang Musuh
Hal yang mencurigakan


__ADS_3

"Jadi apakah kita bisa melakukan Tanda Tangan Kontrak, Nona?" tanya Alex.


Alex pun menyetujui untuk bekerja sama dengan perusahaan milik Anna setelah Alex membaca Proposal yang di buat oleh Anna, Sebenarnya dari kemarin Anna ingin sekali bekerja sama dengan Alexander Company. Akan tetapi dia akhirnya mulai ragu, karena Bos dari perusahaan tersebut adalah si Pria itu. Dia masih sangat kesal tentang masalah lukisan yang hilang, walaupun memang bukan dia yang mencurinya.


"Baiklah, terima kasih anda sudah menerima proposal dan mau bekerja sama dengan kami," ujar Anna, dia tidak ingin masalah pribadinya terbawa hanya karena dia kesal dengan Alex ini menyangkut dengan perusahaan akhirnya dia menyetujuinya.


Mereka pun melakukan tanda tangan kontrak, lalu berjabat tangan pertanda bahwa kerja sama diantara mereka sudah resmi.


"Apa saya boleh menanyakan sesuatu, tentang masalah kemarin?" tanya Anna kepada Alex lalu melirik Nickolas. Alex mengerti maksud Anna, karena pertanyaan ini sangat rahasia dan takut Nickolas mendengarnya.


"Tidak apa-apa dia tahu semuanya," ujar Alex


"Terkait masalah lukisan itu, kenapa anda sangat ingin membelinya?" tanya Anna sangat penasaran.


"Saya juga ingin menanyakan hal yang sama, kenapa anda ingin membelinya sedangkan anda tidak menyukai seni dan anehnya lagi kenapa anda bisa tahu harga jual lukisan itu sangat tinggi?" tanya Alex


"Ah dia sedang menjebakku, aku harus bisa menjawabnya," gumam Anna.


"Sebenarnya itu untuk hadiah temanku," ucap Anna berbohong walaupun memang tidak sepenuhnya berbohong, karena memang lukisan itu akan di berikan kepada Laura dan Robert.


"Apakah begitu?" tanya Alex masih tidak percaya "Saya mempunyai galeri lukisan, dan saya sangat menyukai seni," lanjutnya lagi.


Nickolas memberikan kartu nama galeri milik Alex kepada Anna "G.Art?" tanya Anna ketika menerima dan membaca kartu nama tersebut.


"Singkatan dari Graham Art," jelas Alex


"Oh begitu, maafkan saya. Saya merasa kesal karena tidak bisa mendapatkan lukisan itu jadi saya mencurigai Anda," ungkap Anna.


"Kenapa anda harus curiga kepada saya? saya hanya seorang penyuka seni dan akan memamerkan hasil lukisan yang saya beli," ucap Alex


"Seperti yang sudah saya bilang, saya ingin memberikan hadiah itu kepada teman saya ... jadi saya sangat kesal ketika lukisan itu di beli oleh orang lain " ucap Anna


"Apakah teman mu tau tentang seni? memang siapa dia?" tanya Alex penasaran


"Orang tua saya, orang tua saya penyuka seni" jawab Anna dengan tegas.


"Pantas saja, setiap kali kita bertemu anda sangat kesal kepadaku," ucap Alex


"Apa terlihat sangat jelas?" tanya Anna


"Sangat jelas sekali," ucap Alex lalu tersenyum, "Saya memang sering melihat Tuan Robert datang ke galeri saya," lanjutnya lagi


"Saya benar-benar meminta maaf, karena merasa kesal kepada anda," ujar Anna tulus.


"Tidak apa-apa, untuk kedepannya kita akan sering bertemu ... jadi saya harap anda jangan terlalu membenciku," ucap Alex


"Saya tidak membenci anda, Tuan Alex," ujar Anna


Nickolas yang sedari tadi menonton percakapan Bosnya sangat heran, karena tidak biasanya Bosnya itu sangat ramah terhadap orang lain, dia akan terlihat dingin ketika berhadapan dengan orang lain, entah itu pria ataupun wanita yang tidak terlalu dekat dengannya, dan Han hanya tersenyum melihat Bosnya sedang berbicara dengan Alex.

__ADS_1


.


.


.


"Austin, selidiki terkait pelelangan siapa yang mencuri lukisan itu, kita tidak boleh kehilangan lukisan itu," perintah Robert kepada Austin.


"Baik, Tuan," ucap Austin, "Apa mungkin mereka itu dari keluarga Falke?" tanya Austin.


"Entahlah, tolong cari tahu," ucap Robert dingin.


"Baik Tuan," Austin pun pergi keluar dan Laura pun masuk ke ruangan milik Robert.


"Apakah kau menyuruh Austin meyelidiki masalah lukisan itu? tanya Laura, "Bukankah kita harus hati-hati dengan orang yang ada di rumah ini? lanjutnya lagi.


"Austin tidak akan mengkhianati kita, Laura," jawab Robert


"Tapi kita harus tetap berhati-hati," ucap Laura


"Tenanglah, aku sedang memikirkan nya, aku sudah tahu siapa dalang sebenarnya ... bukti-bukti sedang ku kumpulkan, kita tunggu saja," ucap Robert


Ketika Laura dan Robert sedang berbicara, ada sosok yang sedang mendengarkan di balik pintu, lalu pergi begitu saja.


Robert terdiam, dan memberi isyarat kepada Laura untuk diam, Laura pun di buat bingung oleh tingkah laku Robert. Setelah dirasa cukup, Robert pun berkata "Lihatlah, dia sudah terjebak," ucap Robert


"Maksudmu apa? aku tidak mengerti," tanya Laura


"Baiklah kalau begitu," ujar Laura


"Kudengar kamu akan bertemu dengan Nyonya Amalia?" tanya Robert


"Iya, dia mengundangku dan beberapa orang lainnya," ujar Laura " Apa kamu mau kopi?" tanya nya lagi.


"Bukankah dia istri Graham? boleh buatkan seperti biasanya," jawab Robert.


Laura pun membuat kopi untuk suaminya itu, Robert memang penyuka kopi apalagi kopi hitam tanpa gula.


"Iya, dia istri Tuan Graham," jawab Laura "Sayang, apa kamu membeli kopi baru? bau nya berbeda dari biasanya," ujar Laura seraya mencium bubuk kopi yang selalu di simpan di mini kitchen yang berada di ruang kerja Robert.


"Tidak, aku selalu membeli yang biasanya ... mungkin hidungmu bermasalah," hina Robert lalu tertawa


"Ah ... sepertinya begitu," ucap Laura , dia membuat 2 cangkir kopi lalu meletakannya di meja, dia melihat beberapa dokumen yang berserakan di atasnya.


"Apakah dokumen ini sangat penting? kenapa asal taruh di atas meja," ucap Laura


"Bacalah," ujar Robert, Laura pun langsung membaca satu persatu dokumen yang ada di atas meja.


"Robert, apa yang ada di dokumen ini benar?" tanya Laura sambil berlinang air mata.

__ADS_1


"Benar atau tidaknya kita lihat nanti, aku masih harus mengumpulkan bukti lebih banyak lagi ... aku mohon padamu, jangan beritahu Anna dahulu," ujar Robert.


"Baiklah," ucap Laura lirih.


.


.


.


"Terima Kasih anda sudah menyetujui untuk bekerja sama dengan kami, info selanjutnya nanti saya akan hubungi," ucap Anna kepada Alex.


"Saya tunggu info dari anda," ujar Alex lalu berjabat tangan.


Mereka pun berpisah, lalu pergi ke kantor masing-masing.


Dalam perjalanan pulang, Nickolas menatap Alex dengan penuh kecurigaan, "jika kamu ingin bertanya sesuatu tanyalah ... jangan melihatku seperti itu," ucap Alex


"Apa anda menyukai Nona Anna, tuan?" tanya Nickolas tanpa berbasa-basi.


Alex yang mendengarnya pun langsung terkejut, "Apa? Kenapa kamu bisa berfikir seperti itu?" tanya nya


"Entahlah, saya memiliki firasat bahwa anda sepertinya menyukai beliau ... anda tau kan kalo firasat saya selalu benar," ujar Nickolas.


"Tidak, aku hanya penasaran saja," jawab Alex lalu memalingkan wajahnya ke jendela.


"Dia sangat cantik dan elegan,Tuan ... sangat berbahaya jika beliau di sukai oleh orang lain," goda Nickolas.


"Diamlah Nick," ujar Alex kesal.


Ring ... Ring ... Ring ...


Handphone milik Alex berbunyi, dan itu panggilan dari Graham, ayahnya.


"Halo, ada apa yah?" tanya Alex


"Kamu sedang dimana? aku di kantor", tanya Graham


"Saya di jalan menuju kantor, sekitar 10 menit saya akan sampai," ujar Alex


"Baiklah kalau begitu," ucap Graham


Alex menutup telfonnya, "Ada apa tuan?" tanya Nickolas


"Percepat mobilnya Nick, ayah sudah menunggu di kantor," ucap Alex


Nickolas pun melajukan mobilnya dengan kencang, karena dia tahu pasti ada masalah besar jika Tuan Besarnya itu harus sampai datang ke kantor anaknya.


"Ayolah, hidupku semakin lama semakin menakutkan," batin Nickolas menggerutu.

__ADS_1


...****************...


__ADS_2