
Anna datang menemui Robert di ruang kerjanya, ruangannya cukup luas dan tertata sangat rapi. Hanya saja, ruangan itu tidak cukup nyaman karena warna dinding yang berwarna hitam dan suasana nya yang begitu canggung sehingga membuat Anna merasa sesak.
Robert langsung menghampiri Anna dan menyuruhnya untuk duduk di sofa.
"Duduk lah," ujar Robert,
"Bagaimana keadaanmu selama ini?" tanyanya, sambil sesekali Robert menghisap rokoknya. Perawakan Robert sangatlah tampan, berbadan kekar atletis dan terlihat nampak seperti pertengahan usia 40-an.
Hanya saja mimik wajahnya sangat tegas dan menyeramkan, seolah-olah beliau adalah pria yang galak.
"Kabar ku sangat baik," jawab Anna datar.
Diam-diam Robert memperhatikan Anna, lalu berkata
"Kamu sudah semakin besar, ternyata kamu tumbuh dengan baik," ujar Robert.
"Kak Edwin membesarkan ku dengan sangat baik," sindir Anna agar Robert merasa menyesal karena tanpa dia, Anna bisa tumbuh dengan baik walaupun dengan hanya di besarkan oleh Kakaknya.
"Ya karena aku percaya padanya, aku tidak mencari kalian selama ini. Dia sendiri yang ingin keluar dari sini dengan membawamu pergi, aku tidak bisa membayangkan anak umur 17 tahun bisa melewati semua ini," ujarnya tanpa ada rasa kebanggan sedikitpun.
Robert pun terus menerus menghisap rokok milik nya, padahal Anna sangat tidak suka bau rokok.
Tapi setelah mendengar kata-kata yang keluar dari mulutnya, Anna merasa marah kepada Robert.
"Apa anda tahu, bagaimana Kakak saya hidup dan berjuang untuk melindungi saya?" tanya Anna kepada Robert.
"Mungkin anda tidak bisa membayangkan, bagaimana dia bisa melewati nya. Kak Edwin mati-matian mencari uang untuk menafkahi saya, tanpa bantuan siapapun," ujar Anna dengan nada emosi.
"Dan setelah kak Edwin pergi, anda malah datang dan meminta saya untuk ikut dengan anda," lanjut Anna.
Robert hanya terdiam, lalu dia berdiri dan berjalan ke arah jendela melihat pemandangan yang ada di bawah rumahnya, lalu sesekali Robert menghisap rokoknya.
"Anna, kamu memang belum tahu keluargamu siapa, bagimu kakakmu adalah pria yang sangat perhatian tapi mungkin saja di luar dia pria yang sangat kejam," ujar Robert.
Anna tak habis pikir mendengar omong kosong yang dia dengar dari mulut orang tua nya itu.
"Kamu tau kita adalah Bridd, kakak mu adalah Edwin Bridd, Kamu Annastasia Bridd, dan aku sendiri adalah Robert Bridd. Kakakmu masih menggunakan nama Bridd, yang artinya dia masih ada di keluarga Bridd. Kamu mungkin belum mengerti, tapi setelah semuanya terjadi kamu akan paham," ujar Robert.
Robert diam sejenak, menarik nafas dalam-dalam..
"Anna, kamu adalah anak dari sebuah kelompok yang kejam. Apa kamu mengetahui hal ini? tidak,bukan?" tanya Robert.
Anna tampak kaget, dan dia masih belum mengerti apa yang di maksud oleh Robert.
"Saya masih belum paham, tentang omong kosong ini," jawab Anna.
__ADS_1
"Apa itu,Bridd? kelompok kejam? seperti mafia-mafia yang membunuh orang,seperti itu?" sindir Anna.
Robert menatap dalam-dalam ke wajah Anna, dan Anna langsung mengerti apa yang di maksud oleh Robert.
"Astaga sulit di percaya," ucap Anna sambil menggelengkan kepalanya, karena ketidakpercayaannya itu.
"Kamu harus percaya, karena kamu adalah Bridd Raubtiere, si pemangsa. Kamu penerusku, menggantikan Edwin. Apa yang kamu pikirkan tentang mafia itu benar, orang-orang yang kejam dan saling membunuh, tapi itu hanya di lakukan kepada orang yang memang bersalah. Seumur hidupku, aku tidak membunuh tanpa alasan," tegas Robert.
"Aku tidak ingin menjadi seperti itu!" bentak Anna, lalu dia berbalik dan akan pergi dari ruangan Robert.
"Apa kamu tidak ingin membalaskan dendam tentang kematian kakakmu,Anna?" tanya Robert, tepat sebelum Anna membuka pintu ruangannya.
Anna berdiam diri sejenak, "Apa kamu pikir,dengan menjadi orang biasa. Kamu akan bisa membalas dendam?" tanya Robert. "Aku bisa saja, langsung membunuhnya jika aku tahu siapa dalangnya. Tapi apa kamu tidak ingin membunuh langsung orang tersebut?" tanya nya lagi.
Anna hanya terdiam ketika mendengar apa yang di katakan Robert, lalu dia pun langsung membuka pintu, dan pergi.
Dengan langkah kaki yang gontai, Anna berjalan menuju kamarnya. Pikirannya pun mulai di penuhi dengan omongan papahnya.
"Sebenarnya apa yang di bicarakan oleh nya itu benar, dengan status ku yang sekarang aku tidak ada cara untuk mengetahui siapa yang membunuh Kak Edwin, aku butuh koneksi dan perlindungan yang kuat. Karena pasti sangat berbahaya," batin Anna.
Karena terlalu sibuk dengan pikirannya, akhirnya sampailah dia di kamar nya. Dia pun langsung melemparkan badannya ke atas kasur. Dia terlalu lelah untuk mandi dan mengganti baju nya, pikirannya masih melayang tentang resiko besar yang akan dia hadapi kalau dia sampai terlibat dengan keluarga ini, tapi dia juga masih tidak terima kalau Kakak nya mati dengan cara yang tragis. Dia benar-benar bingung mengambil keputusan yang tidak akan dia sesali di kemudian hari.
Pagi pun tiba, Anna sudah duduk di meja makan menunggu orang tua nya datang. Dia masih merasa belum terbiasa dengan situasi dimana dia harus makan sesuai aturan yang ada di rumah itu, terlebih lagi dengan keadaan yang buruk dengan Robert kemarin malam.
Selang beberapa menit kemudian,mereka pun tiba di meja makan, tanpa tegur sapa mereka langsung melahap makanan yang sudah pelayan hidangkan untuk mereka.
"ini adalah waktu yang tepat untuk berbicara," pikir Anna.
Anna sudah mengambil keputusan bulat-bulat tentang masalah keluarga yang sedang dia hadapi. Walaupun resikonya sangat besar, yang penting adalah membalaskan dendam mendiang Kakaknya. Kalaupun suatu saat dia mati, Anna tidak akan pernah menyesali keputusan ini, yang terpenting untuk Anna adalah siapa pelaku sesungguhnya dan dia akan langsung membunuhnya.
"Pah, saya ingin berbicara sesuatu tentang masalah kemarin," ujar Anna, walaupun dia ragu-ragu karena takut Robert akan marah.
"Apa kamu sudah mengambil keputusan?" tanya Robert.
"Iya,Pah. Aku bersedia menjadi penerus keluarga Bridd," tegas Anna dengan penuh percaya diri.
"Kamu sudah tahu resikonya, bukan?" tanya Robert sekali lagi.
"Iya, saya sudah memikirkan hal ini matang-matang," jawab Anna dan langsung melirik ke arah ibunya, Laura hanya membalas dengan senyuman tipis.
"Bagus, ini baru anakku. Papah senang mendengarnya. Kamu perlu membutuhkan waktu yang cukup lama untuk menjadi penerusku, kamu harus menjadi kuat dan pintar di manapun kamu berada, di situasi genting pun kamu tetap harus menggunakan otakmu, apa kamu mengerti? tanya Robert.
"Saya mengerti, Pah," jawab Anna dengan lantang dan tegas.
Robert memanggil asisten pribadinya, Austin. Austin sebenarnya adalah sahabat Robert, karena Robert sangat percaya kepada Austin, maka dia pun di jadikan asisten pribadinya.
__ADS_1
Sudah hampir 10 tahun Austin bekerja di kediaman Bridd tanpa ada masalah apapun.
Dan kali ini, Robert menyerahkan wewenang kepada Austin untuk mendidik Anna untuk menjadi sosok yang lebih kuat dan pintar, sampai dia merasa cukup pantas untuk menjadi penerus keluarga Bridd.
"Austin," panggil Robert.
Austin yang sedari tadi menunggu di luar Ruang makan pun datang dan menghampiri tuannya.
"Iya,tuan" ujar Austin.
"Anna, dia adalah paman Robert asisten ku sekaligus sahabatku. Kamu akan belajar dengannya mulai besok, mungkin jadwal mu akan sangat padat," ucap Robert.
Anna hanya mengangguk sebagai jawaban atas apa yang di perintahkan oleh Robert.
"Tolong bantuannya, aku percayakan dia padamu," pinta Robert kepada Austin.
"Baik,Tuan. Anda bisa mengandalkan saya" ujar Austin.
"Nona, mohon bantuannya," ujar Austin sedikit membungkuk kan badan untuk menghormati Anna.
"Saya yang seharusnya berbicara seperti itu, Paman. Tolong bantu saya," pinta Anna.
"Baiklah, nona. Besok saya akan membawa jadwal untuk nona. Mungkin mulai besok hari-hari anda sangat berat. Anda akan mengikuti kelas seni bela diri, belajar menggunakan senjata, belajar tentang perusahaan, tata kelas penerus, dan masih banyak lagi," ungkap Austin.
Membayangkan nya saja, Anna berpikir pasti akan sangat berat. Tapi dia tidak akan pernah mundur begitu saja.
"Baiklah, Paman" ujar Anna.
.
.
.
.
Berhari-hari, berminggu-minggu, sampai berbulan-bulan, Anna menyibuk kan diri dengan berbagai jadwal kegiatan yang sangat padat.
Dia tidak pernah sekalipun keluar dari rumah tersebut, dia sangat ingin cepat-cepat di akui oleh Robert.
Semakin lama dia tinggal di rumah nya, semakin dia tahu tentang keluarganya. Ternyata Bridd adalah keluarga yang sangat hebat dan kaya. Walaupun Bridd memiliki reputasi yang bagus, itu hanyalah sebuah topeng belaka.
Selain mempunyai beberapa perusahaan ternama, Robert juga memiliki beberapa Club malam di setiap kota, beberapa tempat perjudian dan pelelangan, dan menjual bahan-bahan baku secara ilegal walaupun dia menyamarkan identitasnya sebagai pemiliknya. Dan anehnya Anna tidak pernah sekalipun, mendengar tentang keluarga Bridd selain Kakaknya setelah dia dewasa. Entah karena memang Edwin yang menutupinya, atau memang ada hal lain, yang jelas Anna harus cepat-cepat berubah menjadi yang di inginkan Robert dan mendapat pengakuannya.
"Kak, tunggulah aku. Aku akan membalaskan semuanya,untukmu," ucap Anna kepada dirinya sendiri.
__ADS_1
...****************...