
Alex dan Nickolas buru-buru pergi menemui Graham di ruangan Alex, sesampainya disana. Dia melihat beliau sedang duduk di kursi yang biasa di tempati oleh Alex.
"Ada apa, yah? kenapa datang tanpa beritahu dulu," ucap Alex penasaran.
"Dia berulah lagi," ujar Graham
"Apa dia sudah tertangkap?" tanya Alex
"Belum, kami sedang mengejarnya ... terkahir dia terlihat di seoul," jawab Graham
"Baiklah, saya akan mengejar dan menangkapnya," ujar Alex terlihat kesal.
Orang yang di bahas oleh Graham adalah Edward, kakak laki-laki Alex yang tinggal di swiss, dia selalu membuat masalah dan masalah yang terakhir adalah dia membunuh orang yang tidak bersalah.
Sebenarnya Edward bukan kakak kandung Alex, tetapi dia adalah anak yang di adopsi oleh keluarga Graham sebelum Alex lahir.
Edward sangat cemburu ketika melihat Alex lahir, karena merasa perhatian Graham dan Amalia tercurahkan hanya untuk Alex.
Semenjak itulah Edward selalu membuat onar dan masalah karena ingin mendapatkan perhatian dari kedua orang tuanya, hidupnya berubah menjadi hancur setelah dewasa.
"Aku merasa bingung dengan tingkahnya, harus bagaimana lagi aku harus berbicara dan menasihati nya?" tanya Graham terlihat sedih, Alex sangat tahu bahwa ayahnya sangat menyayangi Edward seperti anak kandungnya sendiri. Awalnya memang Edward tidak memperlihatkan kecemburuannya secara terang-terangan, akan tetapi entah sejak kapan hidup Edward semakin tak terkendali.
"Saya berjanji akan membawa Kak Edward ke hadapan ayah," Tegas Alex
"Terima Kasih Alex," ucap Graham, "Aku harus kembali lagi ke kantor," lanjutnya.
Graham pun pergi, dengan di dampingi oleh Alex sampai lobbi perusahaan.
"Laporkan padaku, tentang lukisan itu kita harus menemukannya terlebih dahulu. Kita sangat membutuhkan kode rahasianya," ujar Graham sebelum menutup pintu mobilnya.
"Baik, saya akan mengingatnya ... berhati-hatilah," ujar Alex.
Alex hanya menatap kepergian ayahnya sampai mobilnya tak terlihat lagi.
__ADS_1
"Nick," panggil Alex yang sedang berada di belakangnya, "Selidiki dan kita harus bersiap dengan misi ini," lanjut Alex.
Sekedar info keluarga Graham adalah Kelompok mafia dari Falke, hanya saja memang tidak ada yang tahu identitas asli mereka.
Termasuk Alex yang tidak mengetahui bahwa Anna adalah keluarga Bridd Raubtiere, satu sama lain tidak ada yang tahu identitas masing-masing.
"Baik Tuan," ujar Nickolas.
"Hubungi perbatasan, laporkan jika mereka melihat Edward ... mari kita tuntaskan si pengganggu itu," ujar alex sangat marah.
......................
"Hai Anna,"
"Apa kamu sehat? sepertinya kamu melupakanku"
"Ah, kakak??" tanya Anna
"Iya, ini aku, kamu sungguh melupakanku"
"Tidak apa-apa, aku senang kamu bisa bahagia sekarang, tapi .... "
"Tapi apa kak?"
"KAMU BERBOHONG dan KAMU TIDAK MENEPATI JANJIMU, AKU SANGAT KECEWA PADAMU"
"Tidak, kak. Aku sedang mencari bukti bukti itu"
"Ayo kamu harus ikut denganku," Edwin mencekik Anna sampai lesu.
Tiba-tiba Anna terbangun, dan tersadar kalau itu adalah mimpi, akan tetapi dia merasa seperti tercekik oleh seseorang.
Anna langsung menangis ketika mengingat mimpi tersebut, betapa malunya dia kepada Edwin karena Anna belum menepati janji kepadanya, dia pun menangis sejadinya karena mimpi buruk tersebut.
__ADS_1
Keesokan harinya, Anna pergi ke tempat pemakaman Edwin, dia menaruh bunga tulip di pemakaman nya.
"Maafkan aku kak, aku belum memenuhi janjiku padamu," isak Anna
"Kakak tahu? begitu sulitnya aku tanpamu, aku harus berupaya menjadi wanita yang sangat kuat dan pintar agar di akui oleh Papah dan Mamah. Andai ada kamu, mungkin aku tidak akan mengalami hal-hal sulit seperti ini, aku akan selalu dimanjakan olehmu. Kak, aku lelah, aku cape seperti ini terus. Kakak tahu? adikmu yang takut membunuh seekor semut, kini mampu membunuh seorang manusia. Betapa menakutkannya aku kan kak? sekarang aku menjadi monster yang sangat menakutkan," Anna menangis sejadi-jadinya, dia benar-benar merindukan kakaknya itu.
"Tapi demi membalas dendamkan kematian kakak, aku harus berubah menjadi monster ... Apa ini alasan kakak pergi dari rumah? karena kakak tidak ingin menjadi monster seperti aku dan orang tua kita" ujar Anna.
"Andai aku tidak memintamu untuk menjemputku, andai kamu tidak datang ... semuanya pasti tidak akan seperti ini, aku minta maaf kak," ujar Anna yang menyalahi dirinya sendiri.
Selama 2 jam, Anna di pemakaman Edwin dia mencurahkan isi hatinya sampai dia merasa benar-benar tenang dan lega, lalu dia pergi dari tempat pemakaman tersebut.
Dia pun pergi dengan mengendarai mobil kesayangannya, jarak antara pemakaman dan rumahnya kurang lebih sekitar 2 jam lumayan cukup jauh, dan di sepanjang jalannya pun hanya terlihat hutan hutan yang tidak begitu lebat.
Namun walaupun jalan nya memang cukup terlihat sepi, tapi pemandangannya sangat indah. Anna merasa cukup terhibur dengan hanya melihat pemandangan nya saja, karena hal inilah sehingga membuat Anna lengah dan kurang berkonsentrasi mengendarai mobilnya.
Bruuuuk
Tanpa sadar Anna menabrak seseorang, Anna kaget dan memberhentikan mobilnya ke pinggir jalan.
Dia pun membuka pintu mobil lalu berlari melihat keadaan orang yang sudah di tabraknya itu, dia memeriksa denyut nadinya agar bisa mengetahui dia masih hidup atau tidak dan ternyata orang itu masih hidup.
Sosok yang dia tabrak adalah seorang pria yang menggunakan kemeja hitam lusuh.
Dan tiba-tiba saja pria itu sadar, bangun lalu menodongkan senjata api kepada Anna.
"Harusnya anda bisa langsung pergi, tanpa menoleh ke belakang lagi," ujar pria tersebut
"Aku bukan orang yang seperti itu," ucap Anna .
Pistol itu di todongkan tepat di kepala Anna.
Anna hanya bisa diam dan berfikir..
__ADS_1
...****************...