Cinta Terhalang Musuh

Cinta Terhalang Musuh
Bab 2 Orang Tua Kandungkah?


__ADS_3

"Apa kamu sudah datang?" tanya Laura, saat Anna sudah sampai di kediaman Bridd


"Iya, saya baru saja sampai nyonya," jawab Anna dengan mimik wajah yang tidak begitu nyaman.


"Mulai sekarang panggil aku, mamah. Oke?" tegas Laura, ibu kandung Anna.


"Baik, mah," jawab Anna singkat.


"Ya sudah, kamu istirahat dulu. Nanti kamu ikut acara makan malam bersama dan bertemu dengan papah mu," ucap Laura.


"Tolong beri tahu kamar Anna," perintah Laura kepada pelayan yang daritadi berada di sampingnya, lalu laura pun pergi meninggalkan Anna di ruang tamu.


"Ayo nona, saya antar ke kamar nona Anna," ujar pelayan tersebut.


Sepanjang perjalanan menuju kamar, banyak sekali pemandangan yang sangat aneh. Orang-orang berwajah seram dan bertato yang memakai baju seragam warna hitam lalu langsung membungkuk setiap kali berpapasan dengan Anna, kebanyakan dari mereka adalah pria. Dan sosok wanita masih bisa di hitung oleh jari tangan.


"Siapa mereka?" gumam Anna


Di setiap lorong yang mereka lewati, begitu banyak senjata yang di pampang sebagai pajangan. Mulai dari pedang panjang, belati, pisau, pistol dan masih banyak lagi bentukan senjata lainnya yang Anna tidak tahu.


"Sebenarnya ini tempat apa? kenapa banyak sekali senjata, lebih terlihat seperti rumah jagal," batin Anna.


Sesampainya di kamar yang akan di tempati olehnya, Anna pun langsung menghempaskan tubuhnya ke kasur setelah sebelumnya mengusir halus pelayan suruhan ibunya.


"Aku makin penasaran dengan rumah ini," gumam Anna.


Masih teringat oleh Anna, ketika hari dimana dia bertemu Ibu kandungnya, yaitu tepat setelah hari ke Empat pemakaman kakaknya. Ada seorang tamu yang tak di undang tiba-tiba datang ke rumahnya, dan tanpa basa basi langsung menanyakan bagaimana Edwin meninggal.


Tamu itu adalah seorang wanita dengan tiga orang pria yang berwajah seram, mungkin bisa di sebut bodyguard tamu tersebut.


Anna menjelaskan secara detail tanpa terlewat satu cerita pun, dan tanpa air mata yang mengalir di matanya.

__ADS_1


Setelah Anna menceritakan semuanya, wanita itu mengangguk seperti sudah tahu kondisi kejadian tersebut, seperti dia juga sedang berada di tempat itu.


"Anna, aku adalah ibumu," ucap wanita tersebut tiba-tiba.


Anna yang mendengarnya hanya bisa diam, dan dia menyangka wanita itu hanya sedang bercanda untuk menghiburnya.


Karena melihat reaksi Anna hanya terdiam, wanita itu tau apa yang sedang Anna pikirkan.


"Aku benar-benar ibu kandung mu, Anna," ucap wanita itu.


"Tidak mungkin, orang tuaku sudah meninggal beberapa tahun yang lalu," bentak Anna, Anna sangat emosi saat itu karena dirinya merasa di jadikan lelucon oleh wanita tersebut.


"Aku tahu, kamu pasti tidak akan percaya padaku. Aku sudah ada bukti, bahwa kamu memang benar-benar Annastasia," tegas wanita tersebut, lalu menyerahkan selembar foto dan selembar test DNA untuk membuktikan bahwa dia adalah benar darah dagingnya


Foto tersebut berisikan foto keluarga, foto potret dengan sepasang suami istri dan sepasang anak-anaknya. Anna yang melihatnya pun sangat terkejut, Karena wajah anak yang di potret itu sangat mirip dengan Anna dan Edwin waktu kecil.


"Tidak mungkin, orang tuaku sudah meninggal 14 tahun yang lalu!" jawab Anna.


"Kamu di bawa pergi oleh kakakmu ketika kamu umur 3 tahun, bagaimana kamu bisa mengingat ku?" tanya wanita tersebut.


"Aku sudah membawa buktinya, apa yang harus di buktikan lagi? sekarang Edwin sudah tidak ada, Aku khawatir tentang keamananmu disini," tutur wanita itu.


"Apa? keamanan apa maksudnya?" tanya Anna dengan wajah yang sangat kesal.


Wanita itu pun langsung mendesah putus asa, seolah sudah tidak tahu harus bagaimana lagi menjelaskan keadaanya kepada putrinya.


"Baiklah, sekarang begini saja. Kamu ikutlah dan tinggal lah denganku, aku akan menjelaskan padamu secara perlahan dan membuktikan bahwa aku adalah orang tua kandungmu," ujarnya.


Anna berpikir sesaat, dan menyetujuinya.


"Baiklah, aku akan pergi. Aku akan membereskan barang-barang ku yang ada di rumah ini terlebih dahulu," ujar Anna.

__ADS_1


"Baiklah," ucap Laura lalu pergi meninggalkan Anna.


Anna hanya ingin mengetahui yang sebenarnya terjadi, walaupun hatinya sangat hancur setelah mengetahui kakaknya berbohong selama ini.


Tok tok tok.. terdengar suara pintu di ketuk oleh seseorang.


Anna baru saja terbangun dari tidurnya, setelah dia mengingat kejadian kemarin membuatnya mengantuk dan tidak sengaja tertidur.


"Nona, apakah anda di dalam? sudah waktunya makan malam," ujar seorang pelayan wanita yang sedang mengetuk pintu kamarnya.


"Baiklah, aku akan turun," jawab Anna.


Anna pun bergegas ganti baju, tanpa membilas badannya yang baru saja terbangun dari tidur sore hari.


Setelah ganti baju, Anna di antar oleh seorang pelayan wanita ke tempat meja makan.


Anna benar-benar gugup dan emosi karena harus bertemu dengan kedua orang tuanya.


Setelah sampai di meja makan, Anna pun langsung duduk.


Di ruang makan, Anna hanya melihat seorang pria paruh baya yang berumur kurang lebih dari 50 tahun, dan seorang wanita yang tidak lain adalah Laura.


"Apakah kamu Annastasia?" tanya pria tua itu.


"Iya,om," jawab Anna.


"Jangan panggil om, aku adalah orang tuamu. Aku Robert, panggil saja aku papah, dan nanti setelah kamu makan datanglah ke tempat kantorku di lantai 2," ujar Robert tanpa melihat wajah Anastasia sedikitpun, dan hanya fokus pada steak yang dia potong.


"Baiklah,Pah," jawab Anna dengan singkat.


Anna pun langsung memakan masakan yang ada di ruang meja makan.

__ADS_1


Setelah selesai acara makan malam, Anna bergegas pergi meninggal kan ruang maka dan pergi menuju ruang kerja Robert.


...****************...


__ADS_2