
"Kamu yakin menodongku dengan pistol? apa mau mu sebenarnya?" tanya Anna
"Antarkan aku ke Busan," jawab pria itu lalu menekan kan pistolnya ke kepala Anna.
Anna hanya bisa tersenyum sinis kepadanya, sedetik kemudian dia merebut pistol yang ada di tangan pria itu, lalu memelintir tangan ke belakang punggungnya.
"Jangan pernah meremehkan wanita, lihatlah aku lebih kuat darimu," ujar Anna.
Pria itu terlihat seperti kesakitan, dan dia pun mulai memberontak. Pria itu terlepas dari jeratan Anna, langsung dia menyerang Anna hendak merebut pistolnya lagi.
Tapi karena Anna sangat pintar dia melemparkan pistol itu ke hutan dan lemparannya sangat jauh.
Pria itu sangat marah, lalu menyerang Anna dengan tangan kosong, Anna pun menangkis dan menghindar.
"Ha...Ha..Ha.. ternyata ini yang kamu maksud kuat? hanya cuma bisa menghindar dan menangkisku," ujar pria asing itu
Anna hanya tersenyum dan terus menghindar, setelah di rasa cukup barulah Anna memulai permainan nya, dia membalas pukulan tepat di perut pria itu, lalu menendang kepalanya dengan kaki milik Anna.
Pria itu tersungkur jatuh, Anna kembali lagi memukul tepat di wajahnya.
"Aku tidak akan membunuhmu, kalau kamu memang ingin aku untuk mengantarkan mu seharusnya kamu meminta tolong padaku, bukan malah menyerangku, terkecuali kamu memang ingin mencuri mobilku," ucap Anna.
Pria itu langsung berdiri walaupun tampak kesulitan, karena luka-lukanya.
"Siapa wanita ini?kenapa dia begitu kuat," ujar pria tersebut.
"Naiklah, aku akan mengantarmu. Kebetulan aku juga ingin kesana," ucap Anna. "Jangan menyerangku lagi, akan kupastikan kamu akan mati," ancam Anna.
Pria itu masuk ke dalam mobil dan mereka pun pergi melesat dengan kecepatan tinggi.
"Siapa namamu?" tanya pria itu
"Sepertinya kita tidak ada tujuan untuk menanyakan nama masing-masing, karena kita tidak akan bertemu lagi," jawab Anna ketus.
"Aku hanya ingin membalas budi," ujarnya
"Tidak perlu, aku tidak butuh pembalasan budimu," ujar Anna.
Pria itu pun membungkam mulut nya, dia merasakan nyeri di tempat Anna pukul.
__ADS_1
Anna melirik pria itu lalu menatap ke depan lagi.
Anna tiba di sebuah Rumah Sakit di Busan, dia merasa tidak enak setelah membuat orang itu kesakitan.
"Ini dimana?" tanya pria itu
"Apa kamu tidak melihat ini di Rumah Sakit?" jawab Anna sangat dingin.
"Aku tidak ingin pergi ke Rumah Sakit, ayo kita pergi saja," ajak pria tersebut.
"Hey liat lukamu, kamu harus segera di obati ... aku tidak ingin bertanggung jawab atas kematian mu jika kamu ada apa-apa," tegas Anna
"Aku kuat, luka seperti ini tidak masalah bagiku ... turunkan aku di depan saja, asal jangan di Rumah Sakit," jelasnya
"Baiklah, tapi kalau ada apa-apa denganmu jangan mencariku," ujar Anna
"Oke," ucap pria itu.
Akhirnya Anna menurunkan pria itu di sebuah Halte yang tidak jauh dari Rumah Sakit, dan dia pun keluar dari mobil. Sebelum menutup pintu mobilnya, pria itu berbicara sesuatu kepada Anna tapi dia tidak begitu mendengarnya karena suara mobil yang berlalu lalang.
"Namaku, ..." ujar pria itu lalu menutup pintu mobilnya
Dia pun lalu melanjutkan perjalanan pulang ke rumahnya, sedangkan pria tersebut menunggu di halte, lalu menelfon seseorang.
"Jemput aku sekarang, sudah ku kirim lokasinya," ujar pria itu
Tidak lama kemudian dia di jemput sebuah mobil berwarna hitam, sebelum masuk mobil dia mematikan handphonenya lalu membuangnya ke pinggir jalan, dan mereka pun pergi.
......................
"Tuan, ini laporan yang kemarin anda minta ... walaupun ini hanya beberapa bukti yang saya temukan, saya akan berusaha mengumpulkan bukti lainnya," ujar Austin kepada Robert.
Austin menyerahkan beberapa dokumen kepada Robert, dan dia pun langsung membaca dokumen tersebut.
"Falke?" tanya Robert untuk memastikan lagi apa yang dia baca
"Iya tuan, ternyata yang mencuri lukisan itu adalah orang-orang dari keluarga Falke," jawab Austin.
"Kumpulkan bukti-buktinya lagi Austin," titah Robert
__ADS_1
"Baik, Tuan ... saya permisi dahulu," ujar Austin, Austin pun pergi dan meninggal kan Robert yang masih membaca dokumen yang diberikan oleh Austin.
"Hmmmm.."
Toook ... Took.. terdengar suara pintu di ketuk.
"Ini Anna, pah ... boleh saya masuk?" tanya Anna
"Masuklah Anna," jawab Robert
Anna pun langsung duduk di sofa, lalu Robert pun menghampiri nya dengan membawa dokumen yang Austin berikan.
"Ini bacalah," ujar Robert, Anna pun ngambilnya lalu membacanya.
"Falke lagi? kenapa mereka selalu mencari gara-gara kepada kita?" tanya Anna setelah membaca dokumen yang Robert berikan.
"Kita tidak ada masalah dengan mereka, tetapi tidak menutup kemungkinan mereka ingin merebut wilayah kita, lebih baik kita mencari bukti-bukti terlebih dahulu," ujar Robert.
"Iya pah, kita tidak boleh gegabah," ucap Anna
"Jadi siapa yang membeli lukisan sebelum di curi?" tanya Robert.
"Dia putra dari Tuan Graham, pemilik Graham Company," jelas Anna.
"Lalu kenapa dia ingin membeli lukisan itu?" tanya Robert
"Dia juga pemilik galeri G.Art, dia ingin membelinya karena memang dia tau karya seni ... dan lukisan itu adalah salah satu lukisan yang sangat mahal nilai jual belinya," jawab Anna.
"Kukira dia adalah salah satu seperti kita," ucap Robert
"Saya masih menyelidikinya, pah ... saya harap dia adalah orang yang memang penyuka karya seni" ucap Anna.
"Selidikilah lagi, lebih dalam," ucap Robert, "Besok kamu harus temani papah, nanti aku akan menjelaskan lebih rinci lagi besok ... istirahatlah matamu sepertinya bengkak karena terlalu lama menangis," ujar Robert.
Anna terkejut mendengar Robert berbicara seperti itu, karena tidak seorang pun yang tahu bahwa dia menangis karena mengingat kakaknya.
"Apa dia membuntutiku ke pemakaman? Sudah lah lupakan," gumam Anna
"Saya permisi dahulu" ujar Anna lalu pergi meninggalkan Robert sendirian.
__ADS_1
...****************...