
"Jadi bagaimana menurutmu?" tanya Robert setelah menjelaskan penemuan bukti yang diberikan oleh Austin.
"Saya masih belum bisa memastikannya, kita harus benar-benar menyelidiki semuanya .. Entah kenapa ini terasa janggal untukku," jawab Anna yang masih membaca dokumen yang di berikan Robert.
"Bolehkah saya membawa dokumen ini? saya ingin membacanya lebih teliti lagi, dan juga
ada yang harus saya perlihatkan padamu," lanjutnya lagi lalu memberikan handphone miliknya kepada Robert.
"Siapa yang berani mengirimkan SMS ini? apakah kamu sudah memberitahu Laura tentang SMS ini?" tanya Robert setelah membaca isi pesan SMS tersebut.
"Belum pah, saya ingin memberitahukan kepada Anda terlebih dahulu," ujar Anna.
Robert pun bangkit dari tempat duduknya lalu berjalan ke arah jendela, dia melihat sekeliling villa itu takut ada orang yang mencurigakan sedang melihat mereka.
"Ternyata memang benar, di rumah kita ada penyusup," ujar Robert menyeringai.
__ADS_1
"Nanti aku saja yang berbicara kepada Laura, capture SMS itu lalu kirim padaku," perintah Robert
"Baik Pah, dan saya akan membawa dokumen ini," ujar Anna
"Bawa saja, dan bagaimana tentang masalah lukisan itu?" tanya Robert
"Masih belum di temukan,pah .. untuk info tuan Alex sepertinya juga belum menemukan lukisan tersebut," jawab Anna
"Baiklah kalau begitu, untuk sementara jika kita akan mengadakan pertemuan kita lakukan disini, jangan lupa matikan GPS mu," ujar Robert
"Saya lebih pintar di banding siapapun," ejek Anna
Anna berdiri tepat di sebuah lukisan potret mendiang kakaknya yang masih kecil, begitu tampannya pikir Anna jika dia masih hidup mungkin dia akan menjadi rebutan wanita.
"Lukisan itu di buat ketika Edwin berumur 5 tahun sebelum kamu lahir, dia sangat menggemaskan bukan? andai aku tidak membuatnya terlibat masuk ke dunia ini, pasti sekarang dia masih hidup dan kamu tidak akan terlibat juga," ujar Robert dengan nada sedih.
__ADS_1
Anna terdiam mendengar penjelasan orang tuanya, matanya masih terus menatap lukisan itu tetapi di dalam hatinya sangat bergemuruh mendengar cerita Robert.
"Apakah kak Edwin mempunyai teman dekat, Pah? mungkin Anda tau dia pernah dekat dengan orang lain, atau mengenal teman dekatnya?" tanya Anna tanpa menoleh sedikitpun dan terus menatap lukisan kakaknya.
"Entahlah, semenjak dia meninggalkan rumah dengan membawamu kita tidak pernah lagi saling menghubungi dan aku tidak pernah meminta seseorang untuk memata-matai dia," jawab Edwin "dan itu yang membuatku menyesal seumur hidup karena tetap tidak mempedulikan dia," lanjutnya lagi.
Tiba-tiba handphone Robert berbunyi dan dia pun mengangkat telfonnya dan pergi meninggalkan Anna seorang diri.
"Penyesalan memang datang terlambat," gumam Anna lirih.
Langit sudah terlihat sangat gelap, pertanda hujan akan segera turun. Anna ingin pulang meninggalkan Villa, tapi dia begitu enggan karena sebentar lagi hujan. Dan beberapa menit kemudian hujan pun turun dengan derasnya di sertai suara petir yang cukup keras. Dia menatap tajam ke luar jendela, dia sangat membenci hujan dan hari ini perasaannya sangat buruk. Anna pun memutuskan untuk pergi meninggalkan Villa, dia berpamitan kepada Robert dan meninggalkan Villa di tengah hujan dan suara petir. Anna pun menancapkan kan gasnya dengan kecepatan tinggi, adrenalinnya meningkat setelah melihat hujan dan berharap sesuatu terjadi padanya agar bisa segera menyusul kakaknya. Di tengah perjalanan, ketika Anna sedang fokus dengan jalan, tiba-tiba seekor anjing liar melompat ke tengah jalan sehingga membuat Anna kaget dan mengerem mobilnya secara mendadak.
Anjing liar itu pun pergi, Anna pun mengutuk dirinya sendiri karena berdo'a ingin terjadi sesuatu pada dirinya.
"Bodoh harusnya aku tidak berpikir seperti itu, hampir saja nyawaku melayang," ujar Anna.
__ADS_1
Diapun melanjutkan perjalanan dengan tenang.
...****************...