
16: RASA BENCI MENJADI DENDAM 1
POV: AUTHOR
usai mereka di beri sebotol air putih dan di beri tahukan cara mengguna kan nya, ana dan teman nya pun berpamitan pergi. Ana bertanya berapa kah harga air yang Kakung Roso berikan, namun Kakung Roso tidak mematuk harga, beliau menerima berapa pun pemberian dari pasien nya.
yaa.. Kakung Roso bukan lah dukun atau kiyai.. melain kan hanya manusia biasa yang di beri kelebihan oleh Gusti Allah, yaitu dapat menyembuhkan berbagai macam penyakit termasuk orang yang terkena guna guna.
Ana pun memberi uang seikhlas nya lalu berpamitan untuk pulang. besama an dengan teman nya mereka menyalami Kakung tersebut dan mengucap kan terimakasih karena telah membantu nya.
Kakung pun menawari bantuan nya lagi, ia berkata jika ada sesuatu jangan sungkan untuk datang kemari lagi. Ana hanya tersenyum dan mengangguk. Ana pun mengucap banyak banyak berterimakasih.
usai sudah bersalaman mereka pun berlalu pergi meninggal kan Rumah Kakung Roso, dengan berjalan kaki menuju tempat di mana kelotok atau perahu yang mereka naiki tadi.
****************
20 menit sudah berlalu akhir nya mereka sampai di tempat. di mana mereka di turun kan tadi. meraka sedang beruntung karena masih ada kelotok atau perahu di sore hari, biasa nya bila sore hari di tempat tersebut sudah sepi. karena bersampingan dengan hutan belantara yang bisa membuat bulu kuduk berdiri, jadi sangat jarang ada orang yang berlalu lalang saat menjelang sore.
" apa kah Non mau menyebrang..? tanya pemilik perahu tersebut. yang memecah keheningan.
" och iya pak.. apa bapak bisa antar kami..? ujar teman Ana yang membuka suara.
" tapi maaf sebelum nya Non.. saya cuma mau ngasih tau.. kalo sudah sore begini ongkos nya agak mahal Non.. " ujar penuturan pemilik perahu
" iya pak gak papa.. " ujar Ana yang langsung menyambung pembicaraan Rara dan pemilik perahu.
tanpa berfikir panjang lebar, Ana dan teman nya langsung menaiki perahu tersebut dengan berhati hati. pemilik perahu pun langsung menjalan kan kendaraan nya.
__ADS_1
uhf perairan yang sepi dan tenang.. hanya terdengar suara suara perahu saja. sedangkan suara penghuni alam tidak terdengar sama sekali, yaitu semacam burung, dan lain lain. ngeri rasa nya melihat mereka berkendara di air pada sore hari.
perjalanan mereka pun menempuh waktu sekitar 30 menit, kini mereka pun sampai di tempat tujuan yaitu di sebrang. mereka dengan hati hati menuruni perahu di karenakan perahu tersebut bergoyang ke sana dan ke mari.
" maaf pak berapa ya ongkos nya. " ujar Ana yang membuka pembicaraan.
"ini sendiri sendiri kah bayar nya Non atau gimana" ujar pemilik perahu tersebut.
" kami bertiga pak.. berapa semua nya " ucap Ana yang menunjuk diri nya dan teman nya.
" 250.000 Non.. kalo si kecil enggak bayar " ujar pemilik perahu sembari mencuci tangan nya di air sungai.
" kok murah banget ya pak ongkos nya.. " ucap Ana sembari memberikan uang tersebut.
" Ana.. pertanyaan mu ngawur.. " ucap Rara yang sedari tadi hanya berdiam. Ana pun hanya membalas dengan ekspresi bertanya dengan mengangkat kedua alis nya.
" oya kembalian nya ambil aja pak.. makasih banyak ya sudah mengantar kami sampai kesini.. kami pamit dulu " ujar Ana sembari tersenyum.
" oiya Non sama sama seharus nya saya yang berterimakasih.. ya sudah non.. saya juga pamit ya.. keburu magrib, Assallammuallaikum" ujar pemilik kapal yang berlalu menaiki perahu nya.
" waallaikumsalam pak..terimakasih banyak.." ujar Ana dan teman nya.
Pemilik perahu hanya membalas senyuman dan anggukan kepala pada Ana dan Rara.. seiring berjalan nya waktu Ana dan Rara pun sampai di perbatasan kampung mereka.
" makasih banyak ya Ra... dah nolongin aku.. makasih makasih makasih makasih.... banget.... ya Ra... " ujar Ana yang sangat merasa merepotkan. dan ia memberikan sesuatu di dalam bingkisan sebagai ucapan terimakasih pada Rara
" santai aja kali ngomong nya.. ee apa sih ini.. udah ya aku pulang dulu.. "ujar Rara sembari menerima bingkisan tersebut.
__ADS_1
" oleh oleh buat yang di rumah " ujar Ana.. " ya udah hati hati ya.. terimakasih banyak sekali lagi.. " ucap Ana
" biasa aja lo.. ya udah ya bay.. " ucap Rara yang meninggal kan Ana. ia berjalan begitu antusias dengan gaya lenggak lenggok nya.
Ana hanya geleng geleng dan tersenyum, melihat teman masa kecil nya itu bergaya dengan gaya memakai kacamata hitam, bundar dan sandal hak yang sangat tinggi. bagai kan model yang ketinggalan zaman dan norak.
sedang memandangi teman nya itu tiba tiba ia terkejut saat anak nya meminta minum. dengan sikap kelabakan ia segera pulang takut nya nanti ke malaman dan takut suami nya curiga. ia berjalan menyusurui perkampungan, dan untung saja Rumah nya tak jauh dari Persimpangan kampung nya.
hanya melewati beberapa Rumah akhir nya ia sampai di Rumah nya. mengetuk pintu dan memasuki rumah. ia melihat tatapan Riko terlihat aneh saat menatap nya seakan akan ingin menelan nya hidup hidup.
Ana menjadi khawatir takut bila ia ketahuan kalau ia meminta Izin tak sesuai dengan ucapan. ia sangat takut dan ia mencoba berjalan dengan hati hati menuju ke dapur tanpa mengucap kan sepatah kata pun pada Riko yang sedari tadi memandangi nya.
namun Ana berusaha untuk tenang dan terlihat tak terjadi sesuatu agar Riko tak semakin curiga padanya. sesampai nya di dapur, ia secepat kilat menyembunyikan botol berisi air putih yang di berikan oleh Kakung Roso tadi.
" sudah makan kah anak mama ini.. " ia bertanya pada Anak anak nya. seusai menyembunyikan botol tersebut.
" dari mana sih.. berangkat pagi pulang sore.. gak kasian apa sama anak mu.. kalo ada apa apa gimana coba. " ucap Riko yang sedang merasa kesal.
" kan mereka sudah besar... lagian aku bukan jalan jalan ke mall kok bukan makan. makanan enak di luar. aku tu pulang kemalaman karena bantuin temen ku. kebetulan Rumah Rara berdekatan dengan Temen SD ku. dia pindahan Rumah masak aku cuma ngeliatin doang. " Jawab Ana dengan sikap sewot nya itu. dan terus berusaha untuk tetap tenang.
" ya seharusnya kamu itu pikirin anak sama suami di rumah. " ujar Riko lagi dan lagi memancing emosi istri nya.
" Bukan juga setiap hari aku main keluar.. selama aku nikah sama kamu.. baru ini aku jalan jalan. gitu aja di protes. aku ghk pernah protes kamu kalo jalan mau pulang malam kah mau pulang subuh kah. aku gak pernah ngelarang atau menghalangi kamu. kamu bisa seenak nya aku juga bisa. " ujar Ana yang semakin kesal dan marah. karena ia merasa bahwa Riko sedang mencari cari kesalahan nya untuk berantem.
mendengar penuturan istri nya Riko pun terdiam.. ya memang selama selama ini Ana cuek pada keseharian Riko yang ia tahu ia menyediakan makanan dan pakaian suami nya serta kebutuhan lain lain nya. ia tak pernah perduli kemana Riko pergi bila malam tiba.
( Terimakasih banyak ya kak yang sudah setia dengan cinta terlarang berujung dendam.. masih penasaran kan.. yuk kak ikuti terus kelanjutan cerita nya ya..
__ADS_1