Cinta Untuk Nazyra

Cinta Untuk Nazyra
Bab 104


__ADS_3

Teringat pada kejadian yang baru dialaminya , Nazyra merasa dokter Jonathan sangat berbahaya dan menakutkan.


Wajah Ganindra menjadi gelap dan langsung menatap luka di dada Nazyra. Ganindra bisa melihat luka sepanjang dua hingga tiga sentimeter yang masih berlumuran darah dan belum dibersihkan seluruhnya.


Mata Ganindra langsung menjadi semakin gelap. Keinginannya untuk membunuh dokter Jonathan semakin kuat.


“Tahukah kamu ini apa? Kenapa tiba-tiba ada bercak tanda merah di kulitku?...."


Nazyra berkata dengan cemas tetapi dia tiba-tiba membeku. Saat Nazyra melihat kembali lukanya, itu tampak seperti luka biasa. Pola bercak merah yang muncul tadi menghilang.


Apa yang sedang terjadi? . Mungkinkah dia salah lihat ?. Tapi rasanya tadi sangat nyata. Nazyra ingat dengan jelas bahwa dia memang melihatnya.


Ganindra mengambil kotak obat P3K dan membukanya sambil menatap Nazyra yang kebingungan.


“Ada apa? Apa yang kamu lihat?”


Nazyra melihat kembali lukanya untuk memastikan. Setelah itu, dia menggelengkan kepalanya tak berdaya, "Mungkin aku terlalu gugup jadi salah lihat."


Ganindra memandangnya dengan ekspresi rumit dan tidak bertanya lagi.


Ganindra membersihkan luka Nazyra dengan alkohol .


"Aduh..."


Ketika Ganindra menyeka luka Nazyra dengan kapas yang dibasahi alkohol , Nazyra merasakan sakit yang luar biasa dan secara refleks menghindar.


Melihat tindakan Nazyra , Ganindra buru-buru menekan bahu Nazyra agar dia tidak menghindar dan menatapnya.


Ganindra berkata dengan nada suara yang dalam, "Jangan bergerak."


Nazyra duduk dengan kaku sembari mengertakkan gigi. Dia harus menahan rasa sakit ini. Tapi entah kenapa Nazyra merasakan sakit yang luar biasa padahal biasanya dia bisa menahan rasa sakit. Dia bukan gadis lemah.


Ganindra kemudian mengoleskan larutan anti inflamasi pada luka Nazyra .Setelah membalut luka dengan hati-hati, Ganindra tidak langsung melepaskan pegangannya di bahu Nazyra Tubuhnya yang tinggi masih mencondong di dekat Nazyra . Ganindra menatap luka yang dialami Nazyra dan matanya seperti tersulut api .


Apakah Ganindra juga melihat ada yang salah pada lukanya ?


Nazyra buru-buru melihat ke tempat yang dilihat Ganindra. Nazyra tercengang , Nazyra baru sadar bra yang dipakainya sedikit terlihat.


Wajah Nazyra tiba-tiba berubah menjadi semerah apel, "Jangan lihat!"


Nazyra merasa panik dan ingin mendorong Ganindra , tetapi tangan besar Ganindra meraih pergelangan tangannya dan menahannya di atas kepala Nazyra.


Ganindra menatapnya. Suaranya dalam dan serak.


“Nazyra, aku sudah melihatnya.”


Nazyra tercengang. Bagaimana Ganindra bisa mengucapkan kata-kata seperti itu dengan begitu tenang tanpa merasa malu?


Nazyra merasa sangat malu , ingin rasanya dia menghilang di telan bumi .

__ADS_1


Namun Ganindra tidak perduli sama sekali. Tiba-tiba, dia mencium tulang selangka didekat leher Nazyra.


Ciuman Ganindra mengejutkan Nazyra.


Kenapa, kenapa Ganindra menciumnya?


Mereka berhenti di tepi jalan di luar kota. Gelap, dan tidak ada satu orang pun yang lewat. Seorang pria dan wanita berduaan di dalam mobil...


Nazyra tidak berani terus memikirkannya. Jantungnya berdebar kencang, merasa panik dan kacau.


"Pak Ganindra, hen..ti...kan!"


Nazyra merasa tidak nyaman dan menggigit bibirnya. Kata-kata itu keluar dari mulutnya satu per satu dengan susah payah.


"Ganindra , tolong jaga sikapmu. Aku bukan tipe wanita seperti yang kamu kira!" Nazyra berusaha tegas tapi suara yang keluar sangat lembut dan sedikit bergetar.


Nyala api di tubuh Ganindra langsung naik ke tingkat tertinggi.Tatapannya nanar dan dia hampir kehilangan kendali.


Setelah terdiam beberapa saat, Ganindra perlahan mengangkat kepalanya. Dia menatap Nazyra dengan tatapan yang dalam.


Nada suaranya dingin, "Aku menciummu hanya untuk mengalihkan pikiranmu dari kejadian buruk tadi ."


Nazyra tertegun, melihat ke arah Ganindra dengan kaget ..Suara Ganindra terlalu dingin, terdengar tanpa sedikitpun nafsu ,memberikan perasaan jauh.


Apakah dia salah paham pada Ganindra ?


Pipi Nazyra semakin memerah. Dia merasa sangat tidak nyaman hingga tidak berani menatap mata Ganindra. Setelah beberapa saat, Ganindra melepaskannya.


Mobil kembali sunyi, tapi suasana menjadi canggung . Teringat adegan tadi membuat pipi Nazyra merona tak terkendali dan pikirannya berkelana.


Nazyra menepuk wajahnya untuk menghilangkan pikiran yang tidak-tidak. Dia menurunkan jendela mobil dan menoleh ke arah luar untuk merasakan kesegaran angin. Dia tidak lagi memandang Ganindra.


Tidak ada pembicaraan sepanjang perjalanan mereka kembali ke Kota S.


Dalam perjalanan untuk mengantar Nazyra pulang, mereka melewati sebuah bar dan kebetulan mereka berhenti di lampu merah.


Nazyra memandang ke luar jendela mobil dengan bosan. Secara mengejutkan dia melihat Dion yang sudah lama tidak bisa dia hubungi.


Berbeda dengan image Dion sebelumnya yang menawan dan energik, wajah tampannya kini tampak tirus dan cekung. Ada juga semburat kehijauan di bawah matanya sehingga nampak pucat . Dion tampak sangat kuyu.


Dion juga membawa sebotol alkohol di tangannya. Dia berjalan terhuyung-huyung sambil tetao menyesap botolnya. Dia tampak seperti orang mabuk.


Nazyra mengerutkan kening. Dia merasa bingung dan khawatir. Mengapa Dion menjadi seperti ini dalam waktu sesingkat ini? . Apakah ada sesuatu yang buruk terjadi padanya? Dia menoleh dan berkata pada Ganindra.


"Pak Ganindra ,turunkan saja aku di sini. Aku melihat Dion.Aku akan pergi menemuinya."


Jejak ketidaksenangan menyapu wajah Ganindra .Dia memandang Dion yang terhuyung-huyung di tepi jalan, dengan tatapan dingin.


Benar-benar mengganggu!.

__ADS_1


"Dia tidak butuh perhatianmu." Ujar Ganindra ketus.


“Dia mabuk. Berbahaya jika dia sendirian.”.Nazyra berkata dengan cemas. Dia memandang Dion dengan prihatin, memperhatikan agar dia tidak pergi terlalu jauh.


Nazyra berkata sambil menatap Ganindra dengan sungguh-sungguh, "Biarkan aku turun disini . Ini sudah larut malam. Aku khawatir terjadi apa-apa dengan Dion."


Suasana hati Ganindra semakin memburuk..Dia mengerutkan bibir tipisnya dan tidak menjawab , dia juga tidak membuka kunci mobil.


Lampu merah di pertigaan itu akan berubah menjadi hijau.


Nazyra merasa cemas. Dia buru-buru mendesak, "Pak Ganindra , bisakah kamu menurunkanku disini?"


Nazyra mengatakannya berulang kali , tapi Ganindra tetap mengabaikannya dan bersikap dingin siap untuk mengemudikan lagi begitu lampu berwarna hijau .


Nazyra merasa cemas. Dion adalah temannya. Dia tidak bisa mengabaikannya begitu saja.


Nazyra ragu-ragu sejenak, lalu tiba-tiba melepaskan sabuk pengamannya dan menerjang ke arah lengan Ganindra.


Aroma segar wanita itu menerpa wajahnya, menyebabkan Ganindra tiba-tiba membeku. Lengan Nazyra terulur dan membuka kunci mobil.


“pak Ganindra, aku akan turun sekarang.”


Nazyra segera meraih pintu hendak keluar.


Tapi tiba-tiba , Nazyra melihat sosok Tania yang mengenakan dress cantik , buru-buru berlari keluar dari bar.


Tania berlari mengejar Dion dan membantu pria yang terhuyung-huyung itu berdiri.


Tania berkata dengan cemas, "Kamu benar-benar membuatku takut. Aku kembali dari toilet tapi kamu tidak terlihat di mana pun. Aku mencari di seluruh bar sebelum ada yang mengatakan kamu sudah pergi keluar."


"Tinggalkan aku sendiri."


Dion melepaskan pegangan Tania dengan kesal.Tania sepertinya sudah terbiasa dengan sikap Dion. Dia segera melangkah maju untuk memapah Dion lagi.


"Jika bukan aku yang peduli padamu, lalu siapa yang peduli? Hentikan. Aku akan mengantarmu pulang, oke?"


Seolah kata-kata Tania masuk tepat ke hatinya, Dion menoleh dan menatap Tania dengan tatapan bingung. Ekspresinya penuh dengan rasa sakit.


Dion tiba-tiba memeluk Tania. Nada suaranya yang dalam penuh dengan kesedihan dan ketidakberdayaan.


"Jangan tinggalkan aku sendiri. Maukah kamu mencintaiku, meskipun kamu menyukaiku hanya sedikit..."


Sementara Nazyra yang hendak turun dari mobil mengurungkan niatnya. Ternyata Dion bersama Tania. Melihat cara mereka berpelukan, mereka pasti sudah berdamai.


Itu bagus. Dion butuh seseorang yang menjaganya.


Ganindra memandangi tatapan Nazyra yang membeku. Matanya nampak tidak senang, Lalu, dia segera menginjak pedal gas. Mobil mewah edisi terbatas yang mereka tumpangi langsung melaju meninggalkan tempat itu..


Nazyra melihat dari jendela mobil , sosok Dion dan Tania yang semakin menjauh. Tania menarik pandangannya lalu menatap Ganindra. Memikirkan tindakannya yang tidak sopan saat ingin keluar dari mobil barusan, dia merasa sedikit canggung.

__ADS_1


Nazyra mengerutkan bibirnya dan tidak mengatakan apa pun. Dia terus menghadap keluar jendela sembari merasakan angin malam menerpa wajahnya.


__ADS_2