Cinta Untuk Nazyra

Cinta Untuk Nazyra
Bab 109


__ADS_3

Sosok Darga yang tinggi mencengkeram bahu Nazyra dengan kuat. Darga menatap Nazyra dengan tatapan menggila, dia berkata dengan marah dan dingin "Aku sudah memberimu kesempatan. Tapi kamu tidak menghargainya."


Darga mengurung Nazyra dengan satu tangan, lalu mengeluarkan ponselnya dengan tangan yang lain, membuka kamera dan kemudian memfokuskan kamera pada dirinya dan Nazyra.


Gagal melepaskan diri dari cengkeraman Darga, Nazyra menjadi sedikit panik, "Apa yang ingin kamu lakukan?!"


Darga menjawab dengan sengit, "Ganindra melindungimu karena kamu tunangannya.


Aku akan mengiriminya foto ciuman kita, menurutku dia pasti akan mengira kita kembali bersama bukan ? "


"Darga, kamu sangat hina dan tidak tahu malu!"


"Kamu memaksaku! . Ternyata aku menyesal telah berpisah denganmu. Jadi aku hanya ingin memanfaatkan kesempatan ini dan membuatmu menjadi wanitaku seutuhnya."


Mata Darga dipenuhi nafsu. Darga merasa obsesinya terhadap Nazyra karena dia tidak pernah berhasil membawa Nazyra ke tempat tidur setelah bersama selama beberapa tahun dan inilah alasan mengapa dia merasa menyesal. Karena itu , Darga bertekad akan mendapatkan Nazyra kali ini.


Dengan satu tangan masih mencengkeram bahu Nazyra , Darga menggerakkan bibirnya ke arah bibir Nazyra.


"Bajingan !!"


Nazyra mengumpat dengan marah dan buru-buru menoleh ke arah lain untuk menghindarinya. Ciuman Darga mendarat di rambut Nazyra.


"Patuhlah. Jangan memaksaku untuk menggunakan kekerasan."


Darga mencengkeram rahang Nazyra dengan tangannya, memaksanya menatap matanya, lalu berniat menciumnya lagi.


Saat wajah Darga mendekati wajahnya,


Nazyra merasa jijik dan perutnya mual.


"Bajingan. Aku akan membunuhmu!"


Disaat genting itu, seseorang berteriak dengan marah.Lalu orang itu mencengkeram bahu Darga, menariknya ke belakang dan memukul wajahnya . Tindakan pria itu membuat Darga melepaskan Nazyra.


Nazyra akhirnya sedikit lega setelah terbebas dari cengkeraman Darga . Nazyra melihat ke arah dua pria yang sedang berkelahi dan melihat bahwa Dion adalah orang yang membantunya.


Penampilan Dion sama seperti saat terakhir kali Nazyra melihat Dion ditepi jalan . Dion terlihat kusut dan jambang menghiasi wajahnya. Saat ini Dion diliputi kemarahan yang kuat dan terus memukuli wajah Darga .


Wajah Darga hampir babak belur karena pukulan Dion, Darga berusaha melawan sekuat tenaga. Namun, dia hanyalah seorang pria manja dan biasanya jarang berolahraga. Oleh karena itu, dia sama sekali bukan tandingan Dion.


Dion memukuli Darga sampai Darga tidak bisa bangkit dari lantai . Nazyra berjalan kearah mereka untuk menghentikan perkelahian itu, karena dia takut Dion akan memukuli Darga sampai mati.


"Dion, hentikan!"


Dion kemudian berhenti memukul Darga saat melihat Nazyra berjalan ke arah mereka, Dion takut dia akan melukai Nazyra secara tidak sengaja.

__ADS_1


Dion juga terluka. Tapi dia sama sekali tidak mempedulikan lukanya . Dion malah menatap Nazyra dengan cemas. "Apakah kamu baik-baik saja?"


“Aku baik-baik saja. Apakah kamu terluka?” Nazyra berjalan ke arah Dion dan memandangnya dengan cemas.


Ada luka memar di sudut mulutnya dan beberapa luka di lengannya. Nazyra tidak tahu apakah ada luka di bagian lain.


"Bukan masalah besar." Dion berkata dengan santai seolah dia tidak mempedulikan lukanya sama sekali dan berdiri. Tapi saat mencoba berdiri Dion kembali terjatuh.


Nazyra berada tepat di hadapannya dan buru-buru memapahnya, "Ada apa?"


“Kakiku terluka dan aku tidak bisa berdiri dengan baik.”Dion menjawab dengan malu.


Nazyra mengerahkan lebih banyak kekuatan pada tangannya untuk memapah Dion, "Aku akan membawamu ke rumah sakit."


"Baik."


Dion menunduk untuk melihat ke arah Nazyra .Semburan perasaan rumit melonjak di hatinya. Namun, Dion merasa sedikit puas ketika akhirnya dia bisa melihat Nazyra lagi. Rasanya seperti hatinya, yang telah lama kosong, terisi kembali.


Nazyra memapah Dion dengan hati-hati dan membawanya menuju pintu keluar.


Keduanya terdiam beberapa saat sebelum Dion bertanya dengan suara rendah, "Bagaimana kabarmu akhir-akhir ini, apakah kamu baik-baik saja?"


"Ya, lumayan. Bagaimana denganmu?"


"Baik juga..". Dion menjawab dengan lembut. Seolah-olah semua masalahnya selama ini menjadi tidak penting saat ini.


Nazyra berhenti berjalan dan menatap Dion dengan ragu. “Aku sudah sering meneleponmu selama ini, dan kamu tidak pernah menjawab sekalipun teleponku."


Sejak Nazyra mengenal Dion, tampaknya Dion bukan tipe orang yang suka asal bicara . Tapi kenapa Dion tidak pernah menjawab teleponnya?


Dion tercengang. Matanya dipenuhi dengan sukacita. Dia dengan penuh semangat meraih bahu Nazyra "Kamu meneleponku?"


Ternyata Nazyra masih mau menelponnya dan bukannya tidak peduli sedikit pun.


Nazyra mengangguk, "Kupikir sesuatu telah terjadi padamu."


Ketika Nazyra melihat Dion bersama Tania, dia mengira Dion tidak mau menerima teleponnya karena pacarnya. Nazyra bahkan merasa sedikit kesal karenanya.


“Nazyra, aku sangat senang kamu meneleponku.”


Rasanya seperti pergi dari neraka kembali ke surga lagi.


Dion terlalu gembira dan dia tak bisa menahan diri. Dion kemudian memeluk Nazyra.


Nazyra heran kenapa Dion tiba-tiba merasa begitu tersentuh?

__ADS_1


Pada saat ini, suara dingin dan berbahaya seorang pria terdengar di koridor.


"Apa yang kalian berdua lakukan?!."


Nazyra membeku. Dia tanpa sadar mendorong Dion menjauh dan menolehkan kepalanya untuk melihat pria dengan suara yang sangat dikenalnya. Pria itu berdiri tidak jauh dari situ.


Nazyra melihat Ganindra menatap lurus ke arah mereka. Matanya yang sangat tampan sepertinya dipenuhi es, dan rasa dingin yang menyesakkan merasuki tubuhnya.


"Pak Ganindra jangan salah paham. Dion dan aku hanya..."


Nazyra hanya membantu memapah Dion tapi akhirnya malah berpelukan? . Nazyra bahkan tidak tahu bagaimana menjelaskannya.


Melihat Nazyra tidak bisa menjelaskan, kemarahan Ganindra semakin meningkat.


Ganindra menunggu Nazyra di ruang Fashion Show , tapi Nazyra tidak kembali setelah sekian lama. Ganindra mencari Nazyra dengan khawatir tetapi malah melihatnya dan Dion berpelukan.


Wajah Ganindra tampak geram. Dia berjalan dengan langkah panjang dan menarik Nazyra ke sisinya.


"Ayo pergi."


Nazyra khawatir dengan cedera kaki Dion


dan khawatir Dion tidak akan mampu berdiri sendiri. Nazyra buru-buru menghentikan Ganindra.


“Kita belum bisa pergi. Kakinya terluka.”


“Apa hubungannya itu denganmu? Dia bisa merangkak meski dia tertatih-tatih.”


Nada bicara Ganindra penuh permusuhan.


Dia menyeret Nazyra erat-erat dengan kekuatan besar seolah dia ingin mengurung Nazyra di dalam tulangnya.


Sudut mulut Nazyra bergerak-gerak. Dia menatap Ganindra dengan tidak percaya. Apakah dia salah makan hari ini?


Wajah Dion menjadi pucat. Dia melihat


mereka berdua, dan kesedihan memenuhi hatinya. Bagaimanapun, Nazyra adalah tunangan Ganindra.


"Nazyra ,jangan khawatirkan aku. Aku bisa berjalan sendiri. Kamu harus pergi bersama Pak Ganindra dulu."


Nazyra memandang Dion. Dion terlihat bisa berdiri sendiri dengan kokoh. Dia pastinya juga bisa berjalan sendiri.


Lebih penting lagi, Ganindra seperti bonn yang meledak saat ini, penuh permusuhan dan terlihat sangat berbahaya. Nazyra tidak berani untuk membantahnya.


Ganindra menatap Dion dengan tatapan dingin. Nada suaranya sedingin es.

__ADS_1


"Pak Dion, Kota S bukanlah tempat yang tepat untuk kamu tinggali. Kembalilah ke tempatmu!!"


__ADS_2