Cinta Untuk Nazyra

Cinta Untuk Nazyra
Bab 120


__ADS_3

Nazyra juga mencoba menggunakan sidik jarinya untuk membuka pintu.Tapi pintu tetap tidak mau terbuka


Apakah pintu ini rusak atau bagaimana?


Nazyra meraba-raba beberapa saat tetapi hasilnya tetap sama. Dia berbalik melihat ke arah kamar Ganindra dengan cemas. Nazyra berpikir jika terus seperti ini Ganindra pasti akan keluar dan dia tidak akan membiarkannya pergi begitu saja. Berarti akan sia-sia usahanya untuk melarikan diri dari sini .


Nazyra kemudian bergegas berjalan ke halaman belakang. Dia ingat ada pintu samping kecil di sana yang bisa dibuka dengan tangan.


Sesampainya di halaman belakang, Nazyra kembali melihat taman yang penuh dengan bunga. Ada beberapa bunga di antaranya yang dirangkai membentuk kata "Marry Me." Saat melihat pemandangan ini mau tidak mau kembali membangkitkan perasaan romantis di hati Nazyra .


Nazyra kembali teringat adegan saat Ganindra yang berlutut dengan satu kaki dan mengulurkan sebuah cincin sambil melamarnya


Nazyra merasakan jantungnya berdetak beberapa kali tak terkendali. Nazyra menghela nafas berat dan menggelengkan kepalanya untuk menghilangkan pikiran itu. Tidak peduli romansa macam apa yang dia rasakan, semuanya dusta. Dia tidak bisa begitu saja mengorbankan seluruh masa depannya hanya karena terlena sesaat .


Tanpa ragu-ragu, Nazyra kemudian berjalan ke arah pintu. Namun tiba-tiba dia merasa telah menginjak sesuatu. Nazyra kemudian membungkuk untuk melihat benda apa yang telah diinjaknya, Nazyra terkejut karena melihat ada cincin berlian merah tergeletak di rerumputan.


Itu adalah cincin yang digunakan Ganindra untuk melamarnya. Apakah Ganindra menjatuhkannya di sini?


Perasaan Nazyra rumit saat kembali mengingat bagaimana dia menolak Ganindra dan melihat ekspresi kecewa Ganindra.


Nazyra mengambil cincin itu dan mengamatinya. Cincin Itu diukir dengan cermat, dan cincin itu dibuat menggunakan berlian darah yang sangat langka dan mahal. Cincin ini sungguh tak ternilai harganya.


Sungguh sia-sia meninggalkannya begitu saja di sini.


Nazyra merenung sejenak sebelum memutuskan untuk mengembalikan cincin itu


kepada Ganindra. Saat Nazyra hendak memasuki villa, dia bertemu Ganindra.


Ganindra telah mengenakan piyama tidurnya .Saat dia melihat Nazyra kembali, wajahnya yang sangat tampan terlihat gembira.


“Ternyata kamu tidak bisa meninggalkanku sendirian seperti ini.”


Ganindra maju menyongsong Nazyra dan berkata dengan suara percaya diri, "Nazyra, aku tahu kamu peduli padaku."


Nazyra terkejut mendengar kata-kata Ganindra. Saat Nazyra melihat matanya yang jernih , dia tahu Ganindra sudah tidak mabuk lagi.


Nazyra merasa lega dan hendak menjelaskan "Aku ingin mengembalikan.. ughhh!"


Sebelum Nazyra sempat menyelesaikan kalimatnya, bibirnya tertutup rapat oleh bibir Ganindra.


Ganindra menarik Nazyra ke dalam pelukannya dan menciumnya dengan kasar dan penuh emosi.

__ADS_1


Bau harum pria itu menyerang indera penciuman Nazyra dan menyebar ke mulutnya menyebabkan Nazyra menggigil ketakutan.


Nazyra merasa otaknya akan meledak. Kenapa pria ini tiba-tiba menciumnya?


Nazyra buru-buru mencoba mendorong Ganindra menjauh, tapi Ganindra malah memeluknya lebih erat dan menciumnya lebih dalam.


Nazyra hampir kehabisan nafas oleh ciuman Ganindra yang kuat. Dia tidak bisa melawan sama sekali. Nazyra hampir pingsan di pelukan Ganindra .


Setelah beberapa lama akhirnya Ganindra melepaskan Nazyra dengan enggan. Bibir Ganindra menyentuh ujung hidung Nazyra ,


dia menatap Nazyra dengan mata menyala-nyala, dan suaranya begitu serak seolah dia mencoba menyampaikan sesuatu padanya, “Jangan tinggalkan aku malam ini,.*


Suara Ganindra begitu menggoda , Nazyra merasakan seluruh tubuhnya memanas , Nazyra berusaha menguasai dirinya , dengan gugup Nazyra buru-buru mendorong Ganindra menjauh, "Mm... Temanku akan datang sebentar lagi untuk menjemputku."


"Kamu bisa menyuruhnya untuk tidak datang lagi." Ganindra menjawab dengan percaya diri, dan dia beringsut lebih dekat ke arah Nazyra.


Di bawah langit malam, wajah tampan pria itu semakin terlihat jelas, dan sepertinya wajahnya diselimuti aura misterius, yang menonjolkan ketampanannya. Nazyra benar-benar mabuk olehnya.


Nazyra buru-buru mengalihkan pandangannya tidak berani menatap matanya. Nazyra kemudian dengan cepat menyerahkan cincin berlian yang ditemukannya tadi ke telapak tangan Ganindra.


"Barusan aku menemukan cincin ini di rerumputan. Aku di sini untuk mengembalikannya padamu. Uhuk, aku harus pergi sekarang."


Ganindra berdiri di depannya dan menatap matanya tajam . Tatapannya sangat dalam dan gelap.


Dia menarik tangan Nazyra dengan tegas dan dengan penuh keyakinan, perlahan mengenakan cincin itu ke jari manis Nazyra.


Cincin berlian berwarna merah itu sangat cantik dan sepertinya dibuat khusus untuk Nazyra, ukurannya sangat pas . Cincin itu bersinar di jarinya.


Nazyra merasakan jantungnya diserang oleh sesuatu.


Dia kehilangan kata-kata, "Pak Ganindra, kamu..."


"Ini milikmu."


Ganindra berkata dengan tegas dan suaranya yang serak terdengar sangat seksi.


Ganindra memegang tangan Nazyra dan menambahkan dengan sungguh-sungguh, "Kamu tidak boleh melepaskannya atau mengembalikannya kepadaku."


Tangan Nazyra yang hendak melepas cincin itu terhenti.


“Menurutku cincin ini tidak pantas untukku, aku sama sekali tidak mau menikah denganmu."

__ADS_1


Ganindra mengencangkan cengkeramannya pada tangan Nazyra, "Temanmu sudah datang, kamu masih akan pergi? Jika tidak, kamu bisa tidur denganku."


Wajah Nazyra memerah. Pria ini benar-benar tidak tahu malu sekarang.


"Aku pergi sekarang."


Nazyra tidak berani berkata apa-apa lagi dan bergegas menuju pintu keluar


Aneh kenapa pintu ini begitu mudah dibuka sekarang? Padahal sebelumnya dia sangat kesulitan membukanya.


Nazyra ternganga melihat kunci pintu itu dengan bingung.


Ganindra mengikutinya dari belakang perlahan, dan ketika dia melihat Nazyra yang tampak kebingungan , dia diam-diam menyimpan remote control kecil di sakunya


Setiap fasilitas di villa ini sebenarnya bisa dikendalikan dari jarak jauh dengan remote control.


Ganindra hanya berdiri dan memperhatikan Nazyra yang segera bergegas pergi. Nazyra akhirnya merasa lega setelah masuk ke dalam mobil.


Ivanna yang mengemudikan mobil itu sesekali mengamati Ganindra dari kaca spion.


"Ck, ck, pria yang menakjubkan. Dia bahkan terlihat sangat sexy dalam balutan piyama tidur. Aku sangat ingin melepas pakaiannya dan tidur dengannya ." ujar Ivanna blak-blakan.


Pipi Nazyra memerah, "Dasar gadis cabul. fokuslah saat mengemudi !."


“Oh, Zyra, apa kau ingin agar aku tidak melihatnya? Cih, ini hanya waktu yang singkat, dan dia sudah menjadi laki-lakimu?”


"Apa? Laki-lakiku? Aku sebenarnya tidak punya hubungan apa pun dengannya." Nazyra membalas dengan gelisah.


Ivanna bertanya dengan ragu, "Benarkah? Kalau begitu, kenapa dia memintamu menjemputnya saat mabuk? . Seorang pria lajang dan wanita lajang berada di kamar yang sama di tengah malam...Bahkan dia juga berganti pakaian. Tidak ada yang akan percaya jika kamu mengatakan bahwa dia hanya berganti pakaian dan kalian tidak melakukan hal lain."


“Kami… Kami benar-benar tidak melakukan hal lain.”


Nazyra membalas dengan lemah.


Melihat reaksi Nazyra ,Ivanna terkekeh, "Zyra, sebenarnya, tidak peduli dari aspek mana, menurutku Ganindra sepertinya memiliki perasaan padamu."


"Dia menyukai wanita lain."


Nazyra merasa kesal ketika menyebutkan hal ini, "Mungkin semua pria suka menggoda wanita."


“pria seperti Ganindra bisa mendapatkan wanita manapun yang di sukai. Jika dia suka menggoda wanita, apakah menurutmu dia akan tetap lajang dan menggodamu sekarang? juga dia pasti sudah memiliki banyak wanita di sisinya. Sekarang."

__ADS_1


__ADS_2