
Hati Dion langsung dipenuhi dengan kegembiraan , karena sangat bahagia Dion melompat-lompat kegirangan tanpa memperdulikan citranya.
Hati Dion yang tadinya kelam, langsung bersinar dengan penuh harapan. Dion bergegas mendekat, menarik Nazyra dari tempat duduknya dan bertanya pada Nazyra dengan penuh semangat.
"Benarkah Nazyra? pertunangan antara kamu dan Ganindra Megantara itu palsu?"
Nazyra tidak menyadari tindakan Dion yang tiba-tiba , dia sangat terkejut hingga lobster yang sedang dipegangnya jatuh ke lantai. Nazyra tercengang menatap tingkah Dion.
Kenapa dia begitu bersemangat? Atau apakah Dion marah karena dia berbohong padanya saat itu?.
Karena Dion sudah mendengar percakapan mereka, Nazyra hanya bisa menjelaskan. "Itu benar pertunangan kami palsu, tapi karena itu rahasia, jadi aku tidak memberitahumu saat itu."
Bagi Dion, kata-kata Nazyra adalah hal paling menyenangkan yang pernah didengarnya di dunia ini.
"Bagus sekali!"
Dion tiba-tiba memeluk Nazyra dengan antusias dan memutar tubuh Nazyra dengan penuh semangat.
Nazyra kehilangan keseimbangannya dan secara refleks dia meletakkan tangannya di bahu Dion. Akibatnya tangannya langsung menciptakan noda minyak seukuran telapak tangan di kemeja Dion.
Wajah Nazyra berkedut dan dia segera berkata, "Turunkan aku, Dion."
Dion baru menurunkan Nazyra setelah berputar beberapa kali. Dion enggan melepaskan Nazyra saat memeluknya tetapi Nazyra dengan paksa melepaskan lengan Dion yang melingkari tubuhnya . Nazyra menjatuhkan diri ke kursi dan melemparkan sarung tangan yang penuh noda minyak.
Nazyra menatap Dion dengan tatapan kesal dan bertanya, “Ada apa denganmu?” .
Nazyra merasa pusing karena digendong berputar-putar oleh Dion hingga dia hampir mati ketakutan.
Dion duduk di sampingnya sambil tersenyum. Matanya tampak dipenuhi bintang-bintang gemerlap saat dia memandang Nazyra dengan penuh kebahagiaan .
"Apa kamu marah?" Nazyra melotot pada Dion. Dia mengangkat tangannya dan menunjuk ke arah noda di bahu Dion.
“Kamulah yang menggendongku tiba-tiba, aku tidak bertanggung jawab untuk menggantinya.”
__ADS_1
"kamu tidak perlu menggantinya." Dion sama sekali tidak peduli dengan noda itu dan matanya masih dipenuhi kebahagiaan saat dia memandang Nazyra. Senyuman tak terkendali merekah di bibirnya
Untung saja dia datang untuk mengucapkan selamat tinggal pada Nazyra sebelum dia pergi, jika tidak, Dion tidak akan mendengar kata-katanya.
Nazyra tertegun melihat Dion tersenyum begitu bahagia. Nazyra curiga Dion sedang mabuk atau demam. Nazyra kemudian mengulurkan tangannya dan menyentuh dahi Dion. Suhu dahinya normal. Mungkinkah ada yang tidak beres di otaknya?
Melihat ekspresi bingung Nazyra , Dion meraih tangan Nazyra dan berkata dengan nada lembut, "Aku baik-baik saja. Aku sangat bahagia. Aku sangat senang mengetahui bahwa pertunanganmu palsu."
Nazyra menatapnya dengan bingung. Mengapa Dion begitu bahagia padahal pertunangannya palsu? Apakah Dion merasa senang diatas penderitaannya?
Ivanna memperhatikan mereka berdua.
Reaksinya lebih cepat daripada Nazyra dan Ivanna cukup sensitif untuk menemukan sesuatu dibalik sikap aneh Dion.
Ivanna tersenyum dan menggoda, "Pria tampan , mungkinkah kamu menyukai Zyra?."
Telinga Dion menjadi merah mendengar pertanyaan Ivanna.
"Memang benar, aku sangat menyukaimu." Dion menyela kata-kata Nazyra dengan suara rendah. Dion memegang tangan Nazyra dan menatapnya. Mata Dion tampak bersungguh-sungguh dan penuh cinta yang hampir membuat hati siapapun tergerak.
Nazyra benar-benar tercengang dia memandang Dion tidak percaya.
Jika Ganindra menyukainya adalah hal paling mustahil yang Nazyra pikirkan, maka Dion menyukainya itu sama sekali tak pernah terpikirkan olehnya. Bagaimanapun, Nazyra tahu tentang hubungan asmara Dion dengan Tania. Nazyra bahkan pernah melihat mereka berdua berpelukan di tepi jalan saat itu.
"Dion, aku tahu kamu sangat baik padaku. Meskipun pertunanganku palsu, dan aku mungkin pantas untuk dikasihani, kamu tidak perlu menghiburku seperti itu."
Dion terkejut, dia tidak menyangka Nazyra akan menjawabnya seperti itu. Ivanna menatap Nazyra dengan tatapan canggung. Ivanna merasa hanya Nazyra yang mengira pengakuan cinta Dion hanya untuk menghiburnya.
Namun Dion tidak merasa kesal, dia memandang Nazyra dengan mata penuh cinta dan berkata perlahan dengan sangat serius, "Zyra, aku sebenarnya menyukaimu sejak dulu, hanya saja aku mengira kamu adalah tunangan Ganindra Megantara dan kupikir kalian berdua saling mencintai, oleh karena itu aku tidak berani mengatakannya terus terang."
Melihat Dion seserius itu, Nazyra terkejut. Dia berkata, "Aku melihatmu mabuk malam itu, dan kamu berpelukan dengan Tania di tepi jalan."
"Aku mabuk karena kamu." Jawaban Dion lugas tanpa keraguan sedikit pun.
__ADS_1
Nazyra benar-benar terpana, dia akhirnya menyadari bahwa pengakuan cinta Dion ini mungkin nyata.
Ada apa dengan hari ini? . Pertama dia dilamar oleh Ganindra terlebih dahulu. Meski palsu, dia tetap dilamar. Yang kedua sebelum menyelesaikan makan malamnya, dia juga menerima pengakuan cinta Dion.
Dion memegang tangan Nazyra dan menatapnya. “Zyra, aku menyukaimu, bisakah kamu memberiku kesempatan?”
Nazyra menatap Dion dalam keadaan linglung. Dia merasa agak sulit menerima ketika temannya tiba-tiba membuat pengakuan cinta untuknya. Nazyra tidak pernah berpikir untuk bersama Dion sebelumnya.
Nazyra menggelengkan kepalanya dengan tatapan canggung. "Aku selalu memperlakukanmu sebagai teman."
“Teman juga bisa menjadi kekasih. Jangan khawatir, aku bisa memberimu waktu untuk beradaptasi.” Ada senyuman lembut di wajah Dion . Dion tampak ceria dan tampan.
Dion adalah pria yang luar biasa dan juga lembut. Jika Nazyra bersama dengan Dion dia akan dilimpahi kasih sayang olehnya dan mungkin Nazyra akan diluluhkan oleh kepribadian Dion yang lembut. Pasti menyenangkan menjadi pacarnya.
Namun, saat berhadapan dengan Dion, tanpa sadar bayangan wajah Ganindra terlintas di benak Nazyra.
Wajah Ganindra sangat tampan, dan memiliki aura mulia yang sangat tak tersentuh yang mengobarkan segala macam kerinduan dan ilusi. Pada saat yang sama, juga memicu rasa kebencian dari Nazyra yang jarang terjadi pada orang lain.
Gelombang kemarahan tiba-tiba muncul
di hati Nazyra dan Nazyra tidak lagi berminat untuk mendengarjan omong kosong Dion lebih jauh.
Nazyra memandang Dion dan menjawab dengan serius, "Dion aku hanya menganggapmu sebagai temanku, dan ini akan tetap sama di..."
"Zyra, aku tidak ingin jawabanmu sekarang."
Dion menyela Nazyra dengan ekspresi penuh tekad. Dion menatap Nazyra lurus, dan matanya tak tergoyahkan.
Hanya setelah Dion hampir kehilangan wanita ininbarulah dia memahami sepenuhnya betapa berharganya Nazyra baginya , Dion berharap untuk bisa mencintai wanita ini sepenuhnya dengan jujur .
Selama Nazyra masih lajang, Dion belum punya alasan untuk menyerah.Dion aka mengejar Nazyra dengan sepenuh hati, tekad dihatinya begitu kuat.
Nazyra mengerucutkan bibirnya. Bahkan jika Dion belum ingin dia menjawab, Dion tahu betul apa yang dia pikirkan. Tak lama kemudian, Dion mungkin akan bisa menerima jawabannya.
__ADS_1