Cinta Untuk Nazyra

Cinta Untuk Nazyra
Bab 114


__ADS_3

Di Villa Valley ratusan cahaya lilin menyinari lautan bunga di halaman belakang. Jalinan warna warni bunga dan cahaya lilin membuat seluruh halaman terlihat sangat indah dan romantis.


Namun, saat ini, suasana di sana sama sekali jauh dari kesan romantis. Udaranya telah membeku.


Ganindra berdiri terpaku di tempat, dan wajah tampannya tampak mengerikan saat ini.


Ganindra memancarkan aura sedingin es, yang sangat mengintimidasi. Meski begitu seseorang memberanikan diri melangkah dengan hati-hati ke arahnya.


Refal berhenti sejauh tiga meter dari Ganindra. Dia berkata dengan hati-hati, "Ganindra, jangan merasa sedih dulu. Kamu harus berjuang untuk mengejarnya jika ingin mendapatkan hati seorang wanita. Kamu baru mencoba satu kali , masih banyak cara yang bisa kamu gunakan. Kegagalan adalah keberhasilan yang tertunda. Calon istrimu sangat cantik, jadi tentu saja kamu harus melalui beberapa kesulitan untuk mendapatkan hatinya."


Ganindra merasa hatinya lebih dingin sekarang. Tanpa memperdulikan kata-kata Refal, dia berjalan menuju ke dalam Villa.


Refal menghela nafas ketika dia melihat siluet Ganindra di kejauhan. Ia tidak pernah menyangka Ganindra akan ditolak oleh Nazyra.


Ini pertama kalinya Ganindra mencintai seorang wanita dalam hidupnya dan juga ini adalah pertama kalinya dia berusaha keras hanya untuk mengejar dan melamar seorang wanita tapi tanpa diduga, dia ditolak.


Meski begitu, Refal merasa Ganindra tidak pantas menerima nasib seperti itu. Dengan pengalamannya selama bertahun-tahun dalam percintaan, Refal dapat mengetahui bahwa Nazyra pasti juga memendam perasaan yang sama pada Ganindra.


Mungkinkah alasan Nazyra menolak Ganindra adalah karena alasan yang tidak bisa dikatakan ?


Memikirkan itu, Refal segera mengejar Ganindra “Aku dengar ada restoran lobster di jalan Cempaka yang sangat lezat. Ayo kita pergi makan dan minum disana."


Refal telah menyelidiki sebelumnya dan menemukan bahwa Nazyra sedang berada di restoran itu.


Nada bicara Ganindra sedingin es, "Aku tidak akan pergi."


"Tidak ada gunanya menyimpan rasa frustrasimu dengan suasana hati yang buruk sendirian. Kamu harus makan makanan enak sedikit untuk meringankan suasana hatimu."


"Siapa bilang suasana hatiku sedang buruk?"


Ganindra tiba-tiba menghentikan langkahnya lalu menatap Refal dengan pandangan mengancam. Kemudian Ganindra mengusir Refal pergi.


“Pintunya ada di sana. Pergilah sekarang.”


Melihat sikap Ganindra yang kejam, Refal merasakan jantungnya berdegup kencang, dia merasa sangat ingin melesat pergi dari villa ini secepatnya.

__ADS_1


Namun, Refal tidak bisa melihat Ganindra menyerah begitu saja dan frustasi seperti ini.


Oleh karena itu, Refal berpura-pura menggelengkan kepalanya.


"Kamu benar-benar tidak mau pergi? . Aku sudah menelpon Teddy tadi. Kamu masih ingat dia kan? Dia benar-benar seperti musuh bebuyutan dengan Variela dan dia selalu ditolak. Mungkin ada seribu kali dia melamar dan ditolak oleh Variela. Namun, beberapa hari yang lalu, dia berhasil menjadikan Variela pacarnya. Teddy juga mengatakan bahwa dia akan memberitahu dan mengajari kita triknya mengejar cinta Variela."


Teddy adalah salah satu sahabat sepergaulan mereka . Tapi dulu dia paling sering di ejek oleh Ganindra karena sikap pantang menyerahnya mengejar cinta Variela .


Bagi Ganindra , Jika seorang wanita sudah menolak seorang pria maka jelas tidak ada harapan untuk melanjutkan hubungan mereka. Sang pria sebaiknya melepaskannya saja , karena bagi Ganindra tidak ada satupun alasan pria itu terus bertahan.


Ganindra tidak pernah mau melakukan sesuatu yang tidak ada harapan.


“Aku juga punya seseorang yang aku sukai , tapi aku belum bisa menjadikannya sebagai pacarku. Kebetulan malam ini aku bisa belajar satu atau dua hal dari Teddy dan aku yakin aku juga akan berhasil mendapatkan orang yang kusukai nanti."


Refal mengatakan ini dengan penuh semangat, sambil tak henti melirik ke arah Ganindra memperhatikan perubahan ekspresinya .


Ganindra terus memasang wajah tanpa emosi, tapi tatapan dinginnya tiba-tiba diarahkan pada Refal.


Ganindra langsung mengejek Refal karena sudah bisa menebak tipuan Refal, "Kamu pasti sedang mencoba menipuku agar pergi berkumpul dengan kalian kan? "


Refal tertawa canggung, "Aku hanya menyarankan ini untuk kebaikanmu."


“Jika kamu benar-benar tidak berniat pergi, maka aku akan pergi sekarang.”


Takut Ganindra akan menebasnya, Refal tidak berani tinggal di sini lebih lama lagi. Refal bergegas menuju ke garasi.


Tapi tiba-tiba sepasang kaki lain melewati Refal dan berjalan lebih dulu menuju ke arah garasi. Refal tertegun saat dia melihat punggung Ganindra.


“Ganindra, kamu mau kemana?”


"Aku lapar."


Ganindra menjawab dengan dingin sambil terus berjalan menuju garasi tanpa berhenti.


Refal membeku selama beberapa detik, dan baru setelah itu dia akhirnya sadar kembali.

__ADS_1


Lapar? Makan malam?


Ternyata Ganindra tertarik mendengarkan cerita Teddy.


Refal diam-diam tertawa licik ketika dia berpikir bahwa tidak peduli betapa cerdasnya seorang pria, dia tidak akan bisa menggunakan akal dan pikirannya jika sudah jatuh cinta.


Setelah masuk ke dalam mobil, keduanya tidak perlu mengatakan kemana tujuan mereka dengan jelas , tapi mobil melaju menuju ke restoran lobster.


Saat dalam perjalanan, Refal telah memikirkan beberapa metode untuk menyalakan api antara Ganindra dan Nazyra. Sekalipun tidak berhasil, itu masih akan sedikit menggoyahkan hati Nazyra .


Restoran lobster yang mereka kunjungi adalah restoran kecil di tepi jalan , yang ramai pembeli. Ada kerumunan orang memadati tempat itu. Dulu, Ganindra tidak akan pernah mengunjungi tempat seperti itu.


Ganindra melihat ke restoran dengan tatapan tidak puas, "Tidak bisakah kita membungkusnya pulang jika aku ingin makan lobster?"


Setelah berhenti sebentar, Ganindra menambahkan dengan nada memerintah, "Ayo pindah ke tempat lain.".


Refal yang sedang berjalan menuju restoran


merasakan bahaya yang akan terjadi. Tidak mudah untuk memancing Ganindra datang ke tempat ini, lalu bagaimana bisa dia membiarkan Ganindra pergi begitu saja?


Hidangan Lobster bukanlah yang penting di sini. Tujuan terpenting dari rencananya adalah Nazyra yang berada di dalam restoran.


“Lobsternya tidak akan enak kalau dibawa pulang. Lagipula, Teddy sudah datang dan aku yakin dia sudah memulai ceritanya kepada teman-teman yang lain. ”


Ganindra akhirnya terpaksa memasuki restoran dengan wajah gelap. Refal akhirnya menghela nafas lega.


Refal buru-buru mengikuti Ganindra dan memasuki restoran. Refal segera mengamati para pelanggan yang sedang menikmati makanan mereka di restoran itu dan dalam waktu singkat, dia dapat menemukan seseorang yang dikenalnya.


Itu adalah Ivanna.


Malam ini, Ivanna datang ke sini bersama Nazyra . Jika Ivanna duduk di salah satu meja, berarti Nazyra pasti bersamanya juga.


Refal segera menuju ke arah Ivanna sambil mengatakan pada Ganindra “tempat duduk kita ada di sana.”


Ganindra tidak curiga sedikit pun , dia melangkah mengikuti Refal dengan wajah yang sedingin es dan tanpa berkedip.

__ADS_1


__ADS_2