Cinta Untuk Nazyra

Cinta Untuk Nazyra
Bab 8


__ADS_3

Nazyra bersandar di dinding, menatap pria jangkung di depannya dengan panik. Jantungnya berdebar kencang, kakinya sedikit goyah


Nazyra kemudian berbicara dengan gugup, "Aku sudah menunggumu lama dan kamu masih belum kembali. Jadi aku pulang dulu."


Menunggu lama?


Wajah Ganindra terlihat muram . Dia hanya pergi selama setengah jam tadi malam. Tapi saat kembali wanita ini sudah pergi.


Mungkin, wanita ini malah langsung pergi dan tidak menunggunya. Tapi Ganindra tidak menyebutkan dugaannya pada Nazyra.


Ganindra kemudian menundukkan kepalanya dan melihat rok midi yang dipakai Nazyra. Kainnya tipis membuat mata Ganindra menggelap.


"Kalau begitu mari kita lanjutkan apa yang terakhir kita lakukan tadi malam." Ganindra meletakkan tangannya ke dinding dan menarik tubuh mungil Nazyra ke dalam pelukannya.


Nazyra bisa mencium aroma pria maskulin dari tubuh Ganindra. Tubuhnya menegang saat adegan ambigu dari tadi malam terlintas di benaknya.


Ini di kantor !!


Lagipula hubungan mereka hanyalah pertunangan palsu. Nazyra tidak ingin melakukan hal yang melampaui batas dengannya.


"Ini perusahaan. Jangan main-main di sini."


Nazyra ketakutan setengah mati. Dia mendorong Ganindra menjauh dan berjalan ke samping.


Nazyra mencoba melarikan diri, tetapi dia tanpa sadar malah berlari ke arah yang berlawanan. Di belakangnya hanya ada dinding dan meja.


Ganindra merasa tidak sabar melihat Nazyra melarikan diri , "Nazyra, bekerja samalah denganku."


"Pak Ganindra, kamu dan aku hanya melakukan pertunangan palsu . Aku berhak untuk menolak melakukan hal yang tidak sesuai perjanjian. Jika kamu terus bertindak aneh dan tidak sopan aku akan memutuskan pertunangan denganmu."


Nazyra mengancam Ganindra dengan tegas sambil menatapnya dengan waspada.


Ganindra sedikit mengernyit dan merasa agak aneh. Mengapa wanita ini begitu susah diajak bekerja sama padahal bukan hal yang sulit?.


Jika orang lain Ganindra tidak akan perduli ,tapi mengingat bahwa Nazyra mungkin adalah wanita yang tidur bersamanya malam itu, Ganindra tidak ingin membuat Nazyra takut padanya.


Setelah hening sejenak, Ganindra berkata dengan suara yang dalam, "Mari kita bicara tentang pekerjaan."


Nazyra kemudian merasa lega tapi tetap saja


berdiri jauh dari Ganindra.

__ADS_1


Jika dia tahu bahwa presiden direktur yang baru adalah Ganindra, dia tidak akan pernah berpartisipasi dalam pemilihan ini. Tapi sekarang dia telah terpilih, akan menjadi kesempatan bagus baginya untuk menonjol dari yang lain. Dia tidak bisa menolak dan melewatkan kesempatan ini.


Nazyra berbicara dengan pelan setelah berusaha menenangkan diri sesaat, dan berbicara dengan nada formal "Pak Ganindra ,saya akan mendesain rangkaian pakaian untuk Bapak . Apakah Bapak memiliki persyaratan khusus?"


"Aku akan menyuruh Tommy mengirimimu style berpakaianku dan favoritku." Ganindra menjawab dengan acuh tak acuh .


Ganindra sebenarnya tidak terlalu tertarik dengan pembuatan pakaian ini. Pemilihan desain pakaian untuk presiden direktur ini adalah ide presiden direktur sebelumnya. Ganindra melakukannua hanya untuk menguji Nazyra.


"Baiklah, kalau begitu saya akan kembali melanjutkan pekerjaan saya" Nazyra tidak sabar untuk keluar.


Dia merasa gugup berhadapan dengan Ganindra sekarang setelah kejadian tadi malam.


Ganindra menyipitkan matanya saat melihat Nazyra hendak pergi.


Kemudian, dia berkata dengan suara yang dalam, "Bu Nazyra, bukankah seharusnya kamu mengukur ukuran pakaianku terlebih dahulu?"


"Pak Tommy pasti sudah memilikinya, kan?"


Ganindra mengerutkan bibirnya, "Pakaianku harus sempurna dan ukurannya tepat. Bahkan kesalahan ukuran sekecil apa pun tidak akan ditoleransi."


Nazyra memandang Ganindra dan mengeluh dalam hati . Kenapa dia terlalu rumit?


Nazyra merasa marah tetapi tidak berani berbicara. Dia kemudian mengambil pita pengukur dan berjalan ke arah Ganindra.


Aura pria ini terlalu kuat. Hati Nazyra bergejolak ketika semakin dekat dengannya.


Setelah Nazyra selesai mengukur ukuran bahu Ganindra , Nazyra beralih berdiri di depan Ganindra , memandangnya, dan berbicara dengan pelan, "Tolong angkat tangannya pak. Saya harus mengukur pinggang Bapak."


Ganindra berdiri tegak dan hanya mengangkat tangannya sedikit. Ekspresi wajahnya terlihat datar.


Melihatnya seperti ini, Nazyra merasa merasa sedikit kesal . Nazyra berusaha meyakinkan dirinya bahwa dia hanya mengukur untuk orang seperti biasanya.


Nazyra melilitkan pita pengukur ke sekeliling pinggang Ganindra dan menariknya.


Meskipun mereka tidak melakukan kontak tubuh, tubuh Nazyra sangat dekat dengan Ganindra, sehingga membuat Nazyra gemetar dan dadanya berdebar kencang.


Nazyra tidak berani berlama-lama. Dia melangkah mundur tepat setelah selesai mengukur pinggang Ganindra. Pada saat itu, Ganindra tiba-tiba maju selangkah, dan keduanya bertabrakan.


Nazyra jatuh ke belakang kehilangan keseimbangan. Tapi sebuah lengan yang kuat menopang dan memegangi pinggangnya lalu memeluknya.


Wajah tampan pria itu sangat dekat tepat di depan wajah Nazyra. Nazyra bisa merasakan napas panas pria itu di wajahnya. Ganindra menatapnya, dan tatapannya menjadi bergairah.

__ADS_1


Mereka sangat dekat seperti hendak berciuman.


Jantung Nazyra berdegup kencang, dan pikirannya menjadi kosong. Dia dan Ganindra berpelukan begitu saja?


Saat mereka saling memandang dan terpana, pintu ruangan Ganindra dibuka dari luar.


"Presdir, saya punya sesuatu yang penting yang ingin saya sampaikan kepada Bapak ..."


Elisa bergegas masuk dengan tergesa-gesa. Sebelum dia bisa menyelesaikan kalimatnya, dia tertegun oleh adegan mengejutkan di depannya.


Presdir baru ternyata jauh lebih tampan dari yang diperkirakan, tapi kenapa dia memeluk Nazyra? Keduanya terlihat begitu dekat. Ini hampir seperti mereka akan ...


Wajah Ganindra berubah kelam. Suaranya dipenuhi amarah.


"Keluar!!!".


Elisa gemetar ketakutan, dan baru kemudian dia sadar kembali. Dia berlari keluar dengan panik.


Memanfaatkan kesempatan ini, Nazyra buru-buru melepaskan pelukan Ganindra.


Pipinya memerah, Nazyra merasa bingung dan berusaha menjaga jarak terjauh dan teraman dari Ganindra.


"Pak Ganindra,pengukurannya sudah selesai. Bisakah saya pergi sekarang?"


Ekspresi Ganindra tampak suram. Tatapannya ke arah Nazyra sangat rumit.


Meskipun Ganindra belum benar-benar memastikannya, tapi saat memeluk Nazyra tadi dia merasa nyaman.


Nazyra panik melihat tatapan Ganindra. Dia takut Ganindra akan memintanya untuk terus melakukan hal itu lagi.


Nazyra mengertakkan gigi dan berjalan keluar tanpa menunggu izin Ganindra .


"Saya pergi dulu."


Nazyra cepat-cepat meninggalkan ruangan dan langsung masuk ke dalam lift, seolah ingin lari secepatnya dari lantai ini.


"Bu Nazyra, tunggu sebentar."


Pintu lift hendak menutup ketika Tommy berlari ke arah lift dan menekan tombol untuk membuka pintu lift lagi.


Ketika Nazyra melihat Tommy, dia merasa sedikit gelisah karena Tommy adalah asisten Ganindra.

__ADS_1


Apakah Ganindra masih tidak akan membiarkannya pergi ?


__ADS_2