Cinta Untuk Nazyra

Cinta Untuk Nazyra
Bab 125


__ADS_3

Nazyra tersipu, menggelengkan kepalanya. “Tidak, terima kasih. Aku harus pulang.”


Tidak mungkin dia bermalam lagi dirumah Ganindra. Nazyra tak habis pikir apa yang di pikirkan Ganindra dengan memintanya bermalam disini .


Nazyra berbalik dan hendak berjalan keluar, tapi pergelangan tangannya dicengkeram oleh tangan Ganindra.


Ganindra berkata dengan datar "Jika kamu pergi, pada siapa aku meminta bantuan jika aku ingin minum air tengah malam?"


Setelah jeda sejenak, Ganindra menambahkan "Mienya tadi asin sekali, jadi aku sering haus."


Nazyra tidak bisa berkata-kata, tadi dia melihat Ganindra menghabiskan semua mie dalam mangkuk. Dia pikir indera perasa Ganindra terganggu sehingga tidak bisa merasakan betapa asin mienya.


“Tetapi tangan kirimu yang terluka. Kamu bisa menuangkan air menggunakan tangan kananmu.”


Ganindra terlihat semakin kesal. Dia menatap Nazyra dengan serius.


“Jadi, apakah kamu tidak mau bertanggung jawab?”


Nazyra tidak mengerti apa hubungannya dengan tanggung jawab.Dia merasa sangat tertekan dan sedih. Saat hendak berdebat lagi dengan Ganindra, tiba-tiba Ganindra memegang lengannya yang di perban dan wajahnya terlihat sedikit kesakitan.


“Ada apa,? ” tanya Nazyra cemas dan dengan rasa khawatir, dia mengulurkan tangan untuk meraih tangan Ganindra.


Namun Ganindra menghindari tangannya, wajahnya terlihat dingin dan acuh tak acuh.


"Kamu tidak perlu mengkhawatirkanku. Pulanglah."


Bagaimana mungkin Nazyra bisa pulang dengan tenang setelah melihat Ganindra kesakitan.


Nazyra lalu berkata , "aku tidak akan pulang malam ini. Coba kulihat lenganmu. Apakah infeksinya bertambah parah?"


Ganindra tidak mau berobat ke rumah sakit. Jadi Nazyra khawatir luka Ganindra akan infeksi.


Senyum puas muncul di mata Ganindra. Lalu dia membiarkan Nazyra meraih tangannya.


Dia berkata dengan nada ringan, "Tidak apa-apa sekarang. Tadi tba-tiba saja terasa sakit."


'Tiba-tiba terasa sakit?' Nazyra mengulangi kata-kata Ganindra dalam hati.


Nazyra memandang Ganindra dengan ragu, dia melihat wajah Ganindra tidak lagi memancarkan raut kesakitan , kembali ke raut wajah datar seperti biasanya. Seolah rasa sakit yang dia rasakan tadi hanya berpura-pura.


Nazyra merasakan sedikit sakit di antara kedua alisnya.Tidak mungkin Ganindra yang berwibawa dan mulia bertindak kekanak-kanakan seperti itu, bukan?


Melihat tatapan ragu Nazyra, Ganindra merasa sedikit canggung. Dia lalu melangkah menuju kamar tidurnya.


"Waktunya tidur."

__ADS_1


Mendengar kata-kata Ganindra, Nazyra langsung menjadi malu dan gelisah.


Hanya ada satu kamar tidur dan satu


tempat tidur di villa Ganindra. Nazyra ragu apakah mereka harus tidur seranjang lagi malam ini? .


Nazyra berjalan perlahan ke kamar Ganindra. Sebenarnya dia tidak ingin masuk ke kamar Ganindra sama sekali.


Ganindra sedang berdiri di tangga. Dia berbalik dan menatapnya dari atas. "Lenganku sepertinya sakit lagi..."


Sudut mulut Nazyra bergerak-gerak, ingin rasanya dia bertanya apakah Ganindra berpura-pura.Tapi mulutnya seolah terkunci,


akhirnya dia hanya bisa melangkahkan kaki ke kamar Ganindra.


Melihat ke arah sofa di kamar, Nazyra berkata dengan tegas, "aku akan tidur di sofa malam ini. kamu bisa membangunkanku jika kamu memerlukan bantuan."


Ganindra merasa sangat tidak senang.


Namun, dia tidak mengatakan apapun. Dia hanya mengangguk setuju.


Melihat Ganindra begitu santai, Nazyra merasa sedikit lega. Oleh karena itu, Nazyra segera mengambil piyama dari ruang ganti dan pergi ke kamar mandi dengan tenang.


Setelah Nazyra memasuki kamar mandi, Ganindra menatap dalam ke arah pintu kamar mandi yang terkunci lalu kemudian duduk di depan meja kerjanya. Ganindra mulai membaca dokumen, memberi komentar, dan menandatangani.


Setengah jam kemudian, pintu kamar mandi terbuka dari dalam.Nazyra telah selesai mandi.


Ganindra segera meletakkan pulpen di tangannya. Nazyra mengenakan piyama tidur yang tertutup hampir sama dengan pakaiannya sehari-hari. Dia berjalan keluar dari kamar mandi dengan pipinya yang merona merah setelah mandi air hangat tampak seperti apel matang. Nazyra merasa sangat tidak nyaman setelah mandi langsung berhadapan dengan seorang pria.


"Ahem. Aku sudah selesai mandi. Aku tidur dulu." Saat Nazyra berbicara, dia ingin berjalan ke sofa.


Ganindra menatapnya dan berkata dengan suara rendah, "Kemarilah."


"Untuk apa?"


Nazyra memandangnya dengan waspada tanpa bergerak. Ganindra melirik dokumen di depannya dan memperlihatkan tangan kirinya yang diperban. “Ini tidak nyaman.”


Melihat perban putih di tangan Ganindra kembali membuat Nazyra merasa bersalah.


Nazyra lalu berjalan perlahan ke meja kerja Ganindra "Apa yang bisa ku bantu?"


Tiba-tiba Ganindra mengulurkan tangan dan menarik Nazyra untuk duduk di pangkuannya. Mereka tiba-tiba menjadi begitu dekat sehingga mereka bisa mendengar napas satu sama lain.


Tubuh Nazyra tiba-tiba menjadi kaku. Dia segera berusaha untuk berdiri.


“Lepaskan aku ...”

__ADS_1


Lengan Ganindra melingkari pinggang Nazyra, membuatnya terperangkap erat dalam pelukannya.


Ganindra berbicara dengan nada suara cukup serius. "Balik halaman dokumennya untukku."


"Tolong... Tolong lepaskan aku dulu..."


"Zyra , tahukah kamu terus bergerak di atas pangkuan seorang pria itu seperti sedang merayu? ."


Suara Ganindra menjadi serak. Bibir tipisnya mendekati telinga Nazyra dan suaranya terdengar cukup berbahaya. “Aku tidak punya banyak kendali atas diriku ."


Seketika, Nazyra terkejut. Dia merasa lemas dan mati rasa seperti tersengat listrik.


Nazyra tersipu, dia merasa seperti sedang duduk di atas peniti dan jarum."


Merasa bahwa Nazyra menjadi patuh, Bibir Ganindra tersenyum puas.


"Balik halamannya."


Nazyra tidak berbicara, dia terus berpikir cara mengubah postur tubuhnya.


Merasakan hembusan napas dari pria yang berada cukup dekat itu, Nazyra mengulurkan tangan dengan penuh kegelisahan, membalik halaman dokumen itu.


Tatapan Ganindra selalu terpaku pada wajah Nazyra , dia sama sekali tidak melihat dokumen itu.


"Balik halaman lain". Ganindra berbisik ditelinga Nazyra membuat Nazyra merasakan


telinganya seperti terbakar dan dia merasa tidak fokus .


Karena tegang, Nazyra seperti kucing di atas batu bata panas, merasa benar-benar tidak tenang. Nazyra segera membalik halaman lain. Tanpa menunggu perintah Ganindra, dia membalik halaman lain setelah beberapa saat.


Ganindra berkata, "Terlalu cepat. Balikkan ke halaman sebelumnya lagi."


Nafas hangat Ganindra berhembus ke telinganya seolah berhembus ke jantung Nazyra. Jantung Nazyra berdebar kencang seolah akan melompat keluar dari dadanya.


Jika dia terus berada di pangkuan Ganindra, dia merasa akan terbakar. Nazyra berusaha keras untuk memiringkan kepalanya.


"Maaf, Pak Ganindra.Sekarang sudah cukup larut. Jika kamu tidak terburu-buru, kamu bisa mengurus dokumen-dokumen itu besok."


Kalau besok Tommy lah yang membantu Ganindra membalik halaman.


Membaca pikiran Nazyra, Ganindra menjawab dengan tegas, "Semuanya mendesak."


Nazyra tidak bisa berkata-kata.


Jika dia punya begitu banyak dokumen penting yang harus diselesaikan, mengapa dia malah mengajaknya makan lobster?

__ADS_1


__ADS_2