
Setelah makan, Amanda dan Ganindra pergi ke ruang kerja Ganindra berdua. Ada sesuatu yang ingin Amanda bicarakan dengan Ganindra.
Nazyra duduk di sofa bersama nenek Nani dan Paramita. Tapi dia merasa gelisah dan diam-diam selalu mencuri pandang ke arah ruang kerja Ganindra.
Nenek Nani menyadari sikap Nazyra yang tampak cemburu tunangannya berduaan dengan wanita lain. Nenek Nani merasa senang melihat Nazyra memiliki perasaan cemburu pada Ganindra .Jika Nazyra memiliki rasa cemburu berarti juga memiliki perasaan pada Ganindra, maka kemungkinan mereka menikah menjadi semakin besar.
Jadi, Nenek Nani memutuskan untuk membantu Nazyra. Dia berkata, "Nazyra,antarkan makanan ringan dan kopi untuk mereka"
Nazyra menjawab dengan ragu-ragu "Nanti aku akan mengganggu mereka nenek ."
Nenek Nani trsenyum, “Mereka hanya mendiskusikan sesuatu, kamu tidak akan mengganggu mereka. Pergi saja."
Setelah dia mengucapkan kata-kata itu, kepala pelayan yang cerdas segera menyiapkan nampan dan menyerahkannya pada Nazyra.
Nazyra tidak berani menolak Nenek Nani . Dia harus melakukan itu untuk mencegah Nenek Nani berpikir terlalu banyak dan mencurigainya.
Nazyra memegang nampan dan berjalan menuju ruang kerja Ganindra. Dia merasa bingung dan gugup.
Mereka jarang bisa bertemu dan berduaan, mungkin mereka sedang memanfaatkan waktu dan sedang bermesraan sekarang . Sepertinya jika dia masuk bukanlah hal yang tepat karena hanya akan mengganggu mereka.
Tapi nenek Nani memandangnya dari lantai bawah, jadi dia tetap harus masuk .Setelah ragu-ragu untuk waktu yang lama.
Nazyra berjalan ke ruang kerja Ganindra dengan lambat
Nazyra melihat pintu yang tertutup rapat, menarik napas dalam-dalam dan memberanikan diri mengetuk pintu itu .
"tok, tok, tok."
Suara ketukannya pelan, sangat pelan sehingga orang tidak akan mendengarnya. Tapi suara Ganindra yang enak didengar terdengar dari dalam.
"Masuk."
Nazyra menggertakkan giginya dan memberanikan diri membuka pintu. Dia takut melihat sesuatu yang tidak pantas, jadi dia hanya menunduk melihat ke lantai dan berjalan lurus menuju meja.
"Nenek memintaku mengantarkan kopi dan makanan ringan untuk kalian."
"Hati-Hati."
__ADS_1
Ganindra memperingatkannya dengan lembut, suaranya sedikit menunjukkan kekhawatirannya
Nazyra tertegun dan mengangkat kepalanya. Dia baru sadar bahwa dia berjalan ke arah yang salah, mejanya tidak ada.
Dia merasa malu dan menoleh, dia bisa melihat kondisi di dalam ruangan dengan jelas.
Ganindra duduk di belakang mejanya, sedangkan Amanda duduk jauh di sofa, dia cantik tapi matanya memerah, dia sepertinya sedang bersedih. Ternyata berbeda dengan adegan mesra yang Nazyra bayangkan.
Amanda menatap Nazyra, matanya yang memerah mengungkapkan kepedihan dan rasa tak berdayanya.
Nazyra merasa tidak nyaman. Tiba-tiba, dia bisa memahami perasaan Amanda. Mereka saling mencintai tetapi tidak dapat bersatu dengan mudah karena keadaan.
Tapi kenapa Ganindra tidak berada di sisinya dan menghiburnya dalam situasi ini, malah menjauh duduk di balik meja di sudut ruangan?
Apakah karena....untuk menghindari kesalahpahaman?. Apakah dia mengganggu ruang pribadi mereka?
"Ehm... kalian bisa melanjutkan. Aku permisi dulu."
Dia meletakkan nampan di atas meja dan berbalik untuk pergi.
"baik." Nazyra menjawab tanpa menoleh ke belakang. Dia meninggalkan ruangan dengan tergesa-gesa dan segera menutup pintu .
Amanda menatap Ganindra sepanjang waktu dan memperhatikan sedikit lengkungan di sudut bibir Ganindra. Dia juga tercengang mendengar nada penuh kasih dalam suaranya.
Ini adalah pertama kalinya dia melihat Ganindra berbicara begitu lembut penuh kasih terhadap seorang wanita.
Amanda mengepalkan tangannya menekan rasa cemburu yang menyergap di hatinya.
"Aku iri pada Nazyra ,dengan dirimu di sisinya, dia akan memiliki anak dan kehidupan yang baik nantinya."
Ganindra akhirnya mengalihkan pandangannya dari pintu dan memperhatikan wajah pucat Amanda. Tatapannya meredup karena rasa bersalah.
Amanda tidak akan kehilangan rahim akibat kecelakaan itu jika bukan karena dia.
Ganindra berkata dengan suara yang dalam, "Aku akan membawamu berobat ke dokter Jonathan. Keahliannya sangat legendaris, mungkin dia bisa membantumu untuk bisa menjadi seorang ibu lagi."
Ganindra akan berusaha sekuat tenaga untuk menyelesaikan misi ini karena ini adalah hutangnya pada Amanda.
__ADS_1
Amanda tersenyum acuh tak acuh..Senyumannya tampak semakin sedih di wajah pucatnya.
"Aku juga mendengar dokter Jonathan adalah seorang legenda, jadi aku datang kepadamu untuk meminta bantuan karena keberadaannya masih menjadi misteri. Tapi tidak masalah apakah kita bisa menemukannya atau dia bisa menyembuhkanku. Karena aku sudah menerima kenyataan."
Kata-kata Amanda semakin dia membuat Ganindra merasa bersalah. Dengan bibir terkatup, Ganindra terdiam dengan perasaan campur aduk.
Setelah meninggalkan ruang kerja Ganindra , Nazyra memikirkan tentang pernikahannya dengan Ganindra. Dia harus melepaskan perannya sebagai tunangan Ganindra sekarang setelah Amanda datang kembali. Dia tidak ingin menjadi orang ketiga dan terus menjalin hubungan dekat dengan Ganindra sebagai tunangannya.
Apalagi, nenek Nani sudah punya rencana untuk menetapkan tanggal pernikahan untuk pernikahan mereka. Jika mereka berlarut-larut, pada akhirnya akan lebih buruk.
Dia perlu berbicara dengan Ganindra tentang pembatalan pernikahannya. Secepat mungkin. Setelah menunggu beberapa saat , Ganindra dan Amanda akhirnya selesai berbincang dan turun.
Melihat keduanya menuruni tangga secara berdampingan, Nazyra merasa mereka benar-benar diciptakan untuk satu sama lain.
Namun, dia malah merasa tidak nyaman melihat mereka.Mungkin karena identitasnya yang salah saat ini.
"Nenek aku pulang dulu. Jaga dirimu baik-baik. Aku akan segera mengunjungi nenek lagi." Amanda mengucapkan selamat tinggal pada nenek Nani dengan sopan dan berjalan ke arah Nazyra.
Dia berkata dengan ramah, "Zyra, ayo kapan-kapan jalan-jalan bersama."
"Tentu." Nazyra menjawab dengan malu-malu. Sungguh tidak masuk akal baginya bergaul dengan Amanda.
Nenek Nani memandang Nazyra dengan puas dan mengangguk sambil tersenyum. Sekarang bagus karena hubungan antara Ganindra dan Nazyra berkembang, yang berarti ada peluang lebih besar mereka menikah.
Setelah Amanda pergi, Nazyra menoleh ke arah Ganindra. " ada sesuatu yang ingin kubicarakan denganmu berdua."
"Mari kita bicara di kamar ."
Ganindra melingkarkan lengannya di bahu Nazyra dan membawanya ke kamar .
Nenek Nani tersenyum, "Baskoro , kamu lihat itu? Ganindra mengajak Amanda ke ruang kerja. Tapi kalau Nazyra dia mengajaknya ke kamar .Terlihat jelas kedekatan mereka. Padahal sebelumnya mereka sempat membicarakan pembatalan pernikahan, tapi tampaknya hal itu tidak akan terjadi lagi."
Kepala pelayan tersenyum, "Nyonya memang bijaksana. Hubungan mereka meningkat begitu cepat karena nyonya menempatkan mereka di kamar yang sama tadi malam."
"cari semua tanggal baik untuk menikah dan aku akan memilih yang paling cepat. Kamu bisa mulai mempersiapkan urusan pernikahannya. Buatlah semegah mungkin, aku tidak ingin keluarganya merasa bahwa kita menganiaya Nazyra........ "
Nenek Nani tak bisa menyembunyikan rasa antusias dari kata-katanya.
__ADS_1