Cinta Untuk Nazyra

Cinta Untuk Nazyra
Bab 117


__ADS_3

Semua orang yang ada disana tercengang menyaksikan adegan itu . Mereka tak bisa mengalihkan pandangan dari Nazyra dan Ganindra.


Nazyra sangat senang melihat Ganindra akhirnya berdiri , dia merasa lega Ganindra tidak jatuh pingsan. Tapi ketika Nazyra hendak memapah Ganindra dan membawanya keluar, kaki Ganindra terpaku ke lantai dan dia berdiri kokoh seperti batu. Nazyra berusaha sekuat tenaga mencoba menarik tubuh Ganindra tapi semuanya sia-sia.


“Pak Ganindra?” Nazyra mengangkat kepalanya dengan bingung , mata Ganindra terlihat sedikit terbuka. Ganindra menatapnya dengan mata setengah tertutup. Matanya tampak gelap dan sepertinya tersulut amarah.


Nazyra buru-buru menjelaskan, "Pak Ganindra aku akan mengantarmu pulang, Ikutlah denganku."


Ganindra menatapnya lekat-lekat selama beberapa saat, dan akhirnya dia berkata dengan suara serak, "Pergilah, aku tidak ingin melihatmu."


Nazyra langsung tertegun . Begitu bangun Ganindra langsung mengusirnya. Mengapa dia harus diperlakukan seperti ini?


Nazyra menahan amarahnya dan berkata, "Pejamkan saja matamu dan ikuti aku."


Pernyataannya sepertinya semakin mengobarkan kemarahan Ganindra. Ganindra memelototi Nazyra seolah-olah dia adalah seorang penjahat yang telah melakukan kesalahan besar


“Wanita yang tidak berperasaan!."


Nazyra merasa sedih dimaki seperti itu. Dia sudah bersusah payah datang ke sini meski dini hari hanya untuk membantunya pulang tapi malah di maki seperti ini .Nazyra tak mengerti apa kesalahannya hingga membuat Ganindra marah padanya.


Tapi kemudian Nazyra memutuskan untuk mengabaikan kata-kata Ganindra, lagipula dia sedang mabuk. Jadi Nazyra kembali berkata" aku akan mengantarmu pulang. "


Nazyra kembali mengerahkan seluruh kekuatannya untuk mencoba memapah Ganindra meninggalkan ruangan itu, tapi Ganindra tiba-tiba menarik lengannya dari bahu Nazyra sambil merengut dengan nada kesal dan marah “tidak usah berpura-pura baik padaku.”


Ganindra mencoba berjalan sendiri sambil mendorong Nazyra menjauh dengan melontarkan kata-kata kejamnya. Namun Ganindra langsung kehilangan keseimbangan sehingga tubuhnya langsung terjatuh kembali ke atas sofa.


Setelah Ganindra terduduk lagi dia terus bersandar dengan nyaman di sofa dengan mata setengah tertutup tapi nampak penuh amarah .


Nazyra merasa jengkel melihat tingkah Ganindra. Mulutnya bergerak-gerak diliputi amarah yang terpendam karena sikap Ganindra yang buruk padanya.


Jika Nazyra tahu bahwa Ganindra akan bersikap dingin padanya dan memandangnya dengan jijik, dia tidak akan datang jauh-jauh dan repot-repot ke sini pada dini hari.


“Refal aku juga tidak bisa mengantarnya pulang, jadi pikirkan sendiri cara lain.” Nazyra berkata dengan terengah-engah, lalu dia dengan cepat membalikkan tubuhnya dan hendak pergi .


"Berhenti !" Ganindra mengerutkan kening dan membentak Nazyra dengan marah saat tahu Nazyra hendak pergi meninggalkannya. Siapa bilang dia bisa pergi begitu saja ?.

__ADS_1


Nazyra menoleh ke belakang dengan kesal, "ada apa lagi?"


Ganindra mengatupkan bibirnya dan tetap diam sambil hanya menatap langsung ke mata Nazyra. Meskipun wajahnya penuh amarah, Ganindra tidak segarang sebelum kedatangan Nazyra , bahkan seperti seorang yang sedang merajuk .Tingkah lakunya yang seperti sedang merajuk membuat seolah Nazyra adalah istri yang tidak tahu malu meninggalkan suaminya sendiri.


Nazyra merasa bingung hingga bisa merasakan kepalanya berdenyut kesakitan .


Bukankah Ganindra yang tadi memarahinya agar tidak berpura-pura berniat baik dan mengusirnya pergi?. Apa yang dia inginkan sekarang?


Setelah sempat menemui jalan buntu selama beberapa waktu, Ganindra masih tetap diam tak bergeming . Dia masih duduk dengan kaku dan sepertinya dia masih bisa bertahan cukup lama dengan postur tubuh seperti itu.


Nazyra tidak bisa menahan diri lagi dan tertawa tak berdaya. Tidak ada gunanya berbicara dan bertengkar dengan orang yang sedang mabuk.


Nazyra berjalan ke arah Ganindra lagi lalu mengulurkan tangannya sambil berkata,


" Ayo, aku akan mengantarmu pulang."


Tapi Ganindra tidak bergerak satu inci pun dan masih memelototinya.


Setelah tidak mendapat tanggapan apa pun dari Ganindra , Nazyra kembali berkata, “Jika kamu tetap diam , aku anggap kamu setuju."


Ganindea mengerutkan kening saat melihat tindakan Nazyra, ketika dia hendak menjauh dari Nazyra lagi, Nazyra segera menambahkan, “Jika kamu masih tidak mau aku membantumu, aku akan pergi sekarang juga.”


Ganindra tiba-tiba membeku dengan pandangan kosong dan bingung terlihat di matanya yang berkabut, tapi pada akhirnya dia bangkit dengan bantuan Nazyra meskipun sambil menggerutu agar Nazyra pergi dari hadapannya.


"...."


Refal tercengang ketika dia melihat adegan ini . Teman-temannya yang lain juga terdiam melihat tingkah Ganindra.


Pepatah yang mengatakan bahwa seorang pahlawan pun tidak akan bisa menahan diri dari wanita cantik memang benar, karena Ganindra juga tidak terkecuali.


Meskipun Ganindra telah berusaha sekuat tenaga berdiri sendiri , hampir separuh tubuhnya membebani Nazyra yang memapahnya sendirian , karena dia memang mabuk berat.


Karena merasa susah payah maka Nazyra langsung memanggil Refal "Refal , tolong bantu memapahnya denganku."


"Oh, baiklah."

__ADS_1


Refal buru-buru berjalan menuju ke arah Ganindra , tapi tepat ketika dia mengulurkan tangannya untuk membantu Ganindra berdiri, Ganindra mendorongnya menjauh . Seluruh tubuh Ganindra memancarkan rasa jijik dan penolakan yang sangat besar terhadap Refal. Ganindra berkata dengan nada suaranya yang dingin seperti biasa, "pergi dari hadapanku!!."


Refal tercekat oleh rasa jijik yang diperlihatkan Ganindra terang-terangan pada dirinya .Hatinya sangat sedih.


Nazyra menatap Ganindra dengan jengkel setelah Ganindra mendorong Refal pergi.


Mengapa pria ini begitu merepotkan?.


Jika dia tidak mau dibantu orang lain, Kenapa Ganindra tidak menolaknya juga?.Mengapa Ganindra malah ingin membiarkannya memapahnya sendirian ?. Apakah Ganindra sengaja ingin menyiksanya dan membuatnya lelah?


Meski hatinya penuh amarah pada Ganindra , Nazyra tidak punya nyali untuk benar-benar meninggalkan Ganindra. Nazyra hanya bisa pasrah berjalan dengan susah payah menuju pintu keluar ruangan dengan beban berat di tubuhnya.


Ketika akhirnya mereka berhasil sampai ke lift, Nazyra merasa sangat kelelahan.


Keringat bercucuran di seluruh wajahnya.


Tiba-tiba sebuah tangan yang panjang dan bersih menyeka keringat yang membasahi dahi Nazyra dengan pelan sementara sebuah suara terdengar di telinganya, "Apakah di sini panas?"


Nazyra merasa kesal dengan kata-kata Ganindra yang tiba-tiba , karena alasan dia berkeringat adalah karena kelelahan dan bukan karena pengap di dalam lift.


Nazyra ingin melampiaskan kekesalannya untuk melampiaskan amarahnya yang terpendam, tetapi kata-katanya tersangkut di tenggorokannya ketika dia menatap keringatnya di jari-jari putih Ganindra. Perasaan aneh mulai muncul di hatinya.


Ganindra mengabaikan dirinya sendiri yang sangat menyukai kebersihan dan tanpa ragu menyeka keringat Nazyra menggunakan tangannya sendiri bukan dengan tisu atau sapu tangan.


"Ding"


Lift telah sampai di tempat parkir basement, Nazyra segera mencoba membawa Ganindea keluar dari lift ketika pintu lift telah terbuka.


"Ayo pergi, kita harus keluar sekarang."


Secercah kesengsaraan melintas di mata Ganindra saat dia menatap pintu lift, tiba-tiba Ganindra menarik Nazyra kembali ke dalam pelukannya .


Ganindra bergumam dengan suara yang hampir tak terdengar, "Jangan pergi."


Ganindra tidak ingin membiarkan Nazyra menjauh darinya.

__ADS_1


__ADS_2