
Awal-awal pernikahan memang sangat manis. Semua di lakukan bersama-sama. Bangun pagi, menyiapkan sarapan lalu membersihkan rumah. Selalu bersikap romantis juga penuh perhatian. Hingga tahun kedua pun datang, sikapnya mulai berubah.
Selalu berkata dengan nada perintah. Apapun harus di lakukan sesuai dengan keinginannya. Tak ada bantahan ataupun penolakan jika dia menginginkan sesuatu.
Seiring berjalannya waktu, sikap yang dulu manis dan penuh kasih itu kini berubah menjadi pahit dan dingin. Entah apa yang menyebabkan itu semuanya. Yang jelas, tak ada lagi kata harmonis setiap berada di ruangan yang sama.
Cinta Almahira, wanita berusia 25 tahun. Wajahnya cantik dengan postur tubuh yang seksi. Tapi, itu semua tak menjamin rumah tangganya baik-baik saja. Tetap saja di mata sang suami, masih ada kekurangan.
"Mas Gion, sarapan lah dulu." Cinta meletakan dua porsi nasi goreng di atas meja makan.
Gion Mahesa, pria berusia 32 itu hanya bergumam tanpa mengalihkan pandangannya dari ponsel. Dengan cepat Cinta menyentuh lengannya membuat Gion langsung menatapnya dengan sinis.
"jangan ganggu, aku sedang berkirim pesan dengan sekertaris ku. ada pekerjaan yang harus di selesaikan pagi ini." Ujarnya dengan nada tinggi.
Cinta meletakan sendok yang di pegangnya. Bukan hal baru baginya di bentak seperti ini. Sudah sebulan ini Gion melakukan itu.
"kenapa akhir-akhir ini masa gampang sekali emosi?" Tanya Cinta.
Gion menghela nafas. Memasukan ponselnya kedalam saku lalu menatap Cinta dengan tatapan dingin.
"aku seperti ini pun karena ulah mu." Ujarnya. "sudahlah, aku tak nafsu makan. aku pergi."
Lagi-lagi pertengkaran yang terjadi. Setiap hari seperti ini membuat Cinta sangat sedih. Gion seperti orang asing baginya, tak ada lagi cinta di matanya. Hanya kebencian saja yang pria itu tunjukan. Cinta tak mengerti apa yang salah dengannya. Selama ini dia selalu berusaha menjadi istri yang baik.
"apa karena aku tak kunjung hamil juga?" Lirih Cinta sembari menyentuh perutnya.
Dua tahun menikah tapi Cinta belum hamil. Hatinya sedih dan tersayat saat ibu mertuanya mengatakan jika Cinta tak subur sehingga belum di karuniai anak sampai saat ini. Gion adalah pria yang lembut juga selalu memahami apa yang sedang dirasakan oleh Cinta.
Tapi, kenapa sekarang Gion tak seperti dulu. Pria itu sering marah bahkan selalu menyalahkan Cinta atas apa yang telah terjadi padanya.
Ting...
Sebuah pesan masuk. Cinta menghapus airmatanya lalu segera melihat siapa yang mengirimkan pesan pagi-pagi kepadanya.
[Malam ini buatlah makan malam, ibu mau membawa seseorang.]
__ADS_1
Helaan nafas panjang terdengar setelahnya. Ternyata mertuanya yang mengirimkan pesan. Cinta berpikir, siapa yang akan ibu mertuanya bawa sehingga dirinya harus menyambut orang itu. Apa dia orang penting?
Tak memikirkan siapa yang akan datang nanti, Cinta memilih untuk pergi belanja saja. Dia akan membeli beberapa sayuran untuk makan malam nanti.
...*************...
Gion menatap Amora dengan tajam. Wanita yang menjadi sekertaris nya itu nampak duduk manis di depannya. Memakai baju ketat dengan rok yang begitu pendek.
"Sudah aku katakan padamu, jangan memakai baju kurang bahan di kantor ku." Ujarnya tak suka.
Amora mencebikkan bibir. Dengan manja dia bangkit lalu merangkul pundak Gion. Tingkah sungguh di luar batas pekerjaannya. Tapi begitulah Amora. Sikapnya yang manja dan seenaknya terhadap Gion tak pernah di gubris pria itu.
"Kamu ini membosankan sekali." Amora mengelus wajah Gion lembut. "Bagaimana dengan istri mu? dia masih pura-pura polos?" Tanyanya.
Gion melepaskan tangan Amora yang menggantung di bahunya.
"aku ingin pria itu. bawa ke hadapanku." Titahnya pada Amora.
"tentu saja. Tante Nita pun tahu siapa pria itu. istrimu memang hebat ya, berselingkuh di belakangmu bertahun-tahun tapi kamu tak tahu itu." Amora mendengus, matanya melirik Gion ingin melihat seperti apa reaksi pria itu.
Amora tersenyum kecil melihat wajah marah Gion. Dia senang karena bisa memprovokasi pria itu. Sebagai seorang teman dari kecil tentu saja telah menumbuhkan rasa cinta dihatinya. Amora mencintai Gion. Dia menyesal karena memilih berkuliah di luar negeri dan begitu kembali rupanya Gion sudah menikahi seseorang.
Rasa marahnya tak bisa dia bendung. Dengan cara apapun akan dia buat Gion berpisah dengan istrinya. Hanya dirinya yang pantas untuk Gion bukan wanita itu ataupun wanita lainnya.
Beruntungnya ibu Gion pun kurang menyukai Cinta. Karena statusnya dari kalangan biasa. Di tambah lagi saat ini wanita itu belum hamil juga membuat Amora mudah untuk memprovokasi keduanya. Amora mencuci pikiran Gion dan Nita dengan sangat mudah.
"Sebentar lagi rapat di mulai. aku akan menyiapkan semua berkasnya. kamu rileks lah sebentar." Amora berjalan kemejanya lalu segera mempersiapkan semuanya.
Gion mengangguk. Merasa beruntung karena memiliki teman seperti Amora. Gadis itu selalu ada di setiap dirinya membutuhkan teman untuk berbagi keluh kesah. Dulu, Amora dan dirinya di besarkan bersama karena kakek mereka bersahabat. Setiap hari bersama membuat Gion sangat menyayangi Amora. Hanya sebagai seorang adik saja tak lebih.
...***************...
Cinta baru saja kembali dari pasar. Tersenyum tipis saat melihat seseorang berdiri di depan pintu. Dengan cepat Cinta menyalami tangan pria beruban itu.
"Abah sudah lama menunggu?" Tanyanya sambil membuka pintu. "masuklah!."
__ADS_1
Pria yang di panggil Abah oleh Cinta itu tak langsung masuk. Hanya diam sambil sesekali menghela nafas panjang.
"kenapa? apa Abah sakit?" Tanya Cinta cemas.
"tidak, Abah baik. hanya saja, Abah mau minta tolong sama kamu." Serunya dengan suara pelan.
Cinta langsung menarik tangannya dengan lembut. Meminta pria tua itu untuk duduk terlebih dahulu lalu mengambilkan air minum untuknya.
"Apa yang Abah butuhkan, Cinta pasti bantu."
"begini...Gion sepertinya sudah salah paham terhadap Ringgo."
"maksud Abah?" Kening Cinta berkerut.
Ringgo adalah temannya dan pria ini kakek Ringgo. Cinta sudah menganggapnya seperti kakeknya sendiri karena memang sejak kecil Abah Idan lah yang mengurusnya semenjak kedua orangtuanya meninggal. Ringgo pun sudah seperti kakak baginya, pria itu selalu membantunya dan melindunginya. Tapi sudah 9 tahun pria itu tak kembali dari perantauannya.
Hingga 3 bulan lalu, Ringgo pulang dengan membawa seorang bayi perempuan. Yang katanya adalah anaknya dengan kekasihnya yang telah meninggal.
Cinta belum sempat mengenalkan Gion dengan Ringgo. Karena suaminya itu begitu sibuk bekerja.
"Kemarin sore ada seorang wanita datang kerumah. dia marah-marah dan mengancam Ringgo untuk tidak mendekati mu lagi. Abah minta tolong padamu untuk mencari tahu siapa wanita itu. Abah takut dia suruhan suamimu atau mertuamu." Pernyataan Abah Idan membuat Cinta bungkam.
Dia tak pernah tahu ada hal seperti itu. Tapi apa mungkin suaminya atau mertuanya melakukan itu. Lagipula saat dia bertemu dengan Ringgo tak ada satu orangpun yang tahu.
"apa Abah ingat seperti apa wanita itu?" Tanya Cinta.
Abah Idan mengangguk bahkan pria tua itu mengeluarkan ponselnya dari saku. Cinta tersenyum saat ponsel itu berikan kepadanya. Abah Idan memang tak pernah bisa menggunakan benda pipih itu.
"Mas Ringgo memotret nya ya?" Tanya Cinta yang di jawab anggukan oleh Abah Idan.
"Ringgo sebenarnya ingin mengirimkan foto itu pada mu, tapi Abah melarangnya karena takut suamimu salah paham. Abah meminta Ringgo untuk tidak menemui mu ataupun mengirimkan pesan."
Cinta mengangguk mengerti. Dengan cepat Cinta membuka ponsel itu lalu menelusuri galerinya. Matanya melebar saat melihat foto seorang wanita. Cinta mengenalnya dan sangat tahu siapa wanita itu. Tapi, apa maksudnya mengancam Ringgo seperti itu. Apa benar Gion yang memintanya? Apa Gion melihatnya bertemu dengan Ringgo minggu itu? banyak sekali pertanyaan yang berputar di kepalanya. Cinta akan menyelidikinya lebih dulu sebelum menanyakan pada Gion nanti.
...****************...
__ADS_1