Cinta Yang Di Abaikan

Cinta Yang Di Abaikan
Bab 5


__ADS_3

Nita berdiri dengan cemas di samping tempat tidur Cinta. Menunggu dokter selesai memeriksa menantunya itu. Berharap jika Cinta baik-baik saja, dia tak mau di tuduh menjadi penyebab Cinta sakit seperti ini.


"Bagaimana Dok?" Tanya Nita setelah melihat dokter itu selesai memeriksa Cinta.


"Hanya demam biasa saja. Tapi ada yang aneh menurut saya, apa Bu Cinta sedang hamil?" Tanya dokter itu kepada Cinta.


Cinta yang sudah siuman sejak tadi pun langsung di buat shock. Dia tak mungkin hamil, jika itu terjadi Gion pasti akan semakin marah padanya.


Nita menatap dokter itu tak percaya atas apa yang di dengarnya lalu mendekati Cinta.


"Cinta, kamu benar sedang hamil?" Tanyanya penasaran.


Cinta menggelengkan kepalanya. Dia sendiri tak tahu karena belum memeriksanya. Tapi, memang sudah sebulan ini Cinta telat datang bulan. Wanita itu mengigit bibirnya cemas, bagaimana caranya menjelaskan ini semua kepada Gion.


"terimakasih dokter, aku sudah transfer pembayarannya." Nita mengantarkan dokter itu keluar.


Sementara itu Cinta merasa resah. Bagaimana jika dirinya benar-benar hamil. Apa yang harus di lakukannya nanti. Hubungannya dengan Gion sedang tak baik-baik saja, akankah kehamilannya ini semakin menambah runyam atau justru malah membuat Gion kembali seperti dulu. Entahlah, Cinta sungguh tak bisa berpikir dengan jernih saat ini.


Nita kembali dengan cepat. Dia mendekati Cinta kembali. Raut wajahnya yang selalu ketus itu kini tak nampak sama sekali.


"kita kerumah sakit sekarang juga. kita pastikan jika kamu memang benar-benar hamil atau tidak." Nita langsung mengajak Cinta.


"tapi Bu..."


"jangan menolak. Jika benar hamil, ibu akan senang. Akhirnya kamu berguna juga sebagai menantu. sudah lama ibu menginginkan cucu."


Cinta merasa senang melihat Nita yang begitu antusias menyambut kehamilannya. Wanita itu nampak bahagia sekali. Tapi, kembali terlintas di benak nya. Apa Gion akan bersikap sama dengan Nita atau justru sebaliknya.


Tangannya menyentuh perutnya yang datar. Cinta berharap jika memang benih cinta antara dirinya dan Gion telah tumbuh, maka dia berharap kebagian akan menyertai mereka. Gion mungkin akan berubah menjadi lembut kembali nanti.


"kita berangkat sekarang." Ajak Nita tak sabar.


Cinta pun segera mengikuti mertuanya. Sebelumnya tak pernah dia melihat Nita sebahagia ini. Bahkan menyentuh tangannya saja seolah tak mau, tapi hari ini wanita itu menggandengnya dan memperlakukannya dengan sangat baik. Cinta bahagia sekali, mungkin dengan hadirnya sang buah hati akan membuat hubungannya dengan Nita membaik.


Rumah sakit umum menjadi pilihan Nita. Wanita itu terus saja menggandeng tangan Cinta tanpa sadar saking bahagianya. Bahkan selama pemeriksaan pun Nita terus berada di samping Cinta.


"Sudahkan? Ayo kita lihat hasilnya." Nita mengambil kotak kecil yang berisikan urine Cinta tanpa rasa jijik sedikitpun.

__ADS_1


Lalu segera menyerahkannya pada dokter spesialis kandungan untuk mengeceknya. Cinta maupun Nita menunggu dengan harap-harap cemas. Memperhatikan sang dokter mengambil alat testpack lalu mencelupkannya. Tak butuh waktu lama, hasilnya pun terlihat.


Dua garis merah terlihat jelas di alat kecil itu. Nita sungguh bahagia, ia memeluk Cinta dengan senang.


"akhirnya...aku akan memiliki cucu." Girangnya.


Cinta hanya tersenyum tipis saja karena hatinya masih saja resah.


"baiklah sekarang kita USG ya, untuk melihat berapa usia kandungan ibu saat ini." Dokter itu meminta Cinta untuk berbaring.


Dengan ragu Cinta melakukan apa yang di minta dokter. Matanya melihat layar kecil di sampingnya dengan jantung berdebar hebat.


...****************...


"Gion, apa kamu yakin tak ingin menceraikan Cinta?" Amora mencoba bertanya dengan tenang padahal hatinya panas.


Dia kesal karena Gion berkata akan mempertahankan hubungannya dengan wanita itu. Gion justru tak akan membiarkan Cinta dan Ringgo bersatu, dia hanya ingin melihat keduanya berjauhan. Karena jauh di dasar hatinya dia masih sangat lah mencintai Cinta.


"aku bisa memberikan kesempatan padanya. Jika Cinta setuju untuk tidak menemui pria itu lagi."


Amora menahan emosinya. Kenapa bisa seperti ini, padahal dia sangat ingin Gion segera bercerai.


Gion menghela nafas panjang.


"Aku hanya belum cukup bukti saja, apa benar mereka berhubungan."


"tentu saja, aku akan membantumu mendapatkan bukti itu." Ujar Amora dengan cepat.


Gion menatap Amora yang nampak lebih bersemangat di banding dirinya.


"kenapa kamu terlihat lebih bersemangat dari ku?" Tanya Gion membuat Amora langsung diam.


Wanita itu lupa jika dirinya tak boleh bersikap berlebihan di depan Gion atau rencananya akan gagal.


"bukan begitu. aku peduli padamu. Kamu adalah teman baikku bahkan aku menyayangimu sebagai saudara ku. tak mungkin aku tega melihat mu di sakiti." Ucapnya mencoba menunjukkan kalau dirinya hanyalah merasa cemas sebagai seorang teman.


Gion tersenyum lalu mengangguk.

__ADS_1


"terimakasih Amora. Tapi, tolong tinggalkan aku sendiri sekarang." Perintah Gion.


"baiklah, kamu tenangkan pikiran dulu ya." Amora keluar dengan enggan. Ia masih ingin bersama Gion.


Gion memejamkan matanya. Apa keputusannya untuk tetap mempertahankan Cinta adalah benar. Jika Cinta terus berkhianat nanti apa yang harus dia lakukan.


Tring...


Sebuah pesan masuk. Gion langsung membukanya dan membaca isinya. Darahnya langsung bergejolak begitu selesai membaca pesan yang baru di terimanya.


"****, wanita itu benar-benar." Geramnya.


Dengan cepat Gion pun meninggalkan kantor meski jam pulang masih 2 jam lagi. Amora yang sedang berada di luar pun segera mengejarnya begitu melihat Gion pergi dengan tergesa-gesa.


"Gion ada apa? kamu mau pergi kemana?"


Gion menghentikan langkahnya.


"Ibu baru mengirimkan pesan, dia meminta ku segera pulang."


"aku ikut."


Gion mengangguk lalu mengajak Amora bersamanya.


...**************...


Nita menyelimuti tubuh Cinta lalu memintanya untuk tetap berada di atas kasur. Perlakuannya yang begitu perhatian dan lembut itu sungguh membuat Cinta terbuai. Rasanya hati dan perasaannya begitu hangat.


"Ibu, terimakasih."


"ibu melakukan ini karena bayi dalam kandungan mu. Jangan salah paham, ibu masih belum bisa menerima mu." Nita membuang pandangannya, sebenarnya dia hanya terkejut saja mendengar kata terima kasih itu.


Cinta tersenyum kecil. Meski ucapannya pedas tapi Cinta merasakan ada kepedulian di sana.


"istirahatlah." Nita keluar dari kamar Cinta. Dia tak sabar ingin segera memberikan kabar gembira ini kepada Gion.


Mengirimkan pesan singkat padanya dengan mengatakan jika Cinta sakit karena seharian tak makan. Nita tahu Gion pasti akan langsung pulang mendapatkan kabar itu.

__ADS_1


...***************...


__ADS_2