
Kehamilan Cinta membuat Gion kembali bersikap manis dan memperlakukannya seperti dulu lagi. Keharmonisan keduanya membuat Amora meradang. Apalagi Gion selalu saja mengatakan jika Cinta telah memberikan kebahagiaan yang lebih besar lagi dalam hidupnya dengan hadirnya sang buah hati.
"Kamu mau apa? aku akan membelinya sepulang dari kantor nanti?" Tanya Gion.
Cinta menggelengkan kepalanya. Dia tak pernah menginginkan apapun, baginya dengan sikap Gion yang penuh perhatian saja sudah lebih dari cukup.
"Baiklah, aku berangkat ya." Gion mencium keningnya lalu pria itu bergegas masuk kedalam mobil.
Cinta melambaikan tangannya mengantarkan kepergian Gion. Wanita itu mengelus perutnya yang masih rata. Satu minggu ini Gion terus memperhatikannya. Rasa bahagia tak bisa dia sembunyikan, bibirnya terus tersenyum.
Hanya saja Cinta merasa sedikit aneh dengan Nita. Awalnya wanita itu antusias dan nampak bahagia mendengar kabar dirinya hamil. Tapi, entah kenapa sekarang sikapnya biasa saja. Bahkan Nita tak jarang mengatakan kata-kata menohok yang kadang membuat Cinta merasa sakit hati.
Mengingat itu hanya membuatnya sedih saja. Padahal Cinta sudah senang dan berharap mertuanya akan menerima dirinya begitu hamil. Tapi, sepertinya itu semua hanya angan-angan saja baginya.
"Apa yang akan aku lakukan sekarang, rasanya bosan sekali." Keluh Cinta.
Semenjak hamil Gion memang tak mengizinkan dirinya untuk memegang pekerjaan rumah. Gion sengaja mempekerjakan seorang pembantu untuk itu.
"Bi, apa bajunya sudah di jemur?" Cinta menghampiri wanita paruh baya yang tengah mengepel lantai dapur.
"Belum Bu, tadi minyaknya tumpah jadi Bibi mengepel dulu."
Cinta melihat botol minyak sayur yang tergeletak di lantai. Dia mengangguk mengerti lalu segera berjalan menuju tempat pencucian baju.
"biar aku saja ya Bi." Ujarnya sambil mengangkat ember yang tak terlalu besar itu keluar.
Bi Minah langsung meletakkan pel nya dan mengejar Cinta.
"jangan Bu, biar Bibi saja." Cegahnya merasa tak enak.
"tak apa, lagian cuma menjemur saja kok."
Bi Minah hendak mengambil kembali ember yang di pegang Cinta. Ia merasa tak enak jika membiarkan majikannya itu melakukan pekerjaan yang seharusnya dia kerjakan.
"Hanya menjemur tak akan membuatnya keguguran."
Cinta dan Bi Minah langsung berbalik kearah pintu begitu mendengar suara Nita. Rupanya wanita itu sudah masuk kedalam tanpa permisi terlebih dahulu.
"Ibu, kenapa tak bilang mau datang. aku..."
"kenapa? kamu tak suka aku kemari? ini rumah anakku." Ketus Nita. "bebas aku mau kemari kapan pun."
Cinta langsung tersenyum kecut. Dia tak bermaksud begitu, hanya saja jika tahu mertuanya akan datang sepagi ini mungkin Cinta akan menyiapkan sarapan lebih banyak tadi.
__ADS_1
"Bukan begitu Bu." Seru Cinta, menyerahkan ember nya kepada Bi Minah. "Bi, ini. aku akan temani ibu mengobrol dulu."
"Iya Bu." Bi Minah pun segera pergi membawa ember berisi baju itu kebelakang untuk menjemurnya.
Nita duduk di kursi dengan kaki di silangkan. Matanya menelisik penampilan Cinta yang masih mengenakan pakaian tidur. Mencebikkan bibirnya saat tahu kalau menantunya itu belum mandi di jam segini.
"Jorok sekali, wanita hamil itu seharusnya mandi pagi-pagi bukan seperti mu ini. Jam 8 masih bau seperti itu." Dengusnya.
Cinta menggigit bibirnya, ingin sekali membalas ucapan mertuanya tapi dia tahu itu hanya akan membuatnya semakin marah saja.
"Mandi sana, ibu mau bicara sesuatu denganmu." Titahnya.
"iya Bu. kalau begitu ibu tunggu sebentar." Cinta pun begitu pergi kekamar.
Nita berdecak. Setiap hari mendengar perkataan Amora yang terus menjelekkan Cinta membuatnya jadi memandang sebelah mata menantunya itu. Merasa jika apa yang di katakan Amora itu benar. Hasutan wanita itu ternyata begitu berpengaruh besar terhadapnya. Tidak tahu saja jika saat ini Amora tengah membuat jalan kepedihan baginya yang akan berujung penyesalan nanti.
...*****************...
Ringgo menggendong Susan dengan sangat hati-hati. Bayi mungil berpipi tembam itu semalaman terus saja menangis karena tubuhnya yang panas efek dari tumbuhnya gigi. Sebagai seorang pria tentu saja Ringgo tak mengerti tentang itu. Dia hanya bisa memenangkannya saja sebisanya.
"Bah, apa harus di bawa ke bidan ya? aku tak tahu harus beli obat apa di apotik." Seru Ringgo sembari menimang Susan yang mulai terlelap.
Abah Idan meletakkan cangkir kopinya lalu melihat wajah Susan yang begitu menggemaskan. Hatinya berdesir melihat wajah polos itu, sekecil itu dunia sudah kejam terhadapnya. Dia hidup tanpa seorang ibu.
Ringgo menganggukkan kepalanya. Sebenarnya dia tak ingin merepotkan ayahnya tapi mau bagaimana lagi, uangnya sudah habis di belikan susu dan popok. Pekerjaannya yang serabutan membuat Ringgo kewalahan untuk memenuhi kebutuhan putri kecilnya. Apalagi harga susu dan popok itu begitu mahal saat ini.
"Sepertinya malam ini aku tak bisa menepati janjiku." Seru Ringgo saat teringat akan janjinya dengan Cinta.
Mereka akan bertemu malam nanti. Cinta memintanya untuk bertemu dengan Gion dan menceritakan semuanya. Awalnya Ringgo menolak merasa jika itu tak ada gunanya, karena menurutnya Gion itu terlalu keras kepala mana mungkin akan percaya begitu saja. Tapi, setelah mendengar penjelasan Cinta akhirnya Ringgo pun setuju.
"Ringgo mengambil uang setengahnya Bah." Ujarnya lalu pergi membawa Susan untuk berobat.
Abah Idan menghela nafas panjang. Dia berpikir jika seandainya Cinta belum menikah dengan Gion, ia pastikan wanita itu akan dia nikahkan dengan Ringgo. Mereka sudah dekat sedari kecil, sepertinya tak akan sulit bagi mereka berdua untuk menjalin hubungan. Tapi semua hanya angan saja, karena Cinta sudah menjadi istri orang lain.
Ingat sekali saat Cinta berusia 8 tahun, ia menangis keras di depan makan kedua orangtuanya. Begitu menyedihkan, usianya masih muda tapi sudah tak memiliki siapa pun. Sanak keluarganya tak ada satupun yang mau mengurusnya. Dia di tinggalkan begitu saja seorang diri di tempat pemakaman.
Ringgo meminta Abah Idan untuk mengajak Cinta pulang bersama waktu itu. Mulai hidup bersama layaknya keluarga. Cinta anak yang rajin, pintar juga menurut. Abah Idan tak begitu kesulitan mengurusnya. Bahkan ketika usianya menginjak belasan tahun, ia sudah bisa mengerjakan semua pekerjaan rumah dengan benar. Sehingga Abah Idan dan Ringgo pun merasakan betapa pentingnya kehadiran Cinta didalam kehidupan mereka.
Cinta layaknya seorang ibu yang mengurus kedua anaknya. Memarahi Abah Idan yang tak bisa berhenti merokok dan menasehati Ringgo yang hobinya nongkrong tengah malam.
Apalagi setelah Ringgo memutuskan untuk bekerja keluar kota. Hanya Cinta lah yang menemaninya setiap hari. Mengurus segalanya dengan begitu telaten.
Tapi, sekarang semua berubah. Cinta sudah menikah dan semua perhatian itu tak dapat ia rasakan lagi.
__ADS_1
...*****************...
Di kantor, Gion baru saja selesai meeting. Pria itu tersenyum kepada Amora yang begitu banyak membantunya menyelesaikan semua pekerjaannya.
"kerja bagus Mora. Malam ini aku akan mentraktir mu makan malam." Seru Gion sambil merangkul pundaknya.
Kebiasaan itu terulang kembali. Gion memperlakukan Amora layaknya seorang adik. Tentu saja hal itu membuat Amora senang, setelah sekian lama berpisah membuatnya sedikit canggung dengan Gion begitu bertemu tapi sekarang perlahan mulai membaik dan kembali seperti semula.
"ya tentu saja, kamu harus mentraktirku makan enak."
Kedekatan itu tak luput dari perhatian para karyawan. Mereka kasak kusuk di belakang. Ada yang iri dan juga merasa jika keduanya nampak serasi. Pro dan kontra tentu saja selalu ada.
"bukannya Bos itu sudah menikah ya? tapi kok main rangkul wanita lain."
"benar ya. kalau aku jadi istrinya sudah aku jambak tuh rambut sekertaris nya."
"hei, jangan ikut campur urusan bos deh. kita fokus kerja saja."
Begitulah bisik-bisik para karyawan yang tak di ketahui oleh Gion. Mereka tahu jika Gion sudah memiliki istri dan merasa jika kedekatannya dengan Amora adalah yang tak pantas. Mereka terlalu banyak bersentuhan tak pantas bagi seorang pria yang sudah menikah.
"Aku dengar dari Tante, hubungan mu dengan Cinta membaik ya?" Pancing Amora yang ingin tahu seperti apa pendapat Gion.
Gion terkekeh lalu menutup pintu ruangannya. Dia tak ingin karyawan menguping pembicaraan mereka.
"Iya, aku merasa Cinta tak mungkin mengkhianati ku. dulu saja banyak pria yang mendekatinya tapi hanya aku yang dia pilih." Gion teringat saat masa-masa dimana dirinya mengejar Cinta waktu itu.
Cinta seorang siswa beasiswa yang begitu pintar sehingga banyak di incar para siswa pria waktu itu. Tak hanya pintar tapi juga cantik dan ramah. Tentu saja hal itu membuatnya jadi lebih di sukai orang-orang.
Dari sekian banyaknya pria hanya Gion yang mendapatkan kesempatan itu. Cinta menerima cintanya dan sampai saat ini Cinta masih bersamanya.
Amora mengepalkan tangannya. Dia tak bisa mendengar itu semua.
"Tapi, Tante bilang padaku...jika..."
"jika apa?" Tanya Gion penasaran.
"begini...eeumm...kamu jangan marah ya. aku hanya menyampaikan apa kata Tante saja." Ujar Amora. "Tante ragu kalau bayi itu adalah cucu nya." Lanjut Amora dengan nada suara yang nyaris tak terdengar.
"bagaimana bisa ibu berpikir begitu.. jelas-jelas..."
"Tante merasa aneh saja. Kamu dan Cinta menikah sudah begitu lama tapi tak kunjung hamil. Tapi begitu hubungan kalian merenggang wanita itu tiba-tiba saja hamil. Apa jangan-jangan...aaah...sudahlah. itu kan hanya asumsi Tante saja."
Gion terdiam mendengar apa yang di katakan Amora. Entah apa yang ada di pikirannya saat ini. Yang jelas Amora senang melihat raut wajah Gion yang membeku seperti itu. Dia harap Gion kembali meragukan Cinta dan mereka secepatnya berpisah.
__ADS_1
...********************...