Cinta Yang Di Abaikan

Cinta Yang Di Abaikan
Bab 8


__ADS_3

Cinta masih duduk mendengarkan ocehan Nita yang begitu panjang kali lebar. Wanita paruh baya yang masih terlihat cantik itu tak hentinya mengomeli Cinta.


Bahkan setiap kalimat yang di lontarkan nya begitu menyakitkan hati Cinta. Dengan sabar Cinta tetap diam, berusaha untuk tidak membantah ataupun mengatakan apapun pada Nita karena hanya akan percuma saja.


Bi Minah pun merasa kasihan melihatnya. Tapi dia tak bisa berbuat banyak, di sini posisinya hanya seorang pembantu saja. Tak pantas baginya ikut mengobrol atau sekedar duduk dengan mereka dalam satu kursi yang sama.


"Jujur saja, kamu itu benar-benar hamil anak Gion kan?" Pertanyaan Nita kali ini membuat Cinta tak bisa lagi diam.


"Tentu saja Bu. Mas Gion adalah ayah dari bayi yang aku kandung. kenapa ibu bertanya seperti itu, seolah..."


"Ibu tetap akan memintamu untuk melakukan tes DNA saat bayi itu lahir nanti." Sela Nita cepat.


Cinta begitu sakit mendengarnya. Kenapa Nita bisa meragukan kehamilannya. Tega sekali wanita berusia 53 tahun itu mengatakan hal yang begitu menyakitkan.


"Bu, bayi ini cucu ibu. anak mas Gion. kenapa ibu meragukannya?" Mata Cinta berkaca-kaca suaranya pun bergetar menahan kesal.


Bi Minah yang sedang menyapu ruang tamu pun sampai melihat kearah mereka. Menatap Cinta dengan iba. Merasa kasihan terhadap majikannya itu. Pertama dia masuk kerumah ini, Cinta begitu baik. Menyambutnya dengan ramah bahkan sampai saat ini Cinta selalu memperlakukan nya dengan baik. Melihatnya di hina seperti itu membuat Bi Minah tak tega.


"ibu tak akan percaya sebelum benar-benar ada hasilnya nanti." Nita bersikukuh dengan pendapatnya.


"terserah ibu saja. aku tak akan mengatakan apapun lagi." Cinta beranjak dari duduknya lalu masuk ke dalam kamar.


Kepalanya pusing dan perutnya menjadi tak nyaman karena menahan emosi. Setiap berbicara dengan Nita pasti seperti ini. Cinta harus menahan kesal dan tetap sabar meski hatinya terluka.


Nita berdecih begitu melihat Cinta sudah masuk kedalam rumahnya.


"Bi, buatkan teh es ya?" Ujarnya begitu melihat Bi Minah.


"i...iya Bu." Bi Minah bergegas kedapur.


Cinta menghela nafas panjang. Merebahkan tubuhnya di atas kasur dengan perasaan tak menentu. Berdebat dengan mertuanya membuat suasana hatinya menjadi tak baik.


Tring...


Pesan masuk dari Ringgo. Cinta buru-buru membukanya. Keningnya mengerut melihat foto Susan yang tengah berbaring di ranjang pesakitan. Tangannya tengah di pasang selang infus.


Dengan cepat Cinta bangun lalu menekan gambar telpon di atas kanan bagian ponselnya.


Tut...Tut....


Panggilan nya terhubung dan tak lama Ringgo mengangkatnya.


"Mas, apa Susan sakit?" Tanya Cinta cemas.


"iya Cin. Susan demam, ku pikir demam biasa tapi rupanya bukan. Tadi bidan meminta mas membawanya ke rumah sakit."


"ya Tuhan. Tunggu ya Mas, aku akan kesana. share lokasi nya ya."


Panggilan pun terputus. Cinta buru-buru berganti pakaian. Dia cemas terhadap Susan. Awalnya Cinta ingin mengadopsi Susan sebagai putri nya tapi Ringgo tak mengizinkan. Dia tak ingin merepotkan Cinta terlebih lagi suaminya. Ringgo hanya takut jika suami Cinta tak akan menyukai Susan.


Setelah mendapatkan alamatnya Cinta bergegas pergi. Nita tak bertanya Cinta akan pergi kemana, tapi wanita itu mengirimkan pesan pada Gion. Mengatakan jika Cinta pergi dari rumah tanpa pamit padanya padahal Nita tengah berkunjung.


Saking paniknya Cinta lupa akan mertuanya, makanya dia pergi begitu saja tanpa memberi tahu Nita. Tapi, rupanya Nita mengasumsikan hal itu dengan pikirannya yang negatif. Jika Cinta sengaja pergi demi menghindarinya dan mungkin saja akan bertemu dengan selingkuhannya.


...******************...

__ADS_1


Gion membaca isi pesan dari Nita. Dadanya bergemuruh, awalnya sempat berbunga-bunga karena memikirkan Cinta yang tengah menunggunya di rumah. Ponselnya ia lempar begitu saja ke atas meja membuat Amora yang sedang duduk di kursi nya terkejut.


"ada apa, Gi?" Tanyanya, mematikan komputernya lalu berjalan ke meja Gion.


Mereka memang bekerja didalam satu ruangan yang sama.


"Tidak. lanjutkan saja pekerjaan mu. aku ada urusan sebentar." Gion merapikan bajunya lalu pergi.


Amora hanya memandang nya dengan pemasaran. Gion nampak marah dan kesal. Matanya melirik ponsel Gion yang masih tergeletak di atas meja, rupanya dia lupa membawanya.


"ponselnya!" Seru Amora. Rasa penasarannya timbul begitu saja, tanpa pikir panjang Amora langsung melihat kontak pesannya.


Bibirnya tersenyum lebar melihat isi pesan yang di kirim Nita. Rupanya tanpa harus bersusah payah menghasut Gion, Cinta sudah melakukannya sendiri. Sekarang Amora berencana untuk membuat Gion kembali menaruh curiga terhadap wanita itu.


"aku harus cari tahu dimana wanita itu." Serunya.


Jemari nya dengan lincah mengetik pesan lalu mengirimkannya pada Cinta, seolah Gion lah yang melakukan itu. Bibirnya semakin tersungging saat Cinta membalas pesan itu. Dengan cepat Amora menghapusnya agar Gion tak melihatnya. Lalu dia pun menelpon seseorang yang kebetulan bekerja di sebuah rumah sakit, dimana saat ini Cinta tengah berada.


"lihat saja, kali ini Gion akan langsung menceraikan mu."


...**************...


Cinta menggendong Susan yang terus merengek sedari tadi. Dokter menyarankan agar Susan di rawat inap karena demamnya yang terlalu tinggi. Ringgo tengah keluar untuk membeli popok dan susu.


"Permisi, dengan Bu Cinta?" Seorang perawat menghampiri Cinta.


"iya. ada apa ya?"


"Kami akan membantu anda mengganti baju pasien. Apa ada baju ganti nya?"


"gimana Bu?"


"baju gantinya tidak ada. nanti aku akan meminta ayahnya untuk membawa."


"baiklah, kalau begitu saya permisi." Perawat itu keluar dari ruangan dimana Susan di rawat.


Cinta melihat Susan yang mulai tenang di dalam gendongannya. Perlahan matanya tertutup, mungkin karena kelelahan menangis bayi mungil itu kini tertidur. Dengan hati-hati Cinta meletakkannya di atas ranjang lalu menyelimuti tubuhnya yang mungil.


"Kasihan sekali, anak sekecil mu sudah tak memiliki ibu. aku janji akan menyayangi mu seperti anakku sendiri." Gumam Cinta, mengucap kening Susan.


Ceklek...


Ringgo sudah kembali. Pria itu tersenyum kearah Cinta, memberikan sebotol minuman pada wanita itu.


"aku tak bisa meminumnya kali ini." Seru Cinta menolak saat tahu jika minuman itu mengandung soda.


"loh, kenapa? bukannya kamu sangat suka minuman bersoda?" Tanya Ringgo bingung.


Cinta menyentuh perutnya.


"mas tahu, di sini ada malaikat kecil ku dengan mas Gion."


Mata Ringgo melebar sempurna. Pria itu ikut senang mendengarnya.


"Waah...selamat Cinta."

__ADS_1


"iya mas."


"kalau begitu, kamu tak boleh berlama-lama di sini. tak baik bagi orang hamil kelelahan. mas akan antar kamu keluar. ayo... pulanglah." Seru Ringgo.


Cinta mengangguk. Keduanya keluar dari ruangan. Susan sudah terlelap jadi mereka tak khawatir meninggalkannya.


Perawat yang tadi menemui Cinta tersenyum miring melihat Cinta dan Ringgo keluar bersamaan. Dengan cepat dia berjalan kearah lobi melewati keduanya lalu segera menghampiri Gion yang memang sudah tiba di sana. Pria itu baru tiba karena baru tahu kalau Cinta berada di rumah sakit ini. Tentu saja Amora yang memberitahunya. Wanita itu menyusul Gion dengan dalih mengantarkan ponselnya yang tertinggal di kantor.


"tadi ada seseorang menelpon katanya Cinta berada di rumah sakit Bangsa." Begitulah katanya dan Gion langsung pergi tanpa bertanya siapa seseorang itu.


Pria itu terlalu cemas dan takut kenapa Cinta berada di rumah sakit. Lalu kenapa Cinta tak memberitahu Nita akan pergi kemana padahal jelas-jelas ibunya itu ada di rumah tengah berkunjung.


"permisi pak, ada yang bisa saya bantu?" Tanya perawat itu pada Gion.


Gion tengah celingukan ke seluruh area rumah sakit. Berpikir siapa tahu bisa melihat keberadaan Cinta.


"ah...aku sedang mencari istriku." Jawab Gion.


"istri bapak? apa dia di rawat disini?" Tanyanya basa-basi.


Gion menggelengkan kepalanya. Mendadak merasa menjadi pria bodoh, kenapa dia lupa dengan ponselnya. Seharusnya dia telpon saja Cinta untuk menanyakan keberadaannya. Saat hendak merogoh sakunya untuk mengambil ponsel tiba-tiba perawat itu memanggil nama seseorang, membuat Gion pun langsung melihat kearah si perawat berjalan.


"Bu Cinta. bagaimana? sudah ada baju gantinya?"


Cinta dan Ringgo menghentikan langkahnya. Keduanya langsung terkejut melihat keberadaan Gion yang berdiri di belakang perawat itu.


"mas Gion?" Cinta berjalan kearahnya.


Gion terdiam. Matanya menatap Ringgo dengan tajam.


"Sedang apa pria ini di sini?" Desis Gion.


"oh...mas Ringgo, tadi..."


"Bu Cinta. sebaiknya segera ganti ya bajunya, agar setelah itu kita periksa apa kondisinya baik-baik saja." Perawat itu menyela pembicaraan Cinta dan Gion.


Kening Gion mengerut mendengar ucapan sang perawat.


"kondisi? siapa?" Tanya Gion.


"bayinya tentu saja." Jawaban perawat itu membuat Gion berpikir lain. Pria itu langsung mengepalkan tangannya.


"Akhirnya kita bertemu. aku..."


Bugh...


Gion langsung memukul Ringgo dengan keras begitu pria itu mendekat. Cinta menjerit melihatnya. Ringgo menatap Gion tak mengerti, kenapa dia memukulnya tanpa sebab.


"b*jingan. aku akan menceraikan mu Cinta." Geram Gion lalu pergi.


"apa? mas, apa yang kamu katakan. Mas Gion..." Cinta berlari mengejar tapi perutnya mendadak sakit. Ia menghentikan langkahnya lalu terduduk di lantai sambil memegangi perutnya yang terasa begitu sakit.


"Cinta, kamu kenapa?" Ringgo begitu khawatir. "suster tolong..."


"iya, ayo bawa kesana. aku akan memanggil dokter." Perawat itu pura-pura ikut panik padahal dia bersorak karena rencanannya berhasil. Dia tak sabar mendapatkan hadiah besar dari Amora karena sudah berhasil menjalankan tugasnya.

__ADS_1


...*****************...


__ADS_2