Cinta Yang Di Abaikan

Cinta Yang Di Abaikan
Bab 4


__ADS_3

Cinta masih bergelung dengan selimutnya. Dia menangis seharian hingga tertidur. Begitu bangun kepalanya terasa semakin sakit. Dengan susah payah dia bangkit dari tempat tidur lalu berjalan menuju kamar mandi. Dia harus segera kerumah sakit untuk memeriksa kesehatannya. Sudah seminggu ini perutnya terasa tak nyaman dan kepalanya sering pusing.


"kenapa mas Gion begitu tega." Lirihnya. Matanya berkaca-kaca saat melihat pantulan wajahnya di cermin.


Pipinya merah dengan bekas jari yang masih kentara. Airmatanya semakin mengalir saat mengingat malam-malam bersama sang suami. Gion masih menyentuhnya meski tidak secara lembut seperti dulu. Lebih pada pemaksaan dan hanya menyalurkan hasrat saja. Tak ada cinta di hati dan matanya. Gion menggaulinya dengan nafsu bukan perasaan. Mengingat itu membuat Cinta semakin sakit rasanya.


"sebenarnya apa yang membuatmu berubah mas." Cinta kembali menangis mengingat betapa kejamnya Gion akhir-akhir ini.


Setelah puas menangis di dalam kamar mandi, Cinta pun keluar. Langsung merias wajahnya dengan make up yang agak tebal untuk menutupi warna merah di pipinya. Dia tak ingin orang-orang melihat luka itu. Ia pun mengenakan dress yang sederhana. Penampilan yang cantik tak pernah berubah dari dulu. Bentuk tubuh dan wajahnya masih saja sama, cantik dan terlihat segar.


Dengan perasaan tak menentu Cinta keluar dari kamarnya. Sebenarnya dia ragu dan ada perasaan cemas untuk memeriksakan dirinya saat ini. Dia takut jika apa yang dia pikirkan benar-benar terjadi, merasakan gejalanya yang hampir setiap pagi ini tentu saja Cinta cemas. Seharusnya jika memang gejala mual dan pusing itu adalah hadirnya buah cinta mereka maka Cinta harus bahagia karena penantiannya terjawab sudah. Tapi dalam kondisinya saat ini, Cinta tak mengharapkannya.


Dia tak ingin hadirnya sang buah hati dalam keadaan tak baik seperti ini. Takut jika Gion tak menerimanya karena malam itu Gion mengatakan jika Cinta harus meminum pil KB agar tak kebobolan. Gion belum siap untuk menjadi seorang ayah dalam situasi rumit ini.


"kuharap dugaan ku salah." Cinta mengelus perut ratanya. Sebenarnya sudah sebulan Cinta tak meminum obat itu karena selalu lupa.


Akibat masalahnya dengan Gion membuat Cinta lupa untuk mengonsumsi pil KB akhir-akhir ini.


Nita keluar dari mobil, wanita tua itu memperhatikan sekitar rumah Gion yang nampak sepi. Lampu luar masih menyala bahkan halamannya saja masih berserakan dedaunan kering. Cinta dan Gion memang tak memperkerjakan pembantu selama ini karena Gita rasa di sendiri pun mampu mengurus segalanya tanpa bantuan orang lain.


"jorok sekali. sudah siang begini masih berantakan dan apa ini..." Nita mendengus. "lampu menyala di siang hari. boros sekali wanita itu."


"Cinta..." Teriaknya dengan keras sembari masuk kedalam. Pintu tak di kunci jadi memudahkan Nita untuk masuk tanpa harus menekan bel terlebih dahulu.


Cinta yang sedang menyisir rambutnya langsung bergegas keluar begitu mendengar suara mertuanya.


"iya Bu?"


"kamu ini ngapain saja sih. lampu masih menyala bahkan lihat semua ini, berantakan sekali." Gerutu Nita.


Cinta memang belum sempat merapikan semuanya.


"maaf Bu, aku kurang enak badan. Sekarang aku mau pergi berobat." Jawab Cinta.


Nita melipat tangannya, matanya menelisik penampilan Cinta yang sudah rapi.


"Sakit?" Alisnya terangkat tak percaya. "atau mau pergi berkencan?" Tudingnya.

__ADS_1


"ibu kenapa bicara begitu. aku memang..." Cinta menghentikan kalimatnya. Dia merasa aneh, kenapa tak hanya Gion yang berpikiran seperti itu. Bahkan mertuanya saja menuduhnya tak baik.


"apa? kamu mau bertemu pria selingkuhanmu kan?" Tuding Nita lagi.


"ibu kenapa bisa berpikir begitu. Mas Gion bahkan ibu menuduhku berselingkuh? sebenarnya apa yang telah terjadi. Aku tak pernah melakukan itu, aku selalu mencintai mas Gion." Bela Cinta.


"Jangan munafik kamu. Ibu dan Gion sudah tahu semuanya. Kamu itu wanita tak baik dan seharusnya kamu sadar diri. Gion begitu mencintaimu tapi kamu malah mengkhianatinya."


Cinta menatap Nita tajam. Dia tak terima dengan apa yang di katakan Nita. Selama ini dirinya tak pernah dekat dengan pria manapun bahkan dari dulu hanya Gion lah pria yang ada di hatinya. Gion cinta pertamanya, pacar pertama juga suaminya saat ini. Kenapa Nita bisa berpikir seperti itu.


"Aku tak berselingkuh Bu. Apa ibu pernah melihatku dengan pria lain?"


"ibu memang tak melihatnya tapi buktinya sudah ada. kamu tunggulah waktu di mana Gion akan menceraikan mu."


"ibu...aku..." Cinta memejamkan matanya saat rasa pusing itu kembali di rasakannya. Tubuhnya terhuyung dan ambruk begitu saja di depan Nita.


"Cinta!" Pekik Nita terkejut. Wanita tua itu langsung melihat keadaan Cinta.


Tangannya menyentuh kening Cinta untuk merasakan suhu tubuhnya.


"ya...tuhan panas sekali." Nita terkejut. "bagaimana ini...aku harus menelpon dokter."


...******************...


Ringgo mengerjakan matanya berulang kali saat Gion terus saja memaksanya untuk mengaku hal yang tak pernah dia lakukan sama sekali. Dia rasa atasannya ini sedikit aneh.


"aku dan Cinta memang dekat. Tapi hanya sekedar teman saja. Aku menyayanginya karena dia sudah seperti adikku." Entah untuk ke berapa kalinya Ringgo mengatakan hal itu.


Tetap saja Gion merasa tidak puas dan mendesak Ringgo.


Amora menguping di balik pintu sedari tadi pun menjadi cemas. Dia takut Gion percaya dengan apa yang di katakan Ringgo. Maka dengan cepat dia masuk.


"Gion, tenanglah. biar aku yang bertanya padanya." Amora mengelus lengan Gion, menuntun pria itu untuk duduk.


Ringgo menatap Amora meminta penjelasan.


"sebenarnya kamu mengajakku kemari untuk..."

__ADS_1


"jangan berlagak lugu. Kamu dan Cinta ada mainkan?" Sela Amora cepat.


"ada main? apa maksudmu. kamu bilang Cinta yang meminta mu untuk mengajakku kemari." Ujar Ringgo.


"ya, karena jika aku tak berbohong seperti itu kamu mana mungkin mau datang bukan?" Amora melihat Gion. "Dengar sendiri kan, dia kemari karena Cinta. Jadi itu sudah jelas."


Gion menghembuskan nafas kasar. Prasangka buruknya terhadap sang istri semakin bertambah. Pikirannya benar-benar sudah tercuci oleh Amora.


Ringgo mulai paham dengan apa yang terjadi. Dia menatap Gion dengan tatapan mengejek. Ringgo bisa menebak jika pria di hadapannya ini adalah suami Cinta. Wanita ini rupanya memang memiliki niat buruk terhadap Cinta.


"Kamu suami Cinta?" Ringgo melipat tangannya. Tak lagi menunjukkan rasa hormatnya. Baginya tak pantas bagi Gion menerima itu semua.


Gion tak menjawab, hanya balas menatap saja. Amora tak hentinya berdoa agar Gion tetap pada pendiriannya. Pria itu harus percaya padanya dan terus menyimpan kebencian terhadap Cinta.


"Aku pikir kamu orang yang pintar dan bijak. Tapi rupanya sangat bodoh." Ejek Ringgo yang langsung menyulut emosi Gion.


"beraninya kamu menghina ku." Geram Gion. Dengan cepat Gion beranjak dari duduknya, dia cengkram baju Ringgo dengan erat.


"Ya, kamu terlalu bodoh dan tak pantas untuk Cinta." Ringgo sama sekali tak takut meski Gion menatapnya dengan penuh amarah.


Bugh...


Tubuh Ringgo langsung tersungkur ke lantai dengan sangat keras akibat pukulan dari Gion. Amora pun sampai menjerit ketakutan. Dengan cepat dia menarik tubuh Gion.


"sudah hentikan Gion."


"tidak bisa. pria ini harus aku beri pelajaran."


Ringgo mengusap sudut bibirnya yang berdarah. Dia berdecih.


"Aku akan mengambil Cinta dari mu. Dia tak pantas mendapatkan pria bodoh seperti itu." Setelah mengucapkan itu Ringgo langsung pergi. Dia tak terima telah di perlakukan buruk seperti ini.


Ringgo pun tak akan membiarkan Cinta tetap bersama dengan Gion. Baginya pria itu terlalu buruk untuk tetap berada di samping Cinta.


"Keterlaluan. Awas saja, aku akan buat kalian berdua menderita." Gion berteriak keras.


Amora langsung memeluknya, mencoba untuk menenangkan.

__ADS_1


"sudah aku katakan padamu. Cinta itu terlalu licik. ceraikan saja wanita itu." Amora tetap memprovokasi Gion agar rencananya berjalan dengan lancar.


...*****************...


__ADS_2