Cinta Yang Di Abaikan

Cinta Yang Di Abaikan
Bab 10


__ADS_3

Seminggu berlalu, Gion mulai merasakan kehilangan. Tak ada lagi yang memeluknya ketika tidur, membangunkannya dengan kecupan di kening dan terpenting tak ada lagi suara tawa wanita yang telah mengisi hatinya bertahun-tahun itu.


Meski Amora hampir setiap hari datang untuk melayaninya di pagi hari, tetap saja Gion merasakan kekosongan di hatinya.


Seperti pagi ini, Amora sudah datang. Menyiapkan sarapan untuk Gion. Bi Minah pun mulai berhenti karena merasa tak nyaman dengan kehadiran Amora. Wanita itu terlalu banyak menuntut meski bukan nyonya di rumah ini. Sudah dua hari ini Bi Minah tak bekerja lagi.


"Gi, aku sudah buatkan sarapan. makanlah dulu, aku akan menyiapkan baju kerja untuk mu." Amora melakukan semuanya seolah dirinya istri Gion.


Gion tak pernah melarangnya untuk melakukan hal itu. Membiarkan Amora keluar masuk dengan bebas kedalam kamarnya.


Nasi goreng terhidang di meja makan. Hanya makanan itu yang Amora sajikan setiap paginya. Rasanya Gion sudah bosan dan kenyang hanya dengan melihatnya saja. Tak seperti Cinta dulu, setiap pagi selalu membuat menu sarapan berbeda.


Mengingat itu membuatnya tersenyum miris. Gion masih mencintainya. Tak bisa dia lupakan masa-masa manis bersama wanita itu.


"kamu tega Cinta." Desisnya.


Lain halnya dengan Cinta saat ini. Wanita itu terlihat sangat bahagia, seolah tak ada masalah di dalam hidupnya.


Tawanya pecah saat Susan melakukan hal lucu di hadapannya. Gadis kecil itu mulai belajar berdiri dan mengoceh tak jelas.


"pintar sekali anak bunda." Seru Cinta, mengangkat tubuh Susan lalu mengayunkan nya.


Ringgo dan Abah tersenyum melihat itu. Cinta dan Susan terlihat seperti ibu dan anak.


"Nasibnya begitu buruk, di ceraikan saat sedang hamil. Abah kasihan dengan nasibnya, dari kecil tak pernah bahagia." Abah Idan menatap Cinta dengan sedih.


"Aku akan menemui Gion. akan aku pukul pria itu." Seru Ringgo.


"Kamu lupa kalau Cinta mengatakan jika kita tak boleh ikut campur?" Abah Idan memukul belakang kepala Ringgo.


"iisss... tapi bah. Gion menceraikan nya karena mengira cinta dan aku selingkuh. aku akan meluruskan nya."


Abah Idan menatap Ringgo dengan tajam. Cinta pernah meminta padanya untuk tidak melakukan apapun, jangan terlibat dalam masalahnya dan cukup diam saja. Abah Idan tak ingin mengecewakan Cinta dengan ikut campur dalam masalahnya.


"Cinta memohon pada Abah waktu itu. dia tak akan mengemis pada Gion. Akan dia besarkan anaknya dan akan dia bukti kan kalau anaknya itu adalah darah daging Gion. Cinta ingin membuat pria itu menyesal seumur hidupnya." Jelas Abah Idan.


Ringgo terdiam. Dia pun sudah di minta berjanji oleh Cinta untuk tidak mengatakan apapun pada Gion.


"haaaaah... sudahlah, aku akan pergi kerja. tanggungjawab ku sekarang bertambah. aku harus lebih banyak mengumpulkan uang." Ringgo pergi karena hari sudah semakin siang.

__ADS_1


Abah Idan pun memutuskan untuk menghampiri Cinta dan Susan.


"Cinta, makanlah dulu. Abah sudah membuat sarapan untuk mu. biar Abah gendong Susan."


"iya bah. mana mas Ringgo?"


"sudah berangkat kerja. jangan pikirkan dia, kamu pikirkan dirimu dan bayimu. harus banyak makan dan jangan berpikir macam-macam."


"iya Abah ku sayang." Cinta mengecup pipi Abah Idan. Hal itu membuat Abah Idan kembali teringat ke masa dimana Cinta masih kecil.


Setiap hari Cinta selalu mengecup pipinya. Cinta seperti putri kandungnya saja, Abah Idan begitu menyayanginya.


...**************...


Gion berangkat kekantor bersama Amora, hal itu menjadi kebiasaannya semenjak Cinta tak lagi tinggal bersamanya. Desas-desus tentang retaknya rumah tangga Gion pun tersebar begitu cepat. Ada yang merasa jika Gion memang lebih cocok dengan Amora, karena wanita itu tak selain cantik dia juga seorang wanita karir. Tapi ada juga yang menyayangkan keretakan itu, karena mereka rasa Cinta adalah wanita sempurna yang memiliki hati lembut juga sangat ramah.


Beberapa kali Cinta pernah mengunjungi kantor dan selalu menyapa para karyawan Gion dengan sangat ramah. Bahkan kadang Cinta membagikan camilan pada mereka di waktu istirahat.


"aku rasa penyebab Pak Gion menceraikan Bu Cinta karena Bu Amora deh. coba kalian pikir, semenjak wanita itu bekerja sebagai sekertaris Pak Gion. Bu Cinta tak pernah kemari bahkan sekarang kita mendengar kalau Pak Gion sudah menceraikannya."


"iya..ya. kamu benar."


Ketiga wanita yang bekerja di bagian divisi marketing itu pun langsung mengubah topik pembicaraan mereka seputar pekerjaan.


"iya, besok ada promosi prodak baru di mall. Kita akan sangat sibuk." Seru salah seorang wanita berambut panjang langsung mengubah topik nya.


Amora melirik ke tiga wanita itu dengan sinis lalu pergi menyusul Gion yang sudah memasuki lift. Sikapnya memang sombong dan angkuh, para karyawan banyak yang tak menyukainya.


"Gion tunggu." Seru Amora sembari masuk kedalam lift. "ada apa sih, sedari tadi kamu murung terus?"


Gion menghela nafas panjang. Pikirannya sedikit tak fokus karena tiba-tiba mengingat Cinta. Ia merindukan sosok wanita cantik itu.


"tidak ada, hanya kurang enak badan saja." Ucapnya berbohong. Dia tak ingin Amora tahu kalau dirinya masih saja memikirkan Cinta.


Jujur saja, Gion tak ingin ada yang tahu kalau dirinya masih mengharapkan Cinta. Sebenarnya ada rasa sesal hatinya saat ini. Dia merasa aneh kenapa Cinta tak memohon untuk tetap bertahan di sisinya. Bukankah wanita itu begitu mencintainya. Tapi, jika teringat dengan Ringgo maka amarah nya memuncak, dia kesal dan benci dengan pria itu. Karena dia, Cinta berani mengkhianatinya.


"Mora, kamu cancel semua meeting hari ini ya. aku akan kembali kerumah." Gion menekan kembali angka 1 dan membiarkan Amora keluar dari lift terlebih dahulu.


"Gi..tapi..." Amora belum sempat menyelesaikan ucapannya, lift tertutup dan kini hanya bisa pasrah saja.

__ADS_1


Padahal Amora ingin selalu berdua dengan Gion. Sudah merencanakan untuk makan siang bersama hari ini.


...**************...


Ringgo mengusap peluh yang membanjiri wajahnya. Baru jam 9 pagi tapi sudah sangat panas. Tempat parkir yang biasanya sepi ini itu kini sangatlah padat, di karena kan ada pameran foto di tempat ini.


Meski panas dan lelah Ringgo tetap bertahan. Dia bersyukur dengan adanya pameran ini maka penghasilannya akan bertambah hari ini. Dia bisa membeli makanan enak untuk Cinta dan Abah Idan.


Sebuah mobil putih mendekat, Ringgo buru-buru memberikan instruksinya. Pria itu tetap semangat meski peluh membanjiri.


"Bukankah dia.." Gion mengerutkan keningnya saat melihat Ringgo lah yang sedang membantunya untuk memarkirkan mobilnya.


Dengan cepat Gion keluar dari mobil begitu sudah terparkir dengan sempurna. Dia kemari untuk menenangkan pikiran, menikmati foto-foto indah hasil jepretan sang fotografer profesional. Tapi, malah bertemu dengan seseorang yang membuatnya semakin panas saja.


Brak....


Pintu mobil yang di tutup nya dengan keras membuat Ringgo menoleh kearahnya.


"Kamu..." Ringgo terkejut melihat keberadaan Gion.


Gion tersenyum miring. Matanya memicing menelisik penampilan Ringgo yang menurutnya sangatlah tidak pantas di bandingkan dengan dirinya.


"Ku pikir kamu lebih segalanya dari ku sehingga Cinta terpikat oleh mu. rupanya hanya seorang tukang parkir yang tak ada gunanya sama sekali." Ejekan Gion membuat Ringgo marah.


Tapi dia harus bersabar, ini di tempat umum jangan sampai melakukan hal yang buruk.


"aku tahu, pekerjaan ku tak sebagus dirimu. Tapi, asal kamu tahu..." Ringgo mendekati Gion. Jarinya menekan dada Gion kuat. "kamu akan menyesal setelah tahu kenyataannya." Bisik Ringgo.


Kening Gion mengerut. "apa maksudmu?" Tanyanya sambil menepis tangan Ringgo.


"Aku pikir pria kaya itu pintar, tapi ternyata salah. Termakan hasutan seseorang sampai meragukan istrinya sendiri." Decih Ringgo.


"kamu...." Gion menghentikan dirinya untuk bicara saat melihat ada kendaraan lain memasuki area parkir.


Dia tak ingin terlihat sedang berseteru dengan Ringgo. Memilih untuk masuk kedalam gedung bercat biru itu. Tapi, pikirannya mendadak tak nyaman. Ucapan Ringgo ternyata cukup mempengaruhi pikirannya.


"hasutan...apa maksudnya." Gumam Gion. Gion tak merasa jika ada seseorang yang telah melakukan itu.


Tak sadar jika apa yang di lakukan Amora selama ini adalah menghasutnya. Di matanya Amora selalu terlihat baik. Teman yang baik dan pengertian.

__ADS_1


...*****************...


__ADS_2