
Nita sudah pulang dari rumah sakit. Kondisinya mulai membaik sekarang. Meski masih sedikit lemas dan belum bisa beraktifitas seperti biasanya. Wanita tua itu duduk di atas kasur dengan menyenderkan punggungnya di antara tumpukan bantal.
Sari menyelimuti kaki hingga pinggangnya. Sebagai asisten rumah tangga, dia begitu cekatan menjaga majikannya.
"Bu, apa merasa lebih baik?" Tanya Gion cemas karena Nita sedari tadi hanya diam tanpa mengeluarkan suara sepatah katapun.
Matanya yang coklat bergulir, menatap wajah Gion. Detik kemudian setetes bening keluar dari sudut matanya.
"kenapa ibu menangis? apa ada yang sakit?" Tanya Gion panik. "Bi Sari tolong ambilkan obat ibu."
"iya Den." Sari langsung mengambil obat lalu menyerahkannya pada Gion.
Nita menggelengkan kepalanya saat Gion memintanya untuk meminum obat itu. Dia tak merasakan sakit, tapi entah kenapa dadanya terus bergemuruh saat mengingat Cinta, menantunya.
"ibu ingin bertemu Cinta." Lirihnya dengan suara bergetar.
Gion mengerutkan keningnya.
"Gi, ibu ingin bertemu dan bicara dengannya."
"tapi kenapa? bukankah ibu..."
"Gi, ibu mohon ya." Pintanya memelas. Nita begitu ingin bertemu Cinta saat ini.
Bayangan menantunya itu terus berputar di kepalanya. Keinginannya untuk menemui Cinta amatlah besar. Rasa rindunya yang tak pernah dia duga sebelumnya kini telah merasuk kedalam hatinya. Padahal, dulu dirinya dan Cinta tak begitu dekat.
Cinta sering sekali di bentak atau bahkan mendapatkan sindiran darinya. Nita melakukan itu karena memang dia tak pernah setuju dengan pernikahan Gion itu. Baginya Cinta tak sepadan dari segi ekonomi dan pendidikan. Wanita muda itu terlalu miskin untuk menjadi pendamping hidup Gion. Bukan seorang wanita karir dan kebencian Nita semakin bertambah kala Cinta tak kunjung juga hamil.
Pernikahannya dengan Gion yang berjalan dua tahun belum di karuniai anak sama sekali. Membuat Nita sering mengatakan jika Cinta bukanlah menantu idaman. Tak ada gunanya dan bahkan tak bisa memberikan keturunan.
"ibu yakin inggin bertemu dengan Cinta?"
"iya Gi. Ibu sadar, ternyata selama ini Cinta begitu peduli terhadap kesehatan ibu. Setiap ibu datang kerumah mu, dia akan membuatkan makanan sehat juga sering mengingatkan ibu untuk minum vitamin juga obat." Lirihnya mengingat semua itu. Cinta memang selalu bersikap baik meski selalu mendapatkan perlakuan buruk darinya.
Gion terdiam. Dia tahu, Cinta memang perduli terhadap ibunya. Hanya saja kadang sang ibu tak menyadari kalau perhatian Cinta itu begitu tulus.
"tapi aku tak yakin bisa mengajaknya pulang Bu."
__ADS_1
Melihat wajah pesimis Gion membuat Nita menghela nafas berat. Apa Cinta sudah tak ingin lagi melihat mereka. Bukankah wanita itu menikahi Gion hanya untuk menaikkan derajat statusnya di mata orang-orang saja. Tapi, ketika Cinta pergi tanpa menuntut apapun membuat Nita ragu dengan pemikirannya.
"kalau begitu,antarkan ibu kerumahnya." Pinta Nita tak ingin menyerah dengan keinginannya.
Gion lagi-lagi terdiam. Tak yakin jika Cinta akan mau menemui Ibunya. Melihat sikapnya waktu di rumah sakit, membuat Gion menyadari sesuatu. Kalau Cinta sudah sedikit berubah. Wanita itu membalas ucapannya bahkan berani menatap matanya dengan tajam. Tak ada lagi tatapan lembut yang di pancarkan oleh matanya yang sipit.
"aku akan mengajaknya kemari. ibu istirahatlah." Akhirnya Gion pun memutuskan untuk menemui Cinta dan membujuknya agar mau bertemu dengan ibunya.
...***************...
Ringgo tersenyum kecil melihat Cinta dan Susan tertidur begitu pulas. Jam tiga sore, waktunya Ringgo pulang. Pria itu bergegas masuk ke kamar untuk melihat Susan, tapi bayi kecil itu tengah tertidur di dalam pelukan Cinta. Mereka persis seperti ibu dan anak.
Hatinya berdenyut sakit ketika menatap wajah polos sang anak. Kenapa tuhan begitu kejam terhadapnya, mengambil sang ibu di saat usianya belum mengerti apapun.
"Go, Abah mau bicara sesuatu. Kemarilah."
Ringgo menganggukkan kepalanya. Lalu mengikuti Abah Idan yang berjalan kearah ruang tengah.
"Lihatkan, Susan begitu nyaman berada di dekat Cinta. Abah usulkan padamu untuk menikahi Cinta." Abah Idan tak pernah berhenti membujuk Ringgo.
"kalian bukan saudara sedarah. Cinta hanya anak angkat Abah. Tak masalah jika kalian menikah. Lagipula saat ini Cinta tengah hamil, anggap saja kamu menolongnya. Menikahi dia dan jadi ayah dari anaknya."
Ringgo menghembuskan nafas kasar. Baginya Cinta sudah seperti adiknya sendiri, mana mungkin dia menjadikannya sebagai istri. Lagipula Ringgo tahu jika Cinta masih mencintai suaminya. Hubungan keduanya pun belum berpisah secara hukum.
"Sudahlah Bah. Ringgo mau mandi dulu." Ringgo memilih untuk menghindar. Dia tak mau membahasnya lagi.
Abah Idan menggelengkan kepalanya kecewa. Dia hanya ingin melihat putranya bahagia. Cinta adalah anak yang baik juga berbakti terhadapnya. Jika menikahi Ringgo maka putranya itu pasti akan bahagia, mendapatkan istri sebaik Cinta.
Sementara itu, di kamar. Cinta menahan nafasnya ketika tak sengaja mendengar percakapan Abah Idan dan Ringgo. Sebenarnya dia sudah terbangun saat Abah Idan dan Ringgo pergi meninggalkan kamar.
Dengan perlahan turun dari kasur. Berjalan mendekati Abah Idan yang termenung duduk di kursi.
"Abah..."
"oh...Cinta. Kemari dan duduklah." Abah Idan menepuk tempat kosong di sampingnya.
Cinta pun duduk meski sedikit ragu. Takut jika Abah Idan akan mengatakan hal yang sama kepadanya. Dia tak bisa menolak jika Abah Idan sudah meminta atau memohon kepadanya. Berdoa dalam hati semoga saja Abah Idan tak membahas tentang pernikahan.
__ADS_1
"Abah tahu, Kamu masih belum berpisah secara resmi dengan suamimu." Abah Idan menatapnya serius.
Cinta menelan ludahnya, menunggu kalimat selanjutnya yang akan terlontar dari mulut ayah angkatnya itu.
Tok...Tok...
Sebuah ketukan pintu membuat Cinta menghela nafas lega. Setidaknya dia terselamatkan kali ini.
"ada tamu, aku akan membuka pintu." Cinta bergegas membuka pintu.
Berterimakasih di dalam hati kepada siapapun yang telah datang bertamu saat ini.
Ceklek...
Pintu terbuka lebar. Senyum yang tadinya mereka kini menghilang. Cinta mundur perlahan dengan tubuh bergetar.
"Cinta...ada yang ingin aku sampaikan."
"aku sedang sibuk, sebaiknya mas pulang saja." Cinta hendak menutup pintu kembali tapi Gion dengan cepat menahannya.
Ringgo yang baru saja selesai mandi langsung menghampiri Cinta dan Gion. Dengan pandangan tak suka ia menatap Gion.
"untuk apa kemari?" Tanyanya tajam.
Gion mencoba menahan diri untuk tidak membuat masalah. Dia ingat tujuannya datang kemari untuk membujuk Cinta agar mau menemui ibunya.
"aku ada perlu dengan istriku." Ucapnya.
Ringgo berdesis lalu berjalan mendekati Gion. Menghalangi Gion agar tidak bisa mendekati Cinta. Sementara itu Abah Idan langsung menarik Cinta menjauh.
"Cinta tunggu dulu." Gion hendak menerobos masuk tapi Ringgo dengan cepat menahannya.
"Jangan ganggu Cinta lagi. Apa mau mu? Bukankah kamu sudah mengusirnya?"
Gion mengepalkan tangannya kuat-kuat. Menahan diri untuk tidak membuat keributan. Dia harus bisa membawa Cinta pulang.
...*****************...
__ADS_1