
Gion sungguh tak tahu harus berkata apa untuk membuat Cinta mau ikut dengannya. Ringgo pun nampak waspada, pria itu terus saja memperhatikannya dengan tatapan curiga. Setelah tadi membuang harga dirinya di hadapan Ringgo agar bisa bicara dengan Cinta. Akhirnya Ringgo dan Abah Idan pun menyarankan Cinta untuk menemuinya. Dan di sinilah mereka sekarang.
Sebuah taman kecil yang tak jauh dari rumah Abah Idan. Cinta duduk dengan tak nyaman di sampingnya. Wajah dan sikapnya yang nampak resah itu membuat Gion merasa sedih. Dulu, Cinta begitu manja terhadapnya. Tapi, sekarang malah seperti seorang asing yang nampak hati-hati dengan orang yang baru di temuinya.
"Cinta, apa aku sekejam itu terhadapmu. sampai kamu tak nyaman seperti ini." Ujar Gion sedih.
"Aku tak bermaksud begitu. Tapi, kamu sendiri yang sudah membuat ku menjadi seperti ini..aku merasa kita seperti orang asing." Jawaban Cinta begitu menohok.
Mereka bertengkar karena sebuah alasan yang menurut Gion itu sungguh menyakitinya. Perbuatan Cinta di belakangnya telah membuatnya kecewa sehingga dia putuskan untuk mengusirnya dari rumah.
Tapi, kenapa sekarang Gion merasa jika bukanlah Cinta yang salah tapi dirinya. Tak menyelidiki dulu kebenarannya dan langsung bertindak tanpa berpikir terlebih dahulu. Sekarang Gion menyesal akan itu. Dia merasa jika Cinta memang tak pernah melakukan kesalahan itu setelah melihat bagaimana kedekatan Cinta dan Ringgo.
Hanya saja Gion pun tak bisa menerima jika Amora yang telah mengakibatkan semua ini. Dia tak ingin percaya kalau Amora telah memfitnah Cinta seperti apa yang di katakan Fred.
"Aku minta maaf. tapi, tak bisa kah sebentar saja kamu bertemu dengan ibu?"
Cinta menatap Gion dalam.
"Ibu sakit dan terus memohon padaku untuk membawamu. Dia ingin bertemu denganmu." Lanjut Gion lagi karena Cinta tak mengatakan apapun. "Cinta, bisa kan sekali saja temui ibu?"
Cinta bergeming. Jujur saja dia begitu menyayangi wanita itu. Karena dari kecil sudah kehilangan ibunya maka Cinta menganggap mertuanya sebagai ibu nya sendiri. Bahkan Cinta senang saat melihat reaksi Nita yang bahagia ketika tahu dirinya hamil.
Tapi, rasa bahagia itu sirna kembali ketika Nita meragukan kehamilannya. Meragukan status cucu nya dan semua itu karena Amora. Cinta benci kepada orang-orang yang lebih percaya terhadap Amora di banding dirinya.
"Cinta jangan diam saja. katakanlah sesuatu?" Pinta Gion.
Ringgo yang duduk tak jauh dari mereka langsung beranjak dan mendekati keduanya saat mendengar nada tinggi suara Gion. Pria itu menarik tangan Cinta untuk bangun dari duduknya.
"Jangan paksa Cinta. Kamu sebaiknya pulang karena Cinta...."
"tak apa mas Ringgo." Cinta melepaskan genggaman tangan Ringgo. "aku akan ikut dengan mas Gion. katakan pada Abah, untuk minum obat pereda sakitnya dan mas jangan lupa tidurkan Susan sekarang."
Ringgo tak protes dengan keputusan Cinta. Maka hanya anggukan kepala sebagai jawaban. Ringgo menatap Gion tajam seolah memperingati pria itu.
Akhirnya Cinta pun ikut dengan Gion. Dia pikir tak ada salahnya menemui Nita. Mungkin ada hal penting yang ingin mertuanya itu sampaikan.
__ADS_1
Di dalam mobil hanya keheningan saja yang di rasakan. Cinta maupun Gion sama-sama diam tak tahu harus bicara apa. Mata Gion melirik perut Cinta yang masih rata, dadanya berdesir. Kenapa dia merasa senang dan ingin sekali menyentuh perut Cinta.
"Cinta, berapa bulan usia kehamilan mu?" Tanyanya.
Cinta melihat keluar jendela. Sebenarnya dia merasa bahagia bisa berbicara dengan suaminya seperti ini.
"Mas tak perlu tahu." Jawabnya. "bukannya mas tak peduli dengan bayi ini."
Gion meremas setir mobil kuat. Tak ada lagi yang bisa dia katakan.
...*****************...
Amora baru saja tiba di rumah Nita. Dia langsung datang saat mendengar kabar jika Nita tengah sakit. Wanita itu membawa banyak buah dan juga bubur untuk Nita.
Perhatiannya membuat Nita merasa tersentuh.
"Terimakasih Mora. Kamu memang anak baik."
"Tante harus sehat. Tante kan tahu aku tuh sayang banget sama Tante. Kalau Tante sakit kayak gini, aku sedih sekali." Ujarnya sambil menyuapi Nita.
Nita tersenyum mendengarnya. Dari dulu Amora memang selalu bertingkah seperti anak gadisnya. Semenjak Amora pergi keluar negeri, Nita merasa kehilangan. Lalu hadirlah Cinta. Tapi tetap saja tak bisa menggantikan posisi Amora di hatinya, hingga saat ini pun Amora masih menempati tempat penting itu.
"Tante memintanya untuk menjemput Cinta."
"a...apa?" Amora begitu terkejut. "tapi..Tante..."
Nita tersenyum. "Tante merasa bersalah padanya, entahlah tapi Tante pikir jika Cinta tak mungkin hamil oleh pria lain. Karena selama ini Tante tahu kalau Cinta begitu setia terhadap Gion."
Tangan Amora mengepal. Dia tak suka mendengar itu semua. Susah payah dia menebar duri tapi kenapa tak ada yang terinjak satupun. Amora berusaha bersikap tenang meski hatinya begitu panas.
"Ah...aku tidak terlalu tahu seperti apa Cinta. Karena mas Gion tak pernah cerita apapun dan lagian aku tahu mereka sudah menikah saja." Amora menahan diri untuk tidak terlihat kesal. Menunjukkan senyuman terpaksa nya.
Nita mengangguk mengerti.
Kembali kepada Cinta dan Gion. Keduanya kembali sama-sama diam. Gion berulang kali mencoba mencairkan suasana tapi tak berhasil karena Cinta yang selalu menjawab pertanyaannya dengan singkat tanpa bertanya kembali. Hingga akhirnya Gion pun teringat akan Ringgo.
__ADS_1
"pria itu putra Abah Idan kan?"
Cinta melirik Gion sekilas lalu menghembuskan nafas kasar.
"iya. Mas Ringgo putra satu-satunya Abah."
"Selama ini dia kemana? Tak pernah sekalipun kamu bercerita tentangnya."
Cinta cukup lama terdiam. Dia tahu jika ini kesalahannya karena tak pernah menceritakan tentang Ringgo kepada Gion. Tapi, bukankah Gion pun melakukan hal yang sama tentang Amora.
"Sama seperti mas yang tak pernah menyinggung soal Amora.". Jawaban Cinta membuat Gion hampir menginjak rem. Untung saja dia masih bisa mengendalikan dirinya.
"aku minta maaf soal itu, karena aku pikir Amora tak akan pernah kembali."
"aku juga sama. Karena mas Ringgo sudah sangat lama meninggalkan rumah."
Gion menelan ludahnya. Berarti di sini kesalahannya sama, mereka tak pernah menceritakan kehidupan mereka secara mendetail selama ini.
"lalu siapa Susan?" Tanya Gion.
"putri kecil mas Ringgo."
Ciiiiiiittt....
Gion menginjak pedal rem secara mendadak. Sehingga menimbulkan gesekan keras antara ban mobil dengan aspal dan menimbulkan suara yang menyakitkan telinga.
"Putri? jadi pria itu sudah menikah?" Gion mengerutkan keningnya.
Cinta mengelus dadanya yang hampir saja terlepas dari tempatnya. Dengan marah dia menatap Gion.
"kamu gila mas, hampir saja kita kecelakaan." Bentaknya.
Gion tahu itu salah. Tapi mau bagaimana lagi, dia sangat terkejut mendengar penuturan Cinta.
"maafkan mas ya. Kamu tak apa kan?" Tanyanya berubah cemas.
__ADS_1
Cinta menggelengkan kepalanya. Lalu diam dengan wajah marah. Gion menghela nafas panjang, kembali melajukan mobilnya.
...****************...