
Mereka pun sampai, Cinta tak langsung keluar dari mobil. Hatinya masih merasa ragu untuk bertemu dengan mertuanya itu. Apalagi saat dia melihat mobil merah milik Amora terparkir di halaman rumah Nita. Dia semakin tak ingin masuk kedalam rumah itu.
Sadah pasti akan ada kesakitan di sana. Amora selalu bersikap manis padahal dari sikapnya itu dia menebarkan racun. Cinta hafal bagaimana cara wanita itu menjatuhkannya di hadapan Nita dan Gion dengan cara yang begitu halus.
"Ayo, ibu sudah menunggu." Gion mengulurkan tangannya untuk membantu Cinta keluar.
"aku bisa sendiri." Cinta menepis tangan Gion lalu berjalan lebih dulu.
Gion menghembuskan nafas kasar. Memang Cinta sudah berubah. Sikapnya begitu jutek dan sepertinya akan sulit untuk melakukan pendekatan kepadanya.
Cinta terus berjalan tanpa memperdulikan Gion di belakangnya. Dia sudah tahu di mana letak kamar Nita, jadi tak perlu lagi untuk bertanya.
Tepat di depan pintu bercat putih langkahnya terhenti. Memejamkan matanya sebentar lalu menghembuskan nafas panjang. Jantungnya berdebar saat tangannya menyentuh kenop pintu.
"Ibu..." Panggilnya begitu pintu terbuka. Cinta langsung mengatupkan bibirnya ketika melihat Amora ada didalam kamar Nita.
Memang benar sekali dugaannya kalau wanita ini sulit untuk di hadapi. Kedekatannya dengan Nita dan Gion sangat membuat Cinta tak suka. Bagaimana bisa wanita yang hanya berstatus teman bagi Gion itu dengan leluasa bertindak di rumah ini, rumah mertuanya.
"Cinta, kemarilah." Nita menepuk tempat kosong di sampingnya begitu melihat kehadiran Cinta.
Amora menelan ludahnya, menahan kesal. Dia bangkit dari duduknya lalu berdiri. Tangannya mengepal kuat saat melihat Nita tersenyum kepada Cinta. Dia tak mau perhatian ibu Gion teralihkan kepada wanita lain selain dirinya. Karena dari dulu dia selalu mendapatkan perhatian Nita dan sekarang pun harus seperti itu.
"Ibu sakit apa?" Cinta duduk, matanya melirik Amora sekilas. Dapat dia lihat sorot kebencian disana.
Menghembuskan nafas kasar, lalu kembali menatap Nita.
Nita meraih kedua tangan Cinta.
"Cinta, ibu selalu membentak dan menyakiti mu. Ibu minta maaf kepada mu ya?" Tuturnya membuat Cinta, Gion dan Amora terkejut mendengarnya.
"Kenapa ibu meminta maaf." Seru Cinta. "ibu tak salah, semua salah Cinta. Sebagai menantu belum bisa berbuat hal yang membuat ibu senang."
Nita menggelengkan kepalanya. Dia sungguh merasa apa yang di katakan Cinta menampar wajahnya. Bagaimana bisa Cinta berkata seperti itu, bahkan menantunya ini tak terlihat kesal atau marah padanya.
"Ibu percaya padamu. Maaf sempat meragukan bayimu." Ujarnya sambil menyentuh perut Cinta.
Cinta terdiam. Begitu juga dengan Gion. Keduanya tenggelam dalam pikiran masing-masing. Sementara Amora merasa was-was takut Gion pun berpikir sama dengan Nita. Jika seperti itu maka usahanya untuk menjauh Cinta dari keduanya akan gagal. Dengan cepat Amora menyela.
"Tante, kenapa Tante berpikir seperti itu. Sebaiknya kita tunggu sampai Cinta melahirkan. Kita tes DNA nya."
Gion melihat Amora lalu ikut bicara.
__ADS_1
"Mora benar Bu." Ucapannya membuat Cinta sangat sakit hati.
Dengan cepat Cinta menarik tangannya dari genggaman Nita. Matanya melihat Gion dengan pandangan penuh rasa marah dan sakit.
"jadi...mas ingin membuktikan kebenaran?" Tanyanya dengan suara bergetar. Lalu melirik Amora yang ingin sekali dia cakar wajah sok kecantikannya itu.
"Oke, lakukan seperti yang kalian inginkan. Ibu maaf, sebaiknya aku pulang."
Nita terdiam. Dia ingin mengatakan hal lain pada Cinta. Tapi rasanya begitu sulit. Matanya bergulir menatap ketiga orang di kamarnya. Perlahan Nita menganggukkan kepalanya. Sepertinya dia tak bisa menahan Cinta berlama-lama di sini, dia akan mencari waktu yang tepat untuk bicara dengan menantunya.
"Cinta tunggu." Gion mengejarnya.
"apalagi? Kamu mengajakku kemari untuk menyakitiku lagi?"
Gion menggelengkan kepalanya.
"tidak Cinta. tapi..."
"cukup mas. Sebaiknya mas kembali temani ibu. Aku akan pulang."
"akan aku antar."
"apa katamu? Aku tidak akan pernah menceraikan mu."
"Egois kamu mas. Kamu meragukan bayi ini dan tetap ingin bersamaku. dimana otakmu. aku sudah muak dengan mu mas."
Gion terdiam. Entah kenapa, dirinya padahal sudah percaya kalau Cinta tak mungkin berselingkuh tapi ketika mendengar perkataan Amora entah apa yang terjadi tiba-tiba saja dia merasa jika apa yang dikatakan Amora ada benarnya.
Melihat Gion yang terdiam akhirnya Cinta pun bergegas pergi.
...****************...
Abah Idan terus saja mondar-mandir karena resah memikirkan Cinta yang belum kembali juga. Ponselnya tak bisa di hubungi.
"Akan aku cari Bah. Abah tunggu lah di rumah, Susan sedang tidur. jika bangun susu ada di samping bantalnya." Ringgo cepat-cepat memakai jaketnya lalu bergegas pergi.
Abah Idan berharap Cinta baik-baik saja begitu juga bayi di dalam kandungannya.
Setengah berlalu, Ringgo sudah pergi dan belum juga kembali. Hatinya semakin resah saja.
Sementara itu Cinta duduk di bangku taman dengan perasaan hancur. Kepercayaan seorang suami bagi istri adalah hal paling penting dalam menjalankan rumah tangga. Tapi, Gion tak memikirkan kepercayaan terhadapnya sehingga membuat Cinta menyerah.
__ADS_1
Tetes demi tetes airmata membasahi pipinya. Cinta menangis tanpa suara.
Tak jauh dari sana, sebuah mobil putih berhenti. Seorang pria berpakaian nyentrik keluar dengan tergesa.
"Cinta?" Pekiknya tak percaya. Berlari tergesa-gesa dengan hati yang amat lega dan bahagia. Akhirnya dia bisa bertemu dengan Cinta.
Cinta mendongak, keningnya mengernyit melihat seseorang yang amat dia kenal berlari kearahnya. Cinta segera menghapus airmatanya.
"Akhirnya aku bisa bertemu denganmu. Aku merindukanmu baby."
"Freddy...?" Cinta tertegun ketika sahabat dari suaminya itu memeluk tubuhnya erat.
Fred sudah seperti saudara baginya. Dia sering bercerita tentang kehidupan pribadinya kepada Cinta.
"Cinta maafkan aku telat datang. Kamu baik-baik saja bukan?" Pertanyaan Fred membuat Cinta bingung.
"aku baik. Memangnya kenapa?" Seru Cinta.
Fred menyentil dahi Cinta pelan.
"aku sudah tahu semuanya. Gion si bodoh itu telah menyakitimu."
"darimana kamu tahu?"
"Gion bercerita jika hubungan kalian sedang renggang. Mendengar ceritanya aku bisa simpulkan kalau Amora di balik semua ini. Tapi, Gion benar-benar bodoh, tetap saja mempercayai wanita buruk rupa itu."
Cinta terkekeh pelan. Fred memang sangat tak menyukai Amora, Cinta tahu itu. Fred pun akan persis seperti ibu-ibu ketika membahas wanita itu. Mulutnya terus mengoceh tanpa henti.
"sudah-sudah. Kapan kamu kembali?"
Fred menghela nafas, mengatur nafasnya yang terasa tersengal. Mereka pun mengobrol bersama membuat Cinta lupa dengan kesedihannya.
Sementara itu, Ringgo masih dengan sabar mencari Cinta. Pria itu menghentikan motor bebeknya di dekat toko bunga. Biasanya Cinta selalu membeli bunga di sini. Tapi setelah di perhatikan tak ada keberadaan nya sama sekali. Ringgo pun kembali pergi menyusuri jalanan.
Sebenarnya dia ingin kerumah Gion, berpikir jika Cinta pasti ada di sana. Tapi Ringgo tak tahu dimana rumah suami Cinta itu.
Saat melintasi taman, matanya tak sengaja melihat keberadaan Cinta yang tengah mengobrol dengan seseorang.
"Syukurlah." Ringgo merasa senang karena bisa menemukan Cinta.
...******************...
__ADS_1