Cinta Yang Di Abaikan

Cinta Yang Di Abaikan
Bab 11


__ADS_3

Gion masuk kedalam dengan hati yang di balut rasa penasaran. Terpikirkan oleh kata-kata Ringgo yang mengatakan jika dirinya pasti akan menyesal setelah mengetahui kenyataan. Gion merasa penasaran, kenyataan apa yang dimaksudkan oleh Ringgo.


"Oh...Pak Gion. Anda kemari, saya sangat terhormat sekali dengan kedatangan anda." Seorang pria berwajah tampan menyerupai cantik menghampirinya.


Bajunya sedikit nyentrik sehingga sangat menonjol dari para pengunjung yang lain. Lamunan Gion buyar, sedikit terkejut dengan kehadiran pria tersebut.


"i..iya. sudah lama aku tak melihat hasil karya mu..Fred." Gion menepuk bahu pria yang di panggilnya Fred itu.


"hahaha...kamu kangen aku?" Ujar Fred sambil tersenyum lebar.


"jangan salah paham..aku hanya ingin melihat hasil karya mu saja." Gion menoyor kepala Fred sedikit geli.


Fred tak seperti pria tulen. Nada bicara dan tingkahnya lebih mirip seorang gadis yang kecentilan ketika melihat pria tampan.


"Its okey. ayo...lihatlah semuanya. aku mengumpulkan foto-foto ini sejak setahun yang lalu. tema nya Cinta Lingkungan. kamu pasti akan suka. banyak sekali tempat-tempat indah yang aku kunjungi selama setahun ini." Fred berjalan di depan Gion. Menjelaskan setiap foto yang di ambilnya.


Rupanya Gion dan Fred seorang teman sejak lama. Mereka berbeda dengan karakter yang jauh berbanding. Tapi, mereka dekat karena sesuatu kesamaan yang tak banyak orang tahu.


Gion melihat setiap foto yang di pamerkan dengan seksama. Senyumannya mendadak luntur saat matanya tertuju pada salah satu foto yang ada di pojok kanan paling atas.


"kamu suka itu? aku memotretnya saat wanita itu tengah menyapu halaman rumahnya. Entah kenapa, aku merasa pemandangan itu sangat menyejukkan. rumahnya begitu sederhana dengan pemandangan sekitarnya yang asri. banyak bunga di halamannya, indah bukan?"


Tapi, bukan itu yang menjadi daya tarik Gion. Pria itu teringat akan Cinta. Dulu, wanita itu selalu menyapu halaman rumah mereka. Menyirami bunga-bunga yang Cinta taman sendiri. Foto itu sungguh mengingatkan dirinya akan wanita itu.


"Gion, oh ya..." Fred menepuk bahunya, membuat Gion kembali tersadar dari lamunannya. "Mana istrimu? aku tak datang di acara pernikahan kalian. Cinta sehat kan? aku kangen wanita itu."


Gion tersenyum lalu mengangguk kecil. Fred pasti akan memaki nya jika tahu kalau dirinya telah mengusir Cinta. Fred begitu menyayangi Cinta seperti seorang saudara.


"kenapa tak kamu ajak, aku kangen dia. sudah lama tak berhubungan dengannya. Apa nomor nya ganti? aku mintalah, ingin sekali bercerita banyak padanya." Fred menengadahkan tangannya meminta ponsel Gion.


Gion menelan ludahnya gugup. Bagaimana caranya dia menjelaskan semuanya. Fred itu selalu heboh dan pasti akan membuat keributan di dalam sini begitu tahu cerita yang sebenarnya.


"eum...kamu lihatlah, pengunjung semakin banyak. nanti saja aku beri nomornya. kamu temui semua pengunjung itu. kamu adalah bintangnya hari ini. aku akan menunggu di parkiran." Seru Gion mencoba untuk menghindari Fred.


Fred melihat sekitarnya, benar apa yang di katakan Gion. Maka terpaksa dia pun harus menunda untuk tidak menghubungi Cinta.


"oke, tunggu aku." Ujarnya.


Gion menghela nafas lega. Setidaknya dia mengulur waktu dari amukan Fred.


Fred adalah temannya juga saudaranya. Dia sedikit berbeda dari pria lainnya. Dandanannya nyentrik, tingkahnya sedikit mirip perempuan. Tapi, dia seorang pria tulen, hati dan perasaannya menyukai wanita tentu saja.

__ADS_1


Dia seorang fotografer yang sering di cari, keahliannya dalam memotret tak bisa di ragukan. Hasil jepretan sangat memukau.


Fred dan Cinta sangat dekat semenjak Gion menikahi wanita itu. Cinta selalu menjadi tempat curhat Fred. Bahkan Fred sering berkata pada Gion, jangan sakiti Cinta atau dirinya akan marah.


"Apa yang akan aku katakan padamu nanti Fred. Kamu begitu menyayangi Cinta." Gion menghela nafas panjang lalu keluar dari gedung itu.


Dengan langkah gontai ia mendekati mobilnya lalu masuk kedalam. Matanya memicing menelisik sekitar area parkir. Tak ada Ringgo di sana, hanya ada seorang pria tua yang berdiri tak jauh dari tempatnya memarkir mobil.


"kemana pria itu?" Desisnya.


...***************...


Cinta tersenyum kecil melihat Susan yang di gendong Ringgo. Gadis kecil berusia 8 bulan itu tertawa riang saat Ringgo mengangkat tubuhnya tinggi-tinggi.


"Mas, kenapa pulang? apa pekerjaannya sudah selesai?" Tanya Cinta, meletakkan kopi di atas meja lalu duduk di kursi kayu yang ada di sana.


Ringgo pun duduk sambil menyerahkan Susan pada Cinta.


"Iya, mas hanya setengah hari saja mendapatkan tugas memarkir di sana. tapi, mas rasa itu cukup kok, asal ada buat beli susu dan popok Susan. Juga... untuk kamu nanti lahiran. mas akan menyisihkan sebagian untuk mu." Ujarnya lalu menyeruput kopi panas itu dengan hati-hati.


Cinta mengigit bibirnya. Merasa sangat bersalah, gara-gara dirinya Ringgo harus bekerja lebih keras lagi. Pagi hingga siang pria itu bekerja sebagai tukang parkir, lalu sore kuli panggul di pasar dan nanti malam berjaga di ruko milik tetangga mereka. Ringgo sungguh tak memiliki waktu istirahat yang banyak semenjak dirinya tinggal kembali di rumah ini.


Ringgo berdecak mendengar itu.


"Kamu itu adikku, tanggung jawab ku.. sudahlah, mas mau berangkat kerja lagi. jaga Susan ya dan kamu juga jangan telat makan, jaga bayi dalam kandungan mu." Ringgo mengecup pipi Susan lalu pergi.


Cinta menghela nafas panjang. Seandainya rumah tangga nya dengan Gion tak serumit ini maka Ringgo pasti tak akan kesulitan karena dirinya. Dadanya sesak mengingat sebab keretakan rumah tangganya.


Gion menuduhnya tanpa jelas dan lebih parah lagi pria itu tak mengakui bayi dalam kandungannya saat ini. Bulir air mata membasahi pipinya. Cinta sungguh sedih dan sakit hati dengan semua sikap Gion.


"Cinta, mana Ringgo?" Abah Idan menghampiri Cinta. "loh...kamu menangis, kenapa? sini biar Abah gendong Susan."


"aku hanya kelilipan kok Bah." Ujar Cinta bohong. Dia tak ingin Abah Idan khawatir.


"Jangan bohong Cinta." Seru Abah Idan. "Abah rasa sebaiknya kamu temui Gion. bicaralah dengannya dan..."


"tidak Abah. aku tak ingin memaksa seseorang yang sudah tak memiliki rasa percaya padaku. Biarkan mas Gion berpikir apapun tentangku, aku tak ingin meluruskan apapun padanya."


"jika seperti itu, kamu akan terus di cap buruk oleh Gion."


Cinta tak perduli. Gion akan menganggapnya wanita buruk atau apapun, ia tak akan menyangkalnya. Baginya kepercayaan Gion yang telah hilang sudah membuatnya sangat terluka. Dia tak ingin menjelaskan bahwa dirinya adalah seorang wanita baik-baik. Pandangan Gion terhadapnya tak akan pernah dia pedulikan.

__ADS_1


"aku tak perduli Abah. Tapi, suatu saat nanti ketika mas Gion tahu kenyataannya aku harap pria itu akan menyesal seumur hidupnya karena tak mengakui anaknya sendiri." Cinta mengepalkan tangannya, dia bersumpah akan membalas setiap rasa sakitnya.


Abah Idan hanya bisa diam saat ini. Cinta tak mungkin bisa di bujuk lagi.


...****************...


Satu jam berlalu, Fred sudah selesai dengan acara nya. Pria itu bergegas menghampiri Gion. Tak sabar ingin segera mendapatkan nomor Cinta, dia begitu merindukan wanita itu. Banyak hal yang ingin dia katakan padanya. Setahun tak berjumpa membuatnya sangat merindukan Cinta.


Brak..


Fred masuk kedalam mobil Gion dengan tak sabaran.


"mana nomornya, kirim padaku. aku ingin menghubunginya. atau kamu ajak aku kerumah, aku akan mengobrol langsung dengannya."


Gion tersenyum kaku. Semenjak Cinta pergi, dirinya pun tak bisa menghubungi wanita itu. Nomornya tak aktif sama sekali. Meski Gion tahu, Cinta pasti berada di rumah Abah Idan. Ia tak berani untuk memastikan itu, hatinya masih menyimpan rasa kecewa pada wanita itu.


Perselingkuhan hingga benih tumbuh di rahimnya, tentu saja sesuatu yang begitu membuat hatinya terluka. Pengkhianatan Cinta terlalu besar baginya. Gion merasa jika Cinta telah menorehkan luka yang tak bisa sembuh.


"sebenarnya..kami..." Gion akhirnya menceritakan semuanya. Tak ada yang dia lewatkan sama sekali.


Fred menatap tak percaya Gion. Bagaimana bisa Gion begitu mudah mengatakan hal itu, Cinta tak mungkin berselingkuh. Dia sangat hafal seperti apa wanita itu.


"kamu telan mentah-mentah apa yang Amora katakan?" Tanya Fred. Gion mengatakan jika perselingkuhan Cinta terbongkar berkat Amora.


"apa maksudmu?" Tanya Gion balik.


Fred mendengus. Merasa jika Gion memang benar-benar bodoh.


"Aku sama sekali tak percaya hal itu. Amora itu teman masa kecil kita, aku hafal seperti apa wanita licik itu. itulah kenapa aku tak dekat dengannya. Dia licik dan juga munafik." Fred sangat emosi. Gion terdiam, dari dulu Fred dan Amora memang tak pernah akur. Ada saja yang mereka debatkan.


"tapi... Amora..."


"gadis kecil yang polos? cih... wanita itu rubah berbulu domba. aku selalu bilang padamu, Amora itu hanya pura-pura lugu. Dari dulu dia selalu bertentangan denganku karena dia tak baik." Fred mendengus mengingat masa-masa kecil mereka.


Amora sering sekali bertengkar dengannya karena wanita itu selalu melakukan hal buruk terhadap setiap orang yang dekat dengan Gion. Amora seperti seorang pengusir setan yang akan siap sedia. Ia singkirkan setiap wanita yang dekat dengan Gion. Fred tahu semua itu, tapi Gion selalu menutup mata akan hal itu.


"Aku katakan padamu Gi. Jika tak ingin menyesal seumur hidup mu, maka cari Cinta dan cari tahu kebenarannya." Fred keluar dari mobil. Muak sekali rasanya berduaan dengan Gion saat ini.


Gion terdiam. Fred selalu berpikir rasional, pria itu meski terlihat aneh dan pecicilan tapi sangat dewasa. Setiap ucapannya membuat Gion menjadi resah kembali. Apa dia harus melakukan apa yang di katakan Fred atau tetap pada pendiriannya.


...***************...

__ADS_1


__ADS_2