
Gion buru-buru masuk kedalam rumah tanpa memperdulikan Amora yang memanggilnya. Wanita itu dia tinggalkan di dalam mobil begitu saja. Meski Gion marah pada Cinta tapi tetap saja rasa cintanya masih ada dalam hatinya. Sehingga ketika mendengar istrinya tengah sakit tak dia pungkiri jika dirinya begitu cemas dan takut terjadi hal buruk pada Cinta.
"ibu, dimana Cinta?" Gion melewati Nita yang baru saja membukakan pintu.
"jangan khawatir, istrimu baik-baik saja. tapi..." Nita menggantungkan kalimatnya membuat Gion langsung menghentikan langkahnya dan menatap Nita dengan khawatir.
"tapi apa Bu?" Tanyanya takut. Dia teringat dengan perbuatannya pagi tadi, menampar Cinta dengan cukup keras.
Gion takut terjadi sesuatu pada Cinta karena hal itu.
Nita menghela nafas panjang lalu menyentuh kedua tangan Gion. Menatap putranya itu dengan wajah begitu serius membuat Gion semakin cemas di buatnya.
"Istrimu tidak sakit...hanya saja..." Nita tersenyum lebar. "dia tengah hamil Gion. Ibu senang sekali, rasanya seperti mimpi indah di siang hari." Pekik Nita.
Mata Gion langsung melebar. Mendengar kabar itu membuat hatinya berdebar dan menghangat tapi juga ada rasa marah di sana. Gion langsung melepaskan genggaman tangan Nita, ia langsung berlari kekamarnya.
Amora mematung di depan pintu. Dia mendengar semuanya. Itu cukup membuatnya terkejut sampai tak bisa lagi menggerakkan tubuhnya. Ketakutan dalam hatinya tiba-tiba melanda, Amora takut jika Gion kembali melunak terhadap Cinta karena wanita itu tengah mengandung anaknya. Amora tak bisa membiarkan itu terjadi.
Brak...
Gion membuka pintu dengan cukup keras. Cinta yang tengah tertidur pun langsung terbangun.
"mas..."
"bagaimana bisa?" Seru Gion langsung. Ia cengkram bahu Cinta kuat.
"Lepas dulu." Cinta berusaha untuk bangun. Mendudukkan tubuhnya yang terasa begitu lelah di tepi kasur.
"bagaimana kamu bisa hamil?" Pertanyaan Gion membuat Cinta langsung mengerutkan keningnya. Kenapa Gion bertanya begitu, tentu saja karena dia dan Gion sering melakukan hubungan badan.
"aku istri mu mas, dan sudah seharusnya aku hamil. Aku mengandung anakmu, itu hal yang wajar." Cinta tak mengerti dengan jalan pikiran Gion.
Gion menggelengkan kepalanya.
"aku selalu memintamu untuk meminum pil pencegah kehamilan. Kenapa bisa hamil?"
"mas, ibu begitu menginginkan cucu. Dan kamu tahu, ibu sangat senang sekarang." Tutur Cinta.
Gion terdiam. Dia bingung sendiri. Apa dia senang dengan berita kehamilan Cinta atau malah merasa tak suka. Pria itu mengacak rambutnya lalu mendudukkan tubuhnya di lantai tepat di hadapan Cinta.
"Kamu tahu kan, hubungan kita sedang tidak baik sekarang. aku.."
__ADS_1
"kenapa? kita bisa mulai dari awal lagi bukan? ini anakmu mas. kita lupakan masalah kita dan..."
"tidak." Gion menarik tangannya yang di pegang Cinta. "siapa ayah dari anak itu?" Pertanyaan Gion membuat mata Cinta melebar dengan sempurna.
"kenapa mas bertanya seperti itu?"
"jangan membodohi ku Cinta. Kamu telah berselingkuh di belakangku selama ini dan sekarang kamu hamil. Siapa ayah nya?"
Cinta menatap Gion tak percaya. Bagaimana bisa Gion menuduhnya seperti itu.
"aku tak berselingkuh mas. kenapa mas menuduhku seperti itu?" Teriak Cinta tak terima.
Gion pun langsung mengambil ponselnya dan melemparkannya kearah Cinta.
"lihat itu, kamu dan pria itu. Aku sudah bertanya kepadanya dan dia mengakui segalanya."
Cinta mengambil benda pipih itu lalu melihat foto yang ada di sana. Jantungnya berdegup kencang. Dari mana Gion mendapatkan foto itu.
"mas, aku dan mas Ringgo tidak seperti itu."
"oh...lalu apa? bertemu diam-diam dan berhubungan di belakang ku?" Tuding Gion.
Gion diam. Dia tentu tahu siapa Abah Idan, karena pria tua itulah yang dulu menjadi wali nikah Cinta. Karena Cinta tak memiliki ayah dan sanak keluarga lainnya. Tapi, dia juga tahu kalau hubungan Cinta dengan pria tua itu hanya sekedar orangtua angkat saja. Itu artinya Ringgo dan Cinta tak memiliki hubungan darah.
"kenapa kamu tak pernah cerita tentangnya sebelumnya?" Tanya Gion masih saja curiga.
"mas juga tak pernah cerita tentang Amora." Jawab Cinta.
Keduanya kini sama-sama diam. Cinta maupun Gion memang tak pernah bercerita tentang masa kecil mereka bahkan siapa saja orang-orang terdekatnya.
...*****************...
Nita sungguh tak bisa menyembunyikan rasa bahagianya. Terus saja berangan-angan tentang dirinya yang nanti akan mengasuh anak Gion.
"Tante sudah bisa bayangkan bagaimana menyenangkannya nanti bermain dengan anak itu." Khayalnya.
Amora hanya tersenyum kecut. Dia kesal tentu saja, Nita biasanya akan mengeluh tentang Cinta yang tak kunjung hamil juga dan sekarang wanita di hadapannya ini tak hentinya memuji Cinta. Mengatakan jika Cinta telah memberikan hadiah paling berharga di dalam hidupnya. Tentu saja Amora iri akan itu, dia tak rela dan tak suka. Karena seharusnya hanya dirinya yang mendapatkan pujian itu.
"Tapi Tante, apa Tante yakin kalau bayi dalam kandungan Cinta adalah cucu Tante?"
Nita melihat Amora dengan alis bertaut.
__ADS_1
"Amora, kenapa kamu bertanya begitu?"
Amora mengendikkan bahunya. Dia mulai kembali dengan aksinya. Mungkin sedikit memberikan keraguan terhadap Nita akan membuat Cinta sedikit di curigai oleh wanita itu.
"begini...Cinta dan Gion sudah dua tahun menikah dan tak kunjung hamil juga. lalu sekarang, setelah Cinta ketahuan selingkuh wanita itu hamil. Apa Tante tak curiga?"
Nita terdiam nampak berpikir. Dia tak curiga akan Cinta sama sekali.
"jadi... menurutmu bayi itu bukan benih Gion?"
Amora mengangguk yakin membuat Nita yang tadinya sudah sangat bahagia kini berubah menjadi diam. Wanita itu menjadi ragu dengan kehamilan menantunya. Merasa apa yang di katakan Amora ada benarnya.
Sementara itu di dalam kamar, Cinta dan Gion sudah tidak lagi saling berdebat. Keduanya mulai melunak dan sedikit membaik.
"jadi... Ringgo lebih tua dari mu?" Tanya Gion setelah mendengar penjelasan Cinta. Sedikit rasa percaya mulai tumbuh di dalam hatinya.
"iya mas. dan mas Ringgo sekarang memiliki seorang anak, usianya 8 bulan."
Gion jadi merasa bersalah karena telah berpikir buruk tentang Cinta.
"maafkan mas ya, mas terlalu emosi. Melihat foto itu mas jadi hilang kendali." Ujarnya sembari menyentuh kedua tangan Cinta.
"siapa yang mengirimkan foto itu mas?" Tanya Cinta penasaran.
Gion menggelengkan kepalanya. Memang dia sendiri pun tak tahu siapa yang mengirimkannya.
"sudahlah itu tak penting lagi. Sekarang kita mulai dari awal kan? kita jalani rumah tangga ini dengan harmonis." Cinta tersenyum menatap wajah Gion.
"ya. maafkan mas ya?"
"iya mas."
Mereka pun saling berpelukan. Nita dan Amora mengintip di balik pintu kamar yang di buka sedikit. Keduanya melihat itu dengan pandangan berbeda. Nita dengan rasa curiganya terhadap Cinta dan Amora yang menatap Cinta dengan penuh kebencian.
"lihatkan Tante, Gion luluh kembali karena Cinta hamil. wanita itu terlalu licik." Bisik Amora.
"Kamu benar. kita harus mencari bukti untuk menyadarkan Gion." Seru Nita.
Nita merasa kecewa karena bayi di dalam kandungan Cinta belum tentu cucunya. Wanita itu sudah sangat lama menginginkan kehadiran cucu di dalam hidupnya yang semakin bertambah usianya.
...***************"...
__ADS_1