
Sepulangnya Abah Idan membuat Cinta menjadi tak bisa berkonsentrasi dengan pekerjaan rumahnya. Berulang kali tangannya tersayat pisau saat sedang membersihkan ikan. Cinta meringis menahan perih tapi tetap melanjutkan acara masaknya karena sebentar lagi suaminya akan pulang. Juga ibu mertuanya akan datang.
"sebenarnya apa maksud Amora mendatangi mas Ringgo dan mengancamnya seperti itu." Lagi-lagi pertanyaan itu terbersit di benaknya.
Cinta tahu, wanita itu Amora. Sekertaris sekaligus teman Gion. Karena memang mereka sudah di perkenalkan bulan lalu.
Ting...Tong...
Bel berbunyi. Dengan cepat Cinta berlari untuk membuka pintu. Sebelum itu dia membasuh tangannya dan menutupi lukanya dengan plester.
"Ibu sudah datang?" Senyuman memudar saat melihat Amora dan Gion keluar dari mobil secara bersamaan.
Hatinya mendadak tak tenang. Entah kenapa Cinta merasakan sesuatu hal yang buruk akan terjadi kepadanya.
"Kamu sudah menyiapkan makan malamnya bukan?" Tanya Nita dengan berjalan melewati Cinta.
"sudah Bu, tinggal satu menu lagi yang belum matang." Jawabnya.
Cinta langsung mendekati Gion yang berjalan masuk kekamarnya. Melirik Amora dan Anita sekilas yang tengah berbincang di ruang tamu.
"mas, Amora itu..."
"dia temanku. kenapa?" Sela Gion sebelum Cinta menyelesaikan pertanyaan.
Cinta pun mengurungkan niatnya untuk bertanya. Dia tak ingin Gion semakin marah nanti.
"tidak. aku sudah siapkan air hangat. baju piyama mas aku simpan di atas kasur." Cinta pun memilih untuk keluar saja. "kami tunggu di ruang makan."
Gion melepaskan dasi dan jas kerjanya. Matanya mengedar melihat sekitar kamar. Nampak rapi seperti biasanya. Menghembuskan nafasnya kasar. Kenapa dia tak pernah tahu jika istrinya dekat dengan seorang pria. Cinta begitu pandai menyembunyikan segalanya.
Amora tertawa kecil saat Nita memujinya. Kedua wanita itu sangat akrab dan tentu saja membuat Cinta merasa iri. Kenapa dirinya tak pernah bisa sedekat itu dengan mertuanya.
"Ibu.. Amora. makan malam sudah siap." Cinta mendekati keduanya.
"ayo sayang. kamu pasti lapar sekali setelah seharian bekerja." Nita menggandeng Amora, melewati Cinta yang berdiri di dekatnya begitu saja.
Cinta tersenyum miris, sungguh perlakuan Nita terhadap Amora membuatnya merasa iri. Tak pernah sekalipun Nita memperlakukan dirinya seperti itu. Nita selalu saja bersikap sinis dan berkata pedas terhadapnya.
Dirinya sadar bahwa pernikahannya dengan Gion memang tak pernah mendapatkan restu dari Nita. Jadi mimpi saja untuk mendapatkan perhatian seperti itu.
__ADS_1
"mana ibu dan Amora?" Gion menghampiri Cinta yang sedang bengong.
"ah...mas, bikin kaget saja." Seru Cinta sembari mengelus dadanya.
Gion memutar matanya malas. "Hanya bertanya seperti itu kamu sudah terkejut. Sedang memikirkan pacar mu?" Ketusnya lalu pergi.
Kening Cinta berkerut tak mengerti dengan ucapan yang di lontarkan Gion. Kenapa Gion bisa berkata demikian. Tak ingin ambil pusing, Cinta pun segera mengikuti Gion yang berjalan kearah ruang makan. Langkahnya terhenti seketika saat melihat Amora yang duduk di tempatnya.
Biasanya kursi itu Cinta tempati agar lebih mudah melayani Gion.
"maaf Amora, tapi ini kursi ku." Cinta berkata dengan sopan.
Amora mengepalkan tangannya, ingin membentak Cinta tapi di tahannya. Dia tak boleh terlihat buruk di hadapan Nita dan Gion.
"oh... begitu? maaf ya. aku akan pindah kalau begitu." Ujarnya dengan nada sedikit di buat sedih.
Nita dan Gion langsung menatap kearah keduanya. Saat Amora hendak berdiri tiba-tiba Gion menghentikan pergerakannya.
"Hanya masalah kursi saja kamu ribut. tak perlu pindah Mora. Cinta kamu bisa duduk di mana pun sesukamu, di sini masih banyak kursi kosong." Perkataan Gion sungguh sangat menyakitinya.
Cinta tak percaya jika Gion akan berkata seperti itu. Hendak menyela tapi dia tahu pasti hanya akan memicu pertengkaran saja, dengan berat hati Cinta pun duduk di kursi yang lain. Hal itu tentu saja membuat Amora merasa puas, dia senang karena berhasil membuat hubungan keduanya merenggang sejauh ini.
Nita pun tersenyum kearah Amora, ikut senang.
"iya Tante."
Cinta menarik nafas dalam-dalam lalu menghembuskan perlahan. Dia tak boleh marah.
"mas biar aku ambilkan nasinya." Cinta hendak meraih piring Gion tapi dengan cepat di tolak oleh suaminya itu.
"aku bisa sendiri." Gion menyendok nasinya sendiri, hal yang tak pernah terjadi sebelumnya.
Gion selalu meminta Cinta untuk melakukannya. Tapi kali ini benar-benar berbeda. Sikapnya semakin dingin saja terhadapnya. Cinta sungguh tak mengerti, apa sebenarnya kesalahan yang telah dia lakukan sehingga bisa membuat Gion bersikap demikian.
...**************...
Abah Idan menghampiri Ringgo yang sedang menidurkan bayi kecil berusia 8 bulan. Pria muda itu terlihat sangat letih setelah seharian bekerja harus mengurus segalanya juga begitu tiba di rumah.
"Go, apa Susan sudah tidur?"
__ADS_1
Ringgo berbalik lalu mengangguk pelan. Susan adalah putrinya dengan sang kekasih. Ringgo menjalin kasih dengan seorang wanita cantik saat bekerja di perantauan. Dia tak mengira jika hubungannya dengan sang kekasih akan berakhir tragis seperti ini.
Sebuah kesalahan di sebuah club malam membuat mereka melakukan hal terlarang itu sehingga kekasihnya hamil. Ringgo pun berjanji akan menikahinya dan bertanggung jawab. Tapi sang kekasih tak menginginkan itu, dia hanya berkata hubungan seperti ini pun sudah membuatnya bahagia.
Hingga akhirnya kehamilannya pun semakin bertambah usianya. Kekasihnya melahirkan dengan cara sesar dan harus meregang nyawanya setelah seminggu melahirkan. Ringgo memutuskan untuk kembali pulang dan membawa putrinya.
Abah Idan pun tak mempermasalahkan hal itu. Dia menerima Susan sebagai cucunya. Waktu pulang Ringgo tak tahu jika Cinta telah menikah karena memang semenjak dia pergi kerja keluar kota tak pernah sekalipun saling berhubungan.
Waktu itu dia meminta Cinta untuk merawat Susan. Tapi, ternyata dia keliru. Cinta sudah menikah dan tak mungkin Ringgo meminta hal itu padanya.
"Abah sudah menemuinya?" Tanya Ringgo. "apa dia tahu siapa wanita itu?"
"sepertinya Cinta tahu. kamu seharusnya datang temui suaminya dan minta maaflah. Jangan sampai terjadi kesalahpahaman. pertemuan kalian itu sepertinya di lihat oleh seseorang."
Ringgo menghela nafas panjang. Memang seharusnya dia melakukan itu. Dia tak boleh membuat Cinta dalam masalah. Wanita yang datang mengancamnya waktu itu memang seolah bersikap baik tapi Ringgo yakin pasti ada di sesuatu di balik semua itu.
Kembali pada Cinta. Wanita itu memegang erat sendoknya. Matanya terus saja memperhatikan Nita dan Amora yang tengah berceloteh di tengah acara makan malam. Amora tak hentinya menceritakan tentang masa-masa kecilnya bersama Gion. Bahkan Gion pun ikut tertawa saat Amora menceritakan kejadian lucu di masa itu.
Miris sekali, keberadaannya di meja makan ini seolah tak di pedulikan. Gion bahkan sama sekali tak melihat kearahnya. Pria itu tak terus saja melihat ke arah Amora sambil sesekali menimpali ucapannya.
Trak...
Cinta kehilangan kesabarannya. Dia simpan sendok keatas piring dengan sangat keras sampai membuat ketiganya melihat kepadanya.
"Aku sudah selesai." Cinta langsung pergi begitu saja. Tak kuat rasanya melihat kedekatan suaminya dengan wanita lain.
Amora tertawa dalam hati. Dia langsung berujar dengan pelan kepada Gion.
"sepertinya istrimu tak suka dengan kehadiran ku?"
"kenapa begitu? sudah jangan di pikirkan." Nita menyentuh tangan Amora. "kamu itu sudah melakukan hal yang benar. Jika saja kamu tak kembali mungkin sampai saat ini kami tak akan pernah tahu kalau wanita licik itu berselingkuh."
"aku sudah selesai." Gion langsung menyudahi makannya lalu pergi.
Nita dan Amora saling pandang.
"Tante, kemarin aku mendatangi pria itu dan memintanya untuk tidak mendekati istri Gion lagi. apa itu juga benar?" Tanya Amora.
"tentu saja. tapi seharusnya kamu jangan lakukan itu. biarkan mereka terus bertemu agar Gion cepat menceraikan Cinta. Lagipula wanita itu belum hamil juga sampai saat ini."
__ADS_1
Amora rasa akan banyak kesempatan untuk mendapatkan hati Nita dan Gion kembali. Dia ingin Gion seperti dulu, selalu memperhatikan dirinya. Dan Amora akan melakukan apapun untuk itu.
...****************...