
Gion memukul stir mobil dengan sangat keras. Kemarahannya semakin memuncak tatkala Cinta tak muncul juga. Pria itu yakin jika Cinta lebih memilih Ringgo sehingga tak menyusulnya. Dengan kemarahan yang begitu besar, Gion meninggalkan rumah sakit. Dia semakin yakin untuk menceraikan Cinta.
Sementara itu, Cinta tengah berbaring di ranjang pesakitan dengan gelisah. Resah dan takut dengan apa yang akan terjadi nanti kedepannya. Ingin sekali segera pulang tapi perutnya begitu sakit sehingga membuatnya harus tetap berbaring.
"Cinta, mas harus kembali. Susan sudah terlalu di tinggalkan. kamu tak apa kan sendirian?"
"iya mas. pergilah, kasihan Susan."
Ringgo pun pergi. Kini Cinta hanya sendiri, menunggu dokter memeriksa kandungannya. Hatinya cemas takut terjadi sesuatu pada bayi didalam sana.
Tak lama seorang dokter pun datang. Langsung memeriksa keadaannya. Cinta menelan ludahnya saat jemari dokter itu menyentuh perutnya.
"ibu hamil berapa bulan?" Tanya sang dokter.
"baru 4 Minggu Dok. apa yang terjadi, perut saya rasanya sakit sekali? bagaimana dengan bayi saya?" Terlihat jelas betapa cemasnya Cinta.
Dokter pun memeriksa lebih lagi. Memastikan keadaan sang bayi. Beberapa menit kemudian semuanya selesai. Senyum terbit di bibir dokter muda itu.
"tenang saja, bayi ibu baik-baik saja. ibu hanya mengalami keram perut karena terlalu tegang. mohon ya Bu, jangan sampai stres atau melakukan aktivitas berlebihan. Karena bisa berakibat buruk pada si janin." Jelas dokter itu.
Cinta menghela nafas lega. Bayinya baik-baik saja itu sudah cukup.
"terimakasih dokter."
"sama-sama Bu."
Cinta pun memutuskan untuk segera pulang setelah semuanya selesai. Pamit pada Ringgo dan bergegas pergi. Dia harus segera pulang untuk menyelesaikan kesalahpahaman yang terjadi. Gion tak boleh menceraikannya karena dirinya tengah hamil.
Gion tiba di rumah dengan marah. Masuk kedalam lalu duduk di kursi. Wajahnya merah padam menahan emosi.
"Gi, bagaimana? apa cinta baik-baik saja, kenapa dia di rumah sakit?" Amora rupanya sengaja menunggu Gion untuk mengetahui perkembangan cerita.
Padahal sudah jelas dia tahu segalanya. Karena orang suruhannya sudah melaporkan semuanya sedari tadi.
Gion mengepalkan tangannya. Rahangnya mengeras.
"keterlaluan sekali, Wanita itu benar-benar berselingkuh. Dia memeriksa kandungannya dengan ayah dari bayi itu." Seru Gion berapi-api.
Nita pun segera menenangkan Gion. Wanita paruh baya itu mengelus punggung sang putra.
__ADS_1
"sabar ya nak. ibu sudah ragu dari kemarin kalau anak itu adalah cucu ibu. benar saja keraguan ibu terjawab. kamu tak bisa diam saja, ceraikan dia secepatnya. ibu tak sudi melihat wajahnya lagi."
"aku akan melakukannya. Bi Minah..." Teriak Gion.
"i..iya pak." Bi Minah tergopoh-gopoh menghampiri Gion.
"bereskan semua baju Cinta sekarang dan ingat jangan ada bantahan apapun." Titahnya.
"baik pak." Bi Minah langsung pergi. Meski di dalam hati merasa tak tega.
Bi Minah merasa tak yakin dengan apa yang di dengarnya. Mana mungkin majikannya berselingkuh, Cinta terlihat begitu mencintai Gion. Bahkan wanita itu sama sekali tak terlihat licik atau apapun. Tapi, apa yang bisa dia lakukan selain menuruti perintah Gion.
Amora tersenyum senang melihat dua orang di hadapannya telah berhasil terhasut. Rencananya benar-benar berjalan dengan mulus.
"Tante, sebaiknya kita tanyakan dulu kebenarannya. siapa tahu itu hanya salah paham saja." Serunya, berusaha terlihat baik dengan membela Cinta.
Nita menghela nafas panjang. Menatap Amora dengan pandangan tulus.
"Amora, kamu masih berpikir kalau Cinta itu wanita baik-baik. kamu memang wanita yang berhati bersih sayang." Puji Nita. "andai saja kamu dan Gion bersama, Tante akan sangat bahagia."
Amora tersenyum puas mendengar penuturan itu. Jalan semakin terbuka lebar baginya.
...****************...
"Pak, berhenti di jalan rajungan." Seru Cinta.
"iya Bu."
Taksi berwarna kuning putih itu melesat membelah jalanan yang ramai. Cinta berdoa semoga semua baik-baik saja, masalahnya dengan Gion tak berkepanjangan. Cinta akan menjelaskan semuanya pada suaminya. Kalau bisa Cinta akan meminta Ringgo ikut menjelaskan nanti. Dia tak tahu jika di rumah saat ini, barang-barang miliknya telah di masukan kedalam koper besar.
Bi Minah menyeretnya keluar dari kamar lalu meletakkannya di tepat di depan Gion.
"sudah semuanya pak."
"bagus." Gion beranjak dari duduknya, menyeret koper besar itu keluar lalu melemparnya begitu saja.
Bi Minah hanya bisa diam menyaksikan semuanya. Nita dan Amora merasa puas karena Gion melakukan hal benar menurut keduanya.
Bertepatan dengan itu, taksi yang di tumpangi Cinta pun tiba. Dengan cepat Cinta membayar ongkos lalu berlari menuju halaman rumahnya.
__ADS_1
"mas Gion, apa yang kamu lakukan mas?" Serunya melihat Gion melemparkan koper miliknya ke halaman.
"Masih ingat pulang. aku pikir kamu akan menginap di hotel atau pulang kerumah pria itu untuk melepas rindu."
"mas, kamu salah paham. hubungan ku dengan mas Ringgo tak seperti yang mas pikirkan." Sangkal Cinta apa adanya.
Gion mengibaskan tangannya di depan wajah Cinta. Pria itu benar-benar sudah tertutup hatinya.
"Mulai detik ini kamu bukanlah istriku. Rumah tangga kita berakhir sampai disini. Aku talak kamu Cinta."
Duar...
Cinta terpaku di tempatnya. Dunianya terasa hancur mendengar penuturan Gion yang dengan lancarnya mengucapkan semua itu. Tubuhnya terduduk di tanah, airmatanya berurai tanpa bisa di bendung lagi.
"mas... kamu, kamu tak serius kan dengan ucapan mu?" Tanya Cinta gemetaran.
Gion menatap tajam Cinta. Tak ada rasa ragu di hatinya karena kemarahannya. Gion pun masuk kedalam tanpa memperdulikan Cinta yang kini menangis memohon padanya.
Nita dan Amora merasa puas. Keduanya mengikuti Gion dengan cepat masuk kedalam.
"Mas, aku bersumpah demi bayi ini. Tak pernah aku melakukan hal buruk di belakangmu. Aku bersumpah, tak akan memaafkan mu, keraguan dan kesalahan mu kali ini tak akan aku lupakan." Jerit Cinta.
Gion menghentikan langkahnya. Hatinya mendadak resah mendengar itu.
"jangan kamu dengar, wanita itu terlalu licik." Seru Amora.
Gion memejamkan matanya, mencoba untuk tidak ragu dengan keputusannya. Nita pun meyakinkan Gion kalau keputusan nya sudah benar.
Cinta menghapus airmatanya yang berderai. Dia tak akan melupakan hal ini. Rasa sakit atas apa yang telah Gion lakukan akan di ingatnya sampai kapanpun. Pria itu menudingnya tanpa sebab dan meragukan cintanya. Tak ada rasa percaya dari pria itu membuat Cinta merasa sakit hati.
Bi Minah menghampirinya. Dengan perlahan membantu Cinta berdiri.
"Bu, maafkan bibi ya. Bibi tak bisa membantu ibu." Serunya ikut meneteskan airmata.
"tak apa bi. Aku akan pergi, jaga diri bibi ya."
Bi Minah tak kuasa menahan rasa sedihnya. Wanita sebaik Cinta telah di perlakukan tak adil seperti ini.
Cinta menarik kopernya dengan perasaan hancur. Tak ada pilihan lain selain pergi jauh dari rumah ini. Gion telah mengucapkan kalimat talaknya dengan sangat jelas. Cinta pun tak akan memohon pada pria itu, karena dia yakin percuma saja.
__ADS_1
Pilihannya kali ini hanya kembali kerumah Abah Idan. Tak ada lagi tempat yang bisa di tuju nya selain rumah masa kecil nya itu.
...****************...