Cinta Yang Di Abaikan

Cinta Yang Di Abaikan
Bab 3


__ADS_3

Seminggu berlalu, hubungannya dengan Gion semakin buruk saja. Pria itu bertambah dingin selalu berkata dengan menyakitkan. Seperti pagi ini misalnya, Cinta telat bangun karena merasa kurang sehat. Tapi Gion tak peduli akan itu.


Pria itu memaksanya untuk bangun dan membuatkan sarapan.


"tapi mas, aku pusing." Seru Cinta seraya memijat pelipisnya.


"jangan banyak alasan, akhir-akhir ini kamu selalu beralasan saja. buatkan kopi hitam dan roti bakar." Titahnya dengan kasar, menarik kasar tangan Cinta agar bangun dari tidurnya.


Hal itu membuat kepala Cinta yang sakit semakin berdenyut saja. Cinta memejamkan matanya erat menahan rasa pusing yang begitu hebat.


"Kenapa kamu menjadi malas akhir-akhir ini? apa karena seseorang." Celetuk Gion.


Kening Cinta mengerut. Gion selalu berkata seperti itu kepadanya hampir setiap hari.


"mas, sebenarnya kamu kenapa? kamu selalu mengatakan karena seseorang. apa maksudmu?" Tanya Cinta tak mengerti.


Gion mendengus. Sungguh merasa jijik dengan sikap Cinta yang menurutnya sok polos itu. Dia mencengkram rahang Cinta erat sehingga membuat istrinya meringis kesakitan.


"aku tahu segalanya. Jadi, jangan harap bisa bermain sesukamu." Desisnya lalu mendorong tubuh kecil Cinta begitu saja.


Cinta terhuyung. Perbuatan Gion sudah di luar batas. Tak biasanya Gion berlaku kasar.


"apa maksudmu mas. aku sama sekali tak mengerti, permainan apa yang kamu maksud."


Cinta menangis pilu. Hubungannya dengan Gion seperti di neraka saja. Tak ada lagi kalimat manis yang pria itu lontarkan. Hanya bentakan dan cacian saja yang Gion berikan padanya akhir-akhir ini. Cinta menghapus airmatanya, dia tak boleh lemah. Harus kuat dan mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi sehingga membuat Gion berubah seperti ini.


Semenjak kehadiran Amora di kehidupan mereka, Gion menjadi berubah. Cinta sadar akan itu, tapi apa iya Amora penyebab segalanya. Wanita itu tak pernah menunjukan hal buruk sedikitpun bahkan Amora selalu memberikan semangat kepadanya ketika Gion memarahinya. Amora juga selalu membela Cinta di saat Nita merundungnya soal kehamilan. Wanita itu begitu baik, Cinta tak yakin jika Amora menjadi penyebab berubahnya sikap Gion.


"Cinta, aku hampir kesiangan dan kamu masih diam saja." Teriak Gion dari ruang tamu.


Cinta pun langsung berlari kearahnya membawa secangkir kopi dan roti bakar. Ia letakkan semuanya di depan Gion.


"Aku sudah tak berselera. Kamu sepertinya mulai bosan tinggal bersamaku. apa karena orang itu? kamu ingin tinggal bersamanya?"


"apa maksudmu mas. seseorang dan orang itu, apa maksudmu. aku sama sekali tak mengerti. kamu seolah menuduhku berselingkuh."


Gion menggebrak meja makan dengan keras sehingga kopinya pun tumpah. Pria itu menatap Cinta dengan marah.

__ADS_1


"ya, kamu memang berselingkuh. aku bodoh karena telah terperdaya oleh mu selama ini."


"apa yang kamu katakan mas. aku tak melakukan hal buruk itu. jadi, mas menuduhku seperti itu? apa jangan-jangan mas sendiri yang berselingkuh?"


Plak...


Gion langsung menampar Cinta dengan keras. Wanita itu tak menyangka jika Gion akan melakukan hal itu. Dengan terkejut Cinta menyentuh pipinya begitu pula Gion, ia pun terkejut dengan apa yang baru di lakukannya.


"aku... Cinta kamu tak apa?" Gion hendak menyentuh pipi Cinta.


"kamu tega mas." Cinta menepis tangan Gion lalu berlari menuju kamarnya. Cinta menangis keras di dalam sana.


Gion menatap tangannya tak percaya. Dia baru saja menampar istrinya. Ingin sekali mengejarnya dan meminta maaf tapi keegoisan dan rasa curiganya membuat Gion urung melakukan itu. Dia merasa jika apa yang di lakukannya memang pantas.


Gion pun memutuskan untuk tak peduli dan memilih berangkat kekantor.


...**************...


Amora tersenyum senang karena berhasil membuat Ringgo percaya. Dia bersyukur waktu itu bisa memergoki Ringgo dan Cinta di cafe tengah berbincang, dengan cepat dia memotretnya lalu melaporkan hal itu kepada Gion juga Nita. Bahkan Amora mengarang cerita agar Gion semakin yakin jika keduanya memiliki hubungan khusus. Amora merasa kepulangannya tak sia-sia.


"Kamu bisa bekerja sebagai OB, tak masalah bukan?" Tanya Amora meyakinkan Ringo. Setelah sebelumnya mencari tahu apa pekerjaan pria itu dia pun langsung bertindak.


Berpura-pura seolah dirinya tengah mencari tenaga kerja di kantor. Ringgo yang memang hanya sebegitu tukang pasar pun langsung tergiur apalagi saat mendengar gajinya yang cukup lumayan. Dia pasti tak akan menolak, demi Susan. Dia harus lebih giat lagi bekerja.


"tak masalah. tapi apa benar, Cinta yang memintamu untuk melakukan ini?" Tanya Ringgo, tiba-tiba merasa tak yakin saat ingat jika wanita inilah yang menemuinya dan mengancamnya waktu itu.


"iya. kamu tenang saja. aku juga minta maaf waktu itu, aku pikir kamu seseorang yang bisa merusak rumah tangga sahabat ku." Amora bersikap seperti orang yang baik.


Ringgo menganggukkan kepalanya.


"jadi, hari ini kamu bisa mulai bekerja bukan?"


"iya bisa."


"bagus. ikut dengan ku saja." Tawar Amora.


Ringgo pun naik kedalam mobil Amora. Pria itu tak curiga sama sekali dengannya. Yang ada di pikirannya hanya tentang pekerjaan saja. Amora bersorak dalam hati, dengan begini Gion akan semakin percaya padanya.

__ADS_1


Amora akan membuat Ringgo tak bisa berucap sepatah katapun nanti. Rencananya untuk memisahkan Gion dan Cinta harus berjalan dengan lancar tanpa ada kegagalan sedikitpun.


Di kantor Gion sudah gelisah menunggu kedatangan Amora. Dia tak sabar ingin segera melihat seperti apa pria yang telah membuat Cinta berpaling darinya. Jika dia lebih darinya maka Gion mungkin akan merasa kalah.


Tok...Tok...


Ketukan pintu membuat Gion langsung berhenti dari acara mondar-mandir nya. Pria itu langsung duduk di kursinya.


"masuk!" Serunya.


Ceklek....


Pintu terbuka. Amora masuk kedalam dengan seseorang di belakangnya. Gion mengepalkan tangannya saat melihat wajah Ringgo. Dia ingat dengan foto yang di berikan Amora waktu itu. Pria inilah yang ada di foto itu.


"Gion, aku membawanya. kamu bisa mengintrogasi nya sendiri." Ucap Amora.


"Tinggalkan kami berdua." Titahnya pada Amora.


Ringgo merasa aneh karena tiba-tiba saja Amora tersenyum sinis kearahnya lalu berujar.


"katakan dengan jujur atau hidupmu akan hancur." Perkataan Amora membuat Ringgo tak mengerti.


Gion berdiri lalu mendekati Ringgo. Matanya menelisik penampilan Ringgo yang menurutnya sungguh tak menarik sama sekali. Pria ini hanya memakai kaos oblong dengan celana jeans tak bermerk. Merasa lucu karena saingannya begitu buruk.


"berapa lama kamu mengenal Cinta?" Tanya Gion.


Ringgo langsung mengangkat wajahnya. Dia tak pernah melihat seperti apa wajah suami Cinta. Yang dia tahu dari Abah Idan, jika suami Cinta seorang pria kaya pemilik perusahaan. Mungkin pria ini suaminya, pikir Ringgo.


"Aku mengenalnya dari kecil. kami tumbuh bersama." Jawaban Ringgo membuat Gion tertawa sarkas.


Jadi ada hal seperti ini. Gion tak pernah tahu itu, karena Cinta memang tak pernah mengatakannya. Asumsinya tentang kedekatan keduanya semakin besar saja.


"hubungan kalian sedekat apa?"


Ringgo mengerutkan keningnya. Sebenarnya dia sedang di wawancara untuk bekerja atau apa, kenapa pertanyaannya seperti itu.


...*****************...

__ADS_1


__ADS_2