
matahari sudah mulai terlihat dari ufuk timur,
cahayanya yang keemasan seperti memba a harapan yang indah bagi mahluk hidup yang ada di bumi ini.
suara kicau burung terdengar merdu di telinga bersahutan,itu adalah suara burung peliharaan Bastian di dalam sangkar .
selain anak yang manja ia juga merupakan penyayang hewan.
nyanyian tembang kenangan terdengar dati radio butut milik pak Rohmat,suami mbok Jum,sesekali terdengar wanita paruh baya itu turut menyanyi mengikuti tembang daerah itu.
Abul memasak atau mengerjakan pekerjaan rumah tangga.
bunga yang sudah bangun dari tadi ,ia sangat bersemangat jika mendengar wanita itu menyanyi,karena dengan begitu rasa rindunya kepada ibunya di kampung sedikit terobati.
karena ibunya juga sama seperti mbok Jum jika tengah adik bekerja ia melantunkan tembang dengan bahasa daerah mereka.
setelah membereskan tempat tidur,ia berjalan menuju dapur,rasa lapar yang sedari tadi.malam mendera membuatnya tak bisa terus tidur walaupun tubuhnya lemah,ia berusaha bangkit dan berjalan ke arah dapur.
melewati ruang tengah,bunga memandang ke arah kamar tamu ,pintu kamar itu masih tertutup rapat,
"mungkin mereka kelelahan karena bercinta semalaman,biarlah mereka mau melakukan
apa saja,aku harus kuat dan pura pura tak peduli,yang penting mereka tidak mengusik aku dan bayi yang ada dalam kandungan ku"
ucap bunga pelan ,seakan ia berbicara pada dirinya sendiri.
tanpa sadar air matanya menetes,memikirkan perilaku suaminya,baru tiga bulan pernikahan,tapi tingkahnya sudah di luar batas kesabaran.
bunga kini sudah masuk ke ruang dapur,ia segera menemui mbok Jum,wanita paruh baya itu tengah asyik menyanyikan tembang tanpa menyadari kedatangan majikannya,terkejut saat melihat bunga sudah ada di sampingnya.
"walah , non bunga,ngapain ke sini non,non kan masih lemah ,belum kuat jalan,,,?"
ucapnya dengan logat khas Jawa timur,ia sangat sabar,dan penyayang,bagi nya bunga bukan hanya sebagai majikannya tetapi ia sudah menganggap bunga sebagai anak kandungnya sendiri,walaupun mbok Jum sadar diri,kalau dirinya tidak bisa punya keturunan.
__ADS_1
bunga hanya tersenyum,melihat wanita paruh baya yang ia anggap sebagai ibunya sendiri.
"mbok,aku masih bisa jalan sendiri,gak usah khawatir,aku gak apa apa,,"
ucapnya lemah,,
mbok Jum segera mematikan api kompor,dan mengajak bunga ke ruang makan,
"sini non bunga duduk dulu , mbok sudah siapin sarapan buat non ,ayo,,,"
"iya bik,ayo kita sarapan sama sama,,"
ajak bunga,kepada mbok Jum dan suaminya,karena
selama tinggal di rumah ini,bunga hanya makan di temani mbok Juminah dan pak Rohmat,setiap hari selepas kuliah biasanya rumah ini sangat sepi,ia hanya bertiga dengan asisten rumah tangga mereka.
sementara Bastian ,tidak pernah sekalipun makan bersama dengan dirinya,bunga tau Bastian sudah banyak berubah,tidak seperti Bastian yang ia kenal dulu,tapi bunga cukup tau diri,selama ini ia tidak pernah mempertanyakan hal apapun pada Bastian walaupun status mereka sebagai suami istri.
karena bagi bunga,jika Bastian cukup sadar diri bahwa ia punya tanggung jawab sebagai seorang suami,maka ia harus sadar diri dan melakukan tugasnya sebagai mana mestinya.
setelah semua yang terjadi,bunga hanya pasrah dan berharap yang terbaik.
lamunan bunga terhenti seketika,saat mbok Juminah mempersilahkan dirinya makan,akan tetapi,bunga bersikeras mengajak kedua suami istri itu makan bersama dengan dirinya.
saat mereka tengah asyik makan ,terdengar pintu kamar tamu terbuka,langkah kaki terdengar menuju ruang makan.
"woow,sayang,,aku paper banget,,kenapa para pembantu bisa makan di meja makan?
tanpa permisi keluar ucapan tak menyenangkan dari mulut perempuan dengan dandanan menor,dan baju kekurangan bahan ,berbicara dengan suara keras.
mereka bertiga ,bunga dan mbok Jum serta suaminya seketika mengangkat wajahnya,mendengar hal itu.
"mari silahkan makan non,ayo,,,"
__ADS_1
ucap mbok Jum,serta Merta ia berdiri begitu juga suaminya,sambil memegang piring mereka masing masing yang masih penuh baru sedikit saja tersentuh.
bunga,tetap diam dan melanjutkan makannya,ia seakan tak.mendengar ucapan gadis itu,bahkan Bastian yang berdiri di sampingnya seakan tak memperdulikan istrinya,ia seperti tengah menyembunyikan istrinya.
wanita itu menatap tak percaya ke arah bunga yang tengah makan ,ia juga menatap ke arah perut bunga yang mulai membesar.
"hei kamu,,apa kamu punya telinga,,,saya bilang sama kamu, segera ke dapur ,saya mau makan di sini,bersama majikan kamu,,!!"
sambil berkacak pinggang ia memarahi bunga yang tengah makan,dengan malas bunga ,segera mengangkat piringnya menuju ke arah dapur,ia kini sudah bergabung dengan mbok Juminah dan suaminya,mereka tengah makan di meja makan yang terletak di dapur.
Bastian sebenarnya merasa tidak enak hati melihat bunga di perlakukan seperti itu,apalagi dalam keadaan hamil.
tapi ia juga tidak berani bicara menghentikan tingkah kekasihnya, Louis Adelle,ia takut jangan sampai rahasianya yang sudah berstatus menikah terbongkar ke ibunya,karena selama ini yang di kenal oleh ibunya sebagai pacarnya ,satu satunya hanyalah Louis seorang.
"udah dong beb,marah marahnya,ayo kita makan,"
"siap sih tuh orang,perempuan itu simpanan kamu ya,,,kok kayak ngelunjak di rumah ini!!?
ucap Louis kesal menatap Bastian tidak percaya.
"mana mungkin dia selingkuhan apalagi simpanan aku,nggak lah ,dia itu anak pembantu aku"
"oh,cuma anak pembantu,belagu amat sih,,makanya kamu juga jangan di biasakan jadi ngelunjak kan!"
ucapan itu tampak seperti sebilah pisau menyayat hati bunga,bagaimana tidak mereka berbicara semua terdengar jelas olehnya,airmata menetes perlahan dari pipinya,ia tak.menyangka begitu hina dan rendah dirinya sehingga suaminya sendiri malu mengakui akan dirinya sebagai seorang istri yang tengah mengandung.
melihat bunga menangis,mbok Jum menghapus airmatanya,ia sangat sedih melihat majikan yang sudah di anggapnya seperti anak sendiri menangis karena ulah majikannya Bastian.
tapi apa mau di kata ,mereka.hanya bisa menghibur gadis itu.
"udah non jangan sedih,masih ada mbok Jum dan bapak,kami akan selalu mendampingi non apapun yang terjadi.."
"iya non bunga,jangan sedih ya,bapak juga sudah menganggap non bunga seperti anak sendiri,jadi kami akan selalu ada buat non bunga"
__ADS_1
bunga menghapus airmatanya,ia ikut merasa lega,karena di rumah ini masih ada orang yang peduli dengan dirinya.
selesai makan,bunga segera menuju ke kamarnya,ia sudah tidak menghiraukan Bastian dan Louis yang tengah berduaan di ruang tamu,bunga menganggap mereka seperti tak terlihat,ia dengan cepat masuk ke dalam kamar dan menutup pintu kamar.