
Episode ๐๐ฎ๐ผ๐ช๐ฝ๐พ
๐๐ช๐น๐น๐ ๐ก๐ฎ๐ช๐ญ๐ฒ๐ท๐ฐ...
...****************...
Di sebuah mansion milik keluarga Vi Elly, terdengar suara seseorang yang sedang bertengkar di dalam mansion tersebut.
Tiba-tiba saja terdengar suara dari salah satu mereka yang berteriak "kamu harus nurut apa kata mamah!?" ternyata itu adalah suara sang mamah seorang Silviana yang sedang marah kepada anaknya tersebut.
"Tapi mah aku nggak cinta dia mah" dengan berani nya Silviana melawan sang mamah.
"Kamu" PLAKK!! tanpa sadar sang mamah menampar anaknya ya itu adalah Silviana.
Silviana yang mendapatkan tamparan tersebut tidak bergerak dan tidak bisa berkata kata, situasi seorang Silviana sekarang bak patung, setelah mendapatkan tamparan itu Silviana pun tidak berbicara lagi.
Walaupun tamparan itu meleset sedikit tetapi tetap saja seorang Silviana masih merasakan perihnya tamparan dari sang mamah.
"Mah, mamah nampar anak mamah demi semua itu" ucapnya sambil menahan air mata yang akan jatuh dan berusaha menahan rasa sakit yang di dapatnya.
"Mamah mohon nak, kamu harus menikah dengannya" sambil memohon kepada anaknya yaitu Silviana.
"Tapi mah.... aku nggak cinta dia mah" kemudian langsung saja Silviana menangis diiringi sesenggukannya.
"Mamah mohon nak sama kamu..." kemudian sang mamah terus saja memohon kepada Silviana anaknya.
"Baik, aku akan Terima pernikahan ini" dengan terpaksa nya Silviana menerima pernikahan tersebut dan juga diiringi air mata yang terus mengalir di pipi mulusnya.
Selang berapa menit.
TIN.... TIN....
Suara mobil terdengar dan membuat Silviana melihat ke arah pintu, dengan berharap nya Silviana dia berharap bahwa itu adalah papahnya yang dapat menolongnya.
Dan benar saja yang datang dari balik pintu adalah papah nya, dengan cepatnya Silviana menghampiri pintu tersebut dan memeluk papahnya.
"Pah... apa Nadya harus menerima pernikahan ini" tanya Silviana yang masih menangis sesenggukan, kemudian papah nya Silviana mengelap air mata Silviana, dan mengatakan.
__ADS_1
"Maafkan papah nak, jika kau tidak menerima pernikahan ini kita akan tinggal di pinggir jalanan nak" sang papah kemudian ikut meneteskan air mata, dengan wajah lesu Silviana pun kemudian menjawab.
"Baiklah aku akan menerima pernikahan ini" ia menjawab dan memantapkan suaranya juga berusaha untuk tidak menangis sesenggukan lagi dan ia juga berusaha agar wajah lesu nya tak terlihat lagi, namun tetap saja masih terdengar suara sesenggukan dan wajah lesunya juga masih terlihat dari seorang Silviana.
"Baiklah nak pergilah ke atas, dan beristirahat lah kemudian besok kau akan dipertemukan oleh pasangan yang akan dinikahkan dengan mu" sang papah kemudian mengatakan hal tersebut sambil mengelus kepala anaknya Silviana.
"Apa pah.... besok pah..." dengan wajah terkejutnya Silviana memandang wajah sang papah.
"Maafkan kedua orang tua mu ini nak, maaf kan mamah dan papah nak... hiks" kemudian sang mamah pun memeluk erat anak nya, dan juga sang papah ikut memeluk erat anak semata wayangnya yaitu Silviana.
"Hiks... baik aku akan menerima pernikahan ini..." dengan berat hati Silviana meng iyakan kehendak kedua orang tuanya.
"Sudah dirimu perlu istirahat nak, pergi lah ke atas dan ke kamar mu nak" ucap sang papah sambil mengelus kepala sang anak.
_Di pagi hari_
Dua hari yang lalu semua pembantu di pulangkan dengan alasan keluarga ini bangkrut dan tidak akan bisa membayar mereka lagi, di karenakan itu lah sang mamah yang sudah sibuk di pagi hari dan membuat sarapan di pagi hari untuk keluarga kecilnya.
Setelah selesai membuat sarapan sang mamah kemudian naik ke atas dan berniat membangunkan anak nya silviana, kemudian sang mamah mengetuk pintu kamar dan masuk setelah tidak ada sahutan dari sang anak.
Ternyata Silviana masih tertidur " nak bangun.. ini sudah pagi "sang mamah kemudian membangunkan Silviana yang tengah tertidur lelap,
"Ayo nak bangun, beberapa jam lagi mereka akan datang, kamu harus cepat bersiap siap nak..." mengatakan hal tersebut sambil duduk di pinggir ranjang tidur anak nya, dan mengelus kepala anaknya Silviana dengan kasih sayang.
"Iya mah, kalo gitu aku mau mandi dulu ya" kemudian, Silviana bangkit dan ingin menjauh dari tempat tidur dengan tujuan ke kamar mandi, tiba tiba sang mamah memanggil anaknya Silviana dan memberikan sebuah obat oles untuk nya.
"Ini oleskan pada luka mu yang ada di pipi mu itu nak..." mengatakannya pada anaknya sambil memberikan obat oles tersebut, dan mengelus pipi anak nya yang sedikit terluka akibat kejadian yang terjadi tadi malam.
"Baik mah..." kemudian Silviana berjalan lagi menuju kamar mandi, kemudian menutup pintu kamar mandi.
"" Maafkan mamah nak, jika saja hal itu tak terjadi kau pasti tidak akan merasakan ini "" mengatakan itu di dalam hatinya dan beranjak turun untuk meninggal kan kamar sang anak, kemudian menuju dapur.
*Di kamar mandi*
"" Asalkan mamah dan papah bahagia Nadya akan relakan semua yang Silviana sayang kecuali kalian berdua "" mengatakan hal tersebut sambil mengoles obat di pipi nya.
Kemudian Silviana melanjutkan nya dengan mandi, di sisi lain di sebuah ruangan yang gelap.
*Di ruangan yang gelap*
__ADS_1
"Pah... mamah gak tega liat Viana anak kita pah..." ternyata mamah tidak langsung menuju dapur melainkan ke sebuah ruangan yang gelap.
"Mau gimana lagi mah, kalo nggak di laksanakan pesan tersebut bisa saja..."
"Iya mamah tau kok pah..."
"Ya udah sekarang kita tunggu aja kedatangan mereka"
"Ya udah pah, mamah mau ke dapur nyiapin sarapan buat Viana"
"Punya papah juga siapin loh"
"Iya iya papah..."
Kemudian sang mamah sudah selesai menyiapkan sarapan untuk keluarga nya, dan sang mamah kemudian ke atas menuju kamar anaknya untuk menyuruh nya sarapan di bawah.
Di depan kamar Silviana
tok.. tok.. tok..
"Masuk aja mah, gak Silviana kunci kok" ucap Silviana sambil mengeringkan rambut nya yang basah.
"Mamah masuk yah..." ucap mamah sambil masuk ke dalam kamar Silviana.
"Sini mamah bantuin kamu ngeringin rambut kamu yang basah itu" mengambil handuk yang ada di tangan Silviana, dan mengeringkan rambutnya.
*Selesai mengeringkan rambut Silviana*
"Kamu mau pake baju apa sayang" menuju lemari dan hendak mengambilkan baju untuk anaknya Silviana.
"Viana ambil sendiri aja mah, mamah sama papah di bawah aja sambil nungguin keluarga axel dateng" sebenarnya Silviana masih ingin sendiri untuk menenangkan nya dari semua kejadian yang sudah terjadi.
"Ya udah nanti mamah panggil kamu untuk turun kalo mereka sudah datang ya nak" berjalan menuju pintu kamar dan akan ke bawah menyusul sang papah yang sudah ada di bawah menunggu sang mamah untuk turun tepatnya itu di ruang tamu.
_ _ _ _ _ _ _ _
๐๐จ๐ก๐จ๐ง ๐๐ฎ๐ค๐ฎ๐ง๐ ๐๐ง๐ง๐ฒ๐ ๐ฒ๐, ๐ฃ๐๐ง๐ ๐๐ง ๐ฅ๐ฎ๐ฉ๐ ๐ญ๐ข๐ง๐ ๐ ๐๐ฅ๐ค๐๐ง ๐ฃ๐๐ฃ๐๐ค ๐ฌ๐๐ฉ๐๐ซ๐ญ๐ข ๐ฅ๐ข๐ค๐, ๐ค๐จ๐ฆ๐๐ง.
๐๐ข๐ง๐ญ๐ ๐ ๐ข๐๐ง๐ฒ๐ ๐ฃ๐ฎ๐ ๐ ๐ฌ๐๐ค๐๐ฅ๐ข๐๐ง ๐ญ๐๐ฆ๐๐๐ก ๐ค๐ ๐๐๐๐ญ๐๐ซ ๐๐๐ฏ๐จ๐ซ๐ข๐ญ ๐ค๐๐ฅ๐จ ๐ฌ๐ฎ๐ค๐ ๐ ๐โ๐
__ADS_1
***Bersambung***