
Episode Kesembilan
๐๐ช๐น๐น๐ ๐ก๐ฎ๐ช๐ญ๐ฒ๐ท๐ฐ...
...****************...
" APA MAKSUD MU HAH!!? " teriak dari dalam sana yang membuat ku ingin berdecak tetapi karena ada calon istriku yang cantik ini aku tak akan mengeluarkan decakan tersebut.
_ _ _ _ _
๐๐ฑ๐ช๐ด๐ฐ๐ฅ๐ฆ ๐ด๐ฆ๐ฃ๐ฆ๐ญ๐ถ๐ฎ๐ฏ๐บ๐ข...
Aku pun melewatinya begitu saja karena aku tahu siapa dia, malas sekali ingin melihatnya aku pun melanjutkan jalanku untuk naik ke atas menggunakan lift.
Aku tak peduli bagaimana dia mereog didepan sebuah gaun yang terpajang sempurna didepan matanya itu.
Rencana ku untuk di lift yang sama dengan calon istri ku itu gagal total akibat mamahku, aku pun hanya pasrah dengan kegagalan yang terjadi padaku walaupun aku melawan sang mamah tetap saja pasti tidak akan bisa.
TING... / TING...
Sampailah sudah di lantai atas, aku pun langsung melangkah keluar dari dalam lift, terdengar suara bisik bisikan dari para karyawan yang ada di lantai atas ini, yang kudengar mereka semua berbisik memuji ku dan calon istriku itu, lantas aku pun sedikit tersenyum sekilas.
__ADS_1
" Keluarkan semua gaun yang terbaik yang telah kalian rancang sebelumnya!?โ "
Entah kenapa setelah aku memperbaiki ekspresi ku dari senyum sekilas yang tadi dan setelah mengeluarkan kata-kata tersebut suasana menjadi sedikit aneh dan kulihat para karyawan yang ada disitu mematung sebentar, aku pun hanya acuh tak acuh.
Ketika para karyawan mengeluarkan gaun rancangan mereka aku pun memantau semuanya sambil duduk di sebuah kursi yang ada dekat para karyawan itu, tiba-tiba aku pun merasa ada yang berdiri di samping ku, ternyata setelah ku lirik dan kulihat itu adalah calon istriku.
Aku yang tak tega melihatnya berdiri pun langsung menyuruh dan mengatakan.
" Duduklah sayang, pasti dirimu lelah berdiri terus " setelah aku mengatakan hal tersebut jujur saja aku menyadari para karyawan ku sempat mematung tak percaya ketika aku mengatakan hal tersebut.
" Tidak apa-apa pak saya berdiri saja " aku pun yang masih mendengar kata " pak " yang baru saja di katakan oleh calon istriku sendiri pun hanya bisa bersabar.
Ku dudukan dirinya di sebuah sofa yang berbeda dari sofa kedua orang tua ku dan kedua mertuaku sofa, di sofa tersebut sudah ada sahabatnya langsung saja ku turunkan dirinya di sofa tersebut.
"Kamu duduk saja disini " langsung saja aku pergi meninggalkan mereka berdua menuju karyawan karyawan ku yang tadi.
" Kan Viana mau liat doang pak!!? gak boleh ya?! " ingin rasanya ku cubit pipinya yang gembul akibat kekesalannya terhadap diriku.
Masih kudengar suara yang berasal dari mereka berdua walaupun aku sudah sedikit menjauh dari sofa tersebut, sedikit membuatku senang karena akhirnya bisa melihat lagi seorang Silviana Elliyana Nadya yaitu tunanganku sejak kecil yang telah berpisah setelah kejadian beberapa tahun yang lalu.
Ku sibukkan diriku dengan beberapa karyawan yang mengeluarkan gaun mereka jika tidak aku tidak akan bisa menahan rasa untuk mencubit pipi calon istriku itu.
__ADS_1
" Calvin kamu sibuk terus sih, sini dong ambilin mamah air transparan " beberapa menit kemudian mamahku menyuruhku mengambil air transparan.
Aku pun langsung bingung namun setelah aku melirik ada salah satu karyawan ku yang kurasa dirinya paham apa yang maksud mamah ku itu, kulihat salah satu karyawan ku itu langsung berdiri dan langsung menuju meja kecil yang ada dipojok dan langsung mengambil gelas yang berisi air putih itu.
" Bilang aja air putih mah, kenapa harus air transparan " aku pun langsung sedikit protes pada mamah karena bisa saja mamah ku bilang air putih langsung.
" Makanya kamu itu harus gaul dikit di sosmed jangan sama kertas mulu yang kamu kerjain " aku pun yang mendengar perkataan mamah mencoba protes dengan perkataan sang mamah tersebut.
" Calvin kan lagi kerja loh mah " pekerjaan pun membuat ku menjadi alasan untuk protes pada sang mamah.
Kulihat para karyawan sedang menahan tawa mereka akibat ekspresi yang kubuat tadi, membuat ku sedikit kesal.
_ _ ๐๐ฌ๐ฉ๐ช๐ณ ๐ฑ๐ฐ๐ท_ _
Silviana merasa malu karena terus dipuji oleh para karyawan dan kedua mamah papahnya tersebut yang ada disitu.
Selang beberapa jam, semua yang diperlukan dan di lakukan di butik telah selesai dan saatnya pulang, sebelum pulang semuanya telah makan siang di restoran milik sahabatnya Silviana, Reyna.
Reyna adalah anak kedua dari keluarga yang cukup terkenal di negara ini memiliki beberapa cabang restoran yang telah berdiri dan telah berjaya, sekitar 500 cabang semuanya adalah milik keluarga Vireya, selang beberapa menit Silviana dan sahabatnya itu serta kedua orang tuanya itu telah sampai di rumah besar.
***Bersambung***
__ADS_1