
Episode ke enam belas
ย
...........๐๐ช๐น๐น๐_๐ก๐ฎ๐ช๐ญ๐ฒ๐ท๐ฐ...........
...****************...
".... menggemaskan" dan langsung pergi dari tempat itu.
__๐๐น๐ฒ๐ผ๐ธ๐ญ๐ฎ ๐ข๐ฎ๐ซ๐ฎ๐ต๐พ๐ถ๐ท๐๐ช__
Pelarian Silviana dari lantai atas berhasil dan sedikit lagi dirinya mampu sampai di pintu keluar dari rumahnya sendiri namun tiba-tiba.
"Sayang kamu mau kemana pagi pagi gini, sarapan dulu"
"E-eh... mamah ya, gini mah kan Viana itu punya banyakkk banget tugas kuliah yang Viana tinggal jadi Viana mau ngejar pelajaran itu, hehe boleh ya mah." sambil merentangkan tangannya sendiri dan memperagakan banyaknya tugas.
"Hah iya boleh, jangan lama lama pulangnya soalnya mamah mau ngasih tau kamu sesuatu... penting ini jangan dilupain."
"Kenapa gak sekarang aja mah, mumpung Viana masih disini ka--" sang mamah langsung memotong perkataan Silviana.
"Udah intinya kamu pulang aja yang cepat, jangan lama-lama udah gitu aja sana biar cepat pulangnya. "
"Oke-oke mah, bye mamah ku, Muah" sambil melayangkan ciuman jauhnya, mamahnya pun menggeleng gelengkan kepalanya melihat tingkah laku anaknya yang tak berubah.
Disisi lain di sebuah ruangan ada seseorang yang berdiri disamping jendela yang sedang memperhatikan kepergian Silviana dengan sedikit khawatir ia pun menelpon seseorang.
Drtt!
Drtt!
Drtt!
"Jaga dia" dengan suara dingin dan langsung memutuskan sambungan telepon itu.
Di sisi lainnya...
Brum?!... Brum?!... Brum?!...
Silviana sedang mengendarai mobilnya dengan kecepatan maksimal.
Meleset dengan sempurnanya dan tibalah dirinya di rumah sahabatnya itu, hanya dengan 20 menit dirinya sampai, akhirnya ia bisa bernapas lega karena akhirnya ia bisa keluar dari rumahnya sendiri.
Ting...Tong...
Bel pertama tak mendapatkan apa apa hingga akhirnya...
Ting...Tong...
__ADS_1
Ting...Tong...
Ting...Tong...
Ketiga kalinya Silviana menekan tombol bel, hingga akhirnya.
Ceklek!
"Ternyata lu Viana, pantesan" 'gak ada akhlak' karena takut terjadi apa-apa maka sahabatnya itu hanya mengatakan dalam hatinya.
"Harghhh!! tau gak sih tadi pas di rumah gw hishhh gemes banget tau gak" tanpa ba-bi-bu seorang nona muda Silviana Ellyana Nadya menyelonong masuk.
Tanpa menghiraukan tuan rumahnya Silviana langsung menduduki sebuah sofa yang ada di ruang tamu.
"Eh iya rumah lu sepi amat Reyna, lagi kemana semuanya?" tanya Silviana dengan kepo.
"Oo itu ortu gw lagi ke luar negeri, biasa bisnis mereka dan gw sebagai anaknya terlantar disini sendirian, sedangkan para pembantu lagi
Dengan sigap Silviana melesat melewati sang tuan rumah menuju kulkas besar yang berada di rumah sahabatnya itu.
"Wah temenku sangat tidak ada akhlak" sembari menutup pintu, pelan namun tidak terdengar.
"NONA SILVIANA, DISINI GUA TUAN RUMAHNYA COBA DEH HARGAIN DIKIT GUA YANG DISINI" teriak sahabatnya itu dan mendapatkan kekehan dari Silviana.
"Hehe makanya lu kalo nyimpen es krim langsung dihabisi jangan di simpen biar gak jadi incaran gw" Reyna pun hanya menghela nafas dan langsung berbaring di sofa.
"Kalo gitu gimana gw bisa nikmatin es krim tiap saat Vianaaa kalo gua gak stock gini" dengan geramnya sambil menekankan nama Viana.
"Aaa! em...enak rasa apa nih"
"Hm... rasa" sambil mengingat rasa apa itu, hingga akhirnya Silviana bersuara.
"Oh iya ini rasa Strawberry Arnaud" Reyna yang mendengar langsung merebut es krim itu.
"Huh ini kan hadiah es krim buat lu, gua belum resmi ngasih nih, nanti dulu ya, bentar aja kok" Reyna pun melesat menuju dapurnya dan melewati Silviana yang melongo karena langsung merebut es krim yang sedang ia makan.
"REYNA! ES KRIM GW MANA"
"SABAR VIANA NANTI DULU"
......................
Beberapa menit kemudian, Reyna membawa gelas yang berisi es krim, berbeda dengan es krim yang tadi, es krim yang telah dibawa oleh Reyna menggunakan toping kesukaan Silviana.
"Wih... mantep nih toping kesukaan gw"
"Siapa dulu dong yang ngasih suprise es krim, Reyna sahabat lu gitu" ucapnya sambil membanggakan dirinya sendiri, walaupun Silviana terlihat tak peduli dan hanya peduli pada es krimnya.
"Eh iya tadi gw alasan kesini buat ngerjain tugas kuliah gw yang lumayan banyak ketinggalan, jadi gw minjem tugas lu ya." ucap Silviana mengingat alasan yang ia buat untuk kesini sambil memakan es krim yang berada di tangannya.
__ADS_1
"Oh, oke oke bentar ya gua ambil laptop dulu" Reyna pun segera bergegas menuju lift karena kamarnya yang berada di lantai atas.
Silviana yang mulai bosan menunggu sahabatnya itu pun berbaring tanpa gaya dan tiba-tiba saja mendapatkan telepon dari sang mamah.
"Halo, mah kenapa mamah telepon? perasaan Viana baru 1 jam deh keluar?"
"Kamu beberapa menit lagi pulang ya Viana."
"Lho mah Viana baru aja mau ngerjain tugas kok mamah udah nyuruh Viana pulang, ada apa sih mah?"
"Gak papa sayang ini penting buat kamu inget ucapan mamah ya, mamah tunggu 1 jam kemudian dan harus tiba di rumah besar, bye anak mamah."
"Eh tapi ma-" panggilan langsung terputus dan Silviana hanya bisa menghela nafas.
"Kenapa sih sama mamah, kaya misterius banget apalagi abis gw nikah sama pak Calvin." monolognya sendiri dan sekian detiknya Reyna pun tiba dan jangan lupa laptop sudah berada di tangannya.
"Viana nih laptop gua" sambil menyodorkan laptopnya dan Silviana menyambut laptop itu.
"Hah... gw udah di telepon mamah, dan kata mamah gw harus pulang 1 jam kemudian" ucap Silviana dengan muka masam.
"What... kenapa emangnya Viana? tumbenan tante nyuruh pulang lu dari rumah gua secepat itu" kevo Reyna sambil menopang wajahnya menggunakan tangannya.
"Udahlah gw gak tau" frustasi Silviana sambil mengotak ngatik laptop Reyna.
"Lu ngapain laptop gua" sambil mencuri pandang ke arah laptop yang dipegang oleh Silviana.
"Gak ada gw cuma liat tugas lu aja" sambil menyodorkan laptop yang di pegangnya.
"Eh gimana kalo lu ikut gw ke rumah besar gw, soalnya mamah gw serem semenjak gw abis nikah" akhirnya Silviana mengajukan keinginannya yang dari tadi terpendam.
"Hah tante gua emang kenapa Viana, perasaan gua, biasa aja kaya tante yang gua kenal dulu" jelasnya.
"Udah mending lu ikut gw aja ya Reyna plis... apa lagi di rumah gw ada pak Calvin."
"Pfft" balas Reyna dan sempat membuat Silviana geram.
"Kenapa lu ketawa, sahabat lagi susah malah ketawa awas lu."
"Gimana gua gak ketawa coba? dia udah jadi suami lu pun masih manggil dia pak, gua kira udah berubah" Silviana pun hanya mendengus mendapat jawaban sahabatnya.
"Gw belum cinta sama dia kenapa gw harus panggil dia dengan sebutan yang istimewa" ucap Silviana sambil memutar bola matanya malas.
"Gua yakin bentar lagi lu bakal suka Viana haha" Reyna pun tertawa dengan puas sampai membuat Silviana kesal setengah mati.
***๐๐ฎ๐ป๐ผ๐ช๐ถ๐ซ๐พ๐ท๐ฐ***
๐๐จ๐ก๐จ๐ง ๐๐ฎ๐ค๐ฎ๐ง๐ ๐๐ง๐ง๐ฒ๐ ๐ฒ๐, ๐ฃ๐๐ง๐ ๐๐ง ๐ฅ๐ฎ๐ฉ๐ ๐ญ๐ข๐ง๐ ๐ ๐๐ฅ๐ค๐๐ง ๐ฃ๐๐ฃ๐๐ค ๐ฌ๐๐ฉ๐๐ซ๐ญ๐ข ๐ฅ๐ข๐ค๐, ๐ค๐จ๐ฆ๐๐ง.
๐๐ข๐ง๐ญ๐ ๐ ๐ข๐๐ง๐ฒ๐ ๐ฃ๐ฎ๐ ๐ ๐ฌ๐๐ค๐๐ฅ๐ข๐๐ง ๐ญ๐๐ฆ๐๐๐ก ๐ค๐ ๐๐๐๐ญ๐๐ซ ๐๐๐ฏ๐จ๐ซ๐ข๐ญ ๐ค๐๐ฅ๐จ ๐ฌ๐ฎ๐ค๐.
__ADS_1
๐๐๐ง๐ ๐๐ง ๐ฅ๐ฎ๐ฉ๐ ๐ฅ๐จ๐ก ๐๐ฎ๐ค๐ฎ๐ง๐ ๐๐ง๐ง๐ฒ๐ ๐ค๐๐ฅ๐จ ๐ฌ๐ฎ๐ค๐๐
๐๐ช๐ด๐ช๐ผ๐ฒ๐ฑ ๐๐ช๐ท๐ฐ ๐ถ๐ช๐ผ๐ฒ๐ฑ ๐ผ๐ฎ๐ฝ๐ฒ๐ช ๐ถ๐ฎ๐ท๐พ๐ท๐ฐ๐ฐ๐พ ๐