
Episode Ketiga
๐๐ช๐น๐น๐ ๐ก๐ฎ๐ช๐ญ๐ฒ๐ท๐ฐ...
...****************...
"Tadi mamah mau bangunin kamu tapi tadi kamu pulas banget tidurnya mamah nggak tega bangunin kamu, besok juga kamu kan udh mulai ada acara acara, sayang oh iya kamu izin dari kampus berapa hari sayang " ucap mamah panjang lebar sambil bertanya dan juga sambil memasak.
_ _ _ _ _ _ _ _
๐๐ฑ๐ช๐ด๐ฐ๐ฅ๐ฆ ๐ด๐ฆ๐ฃ๐ฆ๐ญ๐ถ๐ฎ๐ฏ๐บ๐ข...
" Nggak tau mah... udah lupa " jawab Silviana, kemudian sang mamah bertanya lagi.
" Sayang kamu mau kan nikah sama yang tadi, lumayan lohh ganteng CEO juga " Silviana yang mendengar itu pun menjawab.
" Udah tua mah masa Silviana umur 19 kaya gini nikah sama yang umurnya 26 gitu si mah... beda 7 tahun mah... lumayan jauh bedanya " ucap Silviana sedikit mengeluh.
" Gak apa apa sayang lumayan loh... ganteng CEO muda pula kan sayang kalo gak di ambil... " ucap sang mamah lagi.
" Iyaa mah... ganteng CEO muda pula, ya udah mah Silviana mau ke halaman belakang hehe " ucap Silviana mengalah.
" Ya udah kalo gitu, oh iya jangan lupa abis itu makan siang bentar, kamu tadi juga belum sarapan kan? " Silviana yang mendengar itu malah cengengesan dan bergegas pergi ke halaman belakang agar tidak terkena omelan dari sang mamah.
__Di halaman belakang__
" Hahh... mau refresing bentar lah " Silviana menghela nafas seakan kejadian tadi malam sudah dilupakan tentang tamparan teriakan semuanya, kemudian Silviana mengambil handphonenya dan menghidupkan sebuah lagu.
Alunan demi alunan terdengar, lagu tersebut bisa membuat seseorang tenang dalam pikirannya sendiri bak sihir lagu tersebut.
*Lagu diputar, namun tiba-tiba saja.
" Haha... sepertinya tadi pagi akting ku sangat bagus hah... " Silviana menghela nafas lagi, namun tanpa sepengetahuan Silviana papah nya berjalan dari arah kantor pribadinya menuju ke arah Silviana, dan sekarang papah nya sudah berada di samping nya.
"" Maafin papah nak... kamu harus menderita sebentar ya... setelah kamu menikah pasti kamu akan bahagia "" ucap papah Silviana dalam batinnya, setelah itu papah Silviana menepuk pundak Silviana dan itu jelas membuat Silviana terkejut.
" Ehh papah... papah sejak kapan disini? " sontak Silviana bertanya pada sang papah.
__ADS_1
" Keluarkan saja nak kesedihan mu... papah siap mendengarkan keluhan mu nak... " ucap papah sambil mengelus kepala sang anak Silviana.
" Eh... aku sedih?? ngga pah... Viana gak sedih kok " ucap Silviana sambil tersenyum, namun tetap saja sang papah masih bisa melihat kesedihannya di mata Silviana.
"" Kamu bersabar dulu nak... setelah kamu menikah dengannya pasti kamu bahagia papah janji "" ucap sang papah dalam batinnya lagi, masih sambil mengelus kepala sang anak Silviana, sang papah memutuskan untuk mengambil sesuatu untuk Silviana.
" Papah masuk sebentar ya Viana, tunggu disini papah ambilin sesuatu buat kamu " ucap sang papah kemudian langsung berdiri dan meninggalkan Silviana seorang diri di halaman belakang.
Selang beberapa menit Silviana menunggu akhirnya sang papah sudah datang dan membawa sesuatu, di sini Silviana bingung dengan apa yang di bawa papahnya.
" Kemari lah Viana lihatlah semua kenangan ini " ternyata sang papah membawa laptopnya dan sang papah memasukkan sebuah memori yang Silviana tidak tau itu memori apa.
Ternyata setelah Silviana mendekat dan melihat layar laptop sang papah ternyata itu adalah kenangan masa kecilnya, banyak foto yang tersimpan pada saat Silviana masih kecil hingga dewasa seperti sekarang.
" Pfft pah... itu aku ya " Silviana yang melihat dirinya yang masih kecil dan sedang memakan kue hingga belepotan pun menahan tawa karena menurutnya itu lucu.
Setelah itu papah berdiri lagi dan mengatakan ingin mengambil sesuatu lagi.
" Tunggu sebentar Viana, papah akan mengambil sesuatu lagi "
papah pun berdiri lagi dan selang beberapa menit papah pun kembali dan membawa sesuatu seperti buku.
" Nah... ini dia, coba liat kamu sama mamah kamu haha... " setelah papah membuka album keluarga tersebut terlihat sebuah foto Silviana dan sang mamah ketika masih kecil.
Tiba-tiba saja Silviana yang melihat foto tersebut tertawa papah yang ada di situ pun ikut tertawa, seberapa lucunya jika mengingat kejadian tersebut.
Kemudian semua itu mengundang perhatian sang mamah yang ada di dapur, tiba tiba saja sang mamah sudah berada di samping papah dan Silviana.
" Kalian berdua lihat apa sih, ketawa ampe kedengeran loh ke dapur " mamah yang baru datang pun kemudian langsung duduk di dekat sang papah dan Silviana.
" Haha ini loh mah... " ucap Silviana sambil tertawa, mamah yang melihat itu pun kemudian ikut tertawa juga.
" Pfft hais... kamu ini ada ada aja " ucap sang mamah sambil memegang album tersebut dan mengingat kejadian pada saat itu.
Seketika hening suasananya, namun sang mamah tiba-tiba saja berkata memecah keheningan tersebut.
" Ya udah yuk kita makan sama-sama, mamah udah nyiapin semuanya ".
__ADS_1
_ _ _ _ _ _ _ _
*Di meja makan.
Masing-masing sudah duduk, namun Silviana berdiri lagi.
" Bentar mah Viana mau ambil es krim Viana " dengan cepat seorang Silviana berdiri dan menuju kulkas untuk mengambil es krimnya.
Selang beberapa menit Silviana sudah membawa kotak es krimnya dan langsung meletakkannya di meja, langsung saja Silviana mengucapkan "selamat makan" agar ia cepat memakan es krimnya.
" Selamat makan ".
Sang papah dan mamah Silviana hanya bisa menggeleng kan kepala karena kelakuan anaknya tersebut, tiba-tiba keheningan di saat makan, itulah suasananya sekarang.
Setelah selesai makan suara handphone Silviana yang berada di dekatnya terdengar, hal itu membuat seorang Silviana kesal secara tiba-tiba.
" Halo siapa ya " ucap Silviana menahan kekesalannya.
" Ini sahabat lu si imut nan menggemaskan " Silviana yang mendengar itu ingin rasanya melempar handphonenya.
" Iya si paling imut nan menggemaskan, ngapain sih lu nelpon gue " tanya Silviana yang menjadi jadi kekesalannya.
" Ini loh, gue mau minjem buku lu " Silviana pun mengernyit.
" Gue libur udah lumayan lama, jadi gue juga gak tau gimana tuh kabar perkuliahan kita " ucap Silviana sambil memakan es krimnya.
" Yahh... gimana nih, gue capek lagi abis pulang dari Paris " Silviana pun dengan sigap bertanya tentang oleh oleh yang dibawakan sahabatnya itu.
" Wah... gimana nih kabar oleh oleh gue, eh bentar ya gue abis makan nih mau bantu bantu mamah gue udah dulu ya bye " Silviana pun dengan cepat mematikan telepon karena jika tidak sahabatnya itu tidak akan membiarkannya memutuskan teleponnya tersebut.
" Eh... kenapa di matiin sayang, gak apa apa kamu telponan aja sana sama sahabat kamu " ucap sang mamah sambil membawa piring kotor,kemudian menyuruh Silviana naik ke atas untuk menyuruh Silviana mengobrol dengan sahabatnya itu.
_ _ _ _ _ _ _ _
๐๐จ๐ก๐จ๐ง ๐๐ฎ๐ค๐ฎ๐ง๐ ๐๐ง๐ง๐ฒ๐ ๐ฒ๐, ๐ฃ๐๐ง๐ ๐๐ง ๐ฅ๐ฎ๐ฉ๐ ๐ญ๐ข๐ง๐ ๐ ๐๐ฅ๐ค๐๐ง ๐ฃ๐๐ฃ๐๐ค ๐ฌ๐๐ฉ๐๐ซ๐ญ๐ข ๐ฅ๐ข๐ค๐, ๐ค๐จ๐ฆ๐๐ง.
๐๐ข๐ง๐ญ๐ ๐ ๐ข๐๐ง๐ฒ๐ ๐ฃ๐ฎ๐ ๐ ๐ฌ๐๐ค๐๐ฅ๐ข๐๐ง ๐ญ๐๐ฆ๐๐๐ก ๐ค๐ ๐๐๐๐ญ๐๐ซ ๐๐๐ฏ๐จ๐ซ๐ข๐ญ ๐ค๐๐ฅ๐จ ๐ฌ๐ฎ๐ค๐.
__ADS_1
๐๐๐ง๐ ๐๐ง ๐ฅ๐ฎ๐ฉ๐ ๐ฅ๐จ๐ก ๐๐ฎ๐ค๐ฎ๐ง๐ ๐๐ง๐ง๐ฒ๐ ๐ค๐๐ฅ๐จ ๐ฌ๐ฎ๐ค๐๐
***Bersambung***