Coach Kami, Mr. Drac

Coach Kami, Mr. Drac
BAB 10 ~ Manajer Lita ~


__ADS_3

Kata-kata Levy terbukti. Pihak manajemen kampus akhirnya sepakat untuk pertahankan keberadaan klub sepak bola mereka. Lita pun secara resmi telah ditunjuk sebagai manajer klub sepak bola kampus yang baru.


Adapun Apep selaku manajer klub sepak bola lama telah pula mengundurkan diri. Bahkan terkesan telah diatur sejak jauh hari. Hingga tak ada serah terima secara resmi antara pengurus lama dan baru. Yang berarti tidak ada peralihan tanggung jawab dari pengurus lama ke pengurus klub yang baru.


Kejadian itu telah perjelas segala dugaan Levy, sekaligus timbulkan rasa tak puas dari Lita. Seperti biasa idealisme Lita kembali terusik. Lita tidak puas pihak yang sebabkan hal ini terjadi. Melenggang pergi begitu saja, lari dari tanggung jawab. Seolah-olah tak ada kaitan dengan klub sepak bola kampus..


"Dit, kamu tahu nggak Mr. Levy ada dimana?" Lita bertanya pada Dito yang baru ditunjuk sebagai asisten pelatih.


"Nggak tahu Bu, sejak mulai acara dia memang nggak ada tuh Bu!" jawab Dito.


"Ah yang bener kamu?" Lita tak percaya jika Levy tega tidak datang untuk temani dirinya di acara pengukuhan. Sedangkan mereka telah jadi satu kesatuan dalam klub sepak bola kampus.


"Iya Bu, Memangnya Pak Levy janji sama Ibu?" tanya Dito.


"Nggak, Tapi saya sudah kasih tahu sama dia!" Lita seakan tak percaya Levy lakukan itu.


"Sudahlah Bu, acaranya juga sederhana begini! Malah bikin malu kalau Pak Levy sempat lihat!" Dito beri penilaian bahwa pihak kampus juga tidak berikan perhatian yang layak untuk klub sepak bola mereka.


"Pak … Pak! Mr. Levy, Dito!" Lita coba benahi panggilan yang pantas untuk Levy pada Dito.


"Beliau minta dipanggil pakai "Pak" kok Bu!" Dito beritahu panggilan yang sesuai dengan keinginan Levy pada Lita.


"Sembarang kalian saja!" Lita dengan tensi yang sedari tadi memang sudah pada puncaknya. 


"Selamat Dokter Lita, telah resmi menjadi manajer yang baru," Heru tiba-tiba muncul dan berikan ucapan selamat pada Lita.


"Eh, iya terima kasih Pak Heru," Lita sedikit tergagap akibat terlalu lama tahan emosi.


"Bu, saya ke sekretariat dulu Bu ya," Dito minta izin tinggalkan mereka berdua.


"Oke Dit, bilang sama Pak Levy ada Pak Heru ya disini!" Lita bermaksud tutupi tidak datangnya Levy pada Heru.


"Iya Bu!" jawab Dito paham maksud dari dosennya itu. Dito memang berniat pergi ke sekretariat untuk persiapkan data-data yang diminta Lita.


"Acaranya cukup ramai ya, Dokter Lita!" Heru bermaksud menyindir.


"Sepi Pak Heru, saya baru tahu kalau anggotanya saja sudah tidak cukup lagi untuk bikin satu tim!" Lita tertawa.


"Bisa sebegitu hancurnya ya Dok!" ungkap Heru seperti heran dengan kondisi klub terkini.


"Betul Pak Heru, hancur-hancuran betul!"   Lita terang-terangan menyindir tak adanya fungsi dan peran Heru selaku wakil rektor bidang kemahasiswaan.


"Benar Dokter Lita, ini pasti akan berat sekali kedepan!" Heru kembali ingatkan Lita bahwa lebih mudah jika dirinya  dilibatkan, "susah mahasiswanya nggak bisa diatur!"


"Maksudnya Pak?" tanya Lita tidak mengerti betapa bebal lawan bicaranya kali ini.


"Iya, sampai-sampai Pak Apep menyerah begitu," ujar Heru, "pokoknya ruwet!


"Apa nggak salah Pak?" Lita penuh rasa heran dengarkan pernyataan Heru yang menurutnya telah turut biarkan klub sepak bola yang mestinya jadi kebanggaan kampus harus alami nasib tragis. 


"Memang begitu, Saya dapat laporan dari Pak Apep secara lengkap dan detail!" jawab Heru.


"Ya, maka dari itu saya tertantang dan mau coba untuk benahi!" Lita coba hadapi wakil rektor bidang kemahasiswaan itu lebih frontal lagi, "Masak iya bisa ada  manajemen kampus yang kalah sama mahasiswa!*


"Dokter Levy sepertinya dari tadi nggak ada Bu ya? Dari tadi saya tidak lihat?" Heru tak tahan dengan serangan Lita dan bermaksud untuk belokkan pembicaraan.


"Dokter Levy sedang cari rumah tinggal yang baru, Pak!" Tiba-tiba saja ucapan itu terlontar, "iya saya minta dia agar lebih dekat dengan kampus!"


"Oh begitu ya Dokter Lita?" ujar Heru.


"Iya Pak Heru, masak iya harus tinggal di hotel terus!" Lita bermaksud meninggikan drakula yang telah jadi pujaan hatinya itu.


"Iya juga! Saya dengar-dengar tinggal di hotel bintang juga ya Dok!" Heru seperti tahu dengan pasti tempat tinggal Levy untuk sementara waktu.


"Benar Pak Heru, malah kamar yang suite lagi"! Komentar Lita tambah menjadi-jadi.


"Oh, sayang bener duitnya mahal-mahal hanya buat hotel!" ujar Heru.

__ADS_1


"Benar itu Pak!" Untuk kali itu Lita sangat setuju dengan pendapat Heru.


"Berarti bisnis perkebunan Raspberry milik Dokter Levy benar-benar besar ya Dok!" ujar Heru.


"Dia sempat cerita juga ya ke Pak Heru?" Lita ingin pastikan bahwa memang Levy yang bercerita langsung ke Heru.


"Iya, dia bilang sih bisnis keluarga," Heru pastikan ia dapat berita itu langsung dari Levy. 


"Benar itu Pak, kebetulan Dokter Levy yang mengurus," Lita menambahkan, "selain itu kan dia punya juga agensi pemain sepak bola Eropa!"


"Wah, beneran kaya Dokter Levy itu ya Dok?" Heru coba cari kepastian kebenaran berita itu dari Lita.


"Sepertinya begitu!" jawab Lita singkat.


"Kalau begitu bisa maju klub sepak bola kita ini?" Heru bayangkan pengaruh Levy pada klub sepak bola kampus.


Mmmh … Udah punya niat numpang tenar aja, Tapi nggak berani berjuang untuk mahasiswa, Payah banget nih orang, batin Lita.


"Mudah mudahan! Nanti Pak Heru dukung program kami ya," ujar Lita.


"Siap Dokter Lita," jawab Heru dengan senyum banyak makna.


Kata-kata siap Dokter Lita jadi percakapan terakhir siang itu. Setidaknya dari obrolan dapat diambil kesimpulan Heru tak terlibat dalam upaya pembusukan klub. Ia hanya jenis manusia pengambil kesempatan, dan bukan tipe pengambil akan hak orang lain.


"Dit, sudah kamu rekap semua inventaris di sekretariat ini?" Lita ajukan pertanyaan.


"Sudah Bu!" jawab Dito.


"Iya, ini sesuai dengan permintaan Coach Levy!" ujar Lita.


"Oh begitu Bu ya, Dulu waktu pertama kali masuk klub, kami juga lakukan seperti ini!"


jawab Dito, "setiap tahun lagi!"


"Pak Apep lakukan seperti ini?" Sulit bagi Lita untuk percaya. 


"Kapan Pak Marthak itu diganti?" tanya Lita.


"Ada tiga tahunan lah Bu, jawab Dito, "kalau saya dari tahun pertama memang sudah pilih sepak bola!"


"Dit kamu cerita dong tentang kamu bisa dipilih jadi asisten pelatih Levy?"


"Pak Levy kan Coach, saya bisa nggak dipanggil Co-coach aja Bu," Dito ajukan protes mengenai julukan.


"Ah …, jangan macam-macam kamu! Sudah cerita aja!" ujar wanita yang telah pantas punya momongan itu.


"Ya waktu malam-malam itu dia datang, terus ngenalin diri!" jawab Dito.


"Kamu nggak takut dia datang tiba-tiba terus nanya kamu?" Lita ingin tahu reaksi pertama Dito melihat Levy.


"Pertama ya takut Bu, cuma saya kan ingat sama cerita Ibu!" Dito hela nafasnya sebentar, "kalo pelatih baru kita orang bule?"


"Udah langsung aja ke intinya aja!" sergah Lita.


"Lah ibu tadi tanya, takut apa ndak?" Dito mulai  berani memprotes perkataan Lita.


"Oke Dit, Terus gimana cara dia ngebujuk kamu biar mau jadi asisten pelatih saja?" Lita ingin dapatkan cerita lengkapnya dari Dito.


Lita awalnya tidak setuju jika Dito dijadikan asisten pelatih. Lita beranggapan kasihan Dito bila keinginannya bermain bola harus terganjal kesepakatan antara Levy dan Dekan Fakultas. Lita masih beranggapan bahwa Dito merupakan kiper sekaligus kapten yang baik.


"Ya, Pak Levy cuma bilang kalau saya nggak cocok jadi pemain bola," ujar Dito


"Kenapa? Apa alasannya?," Lita ingin tahu.


"Dia bilang ke saya, kalau saya nggak bisa nyakitin orang!" ujar Dito.


"Terus?" Lita ingin tahu kelanjutannya.

__ADS_1


"Ya bener juga sih omongannya!" jawab Dito.


"Benar gimana?" tanya Lita.


"Ya, sepertinya dia langsung tahu kok isi hati saya. Saya memang nggak tegaan orangnya, walaupun sama striker musuh," ujar Dito sambil tundukkan kepala.


"Memang pemain bola harus begitu ya?" Lita memandang penuh rasa tidak percaya jika melihat postur tubuh Dito yang tinggi besar.


"Ya iyalah Bu!" ujar Dito.


"Kok bisa begitu?" Lita minta penjelasan yang masuk akal dari Dito.


"Kalau kiper memang nggak boleh peduli musuh, yang penting bola ketangkep!" jawab Dito sesuai dengan teori yang pelajari..


"Wah! Kasar dong kalau begitu!" Lita ambil sebuah kesimpulan tentang seorang kiper.


"Ya, tinggal pilih Bu, pilih main kasar atau dikasari," pungkas Dito.


"Parah-parah!" Lita benar-benar tak bisa benarkan pernyataan Dito.


"Mau gimana lagi Bu? Namanya juga olahraga keras!" Balas Dito.


"Oke oke, Terus gimana cara dia ngebujuk kamu jadi asisten pelatih?" Lita balik ke topik awal.


"Ya, nggak ngebujuk juga, dia cuma bilang …" Jawaban Dito harus terpotong oleh omongan Lita.


"Tenang Dito, begitu!" Lita merasa yakin jika Dito telah diperlakukan sama seperti dirinya ketika diminta berikan kotak dokumen miliknya.


"Nggak gitu Bu! Dia bilang percuma kalau main sepak bola cuma sebentar, lebih baik belajar jadi pelatih aja!" Dito beberkan pendapat Levy tentang dirinya.


"Maksudnya sebentar?" tanya Lita.


"Kan sebentar lagi saya tamat, Nah, nanti kalau sudah jadi guru kan pastinya lebih bermanfaat kalau bisa melatih!" tutur Dito


"Iya, benar juga masukkan Dia ya!" ujar Lita.


"Ya iyalah Bu, sudah kelihatan pintarnya kalau Pak Levy mah!" Dito seperti bangga pada bosnya yang baru.


"Eh iya Dit, dia ngomong nggak cara dia bisa tahu kos-kosan kamu?" tanya Lita.


"Bilangnya, dia ngikutin berkas fotokopi yang Ibu kasih ke saya, dah gitu aja!" Dito samakan jawabannya dengan jawaban Levy waktu itu.


"Kalau cara dia ke rumah Dekan?" tanya Lita lebih lanjut, setelah yakin jika Levy gunakan penciuman untuk temukan Dito.


"Ya nggak tahu Bu, dia pergi kemana lagi sehabis dari tempat saya!" jawab Dito mulai bosan akibat ditanya terus menerus.


"Dia lihat kopian berkas audit itu?" Lita bertanya lagi, kali ini tentang fotokopi hasil audit.


"Iya Bu, sebentar doang tapinya!" jawab Dito.


"Terus?" Lita ingin tahu kelanjutan dari tindakan Levy terhadap berkas audit itu.


"Ya dibalikin lagi ke saya, Pokoknya kelihatan pinter banget tuh orang Bu!" jawab Dito. 


Jawaban dari Dito sudah pasti membuat Lita kecewa. Tadinya Lita pikir bahwa Levy mengejar pelaku audit itu. Lalu lakukan hipnotis pada auditor itu. Hingga akhirnya tahu dengan pasti kecurangan yang terjadi pada hasil audit itu. 


"Eh, Dit terakhir! Lita sadar bahwa tingkat kebosanan Dito terhadap pertanyaan yang ia ajukan telah mencapai puncak, "kamu lihat mobil saya nggak waktu itu?"


"Mobil putih Ibu biasanya itu kan?" Dito balik tanya.


"Iya!" jawab Lita gemas.


"Nggak ada Bu, kayaknya Dia nggak bawa apa-apa!" jawab Dito, "Bu lita nggak ada jadwal ngajar hari ini?"


"Ya ampun Dit! Ma kasih ya sudah diingatkan!" Lita terpekik sadar bahwa ia harus segera masuk kelas, "kantor jangan lupa dikunci ya!"


...☘️☘️☘️ ~ bersambung ~☘️☘️☘️...

__ADS_1


__ADS_2