Coach Kami, Mr. Drac

Coach Kami, Mr. Drac
BAB 12 ~ Bukan Lagi Prioritas ~


__ADS_3

Sebelum fajar tiba, Levy telah tiba kembali di kamarnya. Adapun Lita tengah duduk di atas sofa sembari saksikan berita pagi. Sebuah berita pembunuhan seorang ajudan jenderal polisi yang tak kunjung selesai.


Lita dapat bangun pagi karena ia memang cepat tidur. Tadi malam hanya sebentar ia luangkan sedikit waktu untuk menonton TV. Selepas makan malam pastinya.


"Sudah bangun rupanya?" Levy lepaskan sepatu dan sebelum itu ia menggantung jasnya pada sebuah stand hanger.


"Iya, saya cepat tidur semalam!" jawab Lita.


"Pantas terlihat lebih segar pagi ini, ujar Levy dengan maksud menggoda "tidak seperti kemarin, terlihat kusut!"


"Tambah cantik dong," Lita katakan itu dengan penuh percaya diri.


Tidaklah bisa diakui sebagai drakula jika tak biasa memuji lawan bicaranya, terlebih pada lawan jenisnya, "Semua wanita pasti cantik, tapi kamu memang berbeda bagi saya!"


"Bedanya?" Lita ingin tahu pendapat Levy tentang dirinya.


"Saatnya belum tiba untuk bicarakan itu," ujar Levy.


Selepas menjawab pertanyaan dari Lita, Levy langkahkan kaki ke sebuah safe deposit. Sebuah kotak berbahan besi yang terletak di sisi bawah tembok dekat tempat tidur. Ukurannya tidak lebih besar dari sebuah microwave. Hanya sedikit kamar saja di hotel ini yang memiliki fasilitas seperti itu.


Pintu laci terbuka setelah Levy masukkan kode rahasia. Ada enam kali tombol pada dinding kotak ditekan secara bergantian. Rasa penasaran Lita sirna setelah cawan perak itu yang dikeluarkan oleh Levy. 


Pantas saja semalaman dicari nggak ketemu ketemu batin Lita.


"Berharga sekali cawan itu?" Sindir Lita sehabis saksikan betapa pengamanan yang diberikan pada benda itu dirasakan amat berlebihan.


"Pastinya!" Levy menjawab sambil menuju ke arah sofa tempat Lita berada.


"Mengapa begitu," Lita coba untuk lanjutkan pertanyaannya.


*Berkat penemuan cawan ini kami tidak banyak sakiti manusia lagi," Levy jelaskan manfaat cawan itu bagi kehidupannya. 


Lita ingin sekali melihat dari dekat, dan jika diperbolehkan ingin ia memegang benda itu. Juga ingin melihat seperti apa isi di dalamnya. Walau dapat diduga dengan mudah isi dari benda yang sering kali di tempelkan pada bibir Levy. Tapi Lita lebih tertarik pada omongan cawan itu adalah hasil penemuan. Hasil penemuan apa dan oleh siapa?


"Ayo kita ngobrol tentang klub?" Ajak Levy pada Lita untuk bercerita gerangan apa yang membuat Lita harus menemuinya tadi malam. 


Bagi Lita saat ini bahasan tentang cawan itu sebenarnya lebih menarik. Namun, sepertinya Levy telah batasi percakapan mereka ialah tentang klub di pagi hari itu. Mau tak mau Lita harus sepakat. Lita ingin sekali pembicaraan itu akan dapatkan satu keputusan penting untuk masa depan klub sepak bola kampus yang ia pimpin.


"Heru ragu kalau kamu bisa melatih!" Lita langsung utarakan itu untuk memancing reaksi dan kepedulian Levy terhadap klub.


"Yang bilang saya sudah melatih itu siapa?" jawab Levy, lagi-lagi tempelkan cawan itu pada bibirnya.


Jawaban Levy jika direnungkan lebih dalam ada benarnya. Levy hanya kirim link YouTube. Apakah itu sudah bisa dikatakan melatih? Tentu saja tidak. Lita sadar bahwa ia telah termakan omongan Heru sekali lagi.


"Jumlah anggota klub itu hanya delapan, Ditambah satu orang yang tidak bisa main!" Levy berkata tentang kondisi klub dan Dito, "mau latihan dan bahas strategi apa dengan jumlah anggota yang masih kurang?"


Lita tundukkan kepala setelah dengarkan penjelasan dari Levy. Sadar bahwa belum ada tambahan anggota klub sejak ia menjabat sebagai manajer. Tapi ia belum bisa untuk terima salah, "Terus kiriman link YouTube itu untuk apa?"


"Dito kemarin tanya ke saya teknik dasar main bola," jawab Levy, "katanya sih untuk dia belajar jadi pelatih?"

__ADS_1


"Tapi Heru bilang link itu kamu yang kasih, gimana dong?" Lita beri sedikit tekanan pada Levy.


"Memang benar?" Levy sedikit kesal sebab Lita tidak menyimak perkataannya dengan baik, "coba kamu tanya sama Dito dia minta apa saja ke saya!"


"Dia minta apa ke kamu? tanya Lita penuh selidik.


"Dia minta bantuan saya untuk lengkapi jumlah pemain dan peralatan," jawab Levy.


Lita agak terkejut dengar permintaan Dito. Itu Termasuk permintaan yang mustahil untuk saat ini Membeli perlengkapan klub. Mengingat keuangan klub sedang tidak baik-baik saja. 


Yang terjadi pada neraca keuangan klub adalah minus minimal untuk dua tahun ke depan. Jika kondisi keuangan klub dibedah lebih lanjut, maka secara jelas akan dapat terlihat adanya pergeseran di beberapa item pada neraca. Banyak akun neraca aktif telah bertukar pos menjadi komitmen klub. Menjadi suatu kewajiban yang harus dibayar klub untuk masa mendatang.


"Terus apa jawaban kamu?" tanya Lita.


"Saya bilang ke dia supaya sabar semua sudah saya rencanakan, termasuk untuk rekrut anggota baru!" Levy kembali minum dari cawan peraknya, terkesan sangat haus sehabis perjalanan bersama Missy.


"Kamu serius untuk kembangkan klub sepak bola itu?" Lita bertanya karena Levy belum pernah kunjungi sekretariat sejak resmi ditunjuk sebagai pelatih.


"Saya selalu serius, Saya salut sama Dito!" Levy memuji Dito.


"Kenapa kamu perhatian benar sama dia?" Lita ingin tahu pandangan Levy pada anak didiknya itu.


"Dari cerita-cerita kamu tentang Dito, Dia tulus cinta sepak bola, sama seperti saya dan banyak orang lagi!" Levy seolah membuat suatu penegasan bahwa ia memang peduli pada para pecinta sepak bola.


"Itu sebabnya kamu bela-belain untuk berkunjung ke kosannya?" tanya Lita


"Tak hanya dia, saya juga sempat melihat beberapa anggota tim yang tinggal satu rumah bersama dia," Levy menerangkan situasi rumah kos anggota klub mereka banyak berhubungan dengan aktivitas sepak bola.


"Benar sekali, Analisa yang baik!" Levy puji kecepatan berpikir Lita.


"Terus bagaimana kamu ke rumah Dekan itu?" Lita penasaran.


"Serius mau tahu, sepertinya kamu mulai ragukan kemampuan penciuman saya," ujar Levy sambil tertawa.


"Iya, sulit dipercaya, Saya terakhir bertemu dekan hampir setahun lalu ketika SK saya dikeluarkan oleh pihak kampus." Lita beri petunjuk berupa keterangan waktu ketika terakhir bertemu dengan Dekan yang rasanya tak mungkin bagi Levy untuk mengendusnya.


"Eska?" Levy bertanya sesuatu kata yang tidak ia mengerti.


"Surat ketetapan," jawab Lita.


"Maaf memang saya gunakan kekuatan lain!" Lagi-lagi Levy hampir-hampir tak bisa tahan tawanya.


"Tuh kan, ada kehebatan kamu yang lain? Kapan kamu tunjukkan pada saya!" Pinta Lita penuh rasa ingin tahu.


"Bakat saya yang satu ini sebenarnya sudah sangat sering kamu lihat dan kamu rasakan!" ujar Levy.


"Serius? Apa itu?" Lita merasa heran.


"Oke,saya terangkan sekarang ya," Levy coba pasang wajah serius , "Rumah dekan ada di dalam komplek kampus ya kan? Tinggal saya tanya saja ke sekuriti yang berjaga di depan komplek."

__ADS_1


Sialan kenapa nggak kepikiran sih, batin Lita


"Bagaimana cara kamu ke sana, malam pula!" Desak Lita.


"Haruskah saya jawab itu Lita," Lagi-lagi Levy terpaksa sambil menahan tawa.


Harus dong, kamu janji untuk selalu jujur pada saya, ya kan!" Lita ingatkan janji Levy padanya, "jangan-jangan kamu pergi sama yang namanya Missy itu?'


"Kamu cemburu dengan keponakan saya itu ya?" Levy tuduh Lita dengan niat untuk permainkan gadis yang jadi incarannya sejak di Qatar.


"Sudah kamu jawab saja! Kamu naik apa kesana?" Lita kecewa Levy kurang berikan tanggapan atas pertanyaannya.


"Oke … oke, sebentar!" Levy rogoh ponsel miliknya dari saku bagian dalam  jas, lalu tunjukkan sebuah aplikasi online yang terinstall  pada ponselnya, "saya pakai ini!"


Lita bengong melihat aplikasi transportasi online yang ada di ponsel. Sungguh ia tak menduga jawaban Levy tadi. Awalnya Lita menduga Levy gunakan kesaktiannya yang lain, terbang misalnya. Atau berubah menjadi seekor kelelawar. Malahan pada saat terakhir Lita juga sempat lakukan tuduhan pada Missy sebagai pengantar Levy.


"Serius! Missy itu keponakan kamu?" Lita coba tanyakan status Missy bagi drakula pujaannya itu.


"Misna istri Olaf, jadi Missy adalah putri dari mendiang Olaf!" ujar Levy, "apakah kamu tidak dapat simpulkan pembicaraan kami ketika berada di meja itu?"


"Maafkan saya, sepertinya sudah kena pengaruh minuman itu," Lita merasa malu ingat kejadian itu, "dicampur saja mabuk, gimana tanpa campuran?"


"Justru murni tanpa campuran minuman itu tidak mudah membuat mabuk," jawab Levy.


"Hei, kenapa bisa begitu? Lita meminta penjelasan dari Levy.


"Jika memang percakapan ini diperlukan saja janji untuk melanjutkannya nanti!" Levy ucapkan janji, "tapi saat ini saya sangat butuh istirahat."


Bel pintu kamar  berbunyi, pertanda Asep segera bertugas siapkan makan pagi bagi Lita. Menjelang Asep siapkan makan pagi, Lita segera bersihkan diri. Adapun Levy tetap duduk tenang di tempatnya.


...**...


"Lita, ada baiknya kamu sarapan dulu sebelum pergi," Levy beri suatu anjuran saat melihat Lita keluar dari kamar mandi.


"Ya, saja juga berpikir begitu!" jawab Lita yang sedikit kecewa karena kesempatan bicara telah dipastikan akan tertunda.


"Atau kamu disini saja, toh hari ini juga hari libur?" Levy setengah membujuk agar Lita tetap bersamanya hari itu.


"Buat apa saya disini Lev, jika kamu hanya tidur," Lita keberatan untuk temani Levy jika situasinya seperti itu. "Meski hari libur saya masih tetap harus pergi ke klinik!"


"Maaf, sudah dua hari ini saya memang kurang istirahat," Levy meminta pengertian dari Lita.


"Ada apa sebenarnya Lev, belum pernah saya melihat kamu sepucat ini?" Lita jadi sedikit khawatir.


"Mohon maaf Lita saya belum bisa bilang sama kamu!" Levy seperti berahasia.


"Oke Lev, saya sarapan saja dulu biar satu urusan selesai! Terlihat jelas Lita sangat menahan diri untuk tidak menuntut Levy bercerita.


Lita memulai sarapan pagi dengan minum kopi hitam tanpa gula terlebih dahulu, Baru setelah itu ia ambil sebuah roti dengan isian daging dan keju. Sambil menikmati roti, Lita perhatikan wajah Levy yang jauh terlihat lebih pucat dari biasanya. 

__ADS_1


Masih banyak yang ingin Lita bicarakan, terkait keanggotaan dan kelengkapan klub. Adanya kemungkinan latih tanding dengan tim Apep sesuai keinginan Heru. Namun, sepertinya harus ia tunda, Levy terlihat begitu butuh istirahat. Maka ia putuskan setelah sarapan pagi ia akan pamit, dan biarkan Levy pulihkan kondisi tubuhnya.


...☘️☘️☘️ ~ bersambung ~ ☘️☘️☘️...


__ADS_2