
Seperti deJavu kembali Lita terbangun di atas kasur tebal dan besar itu. Bedanya kali ini sarapan pagi telah siap tersedia di atas meja. Itu berarti Asep telah masuk ke dalam kamar dan kerjakan apa yang jadi tugasnya.
"Maaf! Saya kesiangan lagi ya, Jadi nggak enak hati ini?" Lita ajukan permohonan maaf secara spontan pada Levy yang tengah duduk di atas sofa seperti biasa.
"Tidur kamu seperti bayi!" Levy tersenyum ketika katakan itu.
"Pasti karena minuman itu!" Lita cari alasan apa tidurnya yang lebih cocok seperti orang mati.
"Ya, Selain itu juga karena kekenyangan," goda Levy.
Lita tertawa dengarkan godaan Levy. Ia ingat betul menu steak yang dipesan Levy. Menu yang besar, tapi habis hanya dalam waktu singkat.
Tidak seperti kemarin. Hari itu tindakan Lita jauh lebih kalem. Tidak terlihat aksi Lita yang sibuk memeriksa pakaiannya. Malah Lita berpindah dengan tubuh yang tetap terbungkus selimut. Lita bawa serta selimut tebal itu bersamanya menuju ke arah Levy.
Levy sedikit beringsut berikan tempat pada Lita. Bagaimanapun selimut tebal itu akan banyak habiskan ruang di tempat duduk mereka. Sekalipun sofa itu termasuk jenis sofa memiliki ukuran yang sangat besar.
"Minuman pagi ini jus buah ya!" ujar Lita sambil tuangkan jus jambu biji kedalam gelas.
"Iya, itu bagus untuk kamu," jawab Levy
"Kamu nggak mau Lev?" Lita tawarkan juice jambu batu itu pada Levy.
"Sebaiknya tidak!" jawab Levy sembari memutar-mutar cawan peraknya.
"Saya pernah lihat film Nosferatu! Drakula yang selalu minum dari cawan besi seperti kamu!" Lita tiba-tiba teringat sebuah film lawas, "yang jadi bintangnya Klaus Kinski."
"Oh ya?" Levy setengah tak percaya jika Lita tahu tentang film lawas bergenre horor itu, "Klaus Kinski ya? Film itu bukan yang pertama, sudah hasil produksi ulang Lita!"
"Masak sih?" Lita merasa heran bahwa film itu dianggap remake, bukan yang film perdana seperti yang dianggapnya selama ini, "tapi itu pertama kali saya nonton film drakula! meski tidak sampai habis."
"Sudah banyak juga sebelumya film yang seperti itu," ujar Levy.
"Kamu punya kaitan dengan Nosferatu itu? Atau itu hanya tokoh fiksi?" Lita bertanya sambil olesi roti yang dipegangnya dengan selai.
"Nosferatu hanya merek dagang untuk tokoh yang sama!" jawab Levy.
"Maksudnya?" Lita tak mengerti jawaban Levy.
"Dari sumber kami dan isu yang beredar saat itu judul Nosferatu dipilih karena terkait hak paten," Levy beberkan sebuah fakta sejarah tentang bisnis perfilman, "Film itu rilis di Jerman, Jadi bukan film Hollywood."
"Oh, ujung-ujungnya masalah bisnis dan duit toh!" Lita terkekeh, lalu memakan roti yang telah dilipat menjadi lebih kecil sehingga muat pada mulut kecilnya.
"Cerita tentang buyut besar, saudara serta keturunannya sangat banyak, ada banyak versi!" Levy lanjutkan keterangannya.
"Ya benar, kalau tidak salah ada juga film yang tokoh drakula sangat tampan dan digilai cewek-cewek," Lita sengaja berkata seperti itu untuk menggoda Levy. Menurut Lita ada kesamaan karakter antara Levy dan tokoh yang ia maksud.
"Kalau film itu tokoh yang kamu maksud kemungkinan besar adalah Radu, adik buyut besar," jawab Levy sedikit salah tingkah.
Levy tidak beritahu rahasia bahwa kakak beradik itu sebenarnya tidak akur. Radu menentang Vlad III, kakek buyut Levy. Hingga akhirnya ia dapat menggulingkan kekaisaran Vlad III.
"Apakah benar dia termasuk drakula juga?" Lita tidak begitu yakin karena sepanjang yang pernah ia tahu Radu adalah seorang pahlawan bagi rakyatnya.
"Sepanjang yang dikisahkan oleh para tetua ia tidak termasuk," ungkap Levy, "tapi yang jadi masalah ada banyak nama Radu dari keturunan kakek buyut."
"Lantas siapa dia sebenarnya!" tanya Lita.
"Radu yang kamu maksud ini adalah adik, dan pengganti kakek buyut sebagai raja," jawab Levy.
"Kakek buyut kamu itu Raja Vlad III?" Lita bergaya seolah-olah menebak, padahal Lita telah mencari data dan fakta tentang sejarah drakula sebelumnya.
Levy seperti tidak pedulikan tebakan Lita. Agaknya Levy terlihat sedikit enggan jika harus membahas tentang kegilaan kakek buyutnya. Lalu Levy berkata, "Ada banyak banyak versi beredar, dan semua adalah hasil pengembangan cerita yang mereka anggap paling sesuai dengan kebutuhan dan kebanggaan mereka masing-masing."
"Iya benar itu!" ujar Lita setuju dengan pendapat Levy.
Lita sangat paham jika Levy keberatan jika harus membahas sejarah drakula. Terlalu banyak kekejaman yang dibuat oleh kakek buyutnya. Hingga kutuk harus turun pada mereka.
"Ada anggapan seorang pahlawan harus memiliki sifat seperti malaikat. Sedangkan kebaikan pahlawan hanya dirasakan oleh kaumnya, tapi tidak bagi kaum lawan atau yang berseberangan," Levy berikan uraian agar ditelaah oleh Lita.
"Betul, saya sendiri sampai bingung ikuti berbagai versi," ujar Lita,
"Versi bagaimana?" Levy ingin tahu pandangan Lita terhadap uraiannya tadi.
__ADS_1
"Horor, Misteri, Percintaan, Perang, Kartun, Komik aja sampai-sampai ada juga." jawab Lita, "komik Superman versus drakula!"
Levy berusaha tidak tertawa dengarkan omongan Lita yang tidak menyambung dengan apa yang jadi concernnya. Untuk menghargai lawan bicaranya, Levy ajukan sebuah pertanyaan, "Kamu pernah lihat komik itu?"
"Pernah, punya Abang saya!" jawab Lita penuh semangat.
"Abang kamu? Kamu punya Abang? Dimana keluarga kamu sekarang?" tanya Levy dengan berurutan.
"Mereka di Australia, papa saya bertugas di sana," jawab Lita
"Jadi kamu tinggal sendiri di sini," tanya Levy.
"Tadinya berdua, sebelum mama tinggalkan kami dua tahun lalu," Lita terlihat seperti mengenang mamanya yang harus tinggalkan dirinya akibat wabah Covid 19.
"Kenapa mereka tidak temani kamu untuk tinggal disini?" tanya Levy cepat-cepat seolah tak ingin biarkan Lita merasa sedih lebih lama.
"Abang masih ada kendala untuk dapatkan izin praktik disini," Lita ceritakan adanya hal yang berbeda dalam standarisasi dunia kedokteran antar dua negara, "papa mama pisah sejak kami kecil!"
"Atau kamu ada rencana pindah kesana?" Levy ingin tahu.
"Jika papa pensiun, Dia akan kembali kesini!" jawab Lita pasti.
"Ayo dimakan Lita, bubur tidak enak jika sudah dingin!" Levy ingatkan Lita untuk segera memulai sarapannya.
"Ini namanya bubur ayam Lev, menu sarapan favorit banyak orang disini!" Lita berikan penjelasan pada Levy sedangkan tangannya sibuk tambahkan isian pada mangkuknya.
"Asep taruh kuahnya di pot kecil itu," Levy coba beri tahu Lita setelah melihat bubur itu berubah jadi kering akibat kerupuk yang dimasukan Lita terlampau banyak.
"Iya nih agak susah ngaduknya ini, thanks ya!" jawab Lita sembari mengambil wadah kuah itu.
"Apa rencana kamu hari ini?" tanya Levy.
"Seperti biasa, Kampus!" jawab Lita, "ada jadwal ngajar pagi ini."
"Setelah itu?" tanya Levy.
"Hei, Kamu sepertinya mau alihkan cerita tentang …" pernyataan Lita harus terpotong lagi dengan alasan Levy.
"Tidak, saya benar-benar hanya ingin tahu rencana kamu hari ini!" ujar Levy, "silahkan tanyakan lagi tentang keluarga kami."
"Silahkan!" Levy seolah menantang untuk ditanyai.
"Tentang keluarga kamu? Nanti sajalah ya!" Lita sepertinya ingin permainkan Levy.
"Saya serius silahkan ditanyakan kembali!" ujar Levy.
"Setelah dari kampus, Mau ke rumah sakit daerah, mau ketemu dr. Rosi cari tahu kelanjutan lamaran!" Lita tiba-tiba kembali ke pertanyaan Levy sebelumnya.
Lita coba alihkan dengan cara menjawab pertanyaan Levy sebelumnya. Ia sadar telah kehabisan ide dalam bahasan tentang leluhur Levy. Rasanya tak ada gunanya bertanya lagi tentang keluarga Levy belum menguasai sejarah tentang mereka.
"Serius kamu mau cari tempat praktik yang baru lagi? tanya Levy.
"Ya, sayang rasanya kalau baru dua tempat!" Lita berikan alasan perlunya menambah tempat praktik," rumah sakit umum daerah sepertinya jalan masuk yang tepat untuk menembus para pengurus atlet di daerah."
Levy salut pada tekad Lita dalam bekerja. Seolah-olah tidak pernah ada rasa capai. Hari-hari yang dilalui Lita begitu padat. Sudah begitu masih juga mau ditambah dengan agenda klub sepak bola.
"Ah! Hampiri lupa saya harus menghadap dekan hari ini!" ucap Lita.
"Untuk masalah apa?" tanya Levy.
"Soal klub sepak bola, jawab Lita, "saya harus beritahu hal yang Dito lakukan adalah untuk membela klub."
"Saya sudah ketemu dengan Dekan tadi malam," ujar Levy.
"Bercanda kamu?" Lita setengah tak percaya.
"Lita, sudah pernah saya katakan bahwa saya tidak pernah berbohong!" jawab Levy, "jika iya! apa untungnya buat saya?"
Lita terdiam sejenak. Satu sisi ia merasa lega, Levy telah bersedia ambil tindakan tanpa ia minta. Hal ini sebagai bukti bahwa Levy memang punya niatan yang sama dengan dirinya dalam pertahankan klub. Sisi lain, Lita ingin tahu bagaimana cara levy melakukannya.
"Kapan kamu ketemu dia?" tanya Lita
__ADS_1
"Tadi malam, ketika kamu tidur!" Dua kali sudah Levy menjawab pertanyaan yang sama dari Lita.
"Kamu bicara apa sama dia?" tanya Lita.
"Saya katakan ke dia saya bersedia ganti semua yang dipakai oleh Dito asal …." Belum selesai Levy bicara sudah dipotong Lita sedikit emosional.
"Asal apa!" Lita mendadak khawatir Levy libatkan Dito hingga ada hukuman yang terlalu berat untuk anak didiknya itu.
"Sebentar Lita, jangan dipotong dulu!" Levy mohon pada Lita agar ia dibolehkan bicara sampai selesai.
"Oke lanjutkan, maaf," ujar Lita sambil menyuap bubur ayamnya.
"Nah gitu, sambil disuap ya!" Levy terlihat senang Lita mulai tenang kembali.
"Sudah cepetan cerita!" pungkas Lita tak sabaran.
Levy pun menceritakan versi singkat pada Lita. Ia katakan pada Dekan akan bersedia mengganti apabila audit yang dilakukan pihak kampus dapat dibandingkan dengan audit eksternal yang akan dilakukan kantor akuntan publik.
Levy merasa ada yang tidak sesuai pada laporan keuangan itu. Sepertinya Levy sangat percaya pada Dito. Tidak mungkin seorang mahasiswa punya nyali dan wewenang untuk menilap dana sebesar itu.
"Iya itu benar, saya juga heran kenapa angkanya kok bisa besar sekali ya?" Lita terlihat sok paham.
"Itu juga yang disampaikan Dito ketika saya coba cross check," Levy bermaksud memberi tahu Lita kunjungannya ke Dito benar adanya.
"Dari mana kamu bisa tahu asal angka itu Lev?" Kembali Lita bertanya.
"Dari laporan audit pastinya, terlihat dari proses penyusunan dan waktu pembuatan laporan!" Levy ungkapan sebuah teori dasar audit.
"Kamu apakan auditor itu Lev?" Tampak jelas wajah Lita kecewa akibat tidak diajak dalam proses interogasi.
"Hei, ada apa dengan wajahmu Lita," Levy bertanya karena melihat Lita cemberut.
"Tidak ada apa-apa!" jawab Lita sedikit geram, "cuma heran kok tega biarkan saya tertidur disini, sedangkan kamu pergi buat memanipulasi orang!"
"Saya tak lakukan manipulasi tadi malam, Tidak pada seorangpun!" Levy coba redam rasa marahnya sebab Lita tidak percaya pada perkataannya.
"Tapi …!" Tanda Lita belum menerima penjelasan Levy.
"Tidak ada tapi Lita! Ingat kondisi kamu kemarin seperti apa!" Levy ingatkan Lita tentang kondisinya akibat minuman yang dipesannya.
"Terus cara kamu tahu bahwa hasil audit itu tidak benar bagaimana?" tanya Lita sedikit bergaya manja, berharap Levy tak lagi marah padanya
"Mudah saja Lita!" jawab Levy singkat.
"Ba … gai … ma … na … ca … ra …nya!" Lita tetap tak sabaran, "itu saja dulu!"
"Iya, sabar ini mau saya terangkan!" sergah Levy.
Levy terangkan pada Lita tentang dugaan jumlah kebocoran dana sangat besar. Sementara itu ada beberapa item biaya yang kecil-kecil tidak dapat dibuktikan oleh Dito. Total penyimpangan yang diduga dilakukan oleh Dito tidak lebih besar jika dibandingkan hanya satu item kelebihan bayar. Yang mana transaksi itu dilakukan oleh seorang pejabat yang punya otoritas kewenangan.
"Artinya ada yang bermain selain Dito, begitu?" Lita kembali potong penjelasan Levy
"Begitulah!" Levy tersenyum lengkap dengan tampilan wajah sombongnya.
"Kasihan Dito, Dia dijadikan korban oleh pemain besar," Lita merasa prihatin atas nasib yang diterima Dito.
"Yes," Levy benarkan kesimpulan Lita.
"Terus bagaimana tentang audit eksternal dan macam-macamnya?" Lita tak tahu dari semula maksud perkataan Levy pada Sang Dekan.
"Saya rasa sudah tidak diperlukan lagi," tukas Levy.
"Mengapa begitu?" Lita kembali heran dengan jawaban Levy yang terkesan suka berputar-putar.
'Itu hanya ancaman Lita, agar klub sepak bola bisa ditutup selamanya!" Levy coba berikan jawaban yang mudah dimengerti oleh Lita.
"I see!" Lita sudah paham kondisi klub sepak yang memang telah dikondisikan.
"Apakah Dekan terlibat?" tanya Lita curiga bahwa Dekan pasti mengetahui masalah ini sedari awal.
"Sudah Lita, habiskan sarapan kamu!" ujar Levy, "kamu ada jadwal ke kampus hari ini kan?"
__ADS_1
Levy tak ingin Lita tahu secara keseluruhan tentang keterlibatan Dekan. Bagi Levy lebih baik mereka pegang rahasia itu. Serta akan gunakan sebagai penekan jika Sang Dekan halangi jalan mereka.
...☘️☘️☘️ ~ bersambung ~☘️☘️☘️...