
Lita kembali ke rumah Levy. Ada timbul rasa penyesalan mengapa ia tolak untuk menggali lebih dalam kisah Levy dimasa lalu ketika ada kesempatan. Seharusnya ia dengarkan cerita itu sampai selesai. Bila begitu maka ia bisa mengerti alasan Levy bersikap seperti saat ini. Setidaknya jika percakapan tadi lebih lama, kemungkinan ia telah kantongi beda antara vampir dan drakula.
Lita gunakan kartu akses masuk yang pernah diberi Levy. Rumah yang dibeli Levy itu kini telah menjelma menjadi rumah yang memiliki sistem penjagaan yang ketat Lita segera naik ke lantai dua, langsung menuju ke kamar tempat Levy berada.
Lita terkejut saksikan adegan Missy letakkan bibirnya pada pergelangan tangan Levy. Adapun drakula kesayangannya hanya terbaring diatas kasur. Terlihat sangat lemah sekali.
Seketika Missy melepaskan bibirnya dari tangan Levy. Lita sempat saksikan gigi tajam dan panjang itu. Juga mata merah menyala milik Missy. Sangat jelas terlihat bahwa Missy begitu terkejut ketika melihat Lita telah berada di dalam kamar secara tiba-tiba.
"Hei apa yang kamu lakukan!" bentak Lita.
"Sabar Lita, Missy sedang pengobatan!" jawab Levy sambil melihat ke arah Lita.
"Pengobatan apa!"
"Ia mau hilangkan racun vampir di tubuhnya!"
"Supaya apa?"
"Dia ingin hilangkan rasa haus berlebih!"
"Rakus begitu dia hisap darah kamu!" Lita nyinyir pada kelakuan Missy yang dianggapnya bertentangan dengan tujuan pengobatan.
"Zhelev Hristov, kamu mau saja diremehin wanita kasta rendah ini!" Missy perlihatkan sebuah kemarahan yang nyata, "kalau kamu setuju biar saya hisap dia!"
"Jangan pernah kamu lakukan Missy!"
"Tapi?"
"Pergilah sekarang!"
"Kita belum selesai Lita!" Missy perlihatkan seringainya pada Lita.
Sehabis berkata seperti itu Missy sudah tidak tampak lagi di hadapan Lita. Bak perpindahan angin saja. Tapi Lita tahu pasti bahwa Missy lakukan manipulasi pada dirinya.
Lita segera hampiri Levy, dan membantu untuk bersandar. Levy kelihatan sangat lemah. Kemudian arahkan jari telunjuk ke arah brankas. Bagai meminta Lita untuk menuju kesana. Lita pun melangkahkan kakinya ke arah brankas.
Belum tiba di tempat yang ditunjuk oleh Levy, Lita melihat empat bayangan hitam berkelebat melewati kaca jendela. Tanpa ragu Lita melihat keluar dari jendela itu. Merasa tak puas melihat Lita geser kain gorden yang ada.
"Lev, itu bayangan yang kemarin ada lagi!" Lita katakan hal yang ia lihat dengan jelas, "bayangan perempuan diikuti bayangan tiga laki-laki!"
Levy pun harus tetap menjawab dengan jujur, "Itu Missy dikejar anak buah Misna!"
"Dikejar? Ah, becanda kamu?"
"Iya, Missy sedang terancam!"
"Masuk akal dikit ngapa? Anak sendiri kok dikejar-kejar sama emaknya sendiri?"
"Misna telah anggap MIssy berkhianat!"
Agak susah kali ini Lita terima omongan Levy. Kalau Missy sebagai penghianat masih mungkin. Tapi sampai dikejar-kejar dan diburu vampir suruhan ibunya sendiri sulit bagi Lita untuk percaya. Walau dari jenis keluarga vampir, tetap saja hubungan antar mereka adalah ibu dan anak pikir Lita.
Setelah saksikan keempat bayangan itu hilang di kejauhan, Lita lanjutkan untuk membantu Levy membuka brankas yang ia pernah lihat ada cawan perak disana. Agaknya Levy hendak minum dari cawan itu.
Disela-sela membuka pintu brankas Lita bertanya, "Penghianatan apa yang Dia lakukan?"
"Dia telah bocorkan lokasi Victor!"
__ADS_1
"Ke kamu?"
"Ya!"
"Kenapa dia mau bela-belain kamu!"
"Cuma saya yang bisa bantu dia hilangkan darah vampir di tubuhnya!" Suara Levy seperti meninggi.
"Jadi dia butuh kamu?
"Ya!" Kali ini Levy telah duduk lebih tegak dengan bantuan sandaran pada kasur.
"Saya rasa malah sebaliknya?" Lita tidak percaya pada omongan Levy.
Levy tersinggung dengan perkataan Lita. Dua kali ia telah beri jawaban yang sama pada Lita. Levy tidak terima pada tuduhan bahwa ia yang memiliki kepentingan terhadap Missy.
Levy tahu Lita punya pikiran seperti itu. Hanya karena faktor cemburu. Tapi tetap saja tak pantas bagi Lita punya pemikiran seperti itu. Levy merasa telah tunjukkan bukti tidak pernah berbohong layaknya bangsawan drakula yang terhormat.
Harus diakui gadis mandiri seperti Lita, akan sulit mengaku kalah jika ada orang yang dirasanya lebih. Dalam hal ini daya tarik Missy harus diakui lebih. Lebih cantik, muda, tinggi, dan jauh lebih berani dalam mengekspos tubuh. Sungguh suatu kemampuan yang tidak bisa dimiliki Lita. Untuk sesaat Lita lupa Missy adalah keponakan jauh Levy.
"Lit, nomor kodenya …!"
"Ssst …! Dah tahu kodenya!" Sergah Lita sambil menekan enam digit tombol pada papan brankas bagian dalam.
"Sejak kapan kamu tahu?"
"Tadi sore!"
"Kok bisa?"
"Oh … !" hanya itu jawaban dari Levy.
Levy diam sejenak. Terlihat sekali ia didera kelelahan yang amat sangat. Banyaknya darah yang dihisap Missy membuat Levy benar-benar lemah. Wajahnya tak lagi terlihat pucat. Lebih tepat jika dikatakan membiru.
Lita tiba di tepian kasur. Lalu ia berikan cawan perak perak itu pada Levy. Seperti biasa Levy tempelkan bibirnya di dinding cawan.
Lita perhatikan dari dekat. Jelas ia melihat gusi dan gigi bagian atas Levy turun ke bawah. Seperti terlihat bergerak turun ke bawah. Utamanya pada bagian taring, lebih memanjang. Kini Lita mengerti mengapa bentuk cawan itu begitu lebar dan sangat pipih.
Baru kali ini Lita melihat cara minum Levy dengan jelas. Biasanya Levy tempelkan pada bagian bibir lalu tutupi dengan lengan kirinya. Namun, lelah yang amat sangat membuat drakula itu membiarkan Lita saksikan proses minum darah dari cawan yang ia lakukan.
Berangsur warna biru pada wajah Levy memudar. Kini wajah itu terlihat kembali pucat. Jika diperhatikan dengan seksama tampilan wajah Levy telah sangat berubah. Jauh jika dibandingkan ketika baru tiba dan bertemu di kampus untuk pertama kalinya.
Kala itu Lita malah tidak pernah mengira Levy adalah drakula. Sangat cocok bagi seseorang yang mengaku sebagai tenaga profesional psikiater atlet. Lita rasakan ada perubahan itu dimulai sejak ia ditinggal sendirian di hotel.
Malam itu ia ditinggal pergi Levy bersama Missy. Ingat kembali kejadian itu, cemburu kembali hinggap untuk kesekian kalinya. Lita mulai kehilangan kendali diri. Jelas sekali emosinya telah menggumpal dalam dada dan siap untuk dimuntahkan.
"Sampai kapan mau coba untuk obati vampir betina itu!"
"Selama Dia mau!"
"Kok gitu?"
"Tinggal Dia satu-satunya klan Nederland yang tersisa!"
"Hanya itu?"
"Dia putri Olaf!"
__ADS_1
"Kamu akan korbankan semuanya?"
"Sepertinya!"
"Yakin?"
"Ya!" Levy kembali ulangi meminum darah dari cawan itu lagi.
"Bagaimana dengan kita?"
"Tak akan ada yang berubah, tenang saja!"
Lita tak terima pernyataan Levy. Lita ingin Levy harus mulai pikirkan dirinya. Lita tak mau selamanya hidup sendiri tanpa ada pasangan.
Cukuplah ia disia-siakan Alen. Lepas dari Alen malah digantung Levy. Lita sadar jika dirinya sudah tak muda lagi. Sudah masuk usia kritis untuk memulai rumah tangga dalam suatu ikatan perkawinan.
"Bisa nggak kamu pikirkan jalan keluar buat kita?"
"Misalnya?"
"Kamu jadi manusia normal misalnya?"
"Setelah Victor, Saya akan coba!"
"Kesinikan!" Lita meminta cawan itu sambil berteriak seperti orang kesurupan.
"Jangan Lita! Jangan!" Levy cemas timbul melihat kemarahan Lita kali ini..
Lita merenggut cawan itu dari tangan Levy. Ia benar-benar telah habis kesabaran. Lita telah melenceng dari niat awal sekedar cari perhatian dari pangeran drakula-nya. Namun, ia benar-benar kecewa karena tidak dapatkan perhatian seperti yang ia mau.
Lita benarbenar marah dan merasa telah dinomor duakan. Ditengah kondisi yang seperti itu, Lita melihat bulir-bulir darah keluar dari batu warna hitam yang ada di tengah itu. Sungguh pemandangan yang menjijikkan. Batu itu terus saja keluarkan bulir darah dan berbuih-buih.
Kraak ... Penuh emosi Lita hempaskan cawan itu. Tak ada yang bisa Levy lakukan. Andaikan Levy punya tenaga yang cukup, tentu ia akan lakukan manipulasi pikiran pada Lita untuk menenangkannya. Kali ini Levy benar-benar tak berdaya.
Cepat Lita pergi dari kamar itu. Ia tak peduli lagi dengan Levy. Cukup baginya untuk bersabar. Lita benar-benar kecewa pada Levy yang ia rasa tidak begitu peduli padanya. Kalah jika dibandingkan musuh dan keluarga besarnya.
Habis Victor, Missy, Victor lagi, Misna, Olaf, Missy lagi … Terus saja begitu Lita membatin dalam rasa kesalnya.
Lita telah tiba di depan mobilnya. Melihat sekeliling bagian atas tepatnya di antara pohon-pohon. Lita khawatir tidak seluruh vampir-vampir itu pergi.
Di kejauhan tampak cahaya lampu motor. Berjalan mendekat dengan pelan. Lalu si pengendara turun dari skuter milik Levy, dan membuka pintu pagar. Lita segera tahu bahwa itu adalah Asep.
Tanpa ragu Lita jalankan mobilnya keluar. Sungguh suatu kebetulan selagi dibuka Asep pikirnya. Namun, Lita tak menyangka Asep tetap menunggunya di depan pagar sambil memegang sebuah bungkusan untuk diberikan padanya.
"Apa ini?" Lita terima bungkusan yang diberi Asep.
"Kwetiau goreng!"
"Darimana?"
"Beli, Di depan hotel," jawab Asep, "tadi disuruh mister Zhelev!"
Sehabis taruh bungkusan itu di jok kiri. Lita melirik ke arah topi Laib yang selama ini terpasang di bagian kepala jok. Ia cabut topi itu dan ia lemparkan ke jok belakang. Ia benar-benar kecewa pada Levy.
Lita memacu mobilnya dengan kencang. Tak peduli dengan jalan berlubang dan berbatu. Selain rasa kesal, rasa khawatir akan Missy jadi sebab ia tekan gasnya dalam-dalam. Lita sadar bisa saja ia sudah jadi incaran para vampir. Terlebih Missy, yang sempat secara langsung keluarkan ancaman padanya.
...☘️☘️☘️ ~ bersambung ~ ☘️☘️☘️...
__ADS_1