
Ada yang aneh di ruang sekretariat pagi itu. Levy tampak duduk di depan meja kerja manajer klub. Ia kedapatan tengah berikan nasehat pada Dito. Sulit dipercaya bahwa Levy sudah tinggalkan hotel di pagi hari.
Levy kedapatan tengah bicara dengan Dito. Levy ingin Dito memiliki pemahaman bahwa sekalipun Lita memiliki pendidikan tinggi, tetap saja ia seorang wanita. Sebagai wanita cenderung ikuti perasaan ketimbang akal sehat. Termasuk dalam menerima tantangan tim Apep.
Bagi Levy, wanita idamannya lebih ke arah ingin buktikan harga dirinya. Sepertinya Lita telah berhasil diprovokasi Heru. Dito sebagai asisten pelatih seharusnya dapat berikan masukan pada Lita, ketika dirinya tidak ada.
"Iya Pak saya ngaku salah malah ikut-ikut dukung kemauan Bu Lita," Dito terlihat tak berani menatap ke arah Levy.
"Coba kamu batalkan atau jadwal ulang uji coba itu, bisa nggak?" pungkas Levy.
"Saya usahakan Pak!" jawab Dito.
"Saya tidak mau salahkan kamu, agenda latih tanding memang hak manajer klub," Levy mengerti benar batasan tanggung jawab Dito sebagai asisten pelatih.
Levy tiba-tiba mendadak terdiam sehabis ungkapkan pendapat tentang tidak ditemukan adanya unsur melewati batas kewenangan seorang asisten pelatih. Walau telah lega setelah tidak dipersalahkan, Dito heran mengapa Levy secara dadakan menjadi diam. Pikiran Dito menerawang ke tahu bulat kalau terkait masalah dadakan.
Lita masuk ke dalam ruang sekretariat, ia sama sekali tidak pernah menyangka akan ada Levy disana. Dalam hatinya ia senang Levy datang berkunjung. Walau Lita tahu bila ditanya secara langsung pastilah Levy akan beralasan melihat perkembangan klub. Bukan untuk menemui dirinya.
"Whoa, ada Coach Levy rupanya!" ujar Lita berpura-pura terkejut.
"Hai Dokter Lita!" Jelas ada satu kerinduan yang tergambar di suara Levy pada wanita yang ia temui di Qatar.
"Pak Levy sudah dari tadi disini Bu!" Dito berkata, sepertinya ia baru mengerti sebab Levy mendadak diam tadi.
"Oh ya, Tumben-tumbenan mau datang melihat kami disini," ujar Lita terkesan sewot.
"Iya, saya baru saja diskusi dengan Dito, Ya Dit ya," Levy coba membuat Lita yakin pada perkataannya.
"Ya Bu!" jawab Dito dengan cepat seolah cari aman. "Pak Levy saya izin keluar dulu mau ngehadap dosen pembimbing dulu."
"Oke Dit, Jangan lupa pesanan saya ya!" Levy ingatkan kembali persetujuan antara mereka sebelumnya, "ingat tiga hari!"
"Siap Pak, nanti kalau sudah selesai, saya titip ke Bu Lita ya Pak?" ujar Dito.
"Oke Dit, terima kasih." Balas Levy
Sengaja Dito cepat-cepat pergi dari sana. Dito dapat rasakan ada aura yang tidak baik pada diri Lita. Semakin cepat ia pergi menyingkir akan semakin cepat aman dirinya.
Levy tanyakan ketidakhadiran Lita selama dua hari. Ditanya seperti itu Lita tampak tersenyum. Lesung pipit yang sebelah itu terlihat semakin nyata di bagian kanan bawah. Lita merasa menang telah berhasil membuat Levy datang ke sekretariat dan mencarinya.
"Saya sedang selesaikan program promosi untuk tiga induk cabang olahraga daerah," Lita beri sebuah alasan.
"Program untuk siapa?" Levy ingin tahu mitra kerja wanita yang ia sayangi itu.
"Klinik! Saya dibantu oleh Sari disana!" jawab Lita.
"Sari siapa?" Levy ingin tahu orang yang belum pernah ia dengar namanya.
"Petugas admin di klinik, dia lumayan jago komputernya!" Lita beritahukan sosok Sari pada Levy.
"Sudah sampai di mana programnya?" tanya Levy.
"Programnya sendiri sudah selesai, saat ini kami tengah susun action plan untuk kegiatan sales-nya," Lita beritahu status report program kerjanya.
"Bolehkah saya melihatnya, siapa tahu saya bisa beri masukan!" Levy tawarkan dirinya sebagai konsultan bisnis gratisan.
__ADS_1
"Tidak usah, ini hanya sebuah program sederhana saja!" Lita menolak bantuan Levy secara halus.
"Baiklah," Levy paham atas penolakan Lita.
"Ada apa tiba-tiba kemari, Nggak takut sama sinar matahari apa?" Lita ajukan sebuah pertanyaan yang cukup menusuk perasaan Levy.
"Ada pembicaraan sama Dito, soal menu latihan untuk kawan-kawan," jawab Levy tetap tenang.
"Mau pakai link YouTube lagi?" Lita coba keluarkan sebuah candaan sekaligus sindiran pada Levy.
Boleh saja Lita mengungkit tentang kejadian link YouTube. Bagi Levy tak masalah, ia hanya berpikir bahwa Lita telah lupa pernah ucapkan kata maaf atas kejadian itu. Levy berhasil buktikan bahwa link YouTube itu bukan diperuntukkan sebagai bahan latihan.
Malah tanpa sepengetahuan Lita, ia telah lakukan penjajakan pada manajemen sekolah sepak bola tempat Luca Modric muda berlatih. Sebuah sekolah sepak legendaris di Kroasia. Negara yang baru saja menempati posisi ketiga piala dunia Qatar.
"Kami sedang coba susun materi latihan yang cocok untuk tim," Levy beri tanggapan serius atas candaan Lita.
"Buat apa materi latihan, kan kamu sendiri yang bilang anggota tim belum cukup, jadi belum bisa latihan," Lita coba ingatkan pembicaraan levy sendiri.
"Benar sekali Lita, makanya kami akan lakukan percepatan dalam hal rekrutmen pemain baru!" ujar Levy.
*Ide bagus, untuk rencana rekrut pemain barunya sendiri bagaimana?" tanya Lita.
"Sudah saya rencanakan bersama Dito, Tinggal eksekusi saja,* ujar Levy.
"Eksekusi? Maksudnya?" Lita bertanya lagi.
"Segera setelah saya dapat jadwal latihan dari klub lain dari Dito!" jawab Levy.
"Maksudnya?" Kali ini Lita bertanya sambil memiringkan kepala hingga menyentuh bahu kanannya. Dibarengi senyum lebar pastinya.
"Saya sudah dapat bocoran dari Dito, peminat klub sepak bola ini banyak pada awalnya," jawab Levy yang terlihat sumringah akibat senyuman itu.
Levy pun menyampaikan cerita yang ia dengar dari Dito. Bahwa teman angkatan Dito banyak yang berminat masuk ke klub sepak bola awalnya. Bahkan untuk masuk dilakukan proses seleksi. Sayang mereka harus bubar ketika Apep ditunjuk gantikan Pak Marthak sebagai manajer klub.
"O, benar itu. Dito memang pernah bilang bahwa Pak Marthak ini adalah manajer klub sebelum Apep," Lita lengkapi cerita Levy.
"Nah sudah saatnya kita rekrut kembali mereka!" Levy tampak bersemangat.
"Kenapa tidak tunggu mahasiswa baru saja nanti," Lita agak khawatir pandangan negatif klub olahraga lain pada dirinya. Lita takut dianggap merebut keanggotaan dari klub mereka.
"Tidak bisa ditunda lagi, gangguan pada klub ini malah lebih cepat!" Levy berikan gambaran situasi yang tengah menerpa mereka.
"Maksudnya?" Sebuah pertanyaan yang memiliki kesan malas berpikir Lita ucapkan lagi.
Lalu dengan hati-hati Levy katakan hasil pemikirannya, "Hari ini klub sepak bola, besok kita nggak tahu klub mana lagi yang akan dihancurkan!"
Lita terdiam dengarkan penjelasan dari Levy. Pendapat itu sungguh ada benarnya. Lita tidak berani untuk bayangkan jika para mahasiswa akan hanya jadi penonton di masa mendatang.
Mahasiswa kampus sendiri tak lagi dapat menikmati fasilitas olahraga yang memang seharusnya untuk mereka. Tergantikan oleh orang luar. Hanya untuk kepentingan segelintir orang yang selalu menuhankan uang, dibalik alasan profesionalitas.
"Lita, Saya dengar dari Dito, bahwa kamu telah terima tantangan dari Heru dan Apep?" Levy ingin bandingkan perkataan Dito yang ia dengar sebelumnya.
"Maafkan saya, Saya benar-benar telah termakan omongan Heru," Lita coba buat pembelaan terhadap dirinya.
Lita mendadak pucat dengarkan pernyataan Levy. Ia yakin hal ini telah jadi salah satu bahan pembicaraan antara Levy dan Dito tadi. Semua berawal dari kebodohan dirinya yang tak sengaja telah berani menerima tantangan Heru. Sungguh suatu kesalahan fatal yang nyata dalam hidupnya.
__ADS_1
"Hal itu sudah saya prediksi!" ujar Levy tak salahkan Lita sedikitpun.
Bahkan jika Lita ingat, pernah ada di suatu kesempatan Levy berkata pada Lita tentang Heru. Jika saja Heru mau sedikit mengerti akan kepentingan mahasiswa, Levy akan bicara secara baik-baik padanya. Bahkan mungkin bekerjasama dengannya. Pastinya Levy tidak akan pernah lakukan manipulasi pada Heru.
"Jadi kamu sudah duga kalau dia akan lakukan hal seperti ini?" Lita lega setelah tahu bahwa dirinya tak dipersalahkan oleh Levy.
"Sebenarnya lebih baik hindari saja dulu, jangan pernah terpancing," Levy seperti berikan nasihat pada Lita, "mereka ingin runtuhkan nyali kita semua!"
"Maaf ya saya tidak mengerti yang model pakai-pakai politik seperti itu," ujar Lita.
"Jangan anti politik, semua bisa lebih baik jika kita belajar untuk paham tata cara politik," Levy uraikan pandangannya terhadap politik pada Lita.
Lebih lanjut Levy katakan pada Lita, setiap manusia pasti berpolitik. Dengan cara itu maka seseorang dapat gunakan orang lain agar melakukan hal sesuai keinginannya. Bukan hal yang salah, selama dilakukan untuk kepentingan bersama.
Lita akui penjelasan Levy terkandung nilai otentik dari kata politik itu sendiri. Bahkan tanpa disadari dirinya pun berpolitik. Lita akan selalu ingat akan satu pokok ajaran utama terkait politik dari Levy.
Lita dituntut oleh Levy harus bisa bedakan panggung depan dan panggung belakang. Setiap pembicaraan politik seseorang harus dianalisis sesuai dengan tujuannya. Tujuan langsung atau tak langsung. Lita berterima kasih telah dapatkan konsep dasar dari ilmu politik. Sebuah ilmu yang ia anggap selalu menjadi alat untuk berebut kekuasaan.
"Hei! Kamu belum jawab alasan tak takut panas matahari?" Lita teringat lagi dengan pertanyaan kedua yang ia katakan di awal-awal pembicaraan.
"Oh ya maaf, karena ada ramalan cuaca!" jawab Levy.
"Berita di TV?" Lita coba tegaskan.
"Iya, mereka bilang mendung sepanjang hari dan akan turun hujan!" ujar Levy terlihat senang.
"Tidak heran, dari tadi pagi halimun tidak berhenti turun," Lita mendukung prakiraan cuaca itu.
"Halimun?" Levy tidak mengerti.
"Kabut!" jawab Lita.
"Benar kabut menghalangi sinar matahari," ujar Levy.
*Tapi bukan kamu yang buat kan?" Lita bertanya seperti itu karena pernah lihat kesaktian drakula dalam sebuah film.
"Hal yang tidak berguna untuk dilakukan! Hanya habiskan energi," tutur Levy
Lita resapi pernyataan Levy. Ia ambil satu kesimpulan bahwa Levy tak pernah menolak pernyataan yang ia utarakan. Artinya Levy memang mampu membuat kabut untuk selamatkan diri atau mengecoh musuh seperti yang ia lihat di film-film vampir atau drakula.
"Saya butuh istirahat, bisakah kamu beri tumpangan untuk saya kembali ke hotel!" pinta Levy.
"Tentu saja saya bisa antar kamu kesana!" jawab Lita tanpa ragu.
"Sekarang?" Levy setengah memaksa.
"Ya, saya sudah lepas dari jam mengajar," Lita nyatakan sebuah kesanggupan.
"Terima kasih," ujar Levy.
Lita mengerti akan kecemasan Levy. Dari kejauhan langit diatas hotel tempat Levy menginap tampak lebih cerah dibanding tempat mereka berada saat itu.Tak berat baginya untuk antarkan drakula pujaan hatinya untuk kembali ke hotel.
Ada makna dari pertemuan mereka walau relatif singkat. Lita mulai dapat merasakan suatu ketenangan. Terlihat olehnya Levy telah mengambil suatu tindakan nyata bagi klub sepak bola yang dipimpinnya.
Sebagai manajer tugasnya saat ini adalah mengikuti perkembangan klub. Memeriksa dan menyetujui program dan rencana yang akan Levy lakukan. Lita ingin Levy lakukan yang terbaik untuk timnya.
__ADS_1
...☘️☘️☘️ ~ bersambung ~ ☘️☘️☘️...