
Aktivitas Lita hari itu terasa sangat padat. Ia terlihat sangat letih. Sudah tahu begitu Lita tetap paksakan diri untuk datang ke rumah Levy. Di akhir cerita, dapat dengan mudah ditebak, Lita kembali tidur di kamar Levy. Bedanya kali ini sudah tidak di hotel lagi.
Semula kedatangan Lita ingin tanyakan tentang hubungan mereka. Lita merasa hubungan mereka tidak ada kemajuan. Harus diakui Levy membawa kenyamanan tersendiri baginya. Namun, tetap saja perbedaan waktu aktivitas jadi kendala tersendiri buat Lita.
Tengah malam Lita terbangun. Jam pada ponsel Lita tunjukkan angka dua lewat tiga belas menit. Setelah pulih sepenuhnya Lita duduk di tepian kasur. Dilihatnya Levy tengah berada di depan layar komputer.
"Wah, saya malah keterusan tidurnya," Lita masih ingat bahwa ia sempat minta izin untuk istirahat sebentar pada Levy.
"Nggak tega bangunin kamu,". jawab Levy.
"Nggak apa-apa, belum tentu juga kalau bangun saya bisa pulang," Lita tertawa kecil teringat tujuannya datang kerumah Levy tadi malam, "ngantuk berat saya semalam."
"Kalau sekarang gimana?"
"Malah lapar!" Lita kembali tertawa.
"Biar saya bangunkan Asep!"
"Eh, jangan!"
"Terus apa solusinya?"
"Kita jalan aja yuk ke depan!" ajak Lita.
Lita merasa tidak enak jika harus repotkan Asep tengah malam. Merasa gengsi minta bantuan Asep, ketika Levy disampingnya. Lita dapatkan ide untuk ajak Levy mencari tempat makan 24 jam yang ada di luar sana. Jika iya, hal itu akan jadi bentuk pengulangan peristiwa Qatar nantinya.
Dengan berat hati Levi turuti keinginan Lita. Tanpa disadari Lita telah ada vampir yang mengawasi kediaman Levy. Serta dapat menyerang mereka kapan saja saat mereka berada di luar.
Levy amat khawatir akan keselamatan Lita. Itulah sebab Levy sempat melarang Asep berikan izin masuk pada siapapun, kecuali Lita. Sebab vampir tidak akan pernah bisa masuk bila tidak ada izin dari tuan rumah. Pengawasan terhadap rumah itu telah anak buah Misna lakukan sejak Levy pindah dari hotel.
Levy bimbang antara menolak atau ikuti keinginan Lita. Jika menolak, dalam waktu relatif singkat ia akan kehilangan gadis itu dari hidupnya. Kunjungan tadi malam, bagi Levy sangat mudah untuk menilai bahwa ada kesan dipaksakan, Levy tahu itu. Levy juga dapat rasakan kebimbangan pada diri Lita. Bimbang tentang hubungan mereka yang terkesan menentang aturan dunia.
Perbedaan waktu jadi sebab utama. Levy makhluk malam. Sehingga ia acap kali tak bisa penuhi tuntutan Lita yang haruskan ia untuk menemani Lita di siang hari. Bahkan untuk kepentingan klub, Levy harus selalu tunggu kondisi matahari terhalang kabut tebal atau awan gelap.
Sungguh pengorbanan yang tidak mudah untuk dapatkan Lita. Jika dibandingkan ia pilih lakukan proses penyerapan pada Lita sejak mereka pertama kali bertemu. Tentu saja saat ini sudah menjadi boneka hidup yang hanya patuh padanya.
"Gimana jadi nggak!" suara Lita memecah pikiran Levy.
"Iya, jadi!"
"Naik apa kita?"
"Vespa?"
"Setuju!" Sebuah respon yang cepat dari Lita.
Sengaja Levy tawarkan naik Vespa. Sore tadi Levy sempat melihat ada ketertarikan Lita pada motor berbokong tawon itu. Ya, saat Levy hendak tinggalkan sekretariat. Tampak sekali ada antusiasme dari Lita.
Walau mulanya agak ragu, akhirnya Levy setuju. Mereka pun pergi dengan skuter milik Levy. Tak banyak jajanan yang masih buka menjelang jam tiga pagi. Hanya ada kedai roti bakar yang kedapatan masih buka.
Terlalu banyak orang yang makan ataupun sekedar nongkrong membuat suasana kurang nyaman. Karenanya Lita putuskan untuk segera kembali ke rumah Levy. Lita hanya membeli roti keju dan satu kap kopi.
__ADS_1
"Lev, kamu ngerasa nggak, ada yang ngikutin kita sejak berangkat tadi?" ujar Lita.
"Dimana?"
"Itu di dekat … Itu! diantara pohon-pohon itu!"
"Ah, yang bener?"
"Iya, ini serius! Kayak ada yang ngiringin!" Nada Lita mulai meninggi karena merasa tak dipercaya
"Apa pelan banget motor ini ya!" Levy bermaksud katakan tidak mungkin ada manusia biasa yang sanggup ikuti mereka, terlebih dari balik pepohonan.
"Ish, beneran!"
"Jangan sembarangan Lit, baru semua ini onderdilnya," Levy coba beri pernyataan vespa miliknya dalam kondisi prima.
Maksud Levy berpura-pura tidak melihat adalah ingin membuat Lita tenang. Jika Ia beritahu adanya anak buah Misna, tentu timbulkan kekhawatiran pada diri Lita. Levy sempat menghitung ada tiga atau empat vampir yang mengikuti mereka sepanjang perjalanan pulang pergi.
Kali ini mereka duduk di lantai bawah. Lita tampak nikmati roti bakar dan kopi yang dibelinya. Tidak begitu istimewa memang. Tapi terbaik dari yang bisa Lita dapat saat itu.
Levy melanjutkan pekerjaannya. Beberapa kali Lita sempat kepergok mengamati kerja Levy di layar komputer. Sepintas terlihat seperti gambar denah rumah. Lengkap dengan ruang bawah tanah dan sumur gali di belakang rumah.
"Lev, lantai bawah ini kok seperti guest room ya?" tanya Lita.
Memang iya!"
"Kamu akan kedatangan banyak tamu?"
"Memangnya kamu rutin mau undang tamu?"
"Tidak, saya kan nggak akan selamanya disini!" jawab Levy, "setelah urusan saya selesai, rumah akan dikembalikan ke mitra lagi."
"Oh begitu ya!" Tanpa sadar Lita merasa sedih jika saat itu telah datang. "Sayang juga ya!"
"Kita lihat nanti saja!"
Lita perhatikan sekeliling. Ada yang aneh pada desain pintu dan jendela. Semua terpasang sebuah palang kayu ukuran besar. Sangat mirip pintu dan jendela rumah jaman dahulu.
Niat awal Lita datang sepertinya telah berubah. Semua karena sikap Levy yang mau menuruti keinginannya. Lita sangat menghargai apa yang telah Levy lakukan. Ia pun tak ingin buru-buru ambil keputusan.
Dengan hati-hati Lita bertanya, "Boleh tahu cara kalian hidup?"
"Maksudnya?"
"Iya, kalau kami kan ada agama, norma yang mengatur cara hidup!"
"Kami juga punya panduan hidup!"
"Apa itu?"
"Kami tidak berbohong!"
"Itu lagi, Yang lain dari itu dong?
__ADS_1
"Kami menghargai tamu dan pegang teguh adab saat bertamu!" Levy katakan itu penuh kebanggaan.
"Seperti yang orang-orang Qatar lakukan itu?" Lita coba jadikan tuan rumah piala dunia 2022 itu sebagai perbandingan.
"Semua ajaran kuno seperti itu!"
"Setahu saya itu ajaran Abraham yang masih tersisa di seluruh jazirah Arab!" Lita sampaikan hal yang pernah ia tahu.
"Saya lebih percaya bahwa itu adalah sifat pemilik alam raya yang diturunkan dalam bentuk sebuah ajaran!" jawab Levy.
Lita tak percaya jika makhluk seperti Levy percaya pada Tuhan. Tidak seperti yang ia lihat dalam film ataupun dongeng tentang makhluk penghisap darah itu. Sungguh sangat bertolak belakang.
Lita Ingin bertanya lebih banyak tentang makhluk seperti Levy. Sayang ada batas waktu sepertinya. Lita harus praktek pagi. Sedangkan mereka belum sedikit pun membahas Double L.
"Lev, kamu jadi lakukan tes aneh kamu kan?" Lita tanyakan jadwal Levy.
"Kok di bilang aneh!" jawab Levy, "saya sudah buktikan di agensi pemain saya!"
"Masih ragu aja!"
"Hasilnya bisa kamu bandingkan nanti!"
"Caranya?"
"Nanti assessment dari saya tinggal kamu uji ulang saja pakai teknik konvensional milik kamu," Levy ingin teorinya diuji oleh Lita.
Lita akhirnya setuju. Levy lakukan proses seleksi fisik, bakat dan posisi yang cocok anggota Double L. Sebagai direktur fisik, Lita juga dibolehkan lakukan uji sampel tandingan dari proses seleksi yang Levy lakukan. Dengan demikian terjadi evaluasi langsung pada metode yang Levy lakukan. Benar-benar suatu kesempatan buktikan kemampuan Levy sebagai drakula.
Uji coba yang akan Levy lakukan berbasis karakter pemain. Tes akan ditentukan dari tipe golongan darah sebagai gambaran sifat asli dari pemain. Adapun denyut nadi akan tentukan daya tahan fisik. Semakin rendah denyut nadi pemain, makin tinggi daya jelajah seorang pemain sepak bola.
Walau Lita telah setuju Levy lakukan tes pada anak didiknya. Tetap saja sisakan tanda tanya besar. Apakah Levy sanggup untuk menahan hasrat untuk menghisap darah anggota klub Double L.
Lita bertanya, "Apa kamu nggak ada rasa ingin menghisap darah anak-anak itu?"
"Pastinya ada!"
"Cara nahannya?"
"Cukup ingat masa lalu saya!"
Jawaban Levy terasa mengenaskan. Lita tak mau menuntut Levy ceritakan masa lalunya. Walau ia harap suatu hari Levy akan cerita tanpa harus ditanya.
Lalu Lita bertanya lagi, "Itu secara pribadi, apa ada alasan yang mendasar?"
*Saya tidak ingin ulang kesalahan leluhur!"
"Oke Lev, saya tidur lagi ya! Mau praktek pagi" Lita tunjukkan rasa tak suka jika pertanyaannya dijawab dengan kalimat bersayap.
"Oke, nanti saya bangunkan kalau lewat waktunya!"
Jawaban Levy adalah akhir percakapan mereka di awal hari. Lita Ingin teruskan tidur setelah jajanan yang ia beli sebagian telah habis. Adapun Levy kembali fokus ke pekerjaannya. Menyusun persiapan dalam menyambut kedatangan Victor.
...☘️☘️☘️ ~ bersambung ~ ☘️☘️☘️...
__ADS_1