Coach Kami, Mr. Drac

Coach Kami, Mr. Drac
BAB 14 ~ Pembuktian Mr. Drac ~


__ADS_3

Lita melangkahkan kakinya dengan cepat menuju ke sekretariat. Baru saja ia dapat kabar dari Dito bahwa satu truk box telah antarkan paket besar tadi pagi. Pada pesan singkat itu tertera bahwa paket itu berisi perlengkapan untuk klub sepak bola mereka.


Dito bersama dua anggota klub lakukan pencatatan terhadap barang yang datang. Tampaknya mereka telah selesai lakukan proses pencocokkan antara jumlah barang dan resi. Satu persatu barang yang telah selesai dipisah gabung mereka masukkan dalam lemari penyimpanan.


"Wah, sudah selesai ya!" Lita senang tiga anggota timnya telah selesaikan tugasnya dengan semangat, "maaf saya telat!"


"Ini Bu bukti faktur dan pengirimannya," ujar Dito.


"Oke, bisa kamu kasih tahu ke saya apa saja jenis barangnya!" pinta Lita.


"Ini Bu rekap lengkapnya," Dito berikan satu lembar kertas hasil pencocokan yang telah mereka lakukan.


"Udah … yang penting-pentingnya aja!" ujar Lita sembari keluarkan buku agenda dari tas selempang kulitnya.


"6 lusin kostum pemain selain kiper terdiri 3 jenis masing masing-masing 2 lusin!" Dito coba bacakan rincian paket pada Lita.


"Ish ribet amat sih!" Lita merasa kesulitan dalam lakukan pencatatan.


"Tuh kan  Bu, susah kalau didikte mah!" ucap Dito.


"Ya sudah kamu ceritakan aja!" Lita tutup buku agenda setelah ia selipkan pena-nya diantara ruas buku sebelumnya.


Lita agaknya memiliki juga sifat umum para dokter. Pada umumnya dokter-dokter lemah dalam hal administrasi. Terbukti ia tidak betah lakukan pencatatan sebelum benar-benar mencoba.


Lita akhirnya sepakat untuk hanya lakukan hitungan secara global. Dari hasil hitungan akhir yang telah mereka lakukan, didapat tiga jenis kostum klub. Dengan jumlah total sebanyak enam lusin. 


Artinya klub mereka mendapatkan 72 stel kaos dan celana. Jumlah itu telah lebih dari cukup. Jika tim mereka berjumlah 24 orang termasuk pemain cadangan sesuai dengan keinginan mereka.  Levy butuh tim dengan jumlah minimal 24 orang sehingga tidak sulit jika ingin lakukan latih tanding.


Selain itu masih ada enam stel pakaian dengan tipe yang berbeda. Kostum model lengan panjang itu sepertinya khusus bagi pemain untuk posisi kiper. Baik kiper utama ditambah dua kiper cadangan.


Berdasarkan warna,terdapat tiga seragam yang klub mereka dapatkan. Yaitu putih hijau, kuning kuning, dan putih merah. Lita dan Dito sempat berbeda pendapat terkait kostum putih hijau.


"Mirip baju tandang  timnas kita kalau yang ini ya!" Lita tunjukkan kostum dengan warna putih hijau pada Dito


"Ya bukan lah Bu, ini lebih mirip seragam timnas Bulgaria!" jawab Dito


"Masak sih?" Lita ragu akan keterangan dari Dito.


"Iya Bu!" Dito tekankan pendapatnya.


"Itu tuh ada lambangnya itu!" tunjuk Lita berharap simbol itu akan menjawab dari apa yang mereka pertentangkan. 

__ADS_1


"Ibu Lita belum pernah lihat lambang baru klub kita ya?" Dodo seolah mengejek Lita sebagai manajer klub.


"Namanya saja saya nggak tahu?" Lita baru sadar bahwa simbol di bagian dada itu adalah lambang klub sepak bola mereka sendiri.


"Kalau dulu elang putih!" Dito jelaskan pada Lita.


Lita tertawakan nama itu. Baginya nama itu lebih cocok untuk perguruan pencak silat. Atau perguruan tenaga dalam yang semakin marak akhir-akhir ini.


Lita memang tidak begitu tahu sejarah klub mereka. Menjadi manajer klub sepak bola kampus lebih karena faktor tak tega melihat kondisi klub itu. Bahkan terakhir para anggota klub sempat juga dituduh lakukan korupsi dana operasional klub.


"Kalau sekarang namanya Double L!" ucap Dito.


"Lita Levy gitu?" Lita merasa gede rasa.


"Kalau kami memang maunya begitu, Tapi tidak dengan pak Levy!" begitu jawaban dari Dodo yang sedari tadi tampak sibuk menyusun kostum di lemari penyimpanan sekretariat.


Levy tidak melarang mereka berikan nama klub mereka mengandung namanya dan Lita. Tapi harus punya makna. Rasanya jika cuma singkatan, kurang memiliki arti. Bahkan tidak ada makna filosofis yang dikandungnya. 


Double L, mengapa tidak? Levy pun coba menggali penamaan Double L yang telah disepakati para anggota tim. Di Jepang ukuran pakaian yang lebih besar disebut LL atau Double L. Untuk ukuran yang lebih besar lagi LLL dan seterusnya.


Levy bermaksud tanamkan pada anggota tim bahwa mereka harus lebih besar dari sekedar kostum, pakaian, nama klub atau apapun itu. Intinya Levy ingin setiap diri anggota tim lebih dulu besarkan dirinya. Karena jika mereka besar maka secara otomatis akan turut besarkan klub sepak bola mereka juga.


Lita tertawa dengarkan penjelasan para anak didiknya, "Menarik juga asal usul penamaan dan maknanya."


"Cuma Pak Levy mau menghaluskan, dia nggak mau kalau alasannya cuma Lita Levy doang," Asep yang dari tadi diam saja ikut menyela pembicaraan mereka.


"Coba Sep kamu lihat ke saya!" Lita ingin melihat wajah Asep yang dari tadi terlihat menunduk karena sedang melipat kardus.


"Kenapa ya Bu?" Asep merasa ada yang salah dengan wajahnya.


"Oh enggak ada apa-apa," Lita terdengar tertawa ngakak walau tetap menutupi bagian mulut dengan tangan sebagai tanda kesopanan.


Rupanya Lita ingin menghafalkan tampang  Asep yang baru pertama kali ia lihat hari itu. Lita ingin bandingkan wajah anggota timnya dengan Asep petugas Room boy di hotel tempat Levy menginap. Lita gembira bahwa Asep anggota tim tidaklah sepucat wajah Asep karyawan hotel.


"Dari tadi saya tidak melihat sepatu?" Lita bertanya pada Dito.


"Kalau pengadaan sepatu sudah ada toko yang ditunjuk Bu!


"Oh, nanti kawan-kawan langsung ke sana untuk pilih langsung, begitu ya? tanya Lita.


"Ya nggak milih Bu, nanti cuma ngambil sepatu sesuai ukuran kaki aja!" Dito bermaksud koreksi pernyataan Lita.

__ADS_1


"Ya itu maksud saya ah kamu!" Lita mulai terpancing emosinya tidak terima koreksi hanya karena salah kata, "berapa pasang untuk satu orang?"


"Maaf Bu," Dito merasa bersalah, ia terlalu takut telah dianggap tidak sopan oleh dosen yang selalu membelanya.


Untuk fasilitas sepatu Levy telah menunjuk toko sepatu olahraga terbaik di kota mereka. Masing-masing anggota tim dapat dua pasang berikut kaus kaki. Sungguh suatu pengorbanan yang luar biasa dari Levy bagi para pecinta sepak bola.


...**...


Lita pernah lakukan investigasi sederhana ala wartawan. Secara diam-diam, tiga hari lalu ia sempat lakukan kunjungan ke arena latihan klub sepak bola milik Apep. Hal itu ia lakukan karena penasaran akan pujian Heru pada tim sepak bola pesaing mereka.


Lita saksikan tim sepak bola asuhan Apep berlatih. Bagi Lita tak ada yang istimewa dari perlu ditakutkan dari tim sepak bola itu. Jika melihat fasilitas latihan serta kemampuan tim Apep, Lita yakin Dito dan kawan-kawan dapat imbangi kemampuan lawan. 


"Dit, gimana dengan anggota baru yang sudah daftar?" Lita bertanya pada Dito.


"Ada dua orang Bu!" jawab Dito


"Jadi baru sembilan orang dong tim kita!" Lita menghitung anggota tim yang dapat bermain setelah dikurangi Dito tentunya.


"Tujuh belas Bu!" jawab Dito.


"Kok bisa?" Lita merasa heran.


"Yang delapan lagi dari hasil daftar ulang Bu!" Dito tambahkan keterangan atas jawaban sebelumnya.


Lita senang dapat kabar dari Dito. Berarti jumlah mereka telah lebih dari cukup untuk melakukan latih tanding dengan tim Apep. Terlebih tambahan anggota merupakan tim lama yang memutuskan untuk kembali. Lita optimis anggota mereka yang baru mampu untuk langsung berikan kontribusi positif bagi klub.


"Dit, saya sudah lihat tim Apep latihan!" Lita membuka niatan untuk latih tanding dengan tim Apep, "nggak bagus-bagus amat!"


"Apa Ibu pengen  … nguji tim Pak Apep?" Dito lakukan tebakan jitu atas keinginan yang timbul dari manajer klub.


"Kok kamu bisa langsung tahu?" Lita tampak senang dengan reaksi Dito.


"Ya tahu lah Bu," jawab Dito


"Jadi kamu setuju?" Lita coba tanyakan pertanyaan retoris.


"Saya setuju kalau kita diam-diam saja tanpa kasih tahu Pak Levy," Pinta Dito.


"Kalah atau menang!" ujar Lita.


"Apapun hasilnya!" jawab Dito.

__ADS_1


Dito menjawab seperti itu karena ia pernah dilarang Levy untuk latih tanding dengan tim Apep. Bahkan secara pribadi oleh Levy ia pernah diwanti-wanti. Tapi dendam kesumat Dito terhadap Apep memang tidak bisa lagi dibendung


...☘️☘️☘️ ~ bersambung ~ ☘️☘️☘️...


__ADS_2